
Sore itu Henry pulang lebih cepat, dia agak terkejut saat melihat Shezie sudah pulang ke rumah. Saat dia masuk ke rumah, gadis itu langsung menghampirinya.
Henry langsung tersenyum melihatnya, dia merasa gadis itu menyambutnya seperti istri yang sebenarnya saja.
“Kau menyambutku?” tanyanya, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Ah tidak, memang tidak ada yang bisa aku kerjakan lagi,” jawab Shezie.
Jawaban yang tidak menggenakkan bagi Henry, dia pun melangkah meninggalkan Shezie.
“Seharusnya kau menyambutku kalau aku pulang,” ucapnya sambil lalu.
Shezie hanya diam saja melihat reaksi Henry begitu, pria itu tidak bicara lagi, dia langsung pergi meninggalkan Shezie. Gadis itu membalikkan badannya mengikuti langkahnya Henry. Pria itu memasuki kamarnya, diapun mengikutinya ke kamar.
Dilihatnya Henry masuk ke kamar mandi. Shezie mematung dipintu, apakah dia memang harus mengatakan hal ini pada Henry? Dia harus minta cerai lebih cepat?
Shezie melihat ka sekeliling kamar itu. Beberapa hari tinggal dirumah ini, dia mulai terbiasa dengan suasana kamar ini, tapi dia harus sadar diri ini adalah hanya sementara karena dia harus meninggalkan Henry dan menikah dengan Martin.
Shezie duduk di sofa, menunggu Henry selesai mandi.
Tidak berapa lama Henry keluar dari kamar mandi. Di kamar ini walk in closetnya berdekatan dengan kamar mandi jadi tidak perlu berjalan mengelilingi tempat tidur lagi, Henry bisa dengan cepat menyelesaikan berpakaiannya. Saat keluar dari walk in closet dia terkejut saat melihat Sheze sudah berdiri menatapnya.
“Ada apa?” tanya Henry, sambil kembali melihat cermin dan merapihkan rambutnya dengan kedua tangannya.
Shezie menatap pria tampan itu, mungkin sebentar lagi dia tidak akan pernah melihatnya lagi.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” kata Shezie.
“Soal apa?” tanya Henry, sambil menoleh pada Shezie.
Shezie malah diam ditanya begitu.
“Apakah ada yang penting?” tanya Henry karena melihat Shezie malah diam mematung.
“Aku ingin minta cerai darimu,” jawab Shezie.
“Apa? Cerai?” Henry sangat terkejut.
“Iya, aku ingin bercerai darimu,” jawab Shezie, sambil menatap Henry, entah kenapa dia merasa begitu berat untuk mengatakannya.
“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Henry dengan kaget, dia berjalan semakin mendekati Shezie.
“Ibuku ingin aku secepatnya menikah dengan Martin,” jawab Shezie.
Tentu saja Henry terkejut karena ibunya Shezie tidak menjawab perkataannya untuk melamar Shezie, tapi dengan sikap Shezie yang memintanya bercerai dia sudah tahu jawaban dari ibunya Shezie, lamarannya ditolak.
Mata merekapun bertemu. Henry menatap Shezie dengan tajam, tidak sedetikpun dia mengalihkan pandangannya, tentu saja hal itu sangat membuat Shezie merasa serba salah.
“Kau benar-benar ingin bercerai denganku? Kita belum mendapat restu dari orang tuaku untuk bercerai,” kata Henry.
“Aku juga belum mendapatkan solusi tentang keinginan orang tuaku untuk membuatmu cepat hamil,” lanjut Henry.
“Maaf Henry, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, aku harus menikah dengan Martin, tolong pahamilah aku,” kata Shezie, dia mulai merasakan gelisah dan labil, melihat raut kecewa diwajahnya Henry. Kenapa dia merasa bersalah dengan semua ini?
“Kau serius akan menikah dengan laki-laki brengsek itu?” tanya Henry.
“Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, aku harus menikah dengannya, karena itulah yang membuat ibuku bahagia. Aku ingin jika ternyata ibuku tidak bisa bertahan lama dengan penyakitnya, aku ingin aku sudah bisa membahagiakan ibuku dengan melakukan keinginannya sebelum pergi,” jawab Shezie, dia juga tidak bisa lepas menatap bola matanya Henry.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkanmu menikah dengan Martin, dia bukan pria yang baik,” kata Henry.
