Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-95 Jangan pernah pergi dariku



Damian masih tertidur saat merasakan ada benda yang  memberati dadanya, kadang terasa seperti menendang nendangnya, membuat dadanya terasa sakit. Entah benda apa itu, membuat tidurnya semakin terasa tidak nyaman. Tangannya meraba-raba kearah benda yang ada didadanya.


Dirabanya ada bulat bulat, dalam kantuknya dia menebak-nebak apa bulat-bulat itu. Diraba lagi ada yang lebih panjang, ini lebih kecil. Memorynya terus berputar menebak-nebak apa yang ada diatas dadanya. Ternyata yang bulat panjang ada berberapa, dihitungnya benda benda itu, satu, dua, tiga, empat, yang paling kecil lima. Apa itu. Tangannya semakin meraba-raba.


Rabaannya terhenti sejenak, memorynya berkumpul, kenapa seperti…kaki! Ada kaki diatas dadanya! Kaki siapa itu? Bukankah wanita itu sudah pergi jauh darinya? Kenapa bisa ada kaki didadanya? Diapun langsung membelalakkan matanya dan melihat benda yang dipegangnya yang sedang berada di dadanya.


Damian terkejut melihat sebelah kaki dengan berkutek merah diatas dadanya.Kaki siapa ini? Kaki Hanna tidak berkutek merah. Buru-buru dia bangun dan melihat pemilik kaki itu.


Dilihatnya ada sosok disebelahnya dengan setengah badannya dari kepala sampai pinggang tertutup selimut. Damian mengerjapkan matanya. Siapa wanita itu? Tidak mungkin Hanna! Tapi kenapa wanita itu memakai baju tidur Tom&Jerry punya Hanna?


Damian mulai tersulut emosi, ternyata ada wanita yang berani menyelinap ke rumah ini dan seenaknya tidur dikamarnya.


“Hei, bangun bangun!” Teriak Damian, menatap wanita yang wajahnya tertutup selimut itu.


 “Siapa kau seenaknya menyelinap tidur ditempat tidurku?” bentak Damian sambil menepuk kaki berkutek merah itu.


“Bangun!” makinya lagi. Si pemilik kaki malah bergerak miringkuk .


“Bangun!” Damian menepuk kaki wanita itu.


“Kau juga seenaknya memakai baju istriku! Bangun bangun bangun!” teriaknya, menepuk-nepuk kaki wanita


itu lebih keras.


“Ah kau mengganggu tidurku saja! Kakiku sakit!” gerutu wanita itu malah semakin meringkukkan badannya.


Damian terdiam, apa dia tidak salah dengar? Itu suaranya Hanna, ko bisa? Sepertinya dia benar-benar sudah gila, ada suara wanita lain terdengar mirip suaranya Hanna.


Damian segera menarik selimut yang menutupi wajah wanita itu. Dia sangat terkejut saat melihatnya. Hanna? Matanya kembali mengerjap-ngerjap, apa dia tidak salah lihat? Hanna ada didepannya? Diapun menggosok-gosok kedua matanya.


Benar! Hanna sedang tidur meringkuk di depannya. Kedua tangan Damian meraih wajah Hanna yang tadi tidur miring supaya menghadap kearahnya. Ditatapnya wajah itu, wajah yang sangat dirindukannya, ada haru dan bahagia dihatinya, wanita itu sudah kembali padanya.


“Hanna! Sayangku kau pulang?” ucapnya terbata, dia masih tidak percaya Hanna ada dihadapannya, meskipun wanita itu hanya memejamkan matanya sedang tidur.


“Mmm iya,” jawab Hanna dengan kantuknya, lalu meringkuk lagi, menempelkan pipinya ke tempat tidur.


Senyum lebar langsung mengembang di bibirnya Damian. Kedua tangannya kembali meraih wajah Hanna supaya menghadap kearahnya.


“Sayang, kau pulang? Kau benar-benar pulang?” tanya Damian lagi,masih tidak percaya dengan penglihatannya.


“Tentu saja!” jawab Hanna, masih memejamkan matanya, kembali menempelkan pipinya ke tempat tidur, sepertinya dia memang tidak mau diganggu.


“Sayang, kau pulang?” tanya Damian lagi, dia benar-benar merasa tidak percaya wanita itu ada di hadapannya sekarang.


“Sayang, sayang, pake sayang sayang segala, lebay,” keluh Hanna. Tiba-tiba dia membelalakkan matanya lebar-lebar.


“Apa? Sayang?” tanyanya terkejut, matanya semakin lebar dan secepat kilat menoleh kearah Damian yang sedang menatapnya.


