Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-117 Rencana Ny. Sofia melamar Hanna



Damian pulang ke rumah dengan hati yang hancur, dia sangat kecewa berpisah dengan Hanna. Motornya diparkir dihalaman itu bersamaan dengan keluarnya Satria dari kantornya. Di depan teras kantor Satria berdiri menatap kakaknya yang beseragam kurir. Hatinyapun ikut sedih, melihat kesedihan di wajah kakaknya. Dilihatnya kakaknya pergi kerumah manaiki tangga tanpa menghampirinya, diapan mengikuti langkah kakaknya.


Kakakknya itu masuk ke kamarnya, Satria menunggunya diruang tengah. Saat kakaknya keluar sudah berganti pakaian, dia menghampirinya.


“Ada ada?” tanya Damian.


“Ayo kita pulang ke ibukota,” jawab Satria.


“Pulang? Ke ibukota?” tanya Damian, menatap Satria.


“Iya, aku akan minta ibu melamar kakak ipar pada Pak Louis,” jawab Satria.


“Ayo! Mana konci mobilmu? Kita pulang sekarang,” kata Satria, dia langsung menarik tangannya Damian, keluar rumah.


“Satria! Apa maksudmu?” tanya Damian, mengikuti kaki adiknya.


“Sudah jangan banyak bicara, ayo kita pulang sekarang juga,” jawab Satria, sambil menutup pintu rumah, teus menarik  tangan kakaknya menuju mobil yang terparkir dihalaman.


“Aku yang nyetir,” ucap Satria, sambil membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh kakaknya masuk ke dalam. Damian tidak bicara, diapun masuk lebih dulu. Satria berjalan memutar menuju ke pintu satunya lagi. Beberapa menit kemudian mobil itu melaju meninggalkan rukan itu.


Sepanjang jalan Damian tidak banyak bicara, dia melamun saja, matanya melihat ke jendela samping, melihat pemandangan yang bergerak diluar sana. Tiba-tiba Damian berseru.


“Hentikan dulu mobilnya, mudur!” pintanya pada Satria. Adiknya itu segera menghentikan mobilnya, lalu mundur sesuai keinginan Damian.


“Stop!” kata Damian.


Mobilpun berhenti, Satria keheranan kenapa Damian menyuruh berhenti? Kakaknya itu sekarang menatap ke depan arah kiri jalan. Sariapun melihat kearah matanya Damian. Ternyata ada gapura Hanna Grand Lakeside disana.


Damian menatap gapura itu tanpa berkata-kata. Malam itu dia memperlihatkan gapura itu pada Hanna, dia sangat senang melihat senyum gadis itu saat melihat gapura. Hatinya sangat sedih sekarang, real estate yang dia persembahkan untuk wanita tercintanya itu terancam berantakan. Matanya tampak memerah.


“Kita jalan lagi,” ucapnya. Satria tidak berkomentar apa-apa, dia kembali menjalankan mobilnya. Dia juga ikut sedih melihat kakaknya seperti itu. Tidak pernah sekalipun melihat kakaknya terpuruk begini. Terlihat sekali kalau kakaknya sangat mencintai kakak iparnya.


Perjalanan yang sebenarnya jauh itu terasa begitu singkat bagi Damian, tiba-tiba saja Satria sudah memarkir mobilnya dihalaman rumah mewahnya.


Damian tampak malas keluar dari mobil, dia masih duduk saja melamun. Hanna tidak ada disisinya, rasanya separuh jiwanya terasa hilang seperti lagunya Peter Pan, tapi dia tidak hafal lagu itu, hanya ingat sedikit bait lagu itu yang pernah didengarnya jika radio di mobilnya dinyalaakan saat diperjalanan.


Satria lebih dulu masuk ke rumah, ibunya tampak terkejut melihat kedatangannya.


“Kau pulang nak?” tanya Ny.Sopia.


“Iya Bu, ada yang ingin aku sampaikan,” jawab Satria tanpa basa-basi.


“Kau sangat serius sekali, ada hal penting?” tanya ibunya. Satria langsung menarik tangan ibunya duduk diruang tamu.


“Ibu harus menyelamatkan Kakak,” kata Satria.


“Damian? Menyelamatkan?” tanya Ny.Sofia mengerutkan keningnya, menoleh kearah jendela, dilihatnya anak tirinya itu masih di dalam mobinya, belum turun.


