Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-129 Mengalah



Bu Sony masih memeluk putranya sambil menangis. Hatinya mungkin lebih sakit dari yang Damian rasakan. Dia juga ingin kebahagiaan buat Damian, tapi apa mau dikata, kenyataan tidak berpihak pada Damian.


Damian menahan perasaannya supaya bisa lebih tenang. Semua harapannya sudah hilang musnah saat ini. Dia benar-benar merasa terpuruk. Pertemuannya dengan ibunya yang dibayangakannya akan menghilangkan semua mimpi buruknya selama ini ternyata salah, mimpi buruk kehilangan orang yang dicintai itu masih mengikutinya bagaikan sebuah kutukan.


Damian menatap Hanna yang masih berdiri sedari tadi menatapnya sambil terisak. Ditatapnya wanita yang selalu dirindukannya itu meskipun mereka berpisah hanya beberapa hari. Tidak ada yang bisa dikatakannya, diapun menoleh pada ibunya yang masih memeluknya dari samping.


Tangan Damian menyentuh tangan ibunya.


“Sudah Bu, jangan menangis,” kata Damian.


Bu Sony mengangkat kepalanya menatap wajah putranya.


“Ibu minta maaf Nak, kehadiran ibu tidak membawa kebahagiaan untukmu,” ucap ibunya dengan terbata-bata.


“Tolong maafkan ibumu ini,” lanjutnya.


Damian mengangguk, masih mengusap tangan ibunya.


“Tidak ada yang salah, semua yang terjadi bukan keinginan kita,” kata Damian.


Bu Sony masih saja menangis.


“Ayo kita pulang,” ajak Damian, membuat semua mata memandangnya, terutama Hanna. Apakah itu artinya Damian tidak jadi melamarnya?


Bu Sony menatap Damian. Tangan putranya mengusap airmata di pipi ibunya.


“Kita pulang,” ajak Damian lagi.


Bu Sony memeluknya lagi dan kembali menangis.


“Sudah Bu, jangan menangis,” ucap Damian. Lalu menoleh pada Pak Louis dan Bu Astrid.


“Maaf aku sudah membuat keributan, aku pamit dengan ibuku,” kata Damian lagi, lalu mengajak ibunya berdiri sambil memeluk bahunya.


Tidak ada kata yang bisa terucap dari mulut Pak Louis dan Bu Astrid, mereka bingung untuk berkata apa.


Damian mengajak ibunya keluar dari rumahnya Pak Louis. Hanna yang melihat Damian keluar tanpa bicara sepatah katapun, hatinya semakin sedih, diapun berlari menyusulnya keluar.


“Damian!” panggil Hanna. Hatinya terasa perih teriris- iris, apakah Damian akan meninggalkannya?


Damian menghentikan langkahnya bersama ibunya, tapi pria itu tidak membalikkan badannya.


“Semoga kau bahagia,” ucap Damian, sama sekali tidak menoleh, lalu kembali melangkah sambil mengajak ibunya.


Sudah tidak terbendung lagi airmata yang sedari tadi ditahan-tahannya. Hanna menangis dengan rasa pedih dihatinya. Berdiri di teras menatap kepergian Damian dan ibunya. Apakah itu ucapan terakhir Damian padanya? Damian memilih meninggalkannya?


“Da Damian!” panggil Hanna lagi dengan lirih disela isaknya dan hampir seperti bergumam. Pandangannya tidak lepas pada pria itu yang semakin jauh.


Tapi Damian sama sekali tidak menoleh, hati Hanna semakin terasa sakit, airmata terus menetes deras di pipinya. Matanya menatap pria yang dicintainya pergi memasuki mobilnya bersama ibunya.


Pak Louis dan Bu Astrid sudah berdiri dibelakang Hanna, juga menatap kepergian mereka.


“Aku mencintaimu Damian, aku menerima lamaranmu,” ucap Hanna dengan pelan. Jawaban lamaran yang sia-sia, jawaban yang tidak akan terdengar oleh Damian karena pria itu sudah menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya.


Bu Astrid mengulurkan tangannya meraih bahu Hanna lalu memeluknya. Hanna menangis dalam pelukan ibunya.


Pak Louis hanya menatap putrinya yang menangis sambil memeluk ibunya.


“Damian pergi, Bu!” ucap Hanna. Bu Astrid hanya mengangguk dan mengusap-usap pungungnya Hanna.


“Damian pergi!” ulang Hanna.  Bu Astrid tidak menjawab.


“Bawa Hanna masuk Bu,” ucap pak Louis.


Bu Astrid pun mengajak Hanna masuk sambil memeluknya. Pak Louis tidak bicara apa-apa lagi, diapun masuk ke rumah dan menutup pintunya.


