Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-88 Hanna Merajuk



Damian menjalankan mobilnya sambil sesekali melirik wanita yang ada disampingnya itu. Hanna masih memberengut saja dari sejak kejadian tadi pagi.


“Kau kenapa?” tanya Damian. Hanna tidak menjawab. Dia merasa kesal pada Damian,seharusnya Damian memberitahunya dari dulu kalau dia tidurnya begitu, jangan malah menghafalkan daleman yang sering dia pakai.


“Setelah diibu kota kau ingin apa?” tanya Damian mencoba mencairkan suasana.


Masih tidak ada jawaban juga.


“Kau masih marah?” tanya Damian. Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya dipingir jalan dan memasang rem tangannya.


Hanna diam saja tidak bicara, hari ini dia sedang tidak mood untuk melakukan apapun. Bahkan Damian menghentikan mobilpun wanita itu tidak bicara apa-apa, membuat Damian merasa tidak nyaman.


Damian memiringkan tubuhnya menatap Hanna, wanita itu masih cemberut menatap kedepan. Melihat wanita ini ngambek begini bukannya membuat Damian kesal, dia malah merasa lucu. Kenapa Hanna harus marah? Marah pada siapa?


“Kau cemberut begitu, apa aku melakukan kesalahan?” tanya Damian.


Hanna diam saja.


“Aku tidak mengerti kenapa kau marah? Yang tidurnya tidak beraturan itukan kau, bukan aku, aku sudah berbaik hati menyelimutimu tiap hari,” kata Damian.


Wanita itu masih cemberut saja. Damian masih menatapnya.


“Jangan marah padaku,aku tidak tahan kalau kau diamkan begini. Ke ibukota sangat jauh, masa sepanjang jalan kau diam saja?” kata Damian lagi.


Wanita itu masih cemberut, tidak bergeming sedikitpun.


“Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau bicara padaku, masa kau terus-terusan ngambek begini?” keluh Damian. Hanna masih diam saja, membuat Damian bingung harus merayu gimana lagi supaya Hanna mau bicara.


“Bagaimana kalau kita belanja saja? Kau pasti ingin membeli pakaian baru atau sepatu baru atau kau mau membeli perhiasan? Atau kau ingin makan sesuatu yang enak? Atau apalagi ya…” Damian garuk-garuk kepala, ternyata kalau wanita ngambek itu susah dirayunya.


Diapun kembali duduk kekursinya menghadap kedepan. Dimatikannya mesin mobilnya, dia bersandar, tidak bicara lagi, dengan kedua tangannya menopang kepalanya. Dia terus berfikir bagaimana caranya supaya Hanna tidak marah lagi dan dia mau bicara lagi seperti biasa. Benar-benar tidak tahan di diamkan begini.


Damian menurunkan kedua tangannya, lalu menoleh lagi pada Hanna yang masih saja diam cemberut. Diapun membuka handphonenya langsung searching.


“Cara-cara mengatasi kekasih yang marah-marah,” baca Damian. Dia membaca dalam hati, lalu searching lagi.


“Kenapa kekasih anda marah-marah?” baca Damian lagi. Dia kembali membaca sebentar lalu searching lagi.


“Sebab akibat pertengkaran dalam rumah tangga,” baca Damian lagi. Kemudian dia mengerutkan keningnya.


“Apa aku sedang berumahtangga sekarang?” gumamnya. Lalu dia melirik Hanna yang masih cemberut menatap kedepan. Damian menghela nafas panjang dan kembali searching.


“Tips mengatasi permasalahan rumah tangga, rumahtangga lagi…” gumam Damian lagi.


“Cara mengatasi istri yang sedang marah, nah ini sepertinya cocok, istri yang marah-marah di pagi hari, apa coba isinya…” Damian kembali membaca.


“1. Kenali penyebab istri anda marah,” baca Damian. Dia menoleh pada Hanna. Itu istrinya masih cemberut saja, bikin hatinya greget saja.


