Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-54 Henry melamar Shezie pada Bu Vina



Seharian ini Henry tidak pergi-pergi dari rumah sakit. Dia terus menemani Shezie. Meskipun gadis itu sudah berupaya supaya Henry pulang tapi pria itu cuek saja dengan pengusirannya. Shezie bukan tidak mau ditemani Henry tapi sekarang dia merasa serba salah dan gugup terus karena sikap anehnya Henry.


Shezie menoleh pada ibunya yang sedang beristirahat di ruang rawat inapnya, kemudian diliriknya pria itu yang sedang membaca tabloid untuk menghilangkan jenuhnya. Diapun menghampiri Henry.


“Apa kau tidak akan pulang-pulang? Ini sudah gelap,”tanya Shezie dengan pelan, jangan sampai ibunya mendengar.


“Aku masih mau menemanimu, aku pulang kalau kau ikut pulang denganku,” jawab Henyr tanpa menoleh, dia sibuk membaca tabloid ditangannya.


“Sepertinya aku tidak pulang, malam ini aku menemani ibu,” kata Shezie, sambil duduk disamping Henry. Mereka berbicara berbisik-bisik karena takut terdengar oleh ibunya Shezie dan membangunkannya.


“Kalau begitu aku juga menemanimu disini,” jawab Henry.


Shezie menatap Henry yang duduk disampingnya tapi tidak bicara apa-apa, dia sudah tidak bisa mengusir Henry lagi.  Duduk berlama-lama di sofa itu membuatnya mengantuk karena juga lelah yang dirasanya, tapi dia tidak mungkin meninggalkan ibunya meskipun ada Bi Ijah.


Waktu terus berlalu, pria itu benar-benar tidak beranjak dari tempat duduknya, sepertinya tabloid itu sudah habis dibacanya sampai halaman akhir. Sekarang pria itu berada di luar ruangan  menerima telpon yang sebenarnya tidak berhenti berbunyi, sangat terlihat kalau dia sebenarnya sangat sibuk.


“Kalau kau sibuk, kau pulang saja,” kata Shezie, menghampiri Henry yang baru saja menutup telponnya, berdiri diluar.


 Henry tidak menjawab dan hanya menutup telponnya. Sheziepun masuk ke dalam ruangan ibunya lagi, Henry mengikutinya.


Shezie melihat ibunya masih terlelap, ibunya tidur begitu lama mungkin pengaruh obat. Dia merasa senang pengobatan hari ini berjalan lancar, dia ingin melihat ibunya bisa kembali pulang.


“Kau juga harus istriahat,” tiba-tiba ada suara berbisik didekatnya. Shezie menoleh ke belakang.


“Aku belum mengantuk,” jawab Shezie.


“Kau serius tidak akan pulang? Ini sudah malam,” lanjut Shezie.


Henry mengangguk. Sheziepun diam, dia tidak tahu kenapa Henry bersikeras menemaninya seharian di rumah sakit. Diapun menutup gorden  yang ada di dekat tempat tidur pasien lalu berjalan menuju sofa yang ada ruangan itu dan duduk disana. Henry mengikutinya duduk di sofa itu.


“Aku juga tidak akan langsung pulang besok, masa kau disini terus, kau harus mandi,” kata Shezie.


“Sudah aku katakan aku pulang kalau kau ikut pulang. Kalau kau menyuruhku mandi ayo kita pulang bersama, kau juga harus mandi,” kata Henry.


“Apa? Kau mengajakku mandi bersama?” tanya Shezie terkejut.


“Tidak, sepertinya kau sangat tidak focus, aku tidak mengatakan itu tapi kalau kau mau mandi bersamaku sih tidak apa-apa,” jawab Henry.


Sheziepun  jadi tertawa, mungkin dia memag lelah jadi tidak focus.


Dia mulai menguap  berkali-kali. Henry menoleh pada Shezie yang terus menguap itu. Tiba-tiba Shezie merasakan sebuah tangan memeluk bahunya dan menariknya berbaring. Yang mengejutkan adalah gerakan itu membuatnya berbaring dipanggkuan pria itu. Dia akan bangun, tapi tangan Henry menahannya supaya tidak bergerak.


Tidur dipangkuan Henry benar-benar menimbulkan rasa yang bercampur aduk. Pia itu semakin berani saja menyentuhnya. Shezie akan bangun, tapi tangan itu kembali menahannya supaya kembali berbaring. Akhirnya Shezie hanya merasakan kepalanya tidur di kedua pahanya pria itu. Dia merasa geli sendiri, seumur-umur tidak pernah terbayangkan akan tiduran dipangkuannya Henry.


