Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-61 Ada yang marah-marah



Hanna merasakan tangan Damian memeluknya erat, punggungnya terasa jelas menempel didada pria itu, dada yang dia ejek sekeras batu tapi membuatnya sangat nyaman. Tapi tidak dengan malam ini. Kehangatan pelukan ini terasa semakin mencabik-cabik hatinya. Butiran armata mulai menetes dipipinya. Dia tidak tahu kelanjutan dari hubungan ini apa? Meskipun tidak ada yang mereka lakukan selain memeluk. Bukankah dalam perjanjian dia hanya bertugas memeluk tanpa hati? Ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Dia sudah melanggar perjanjian untuk tidak jatuh cinta pada Damian. Bukan uang lagi yang dia fikirkan. Jika dia kembali kepada ayahnya dia tidak akan membutuhkan uangnya Damian lagi. Masalahnya sekarang adalah hati. Jika dia benar-benar pergi, ada hati yang tertinggal di rumah ini.


Setetes dua tetes airmata keluar dari sudut matanya. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya tapi ditahannya jangan sampai Damian bangun.


“Jangan pergi..bu..jangan pergi…” terdengar pria disampingnya itu mulai mengigau. Sepertinya Damian sudah tidur. Belakangan ini pria itu rela dia yang memeluknya daripada memintanya untuk menungguinya jika mengigau.


Hanna membalikkan badannya, kini menatap pria yang tertidur itu yang mengigau memanggil ibunya. Hatinya semakin sedih, melihat wajah gelisah berkeringat di depannya itu. Tangan Hanna mengusap bahu Damian perlahan-lahan.


“Tidurlah, tidur,” ucapnya berulang-ulang.


“Aku bersamamu, tidurlah!” ucap Hanna lagi, masih mengusap usap bahunya Damian. Ditatapnya wajah yang setiap hari dia lihat itu, mungkin entah besok atau lusa, jika ayahnya tahu keberadannya, semua akan terbongkar dan ayahnya akan marah besar jika tahu dia istri bohongannya Damian. Dan jika itu terjadi maka dia tidak akan pernah melihat wajah tampan di depannya itu lagi. Meskipun nanti Damian masih mengigau memanggil ibunya, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Semoga saja Damian cepat bertemu ibunya dan sembuh dari mimpi buruknya.


**********


Damian bangun dari tidurnya. Tidak ada Hanna disampingnya. Kemana dia sepagi ini? Ah mungkin dia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah atau lagi di dapur. Di dapur? Memangnya kapan wanita itu memasak? Dia hanya menyuruhnya ke salon dan belanja. Tapi kenapa uang di ATM itu utuh? Kenapa dia tidak menggunakannya? Damian baru tersadar kalau beberapa kali Hanna mengembalikan ATM selalu mengatakan uangnya tidak dipakai. Terus kenapa dia tidak memakai uang itu? Bahkan soal rumah yang di tepi pantaipun dia tidak pernah membicarakannya lagi. Dia tidak pernah mengatakan impiannya dengan uang yang di dapat darinya lagi. Ada apa sebenarnya?


Karena matahari mulai meninggi, Damian buru-buru ke kamar mandi. Hari ini dia sedang banyak pekerjaan di kantornya.


Setelah mandi dan berpakaian, Hanna tidak ada muncul ke kamarnya juga, membuatnya bertanya-tanya. Kemana Hanna?  Jangan-jangan dia pergi?  Dengan tergesa-gesa dia keluar kamar mencari Hanna.


Dicarinya Hanna ke meja makan, barangkali dia makan duluan, ternyata tidak ada. Di beberapa ruangan juga tidak ada. Akhirnya Damian ke teras. Di teras juga tidak ada. Kemana dia? Hatinya mulai gelisah.


Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada taman di halaman yang ada ayunanya. Wanita itu sedang ada di ayunan, dan Satria sedang mengayunkan ayunan itu. Spontan darahnya langsung mendidih. Buat apa Hanna berdua-duaan dengan Satria di ayunan? Apalagi melihat mereka bicara tertawa-tawa.


Damian langsung menghampiri mereka dengan wajah yang memerah karena menahan marah.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Damian dengan ketus pada Hanna.


Hanna terkejut melihat kedatangannya. Satria menghentikan pegangan di ayunan itu.


“Aku hanya ayunan, aku bosan,” jawab Hanna tanpa berfikir apa-apa, bicara seadanya. Tadi dia bangun pagi, akhirnya berjalan jalan disekitar rumah, lalu ke taman itu dan main ayunan, ternyata Satria selesai mencuci motornya dan seperti biasa dia suka menjahilinya, tiba-tiba mengayunkan ayunannya karena Hanna kesulitan dengan salah satu tangannya yang terluka, kemudian Damian datang dan marah-marah seperti ini. Dia benar-benar marah.


Hanna tidak mengerti kenapa Damian marah? Masa cuma ayunan saja dia marah?


Satria tampak terkejut melihat kakaknya begitu marah pada Hanna.


“Kakak aku hanya iseng mengganggu kakak ipar, karena tangannya terluka tidak bisa memegang tali ayunan,” ucap Satria menatap kakaknya.