“Kenali penyebab istri anda marah. Marah kenapa istriku? Hanya karena dia tahu kalau tidurnya berantakan, dia marah, membingungkan,” ucap Damian, kembali membaca Handphonnenya.


“2. Coba anda bertanya pada diri sendiir apakah anda menyakiti istri anda?” Baca Damian, dia kemudian berfikir.


“Coba anda bertanya pada diri sendiri apakah anda menyakiti istri anda…” Ulang Damian menoleh pada Hanna dan menatapnya.


“Apa aku menyakitimu? Aku rasa tidak, aku hanya tidak sengaja melihat dalemanmu setiap hari, itu tidak menyakitkan,” ucap Damian menggelengkan kepalanya.  Hanna masih diam saja.


Damian kembali membaca artikel di handphonenya.


“3. Coba lihat ke sekeliling apakah ada penyebab lain istri anda marah,” baca Damian. Dia kembali berfikir.


“Sekeliling? Rasanya tidak ada,” kata Damian.


“4.Apakah anda sudah meminta maaf pada istri anda? Meskipun anda tidak merasa bersalah, istri akan senang kalau anda meminta maaf…” baca lagi Damian.


“Hemm harus minta maaf ya meskipun tidak merasa bersalah? Ya sudah demi istri senang aku akan minta maaf,” ucapnya, lalu memiringkan tubuhnya menatap Hanna yang masih cemberut.


“Istriku, aku minta maaf, meskpiun aku tidak merasa bersalah, aku minta maaf,” kata Damian. Menatap Hanna, wanitanya benar-benar seperti batu, bergerak juga tidak. Sampai dia bingung apa sih yang diinginkan Hanna? Membuat dia stress saja.


“Itu poin ke 4, dan kau masih saja ngambek begitu,” kata Damian.


Akhirnya dia kembali duduk kesemula dan membaca artikelnya.


“5. Setelah minta maaf, berikan hadiah yang membuat hati istri anda senang…” baca Damian lagi.


“Hadiah? Hadiah apa ya? Mendadak begini, apa hadiah yang akan diberikan?” tanya Damian, lalu menoleh pada Hanna.


“Poin ke 5 aku harus memberi hadiah, kau mau hadiah apa? Bicara juga tidak mau, tadi aku menawarimu  belanja baju, sepatu bahkan perhiasan tapi kau masih diam saja,” keluh Damian. Hanna masih tidak bergeming.


Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Dia mengeluarkan dompetnya.


“Katamu kalau mengukur cinta seseorang itu dari uangnya? Sekarang aku memberimu uang, tapi di dompetku ada uang 1 juta,  ini aku berikan padamu,” kata Damian, sambil megeluarkan uangnya 1 juta disimpan di pangkuannya Hanna. Hanna masih diam saja.


“Kau msih diam saja, aku kan sudah memberimu uang, ini bukan uang jasa memelukku, tapi uang dari seorang pria seperti yang kau katakan itu,” kata Damian. Dia mulai kesal wanitanya masih saja cemberut.


“Artikelnya tidak bagus, ternyata kau masih juga marah,” keluhnya, lalu duduk kembali dan membaca artikelnya.


“6.Berikan sebuah ciuman pada istri anda,” baca Damian. Tiba-tiba dia tersenyum.


Diapun menoleh pada Hanna.


“Artikel ke 6. Berikan sebuah ciuman pada istri anda. Aku rasa ini cara yang efektif supaya kau bereaksi kalau akan ku cium,” ucap Damian.


Mendengar ucapan Damian, mata Hanna mulai bergerak, ih modus pria ini mau menciumnya, semakin lama pria ini sering menciumnya.


Damianpun mencondongkan tubuhnya mendekati Hanna. Saat wajahnya sudah dekat ke pipi Hanna diapun bicara.


“Aku rasa kalau aku memberikan ciuman dibibirmu sekarang akan berhasil karena kau diam saja, atau sebenarnya kau memang sengaja supaya aku menciummu? Aku sudah melakukan apa yang artikel itu suruh tapi tidak berhasil, apa dengan ciuman akan membuatmu tidak marah lagi?” bisik Damian. Hanna tidak menjawab.


