Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-58 Berita Status Shezie



Henry melepaskan tangannya Shezie, menatap gadis itu sekali lagi.


“Baiklah, kejarlah kebahagiaanmu jika memang kau lebih bahagia bersama Martin,” ucap Henry, lalu tanpa bicara apa-apa lagi, dia keluar dari kamar itu.


Shezie diam mematung mendengar perkataannya Henry, dia hanya bisa menatap punggung itu keluar dari kamar itu, tiba-tiba ada rasa sedih muncul dihatinya. Dia merasa bersalah telah mengecewakan Henry tapi tidak ada pilihan lain. Shezie terduduk di pinggir tempat tidur dengan lesu.


Tidak berapa lama terdengar suara mobil meninggalkan rumah itu, sepertinya pria itu pergi, bersamaan terdengar suara dering ponselnya, ada pesan masuk. Segara diambilnya ponselnya diatas meja dan dibacanya.


“Aku tidur dirumah orang tuaku,” isi pesan itu, semakin membuat hatinya sedih.


Setelah mengirim pesan, Henry mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya dengan hati yang juga tidak karuan, dia merasa berat menceraikan Shezie, tapi Shezie sudah tidak mau lagi memperpanjang pernikahan ini.


*************


Di sebuah Resto mewah tampak beberapa wanita berkumul mengelilingi meja panjang. Mereka bercengkrama bersenda gurau sambil menikmati menu diatas meja.


“Karena Bu Retno yang menang arisan ini, maka Bu Retno yang mentraktir makan kita kali ini,” kata Bu Ema, disambut meriah oleh ibu-ibu peserta arisan itu.


“Kalian boleh pesan apa saja yang kalian suka,” sahut Bu Retno disambut candaan oleh teman-temannya.


“Kalian pasti sangat bahagia malam ini,” tiba-tiba ada suara yang memecah senda gurau mereka. Semua mata tertuju pada dua sosok wanita yang berdiri di dekat meja mereka.


“Bu Yogi, entah berapa kali kau selalu datang di hari arisan kami,” kata Bu Ema.


“Tentu saja karena aku ingin memberikan gosip hangat untuk kalian perbincangkan saat ini,” jawab Bu Yogi sambil tersenyum manis.


“Gosip hangat?” tanya Bu Pian, semua mata menatapnya semakin penasaran.


Hanna tampak meminum minumannya, dia tidak tertarik dengan berita gossip yang akan disampaikan Bu Yogi.


“Semua orang begitu antusias ingin tahu gosip hangat ini, sepertinya hanya kau saja yang tidak tertarik,” ucap Bu Yogi mentap Hanna.


“Tentu saja aku tidak tertarik, karena biasanya kau memberikan gosip basi,” jawab Hanna, membuat Bu Yogi tertawa.


“Kau salah, gosip ini tetang putramu,” kata Bu Yogie.


Hanna menoleh pada Bu Yogi saat mendengar perkataan Bu Yogi. Dia juga menoleh pada Andrea yang berdiri disamping ibunya.


“Gosip? Gosip apa lagi?” tanya Hanna, dia mulai kesal karena wanita itu suka sekali mengusik ketenangan orang lain.


“Tentang siapa wanita yang dinikahi putramu,” jawaba Bu  Yogie, sontak saja semua mata menoleh pada Hanna lalu pada Bu Yogi, semua telinga menajamkaan pendengarannya, ingin tahu kabar berita itu.


“Shezie maksudmu? Ada apa lagi dengan Shezie?” tanya Hanna, semakin menahan rasa kesalnya.


“Kalian pasti tidak sabar mendengar penjelasanku kan?” kata Bu Yogi, menatap orang-orang yang hadir di arisan itu. Semua orang terasa begitu tegang. Matanya tertuju pada matanya Hanna yang menatapnya dengan tidak suka.


“Wanita yang dinikahi putramu, adalah seorang gadis bayaran,” kata Bu Yogi, membuat semua orang terkejut, apalagi Hanna.


“Kau ini bicara apa? Jangan asal menuduh dan tidak ada bukti, apa maksudmu dengan istri bayaran?” tanya Hanna, wajahnya mulai pucat, jantungnya berdebar kencang, apa lagi yang dilakukan putranya itu?


“Istri bayaran?” tanya Bu Ema.


“Iya istri bayaran. Dia hanya wanita murahan yang dibayar untuk pura-pura menjadi istrinya Henry,” jawab Bu Yogi.


Mendengar perkatan Bu Yogi membuat Hanna marah dan dia bangun sambil menggebrak meja.


“Stop dengan segala ulahmu itu Bu Yogi! Jangan pernah menjelekkan menantuku!” makinya menatap Bu Yogi dengan tajam.


Bu Yogi tertawa melihat kemarahan Hanna.


“Itulah kenyataan yang sebenarnya Bu Damian, putramu telah membohongimu juga membohongi semua orang. Gadis itu hanya wanita bayaran saja yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya,”  lanjut Bu Yogi.


“Apa? Kau ini bicara apa? Shezie anak yatim piatu, kau mengarang sangat berlebihan!” teriak Hanna, tidak bisa menahan amarahnya lagi.


“Itu kenyataannya Bu,” kata Andrea tiba-tiba menyela. Hanna menoleh pada Andrea.