Shezie yang berbaring miring, melirikkan matanya keatas, ternyata Henry sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya, dia tahu pria itu sangat sibuk tapi entah kenapa begitu keras kepala tidak mau meninggalkannya.


Lama-lama rasa semakin dirasanya, tidur dipangkuan pria itu juga membuatnya nyaman, selain rasa kantuk yang terus menyerang, akhirnya Shezi tertidur dipangkuannya Henry.


Henry melihat pada Shezie yang terlelap, diapun tersenyum. Tangannya menyibakkan rambut gadis itu yang menutup wajahnya, diusapnya kepala istrinya itu. Perasaannya sudah tidak bisa dibohongi lagi, dia menyayangi Shezie. Entah berasal dari kapan perasaan  itu muncul, hanya saj dia menyadari dia tidak rela melepaskannya. Tangan kanannya kini mengusap bahunya Shezie saat gadis itu bergerak, Henry berusaha menidurkannya kembali.


Gorden itu bergerak- gerak tertebak angin yang berhembus diluar masuk lewat celah jendela, membuat gorden itu sedikit terbuka bagian ujung. Bu Vina tebangun dari tidurnya dan saat membukakan matanya, dia menoleh kearah sofa lewat celah gorden itu, dia terkejut melihat Shezie tidur dipangkuannya teman travelnya itu, apalagi pria itu mengusap usap kepalanya dengan lembut.


Bu Vina tertegun melihatnya, apa dia tidak salah lihat? Sepertinya Shezie menyukai pria itu, tidak pernah sedikitpun dia melihat Shezie bersikap mesra pada Martin meskipun dia sudah menerima lamarannya Martin. Apakah Shezie benar-benar menyukai pria itu?


Ada risau dalam hati Bu Vina, apa yang akan terjadi jika Shezie menyukai temannya itu dan memutuskan pertunangannya dengan Martin? Apakah dia akan mengijinkannya? Dia sudah bisa melihat Shezie menyukai pria itu. Dan pria tampan itu juga sepertinya menyukai Shezie. Pria itu terus menemani putrinya dan tidak pulang-pulang.


Bu Vina menghela nafas panjang. Di bingung dengan semua ini. Melihat Shezie terlihat nyaman tidur dipangkuan pria itu membuatnya tidak tega memisahkan putrinya dengan pria itu jika memang Shezie menyukainya, tapi Shezie sudah menerima lamarannya Martin, Martin juga pria yang baik dan selalu perhatian selama ini bukan saja pada Shezie tapi juga pada dirinya dan mau membantu pengobatannya, rasanya sangat tidak adil kalau harus memutuskan pertunangannya Shezie dengan Martin.


Diliirknya lagi ke celah gorden yang bergerak- gerak itu. Pria itu menempelkan kepalanya ke tembok dan memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Lagi-lagi wajah pria itu mengingtakannya pada seseorang di masa lalunya, Bu Vina menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya mencoba membayangkan sosok yang kini muncul dalam benaknya.


Malam semakin larut dan haripun sudah pagi…


Henry tertidur di sofa itu dengan Shezie masih dipangkuannya. Diapun meraih kepalanya Shezie dan beringsut bangun  perlahan lalau menidurkan Shezie lagi di sofa. Diambilnya bantalan sofa untuk di ganjalkan pada kepalanya Shezie.


Henry melihat bayangan di balik gorden itu bergerak, sepertinya ibunya Shezie ingin mengambil air minum. Diapun segera menggeser gorden itu sedikit.


“Biar aku bantu,” kata Henry, sambil bergegas menuju nakas dan mengambil gelas minum yang ada disana lalu membantu Bu Vina minum.


“Apa aku perlu merubah setingan tempat tidurnya?” tanya Henry, barangkali Bu Vina mau sedikit menegakkan tubuhnya ke posisi bersandar.


“Iya, tolong dibantu,” kata Bu Vina. Henrypun segera melakukannya, merubah setingan  tempat tidur itu lebih terangkat setengah badan membuat tubuh Bu Vina terangkat lebih tinggi sebagian ke posisi bersandar.


“Sudah, terimakasih,” jawab Bu Vina, sambil menatap Henry.


Henry juga menatapnya sambil tersenyum.