“Kau tahu apa bedanya mencium dan memberikan ciuman? Aku tidak akan mencium tapi akan memberikanmu ciuman,” kata Damian, ujung hidungnya sudah menempel dipipi Hanna.


Mendengar perkataan Damian, jantung Hanna lansgung saja berdebar kencang, apa maksudnya memberikan ciuman? Bukan mencium tapi memberikan ciuman, apaan itu? Memangnya Damian akan memberikan ciuman seperti apa? Hidungnya, kenapa hidungnya menempel di pipiku segala? Batin Hanna.


Tangan kanan Damian mengulur menyentuh samping kepala Hanna, mencoba memutar wajahnya supaya menghadapnya. Jantung Hanna berdetak semakin kencang, apa dia harus membiarkan Damian menciumnya? Bukan menciumnya, tapi memberikan ciuman! Waduh ciuman seperti apa yang mau Damian berikan? Ah tidak, sepertinya dia harus berhenti marahnya, dia harus bicara.


Kini wajahnya ada didepan wajahnya Damian. Damian menatap wajah itu yang juga menatapnya.


“Kau masih marah padaku? Aku sudah minta maaf, aku sudah memberimu hadiah uang, apalagi?” tanya Damian, tangan kanannya yang menyetuh wajah sebelah kiri Hanna bergerak, satu jarinya menyentuh bibir Hanna. Membuat Hanna panas dingin karenanya.


“Bibirmu sepertinya sangat manis,” ucap Damian, kini matanya tertuju pada bibir merah itu. Keringat dingin semakin menyerang Hanna, dia tidak siap untuk diberikan ciuman, dia sangat gugup.


“Kalau kau cemberut begitu, bibirmu terlihat lebih sexi,” goda Damian, semakin mendekatkan bibirnya. Hanna sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pria ini akan benar-benar memberikan ciuman seperti perkatananya. Hanna merasakan bibir pria itu menyentuh bibirnya, rasanya tubuhnya menjadi lemas seketika. Damian akan menggerakan bibirnya lebih lanjut, tiba-tiba tertahan saat sebuah ketukan dijendela menghentikannya.


Tok tok tok!


“Permisi pak!” terdengar suara seseorang di luar mobil.


Damian menghentikan gerakannya, menatap wanita yang akan diciumnya itu. Baru juga menempelkan bibirnya, gangguan datang lagi. Kenapa begitu sulit hanya untuk memberikan sebuah ciuman?


Tok tok tok! Kembali tedengar suara ketukan di jendela.


“Istriku, ciumannya tertunda, kau bersabar ya,” ucapnya, membuat Hanna ingin tertawa dalam hati, Damian selalu gagal menciumnya, dia jadi penasaran kapan ciuman itu akan berhasil?


Dengan berat hati Damian melepaskan Hanna, dia menoleh kearah jendela dan membukanya, ternyata seorang polisi ada disana.


“Siang Pak, maaf mengganggu,” kata polisi itu.


“Ya siang, ada apa?” tanya Damian, dengan lesu, karena polisi itu menggagalkan ciumannya lagi.


“Apakah ada masalah dengan mobil anda? Anda berada di jalan tol didaerah di larang parkir,” kata Pak Polisi itu.


Seketika Damian tersadar, saking tadi hanya memikirkan Hanna yang marah-marah saja, dia tidak sadar kalau berada dijalan tol dan berhenti diarea dilarang parkir.


“Maaf pak, maaf, tadi istriku marah-marah. Kau tau kan  kalau istri yang marah-marah itu sangat merepotkan,” kata Damian malah curhat.


Polisi itu melirik ke dalam mobil, dilihatnya Hanna masih cemberut saja.


Polisi itu pun menatap Damian.


“Jadi istri anda sedang marah-marah?” tanya Pak Polisi.


“Iya, dia ngambek, tidak mau bicara, membuatku pusing saja,” kata Damian.


“Istri anda tidak mau bicara? Mogok bicara begitu?” tanya pak polisi.