“Kenapa dia?” tanya Ny.Sofia kembali menatap Satria.


“Kakak patah hati, kakak ipar pergi. Ibu harus ke rumahnya kakak ipar, melamarnya untuk menikah dengan kakak,” kata Satria.


“Tunggu, tunggu, kau ini bicara apa?” tanya Ny.Sofia sangat terkejut.


“Ibu harus ikut kami ke pantai, untuk melamar kakak ipar,” jawab Satria, mengulang perkataannya.


“Melamar? Kau ini  bercanda? Mereka kan sudah menikah,” kata ibunya, kebingungan.


“Tidak, semuanya salah faham. Kakak ipar itu bukan istrinya kakak, Ibu telah salah faham mengagap kakak sudah menikah dengan kakak ipar lalu membuat resepsi,” ucap Satria membuat Ny. Sofia terkejut.


“Kau ini bicara apa Satria?” tanyanya, tidak mengerti.


“Kakak ipar bukan istrinya kakak. Ibu salah waktu itu mengira kakak menikah diam-diam, kakak ipar waktu itu bukan istrinya kakak, kakak ipar kabur dari pernikahannya menumpang mobilnya kakak lalu keluarga juga tamu-tamu mengira kakak sudah menikah dengan kakak ipar,” jelas Satria.


Mendengarnya membuat Ny.Sofia sangat terkejut.


“Jadi sebenarnya Damian tidak menikah dengan Hanna?” tanya Ny.Sofia, dia benar-benar terkejut. Satria mengangguk.


“Itu orangtua bohongan kakak ipar,” jawab Satria.  Ny. Sofia sampai tidak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya..


“Kakak ipar tidak bisa membantah karena kabarnya sudah terlanjur menyebar,” ucap Satria.


“Terus apa maksudnya dengan melamar Hanna?” tanya Ny,Sofia.


“Kakak jatuh cinta pada kakak ipar, tapi kakak ipar itu sudah dibawa pulang oleh ayahnya, dan akan dinikahakn lagi sama pengantin pria yang dulu,” jawab Satria.


Ny, Sofia terdiam, selain bingung, terkejut, dia juga tidak tahu harus bertindak apa.


Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan itu, Satria dan Ny. Sofia menengok ke araha suara dan ternyata Damian, dia masuk ke rumah tapi tidak menghampiri mereka, dia berjalan saja menuju lantai atas menuju kamarnya.


Ny.Sofia menatap anak tirinya itu yang terlihat lesu, lalu menoleh pada Satria. Dia memang jarang bicara dengan Damian tapi Damian tidak pernah terlihat seperti itu.


“Apa yang harus ibu lakukan?” tanya Nyonya Sofia.


“Lamarkan kakak kepada orang tuanya,” jawab Satria.


“Bukankah itu gampang? Kakakmu punya banyak uang, berikan saja mahar yang banyak pasti orangtuanya suka,” kata Ny.Sofia lagi.


“Tidak segampang itu Bu, orangtuanya kakak ipar juga bukan orang sembarangan, dia orang kaya, punya pengaruh besar di daerahnya dan  juga rekan bisnis kakak juga. Gara-gara ketahuan kakak ipar adalah putrinya jadi proyek kakak terancam gagal padahal proyeknya sudah berjalan,” jelas Satria.


“Baiklah kalau begitu, aku akan melamarkan Hanna buat kakakmu,” ucap Ny.Sofia mengaguk.


Damian masuk ke kamarnya, melihat isi kamarnya yang terlihat adalah sosok wanita itu saat berada di dalam kamarnya, saat dia tidur, saat memainkan handphone-nya di sofa, saat dia merias diri dan saat bertengkar dengannya, apalagi saat memeluknya, bayangan Hanna muncul disetiap sudut kamar itu.


Tidak ada yang dilakukannya, Damian malah berdiri di dekat jendela melihat keluar. Teringat lagi saat Cristian masuk ka rumah itu dengan Hanna, hatinya terasa begitu sakit, apa kali ini dia akan benar-benar kehilangan Hanna untuk selamanya?


Damianpun menundukkan kepalanya, dia sangat merindukan Hanna.


Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya, membuyarkan lamunannya Damian.