“Apa sekarang merasa lebih baik?” tanyanya.


“Iya, terimakasih kau sudah menemani putriku, kau pasti lelah,” jawab Bu Vina.


“Tidak apa-apa,” jawab Henry, masih berdiri disana.


Bu Vina masih menatap wajah pria itu.


“Kau menyukai Shezie?” tanya Bu Vina.


“Iya, aku menyukainya, aku menyayangi putrimu,” jawab Henry dengan jujur.


“Tapi Shezie sudah bertunangan,” kata Bu Vina.


“Iya aku tahu,” jawab Henry.


“Sebaiknya kau menjauhinya, aku tidak mau kau menggangu hubungan Shezie dan Martin,” kata Bu Vina.


“Mereka baru bertunangan, mereka belum menikah,” ucap Henry.


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Bu Vina.


“Aku ingin melamar Shezie menjadi istriku,” jawab Henry.


“Apa?” Bu Vina tersentak kaget.


“Iya, aku ingin menikahi putrimu,” jawab Henry. Padahal sebenarnya dia sudah menikahi Shezie, tapi karena Shezie yang memaksanya untuk meralat dan pura- pura berteman saja, membuatnya harus menganggap kalau mereka bukan suami istri di depan Bu Vina.


Bukan Bu Vina saja yang terkejut, sosok yang berbaring di sofa juga terkejut mendengar perkataanya Henry. Shezie yang baru terbangun, terkejut mendengar perkataannya Henry, apa dia tidak salah dengar kalau Henry melamarnya pada ibunya?


“Tapi dia sudah bertunangan dan akan menikah dengan Martin,” kata Bu Vina.


“Shezie tidak menyukai Martin,” kata Henry.


“Apa Shezie mengatakan dia juga menyukaimu?” tanya Bu Vina. Ditanya begitu Henrypun diam beberapa saat.


“Dia menyukaiku,” jawab Henry, membuat Shezie semakin terkejut saja, pria itu sok tahu mengatakan dia menyukainya, dasar Henry, batinnya.


“Apa Shezie bilang begitu padahal dia sudah bertunangan dengan Martin?” tanya Bu Vina.


“Tidak, tapi aku tahu dia juga menyukaiku,” jawab Henry. Bu Vinapun diam.


“Shezie tidak akan bahagia menikah dengan Martin. Dia akan menderita. Kalau Ibu merasa berhutang pada Martin, aku bisa mengembalikannya kepada Martin,” jawab Henry. Dalam hati dia tidak masalah kalau harus mengganti uang yang sudah Martin keluarkan untuk membantu ibunya Shezie.


“Aku juga akan memantu ibu untuk berobat di luar negeri,” ucap Henry. Dia sudah tidak pernah hitungan lagi berapa uang yang dia keluarkan untuk Shezie, lama semakin lama dia merasa apa yang dimilikinya tidak berharga jika masih melihat gadis itu menderita.


“Aku akan memberikan apapun yang Shezie butuhkan. Shezie sangat menyayangimu dan menginginkanmu sembuh, jadi aku mau mengurus pengobatanmu di luar negeri,” ucap Henry.


Bu Vina menatap pria itu yang masih berdiri tidak jauh dari tempat tidurnya.


“Ini bukan masalah uang, aku dan Shezie sudah menerima lamarannya Martin, kami juga harus menghormati keluarganya, tidak lantas memutuskan pertunangannya itu begitu saja. Kau datang terlambat,” kata Bu Vina.


“Maaf aku juga tidak bermaksud melakukan ini hanya untuk mendapatkan Shezie, aku hanya tidak mau Shezie bergantung pada orang lain dan harus terpaksa menikahinya karena berhutang budi. Aku benar-benar menyukai Shezie dan ingin membahagiakannya,”


jawab Henry.


Bu Vina tidak menjawab.


“Aku harap Ibu mau mempertimbangkan permintaanku, aku hanya ingin membuat Shezie bahagia,” kata Henry.


Masih tidak ada jawaban dari Ibunya Shezie. Dia masih mempertimbangkan perkataannya Henry, meskipun Shezie menyukai Henry tidak bisa dia lantas memutuskan pertunangan Shezie dengan Matin, dia juga harus memikirkan perasaannya Martin yang sudah begitu baik padanya dan Shezie.


Shezie menatap sofa yang ada didepan matanya, karena dia berbaring menatp sandaran sofa, dia tidak menyangka Henry benar-benar melamarnya pada ibunya.


************