Hanna buru-buru bangun lalu duduk menghadap Damian.


“Jarang-jarang kau memanggilku sayang!” seru Hanna, menatap Damian yang malah diam menatapnya.


“Apa kau kesambet? Tidak hujan tidak angin kau memanggilku sayang?” tanya Hanna. Damian masih diam. Pria itu tidak melepaskan tatapannya kearah wanita itu.


“Tapi itu terdengar sangat romantis,”ucap Hanna, sambil tersenyum malu, dengan pipi yang mulai memerah.


“Ada hujan! Ada angin! Kau bilang tidak ada?” tanya Damian, dengan nada tinggi.


“Tidak ada, cuaca sangat cerah. Kau sangat aneh, tidak ada hujan kau bilang hujan, tidak ada angin kau bilang ada angin, membingungkan. Apa kau tidak waras?” keluh Hanna. Dan dia terkejut saat reaksi Damian seperti yang marah padanya.


“Ya aku memang tidak waras,” teriak Damian.


“Kau juga sepertinya sudah gila, berteriak-teriak padaku,” ucap Hanna dengan pelan, dia merasa takut Damian terlihat marah.


“Ya aku juga sudah gila,” jawab Damian, mengangguk.


“Tumben sekali kau mengaku,” Hanna menyipitkan matanya.


“Aku memang tidak waras, aku memang gila!” teriak Damian, dengan wajah yang merah karena marah.


 “Kenapa kau marah? Maaf, aku hanya bercanda,” ucap Hanna, dengan wajah menyesal.


“Kau tahu kenapa?” tanya Damian, suaranya mulai rendah.


Hanna menggeleng.


“Semua karenamu!” kata Damian dengan kesal, karena Hanna tidak mengerti juga. Hanna semakin terkejut melihat Damian semarah itu dan membentaknya.


Kedua tangan Damian mencengkram kedua bahu Hanna dengan kuat, matanya menatap tajam. Hanna semakin tidak mengerti kenapa Damian seperti itu.


“Karena kau pergi meninggalkanku!” jawab Damian, menjawab pertanyaannya sendiri.


Hanna terdiam, dia melihat sorot mata serius dimatanya Damian.


“Aku minta maaf,” ucap Hanna dengan lirih. Dia tidak menyangka reaksi Damian akan seperti ini saat dia pergi.


“Jangan pernah pergi dariku! Kau mengerti?” kata Damian lagi. Harapannya Damian, Hanna akan langsung mengangguk tapi ternyata Hanna malah menggeleng.


“Masa kau tidak mengerti? Jangan pergi dariku!” teriak Damian dengan kesal.


“Kau dari tadi berteriak-teriak, membentakku, maksudnya apa?” tanya Hanna, mulai cemberut.


Meskipun reaksi wanita itu membuatnya kesal, Damian langsung memeluknya dengan kuat, mendekapnya dengan erat, sampai dada Hanna terasa sesak.


“Ugh ugh! Aku sesak nafas,” ucap Hanna. Damian segera melapas pelukannya.


“Berjanjilah kau tidak akan pernah pergi dariku,” pinta Damian. Hanna menatap sorot mata yang putus asa itu, diapun mengangguk. Bagaimana mungkin dia sanggup berpisah dengan pria ini? Dia kembali demi pria ini.


Mendapat anggukan dari Hanna, hati Damian merasa lega. Kedua tangannya memegang kepala Hanna, dia langsung menciumi seluruh wajahnya Hanna. Keningnya, matanya, hidungnya,pipinya semua habis dia cium dan Cup, dia terhenti saat dia mengecup bibirnya Hanna.


“Damian, kau mencium bibirku,” ucap Hanna dengan lirih, menatap wajah Damian yang berada dekatnya hanya berjarak satu centi dari hidungnya. Merekapun bertatapan.


“Benarkah?” tanya Damian.


“Benarkah aku berhasil menciummu?”tanya Damian lagi, tidak percaya.


“Benar, tadi,” Hanna mengangguk.


“Kenapa tidak terasa?” tanya Damian dengan pelan. Kini jarinya menyentuh bibirnya Hanna.


“Sebuah kecupan,” ucap Hanna.


“Aku mau ciuman,” jawab Damian. Hanna terdiam, jantungnya dag dig dug tidak karuan merasakan jari Damian menyentuh bibirnya.


“Bolehkah aku menciummu lagi?Aku sangat merindukanmu,” tanya Damian, jarinya terus mengusap lembut bibirnya Hanna. Hanna mengangguk. Tapi sebelum semua berlanjut terdengar suara ketukan dipintu. Tok tok tok.