Damian tidak menjawab, dia langsung menarik tangan Hanna menjauh dari ayunan. Hanna mengikutinya dengan terpaksa, tidak mengerti kenapa Damian semarah itu karena dia main ayunan?


“Cepat ganti pakaianmu, kau ikut aku ke kantor,” kata Damian saat sudah sampai di kamar mereka.


“Ikut ke kantor?” tanya Hanna, keheranan. Mau apa dia ke kantor Damian?


“Iya! apa kau tidak dengar? Ayo ganti bajumu!” jawab Damian dengan keras. Hanna semakin tidak mengerti kenapa Damian marah-marah padanya.


“Iya,” jawab Hanna menurut padahal dia bingung buat apa dia ikut ke kantor? Pasti sangat membosankan menunggu Damian bekerja seharian.


Setelah berganti pakaian di ruangan khusus menyimpan pakaian, Hanna mendapati pria itu masih berdiri dengan melipat tangan di dadanya, wajahnya masih kusam seperti tadi. Tidak ada hujan tidak ada angin dia marah-marah tidak jelas.


“Sudah,” ucap Hanna.


“Ayo!” ajak Damian. Tidak seperti biasanya, dia tanpa bicara apa-apa tanpa menilai penampialnnya, langsung mengajaknya padahal biasanya dia rewel jangan inilah jangan itulah. Pake baju yang sopan, jangan membuatku malu, jangan pakai lipstick yang mencolok, jangan melakukan hal-hal yang aneh, atau apalah. Sekarang tanpa basa basi langsung mengajaknya pergi saja. Tapi Hanna tidak banyak bicara, dia hanya mengikuti langkah pria itu.


Sepanjang jalan pria itu tidak bicara, wajahnya terus ditekuk, tanpa senyum sedikitpun. Meskipun biasanya Damian diam, tapi sekarang diamnya itu diam yang berbeda, dia seperti sedang kesal karena sesuatu dan Hanna tidak mengerti sesuatu itu apa? Apa kesalahan yang sudah dia buat? Tapi dia tidak berani bertanya atau pria itu akan membentaknya seperti tadi.


Saat memasuki loby, receptionis, dan karyawan karyawan yang berpapasan dengan mereka, menyapa Damian tapi pria itu tidak menjawabnya, mulutnya benar-benar terkunci.


“Selamat atas kehamilannya bu,” tiba-tiba ada yang bicara seperti itu, barulah raut muka Damian agak berubah, tapi kemudian ditekuk lagi.


Hanna tersenyum ramah pada karyawan itu.


“Terimakasih,” ucapnya. Diliriknya pria itu masih memberengut. Tapi melihat Hanna beramah tamah pada karyawan itu, Damian langsung menariknya masuk ke lift, Hannapun mengikutinya dengan keheranan. Dia merasa tidak enak pada karyawan itu yang juga tampak terkejut dengan sikap bosnya.


“Kau sangat menakutkan jika marah,” batin Hanna.


Lagi-lagi Hanna harus sabar dan tidak bertanya apa-apa. Dia hanya mengikuti langkahnya Damian.


Sesampainya di lantai tempat Damian bekerjapun masih begitu, Damian sama sekali tidak menjawab sapaan karyawan lain termasuk sekretarisnya, yang tampak kebingungan dengan sikap atasannya. Hanna hanya melirik sekilas pada sekretarisnya Damian itu, yang menatapnya seperti bertanya-tanya ada apa dengan Damian?


Masuk ke ruang kerjanya, Damian langsung memanggil sekretarisnya dengan berteriak.


“Siska! Mana berkas-berkas yang aku minta disiapkan?” tanya Damian. Bu Siska buru-buru menghampiri dengan tergesa-gesa.


“Maaf pak, belum selesai, ada beberapa yang harus di edit,” jawab Bu Siska langsung masuk ke ruangan Damian.


“Kenapa belum selesai juga? Kerjakan sekarang! Aku tunggu 15 menit!” bentak Damian. Bu Siska tampak terkejut.


“15 menit?” tanya Bu Siska.


“Kau dengar tidak? Kerjakan!” jawab Damian kini setengah berteriak.


“Ba baik Pak!” jawab Bu Siska dengan gugup dan langsung kabur dari ruangan Damian.


Hanna yang masih berdiri tambah semakin bingung dengan sikap pria itu. Tapi dia tidak mau ikut campur urasan pekerjaannya Damian. Dia hanya duduk di sofa tanpa bicara apa-apa.  Pria itu juga tidak bicara apa-apa. Dilihatnya Damian duduk di kursi kerjanya dan mulai mengerjakan berkas yang bertumpuk itu.


“Siska! Apa ini?” teriaknya. Hanna sampai kaget mendengar teriakannya. Bu Siska buru-buru masuk ke ruangan.


“Kau melewatkan bagian yang harus ku tandatangani!” jawab Damian dengan ketus. Dan Bruk! Damian menyimpan berkas itu setengah dibanting ke meja di depan Bu Siska.


“Maaf Pak, saya lupa memasang post it,”jawab Bu Siska, buru-buru diambilnya berkas itu, kemudian membalikkan badannya, akan pergi tapi Damian berteriak lagi.