Ruangan itu tiba-tiba saja menjadi berisik dengan gumamam tidak percaya dan bisik sana sini bahkan ada yang dengan begitu cepat mengirim pesan pada temannya yang lain.


“Aku tidak percaya!” kata Hanna menggelengkan kepalanya.


“Shezie butuh biaya berobat ibunya. Kau bisa cek ibunya dirawat di rumah sakit Metro Medica,” ujar Andrea.


Sudah tidak bisa dibayangkan betapa shocknya Hana mendengar berita itu, dia tida percaya putranya akan berbuat begitu. Gadis yang dibawa kerumahnya itu yang dinikahi Henry ternyata bukanlah pacarnya, melainkan hanya membayarnya untuk menjadi istrinya. Dan gadis itu juga telah melakukan kebohongan dengan mengaku sebagai yatim piatu. Benar-benar sangat memalukan.


“Sepertinya Henry sadar kalau memang tidak ada gadis yang mau dinikahinya. Karena dia memang sangat pelit, dan tidak ada gadis yang mau dinikahinya jadi dia melakukan kebohongan ini, menikahi gadis yang mau dibayarnya pura-prua menjadi istrinya, sungguh sangat memalukan,” kata Bu Yogi.


“Aku tidak percaya dengan semua perkataanmu! Putraku sangat mencintai istrinya!” teriak Hanna dengan kesal.


“Sekarang sudah terbukti kan Bu, hanya aku yang bisa menerima Henry apa adanya,” kata Andrea, yang langsung dipelototi Bu yogi.


“Apa maksudmu? Aku tida mengijinkan kau menjalin hubungan dengan pria pelit itu lagi, tidak,” bentak Bu Yogi.


“Tapi Bu,” ucapan Andrea terpotong.


“Tidak adatapi-tapi,” ucap Bu Yopi lalu menarik tangannya Andrea meninggalkan meja itu.


“Kau ini apa-apaan? Kau ingin kembali pada pria pelit itu?” maki Bu Yogi setelah mereka menjauh menatap putrinya dengan kesal.


“Aku masih menyukai Henry Bu,” kata Andrea.


“Tidak bisa, aku tidak setuju!” bentak Bu Yogi.


“Bu, ibu harus berfikir ulang,  Henry itu orang kaya Bu, sangat kaya,” kata Andrea.


“Tapi dia sangat pelit,” keluh Bu Yogi.


“Tapi tidak pada istrinya Bu!” bela Andrea.


“Apa maksudmu bicara begitu? Gadis itu cuma gadis bayaran!” kata Bu Yogi.


“Apa ibu tidak tahu? Gadis itu menempati rumah yang mewah, bahkan café tempat dia bekerja itu sudah menjadi milik gadis itu!” ujar Andrea.


“Apa? Kau bicara serius?” tanya Bu Yogie, tidak percaya.


“Iya, apa ibu lupa soal aku bertemu dengannya yang hanya pelayan café? Sekarang dia pemilik café itu. Ibu tanyakan saja pada ibu-ibu yang disana tadi, mereka sudah tahu kalau Shezie bekerja di café itu bukan sebagai pelayan tapi pemilik café,” jawab Andrea, membuat Bu Yogi bengong.


“Aku benar-benar melewatkan gosip ini,” kata Bu Yogi.


“Ternyata Henry tidak sepelit yang kita bayangkan. Kepada istri bayarannya saja dia begitu royal apalagi kalau pada istri sesungguhnya?” ujar Andrea, sambil tersenyum menatap ibunya yang terlihat terkejut.


“Aku tidak salah pilih kan? Henry sangat cocok menjadi suamiku,” lanjut Andrea.


“Ya kalau begitu sih ibu tidak bisa melarangmu mendekati Henry. Dan pada Bu Damian, ibu tidak keberatan untuk bermanis-manis padanya demi kau bisa menikah dengan Henry,” kata Bu Yogie, kini dia tersenyum senang.


“Tunggu, aku akan menelpon seseorang dulu,” ucap Andrea sambil mengeluarkan ponselnya dan berjalan menjauhi ibunya.


“Aku sudah melakukan tugasku, ibunya Henry sudah tahu kalau Shezie istri bayaran, sekarang giliranmu melakukan tugasmu,” kata Andrea pada orang ditelpon itu.


“Oke, aku akan melakukan bagianku,” jawab Martin, orang yang ditelpon Andrea.


Gadis itupun menutup telpon dan kembali menghampiri ibunya yang langsung memeluk bahu putrinya mengajak meningggalkan tempat itu.


Hanna benar-benar tidak bisa menahan rasa malunya, semua mata menatapnya, mencibir dan mencemoohnya.


“Maaf ibu-ibu, sepertinya aku harus pulang lebih cepat,” ucap Hanna, sambil meraih tasnya dan meninggalkan kumpulan teman-teman arisannya itu.


Perasaaan Hanna sangat bercampur aduk, antara shock, tidak percaya, malu juga marah. Apa benar Henry telah membohonginya dan juga semua orang? Kenapa Henry berani  mempermainkan orang tuanya? Apakah ini balasan karena dulu dia dan Damianpun pernah mempermainkan pernikahan dan membohongi semua orang?


***********