Sepanjang jalan menuju ke rumahnya Bu Sony terasa begitu jauh dan lama, seakan akan waktu tidak pernah berjalan, terhenti pada kenyataan kalau Hanna adalah calon istri adiknya. Harapan dan semangat Damian runtuh sudah. Bayangan kebahagiaan besama wanita tu sudah pupus oleh kenyataan yang tidak berpihak padanya.


Mobil Damian akhirnya berhenti di sebrang sebuah rumah megah bercat putih.


“Disini ibu tinggal?” tanya Damian.


“Iya Nak, Disini ibu tinggal dengan suami ibu, dengan Cristian juga. Tapi Cristian hanya sesekali tinggal disini jika ibu dan suami ibu pulang. Selebihnya dia tinggal di rumah kakeknya, ayah dari suami ibu, di dekat pantai, dekat rumahnya Hanna,” jawab Bu Sony, kini dia sudah mulai tenang, tidak menangis terus seperti tadi.


Damian melihat kehalaman rumah itu, dia melihat ada mobilnya Cristian terparkir disana. Tidak berapa lama, ada seorang pria yang sangat dikenalnya, Cristian keluar dari rumah itu membawa sebuah map yang sempat dibuka-bukanya sebentar di depan pintu, lalu bergegas ke dalam mobilnya. Sepertinya Cristian mengambil sesuatu berkas yang ketinggalan dirumah.


Damian memperhatikan setiap geraknya Cristian, dia tidak menyangka calon suaminya Hanna itu adiknya. Setelah dia tahu kalau Cristian adalah adik kandungnya, adik seayah dan seibu, apa tega dia membuat adiknya patah hati karena kehilangan gadis yang dicintainya dari dulu? Apalagi yang merebutnya adalah kakaknya sendiri?


Tidak berapa lama mobil Cristian keluar dari rumah itu lalu berbelok dengan arah yang berbeda dengan tempat Damian memarkir mobilnya.


Cristian menjalankan mobilnya, sekilas melirik ke spionnya, dari sana dia melihat seperti ada sebuah mobil yang dikenalnya parkir tidak jauh dari rumahnya. Sekilas mobil itu mirip mobinya Damian, tapi buat apa Damian memarkir mobilnya di dekat rumahnya?  Keheranannya terhenti saat telponnya berdering.


“Ya ya,  aku menuju kesana,” jawab Cristian buru-buru karena dia menerima telpon sambil menyetir sangat berbahaya, cepat-cepat di matikannya telponnya, kembali mempercepat laju mobilnya.


Damian dan ibunya menatap kepergian mobilnya Cristian yang semakin jauh semakin mengecil lalu menghilang dibelokan.


“Dia adikmu,” kata ibunya. Damian tidak menjawab.


“Dia belum tahu tentangmu dan tentang ayah kandungnya, suami ibu belum mengijinkannya untuk mengatakan hal itu,” ucab Bu Sony.


Damian masih diam, dia berusaha bersikap tenang, dia juga mulai mencoba menerima kenyataan ini.


Bu Sony menoleh pada Damian, menatapnya lekat-lekat.


“Sayang, maafkan ibu,”  ucapnya , tangannya mengusap kepalanya Damian.


“Maafkan ibu, tidak bisa melamarkan wanita yang kau cintai,” kata ibunya, matanya kembali berkaca-kaca.


Damian tidak menjawab, dia langsung memeluk ibunya. Bukannya dia tidak sedih dia tidak bisa melamar Hanna, tapi apakah mengambil calon istri adiknya itu sesuatu yang baik? Apakah baik menumbuhkan rasa benci adik pada kakaknya? Apakah dia akan bahagia bersama Hanna jika ada yang tersakiti? Apalagi itu adik kandungnya sendiri?


“Aku menyayangi ibu. Aku senang sudah bertemu dengan ibu dan ibu dalam keadaan baik-baik saja,” kata Damian, sambil melepas pelukannya.


Bu Sony menatap Damian, setiap menatap putranya itu kesedihan selalu muncul di hatinya, dia merasa bersalah tidak bisa memberikan kebahagiaan pada putranya.


“Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu, Nak,” ucap Bu Sony. Menarik kepalanya Damian lebih dekat padanya dan mencium keningnya.


“Semoga kau bahagia” ulangnya, dengan mata kembali berkaca-akaca.


Damian hanya mengangguk. Bu Sony membuka pintu mobilnya.


“Ibu akan menyuruh orang untuk membawa mobil ibu dikantormu,” kata Bu Sony.


“Iya, Bu,” jawab Damian.


“Kau makan makanan yang ibu bawa tadi, minta asisten rumah tanggamu untuk menghangatkannya, sepertinya makanan itu sudah dingin sekarang,” ucap Bu Sony.


“Iya,” jawab Damian lagi sambil mengangguk.


“Besok, ibu akan membawamu makanan lagi,” kata ibunya. Damian hanya mengangguk saja.