“Siapa yang menyuruhmu pergi?” bentaknya.


“Saya mau memasang post it nya pak,” jawab Bu Siska.


“Tunggu disitu!” bentak Damian.


“Ba baik Pak,” jawab Bu Siska, gemetaran.


Hanna menyaksikan kejadian itu hanya diam, dia kasihan pada Bu Siska yang dimarah marahi Damian hanya masalah sepele. Tapi sekali lagi dia tidak mau ikut campur urusan pekerjaan Damian.


Hari sudah siang, Hanna kesal berada diruangan itu. Damian sama sekali tidak mengajaknya bicara, dia serius dengan berkas yang bertumpuk di depannya.


Hanna meletakkan tabloid di meja, sepertinya dia sudah membaca semua isi artikel itu dari halaman pertama sampai terakhir. Benar-benar membosankan.


“Damian! Bolehkan aku keluar sebentar?” tanya Hanna.


“Tidak boleh!” teriak Damian.


“Ke kenapa?” tanya Hanna, terkejut.


“Kataku tidak boleh tidak boleh!” bentaknya.


“Masa tidak boleh?” tanya Hanna, menatap Damian yang sama sekali tidak menatapnya.


“Kau tidak dengar ucapanku?” bentaknya lagi.


“Aku akan mengompol kalau kau melarang aku keluar,” ucap Hanna. Ternyata dia ingin ke toilet.


Damian terdiam. Kemudian dia berteriak-teriak lagi.


“Bu Siska! Bu Siska!” panggilnya. Bu Siska buru-buru berlari masuk ke ruangan Damian.


“Maaf pak, laporannya belum selesai,” ucap Bu Siska dengan wajah pucat, takut di semprot lagi Damian.


“Antar istriku ke toilet!” perntah Damian membuat Bu Siska terkejut apalagi Hanna. Masa ke toilet diantar Bu Siska? Kaya anak kecil saja. Hanna mendelik sebal pada pria itu. Ini Damian ada-ada saja.


“Kau tunggu sampai kembali lagi kesini!” perintah Damian.


“Baik Pak,” jawab Bu Siska pada Damian.


Meskipun terkejut, Bu Siska menoleh pada Hanna.


“Ayo Bu!” ajak Bi Siska, daripada dimarahi lagi atasannya itu.


Hanna langsung berdiri dan keluar ruangan itu menuju toilet diantar Bu Siska dengan perasaan yang tidak nyaman. Tapi dia tidak bicara apa-apa. Dia masuk toilet yang berada tidak jauh dari ruangannya Damian.


Saat keluar dari toilet, benar saja Bu Siska masih menunggunya di depan pintu. Sepertinya Bu Siska takut sekali pada Damian.


Hanna hanya menatap sekilas pada Bu SIska  kemudian kembali ke ruangannya Damian. Pria itu hanya meliriknya sekilas tanpa bicara apa-apa. Sepertinya dia betah berjam-jam hanya duduk dengan memerika berkas bertumpuk diatas mejanya.


Hanna kembali duduk di sofa tadi. Bu Siska masih bediri di dekat mejanya Damian.


“Pak, waktunya makan siang, mau makan disini atau diluar?” tanya Bu Siska.


“Disini saja,” jawab Damian.


“Baik Pak!” jawab Bu Siska, lalu keluar dari ruangan itu.


Setengah jam kemudian, Bu Siska kembali ke ruangan dengan seorang OB yang membawakan beberapa piring menu makanan dan disimpan dimeja di depan Hanna.


“Trimakasih,” jawab Hanna.


“Silahkan Pak, Bu!” ucap Bu Siska.


Hanna menoleh pada Damian yang masih sibuk.


“Sayang, ayo makanlah,aku juga sudah lapar,” ucap Hanna, menggunakan kata sayang karena Bu Siska masih ada disitu. Damian langsung menghentikan aktifitasnya, lalu menoleh ke arah Hanna dan makanan di meja. Dilihatnya Hanna menyendok beberapa menu dengan tangan kiri, karena tangan kanan terluka.


Damian bangun dari duduknya, menghampiri Hanna, duduk di dekat Hanna, lalu meraih sendok yang sedang dipegang tangan kiri Hanna. Hanna terkejut Damian merebut sendoknya, dia diam saja. Damian mengambil piring Hanna dengan tangan kiri dan mengisinya dengan menu makanan. Hanna hanya diam saja ingin tahu apa yang akan dilakukan pri yang sedang marah-marah itu. Ternyata Damian menyiukkan sendok tadi diisi dengan makanan dipiring yang dipegangnya dan disodorkan pada Hanna. Dia akan menyuapi Hanna, membuat Hanna terkejut. Pria yang sedang marah-marah itu mau menyuapinya?


“Aku tidak sakit, aku bisa sendiri,” ucap Hanna menolak.


“Tidak bisakah kau diam dan hanya makan saja?” tanya Damian dengan ketus.


Terpaksa Hanna membuka mulutnya dan memakan makanan dari sendok yang Damian sodorkan.


****************


Jangan lupa like vote dan komen