“Kenapa selalu seperti ini? Sepertinya dunia tidak mengijinkan kita untuk bermesraan,” keluh Damian dengan kecewa, diapun melepaskan Hanna yang malah tertawa karenanya.


Damian membuka pintu kamarnya, sudah berdiri ibu tirinya disana. Wajah Damian langsung memberengut melihatnya.


“Ada apa? Kau menggangguku,” kata Damian dengan ketus.


“Aku dapat laporan dari satpam kalau istrimu pulang ditengah malam, apa itu benar?” tanya ibu tirinya, matanya melihat ke dalam kamar.


Hanna memiringkan kepalanya supaya kepalanya terlihat ke pintu.


“Iya Bu, aku pulang larut malam, maaf,” kata Hanna.


“Ya sudah, aku hanya memastikan saja,” ucap ibu tirinya Damian, lalu pergi.


Damian menutup pintunya, membalikkan badannya menghadap Hanna. Terlihat sekali dia sangat kecewa, dia benar-benar merindukan wanita yang masih duduk ditempat tidur itu.


“Katakan padaku, sejak kapan kau menggunakan kutek merah dikakimu?” tanya Damian, berjalan mendekat dan menghentikan langkahnya tepat di depan Hanna.


“Kutek? Kutek di kakiku?” tanya Hanna. Diapun meluruskan kedua kakinya, menggoyang goyangkan kakinya dengan pelan sambil melihat jari-jari kakinya yang berkutek merah.


Damian mengangguk. Kemudian Hanna menatap Damian.


“Harusnya kau bertanya Hanna kau kemana saja? Apa kau baik baik saja? Aku merindukanmu, harus nya kau bilang begitu saat melihatku, bukannya menanyakan kutek di kakiku, kau kurang kerjaan ya?” gerutu Hanna.


“Karena gara-gara kutekmu aku berfikir kaki wanita lain yang ada didadaku,” jawab Damian.


“Memangnya kenapa kalau wanita lain?” tanya Hanna.


“Ya aku tidak mau,” jawab Damian. Membuat Hanna tersenyum lebar.


“Aku merindukanmu,” ucap Hanna dengan tulus.


“Aku juga,” jawab Damian.


“Aku sudah menebaknya,” kata Hanna.


“Kau tahu darimana?” tanya Damian.


“Karena kau menggunakan baju tidur yang aku beli,” jawab Hanna.


Damian menatap baju tidur yang dia pakai, baju tidur Tom&Jerrynya.


“Oh ini, aku memakainya karena baju tidurku habis, dicuci semua,” jawab Damian.


“Ah kau alasan saja, bilang saja kalau kau sangat merindukanku jadi kau memakainya,” kata Hanna.


“Kalau sudah tahu kenapa kau tanyakan?” keluh Damian, mulai kesal lagi pada wanita ini. Hanna malah tertawa.


“Aku terlihat anehkan dengan baju ini?” tanya Damian.


“Iya. Norak,” jawab Hanna mengganguk.


“Kalau norak, kenapa kau membelinya?” tanya Damian setengah berteriak karena kesal.


“Ya seru saja samaan,” jawab Hanna sambil menoleh pada baju yang dipakainya, lalu tertawa lagi.


Damian duduk disamping Hanna, menatapnya lagi. Melihat baju yang dipakai Hanna lalu pada baju yang dipakainya.


“Aku memakainya dari kemarin,” ucap Damian.


Hanna menghentikan tawanya dan menatap Damian.


“Pantesan bau,” ucap Hanna.


“Aku memakainya karena aku berharap kau pulang,” jawab Damian.


Hanna terdiam, masih menatap Damian.


“Pantas tidurku nyenyak tadi malam, ternyata kau pulang,” lanjut Damian.


Hanna menggeser duduknya lebih dekat pada Damian dan langsung memeluknya.


“Aku memelukmu semalaman, kau masih mengigau,” ucap Hanna.


“Bagaimana aku tidak akan mengigau, ibuku belum ditemukan, kau juga pergi,” kata Damian, tangannya semakin erat memeluk Hanna.


“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi,” pinta Damian, sambil mencium rambut Hanna.


“Iya, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi,” kata Hanna.


Damian kembali mencium rambut Hanna.


“Katakan, apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba menghilang?” tanya Damian. Tangan kirinya mengusap-usap punggung Hanna.


Ditanya begitu, Hanna terdiam. Apakah dia harus menjawab jujur sekarang? Apakah kalau membicarakan hal ini lebih cepat akan lebih baik? Hannapun mempererat pelukannya.


*************


Maaf ya baru up, authornya keluar kota lagi jadi ga sempat nulis.