“Benar,” jawab Damian mengangguk.


“Ada solusinya,” jawab Pak Polisi.


“Benarkah? Apa itu?” Damian langsung saja berseri-seri. Dia sudah tidak tahan dengan diamnya Hanna itu.


“Bilang saja kalau Bapak mau kawin lagi!” kata Pak polisi dengan keras.


“Apa maksudmu menyarankan suamiku kawin lagi?” Terdengar bentakan di sebelah samping Damian. Damian sampai memundurkan tubuhnya saat Hanna menyerobot melongokkan kepalanya keluar menatap polisi itu


Pak Polisi langsung tertawa.


“Tuh Pak berhasilkan? Sekarang istrinya mau bicara!” seru Pak Polisi masih tertawa. Tiba-tiba Hanna tersadar kalau dia sedang mogok bicara.


“Lanjut jalan ya Pak! Selamat diomeli sepanjang jalan!” teriak Polisi itu, sambil meninggalkan mobil Damian menuju mobilnya yang terparkir dibelakang mobilnya Damian, polisi itu terus saja tertawa.


“Kawin lagi! Enak saja nyaranin kawin lagi! Kamu tuh yang mau kawin lagi!” gerutu Hanna, tubuhnya masih berada didepan Damian, sedangkan matanya mengikuti arah polisi itu berjalan menuju mobil patrolinya. Dia kesal pada Pak Polisi itu, bibirnya terus saja mengomel.


“Ngasih saran kawin lagi! Keterlaluan!” gerutu Hanna.  Dan matanya kini terhenti pada sebuah tatapan di depannya, karena tubuhnya ada didepan Damian supaya bisa melihat polisi tadi. Damian menatapnya menahan senyum.


“Apa? Kau mau kawin lagi?” bentak Hanna, dengan sebal. Kenapa pria-pria selalu memikirkan kawin lagi.


“Bagaimana mau kawin lagi, mengawinimu saja belum,” ucap Damian.


Dia jadi ingin tertawa, ternyata saran dari Pak Polisi lebih jitu dari pada membaca artikel. Kedua tangannya Damian langung meraih tubuhnya Hanna memeluknya dan mencium pipinya.


“Aku tidak tahan kalau kau marah,” ucapnya, membuat Hanna diam, dan menatap pria itu. Merekapun saling bertatapan.


“Apakah kita akan melanjutkan ciuman tadi?” tanya Damian,


“Kau belum menciumku,” kata Hanna.


“Ya kita lanjutkan, polisinya sudah  pergi,” ucap Damian.


Tid! Tid! Tiiiiiiiiiiid!


Pak Polisi membunyikan klakson berkali kali dengan keras.


Damian menatap Hanna, tangan kanannya mengusap rambut Hanna.


“Istriku, ciumannya tertunda, kita terpaksa harus jalan, atau polisi itu akan menyuruhku kawin lagi!” kata Damian.


Sebuah pukulan  mengena dibahunya, istrinya marah dia bilang mau kawin lagi. Damian jadi tertawa, melepas pelukannya kembali menyalakan mobilnya.


“Makanya jangan marah,nanti aku kawin lagi!” ucap Damian, masih menahan tawa.


“ Bagaimana aku tidak marah terus, kau memberiku uang Cuma 1 juta! Masa cintamu Cuma satu juta!” seru Hanna, sambil memegang uang di tangannya.


“Aku cuma mau memberimu satu juta!” jawab Damian.


“Tidak mau! Masa satu juta! Tambah!” teriak Hanna.


“Tidak mau!” teriak Damian.


“Tambah!” teriak Hana semakin kencang.


“Jangan berteriak  atau aku kawin lagi!” teriak Damian.


Hanna kembali memukul bahu Damian lebih keras, Damian meringis kesakitan. Belum menikah saja sudah segalak ini bagaimana kalau sudah menikah? Diapun menepuk jidatnya.


************


Jangan lupa like vote dan komen


Maaf ya baru up. authornya ada perjalanan keluar kota.