Bu Sonypun keluar dari mobilnya Damian, menatap putranya dari luar, setelah itu barulah melangkah menuju rumahnya.


Di depan gerbang, Bu Sony menghentikan langkahnya menoleh lagi pada Damian. Putranya itu melambaikan tangannya, Bu Sony membalasnya sambil tersenyum. Kemudian membalikkan badannya meminta memasuki gerbang yang sudah dibukakan oleh satpam.


Damian hanya menatap kepergian ibunya ke rumah besar itu. Dia menyandarkan punggungnya ke kursinya, memejamkan matanya sebentar, mencoba menenangkan dirinya, lalu menjalankan mobilnya menuju rukannya.


************


Satria yang sedang berbicara dengan Pak Indra, melihat kearah jendea, dia melihat mobil kakaknya masuk ke halaman dan parkir disana.


“Itu kakakku puang, kau akan bicara dengannya,” kata Satria, lalu bangun dari duduknya, keluar dari ruangan itu.


“Kakak!” panggil Satria sambil menghampiri Damian yang baru keluar dari mobilnya.


“Kau sudah dari mana? Kau menghilang begitu saja,”tanya Satria.


“Aku akan ke Ibukota sekarang,”jawab Damian.


“Ke ibukota?” tanya Satria, terkejut. Dia menatap kakaknya yang terlihat pucat dimatanya.


“Apa kau sakit?” tanya Satria lagi. Damian tidak menjawab, bukan sakit di badannya, tapi sakit dihatinya.


“Kau seperti sedang tidak sehat, Kak,” kata Satria lagi.


“Aku ada pekerjaan di luar negeri,” jawab Damian.


“Kau akan keliling Eropa lagi? Tapi Pak Indra tidak bilang kalau ada schedule ke luar negeri,” kata Satria, keheranan.


“Aku pergi sendiri, tidak dengan Pak Indra. Kau urus  Hanna Grand Lakeside dengan Pak Indra, mungkin aku akan lama di luar negeri,” ucap Damian.


Tanpa bicara apa-apa lagi, Damian meninggalkan Satria yang tampak keheranan dengan sikapnya. Satria bingung, Damian biasanya pergi mengurus bisnisnya dengan Pak Indra, tapi sekarang dia pergi sendiri? Sebenarnya apa yang telah terjadi?


Damian masuk ke rumahnya, melihat kantong makanan yang ada dimeja itu, makanan dari ibunya yang belum sempat dia makan. Diapun tersenyum, dia senang ibunya memasak untuknya lagi, tapi sayang sekarang dia sedang tidak ingin makan, makanannya akan dia bawa saja ke ibu kota.


Damianpun masuk kedalam kamarnya, mengambil kopernya lalu memasukkan bajunya ke dalam koper itu. Hingga matanya terhenti pada pakaian dan segala barangnya Hanna. Apa yang harus dilakukannya dengan barang-barang itu? Apakah dia akan membuangnya? Disentuhnya pakaian-pakaian Hanna itu, mulai sekarang dia tidak akan melihat Hanna memakainya lagi.


Damian memanggil asisten rumah tangganya.


“Ya Pak?” tanya ART nya.


“Tolong pack semua barang-barang istriku,” kata Damian, dia langsung berhenti bicara. Kata-kata istriku yag sering diucapkannya untuk Hanna hanyalah sebuah kata-kata yang hanya sekedar kata-kata , bukan arti istri yang sesungguhnya.


“Terus kirimkan ke rumahnya Pak Louis, kau bisa tanyakan alamatnya pada adikku,” kata Damian.


“Baik Pak,” jawab ARTnya.


Setelah menunjukkan apa saja yang harus dibereskan, Damian keluar dari kamarnya dengan membawa kopernya, ternyata Satria juga masuk ka dalam rumah.


“Kau serius akan pulang sekarang?” tanya Satria.


“Iya,” jawab Damian.


Satria melihat ART yang sedang mengeluarkan baju-bajunya Hanna dari lemari.


“Kenapa baju kakak ipar di keluarkan?” tanya Satria.


“Barang-barangnya akan di kembalikan kepada yang punyanya, kau minta supir saja untuk mengirimkannya ke rumah Pak Louis,” jawab Damian.


Satria menatap kakaknya dengan banyak pertanyaan dibenaknya tapi kakaknya sepertinya tidak mau bicara dengannya lebih jauh.


Damian mengambil kantong makanan di meja itu, lalu manatap Satria.


“Kau jaga diri baik-baik, urus pekerjaan dengan baik, proyek ini aku serahkan padamu, kalau ada kesulitan kau bisa bicara dengan Pak Indra,” ucap Damian, sambil menepuk bahunya Satria, lalu menarik kopernya dan keluar dari rumah itu.


Satria hanya berdiri mematung, dia yakin sudah terjadi sesuatu, tapi apa?


*******************


Jangan lupa like dan vote ya...