“Tapi Henry, saat ini aku tidak bisa memikirkan kebahagiaanku, aku ingin melihat ibuku tersenyum dihari-hari terakhirnya saja,” ucap Shezie.
“Ibumu tidak tahu kelakuan buruknya Martin, seharusnya ibumu tahu jadi tidak akan memaksamu menikah dengan Martin,“ kata Henry.
Henry berjalan lebih dekat pada Shezie.
“Aku serius membayarmu 1M, maksud kau mau menikah denganku karena kau ingin membawa ibumu berobat keluar negeri kan? Aku akan memberikan 1M itu diawal kalau kau mau, besok ibumu bisa pergi keluar negeri, kalau ternyata biaya berobat itu lebih mahal, aku tidak keberatan untuk memberikan tambahan biayanya,” lanjut Henry.
Shezie tersenyum mendengarnya, entah kenapa dia tiba-tiba merasa sedih mendengar perhatiannya Henry.
“Aku tidak bisa seperti ini terus menerus apalagi orangtuamu menginginkan kau segera memilki anak, menikah denganku hanya akan membuang-buang waktumu, kau bisa menikah dengan wanita lain, segera mempunyai anak, itu jalan yang terbaik, dan tidak akan ada beban lagi padamu. Daripada kita harus melanjutkan sandiwara ini,” kata Shezie.
“Orang tuaku tidak ingin kita bercerai,” jawab Henry.
“Katakan saja kalau aku bukan benar-benar istrimu, katakan saja aku ini istri bayaranmu, orang tuamu akan menyetujui perceraian kita,” kata Shezie.
“Tidak, tidak, aku tidak mau kau direndahkan, aku tidak mau orang tuaku tahu soal ini,” Henry menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maaf, Henry, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak masalah jika kau tidak membayarku, karena memang aku tidak bekerja secara professional. Aku terlalu memberikan banyak beban padamu, aku minta maaf aku ingin mengakhiir pekerjaan ini,” ucap Shezie.
Mendengar perkataan Shezie itu, ada rasa kecewa dalam hati Henry, harus dengan cara apalagi dia menolak permintaan cerainya Shezie, dia merasa berat untuk menceraikannya.
“Kau benar-benar akan menikah dengan Martin?” tanya Henry sekali lagi.
Shezie mengangguk.
“Tapi aku tidak mau kita bercerai,” ucap Henry.
“Tapi aku tidak bisa, ibuku sudah menyetujui pernikahan dipercepat, sekarang Martin sedang menyiapkan acara pernikahan kami,” kata Shezie.
Henry menghela nafas panjang.
“Apa kau akan bahagia menikah dengannya?” tanya Henry.
Shezie mengangguk.
“Kau mengorbankan diri sendiri,” ucap Henry.
“Ini caraku membalas budi kasih sayang ibuku, aku hanya ingin ibuku bahagia dengan mengikuti keinginan ibuku,” kata Shezie.
“Tapi Martin bukan pria yang baik,” ucap Henry.
“Kata ibuku aku akan bahagia dengan Martin, aku yakin penilaian ibuku tidak akan salah, mungkin sekarang Martin sangat menyebalkan, tapi mungkin setelah kami menikah dia akan berubah dan benar-benar menyayangiku,” kata Shezie.
Henry melanglah lebih dekat agi.
“Jadi kau sudah bulat mengambil keputusan?” tanya Henry.
“Iya, aku minta maaf, aku tidak bisa membantumu lagi, kita harus cepat bercerai, aku tidak mau kalau pernikahan ini sampai pada ibuku dan membuat semuanya menjadi kacau lagi, tolong mengertilah posisiku,” jawab Shezie.
Mendengar perkataan Shezie membuat Henry diam, begitu juga Shezie.
Tiba-tiba Henry meraih tangannya Shezie.
“Apa kau tidak tahu kalau aku melamarmu pada ibumu?” tanya Henry.
“Aku tahu,” jawab Shezie.
“Kau juga menolakku?” tanya Henry.
“Semua jawaban ada pada ibuku,” jawab Shezie.
“Kau merasa akan lebih bahagia bersama Martin daripada bersamaku?” tanya Henry.
Shezie tidak menjawab, dia hanya mengangukkan kepalanya, meskipun dalam hati dia bertanya-tanya apa jawabanya itu sesuai dengan hatinya? Apa benar dia lebih bahagia bersama Martin daripada Henry?
************