Saat dibukanya ternyata ibu tirinya sudah berdiri disana. Damian menatapnya. Seperti biasa, dia akan bersikap cuek pada ibu tirinya itu.


“Satria sudah menceritakan semuanya,” kata Ny.Sofia. Damian tidak menjawab.


“Aku minta maaf sudah membuatkan resepsi buatmu, aku fikir kau memang sudah menikah dengan Hanna waktu itu. Aku hanya berusaha jadi ibu yang baik buatmu,” ucap Ny.Sofia. Damian hanya berdiri dan tidak melihatnya.


“Aku akan melamarkan Hanna pada keluarganya,kau tinggal bilang kapan kita akan kesana, aku siap,” lanjut Ny.Sofia, membuat Damian terkejut, apa dia tidak salah dengar kalau ibu tiri yang sudah membuat ibunya pergi dari rumah ini mau melakukannya?


Setelah bicara begitu, Ny. Sofia pergi dari hadapan Damian, tapi Damian sama sekali tidak bicara sepatah katapun.


Tidak harus menunggu lama, keesokan harinya mereka, Damian, Satria dan Ny. Sofia pergi ke pantai. Tapi karena perjalanan yang sangat jauh, mereka sampai di daerah pantai hari sudah malam.


“Apa kita akan langsung ke rumahnya Hanna?” tanya Ny.Sofia, sambil melihat kearah pantai saat jalan raya itu berada cukup  jauh ke pantai hanya saja dipinggirnya pantai itu sangat lengang tidak ada pemukiman, jadi bisa melihat air yang menghijau itu dari dalam mobil.


“Lebih cepat lebih baik, Bu. Tapi kalau ibu capek, kita beristirahat,” kata Satria.


“Tidak, kita sudah beberapa kali berhenti tadi. Kita langsung ke rumahnya Hanna saja,” jawab Ny. Sofia. Kepalanya bersender ke jendela menatap pantai di kejauahan sana.


“Tempat ini sangat indah, sangat potensial kalau tempat wisatanya dibangun, dan tempat ini akan jadi tempat yang ramai apalagi setelah real estatemu selesai,” kata Ny.Sofia, menoleh pada Damian yang sedari tadi tidak bicara.


Pria itu memang sudah biasa tidak bicara dengannya, apalagi kondisi sekarang yang sedang patah hati, semkin malas saja dia berucap. Dan benar saja Damian tidak menanggapinya.


Satria juga diam, dia tahu bagaimana sikap kakaknya pada ibunya, tapi dia tidak pernah ikut campur soal itu, karena dia juga faham perasaannya Damian yang kesal pada ibunya yang menyebabkan orangtuanya berpisah. Tapi benar tidaknya alasan itu, dia juga tidak tahu, hanya yang dia tahu ibunya sudah mau berusaha menjadi ibu yang baik buat kakaknya.


Karena Damian tidak menjawab, Ny. Sofia kembali melihat kearah pantai. Dadanya tiba-tiba berhenti berdetak saking terkejutnya. Dia melihat seorang wanita dikejauhan sana yang sekilas wanita itu mengingatkannya pada seseorang. Tapi saat dilihatnya lagi wanita itu membalikkan badan memunggungi jalan raya dan menatap kearah pantai, tidak jauh darinya terparkir sebuah mobil berwarna merah, mungkin mobil itu yang digunakan wanita itu.


Kening dan kedua tangannya tiba-tiba berkeringat, wanita itu sekilas mirip seseorang, dan seseorang itu adah ibunya Damian. Mobil melaju cepat di jalanan itu, Ny.Sofia memutar kepalanya melihat kearah wanita itu tapi karena wanita itu membelakangi jalan, dia tidak tahu pasti apakah itu ibunya Damian atau bukan. Pandangannya menghilang saat jalan raya itu mulai memasuki pinggiran pantai yang penuh dengan rumah rumah penduduk.


Hati Ny. Sofia semakin gelisah saja, dia menebak-nebak dalam hatinya apakah yang dia lihat itu ibunya Damian atau bukan. Apakah dia harus mencari Yulia, dia biasa menyebut nama ibunya Damian itu, Yulia.


Apa dia harus kembali ke tempat ini siapa tahu benar itu ibunya Damian, tapi mungkin saja hanya mirip, ya mungkin hanya mirip. Sekarang yang harus dilakukannya adalah melamar Hanna untuk Damian.


*************