Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-91 Keputusan Henry



Hanna memilih pulang ke rumahnya, tidak kerumahnya Henry. Dia tidak mau Henry melihat pertengkarannya dengan Damian. Hanna masih shock dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang, dia baru tahu kalau Damian sedang menjalin kasih dengan gadis lain saat bertemu dengannya. Memang sudah bisa ditebak, pria yang tampan dan setajir Damian tidak mungkin tidak ada wanita dalam hidupnya. Dulu dia cemburu pada Maria yang ternyata malah justru ibunya Shezie yang ada hubungan dengan Damian, atau mungkin ada Vina Vina yang lain di tiap kota yang disinggai Damian, kepalanya terasa pusing berdenyut denyut.


Yang menjadi kendala sekarang adalah mantan pacarnya Damian adalah mertuanya Henry. Bukan saja dia merasa tidak suka pada ibunya Shezie, ibunya Shezie juga membencinya dan menganggapnya mengambil posisinya sebagai istrinya Damian.


Terdengar suara pintu kamarnya dibuka, terdengar langkahnya Damian memasuki kamar itu.


Hanna hanya diam duduk disofa dan tidak mau menoleh kearah Damian.


Didengarnya lagi langkah itu mendekat.


Damian melihat istrinya sedang duduk saja tanpa menghiraukan kedatangannya. Dia tahu istrinya pasti masih kesal atas kejadian tadi.


“Sayang, apa kita bisa bicara sekarang atau nanti kalau kau sudah tenang?” tanya Damian.


Hanna tidak menjawab, dia malah bangun dan mengambil bantal dan selimut lalu diberikan pada Damian.


“Kau tidur diluar!” kata Hanna.


Damian menerima bantal dan selimut itu, terkejut.


“Apa ini? Seperti di film saja kau marah memberiku selimut dan bantal,” kata Damian.


“Aku tidak mau tidur dengamu!” hardik Hanna.


“Sayang, aku selalu bergantung pada pelukanmu, aku tidak bisa tidur diluar!” jawab Damian.


Hanna membalikkan badannya dan menatap Damian.


“Kau bilang bergantung pada pelukanku? Tapi kau memeluk wanita itu!” maki Hanna.


“Tadi aku sudah minta maaf, aku spontan memeluknya karena aku merasa kasihan dia hidupnya menderita karena aku,” jawab Damian.


“Huh jadi begitu? Kau kasihan padanya? Kau merasa bersalah? Balikan lagi saja sana!” kata Hanna, berbalik lagi lalu duduk dipinggir tempat tidur dengan wajah yang ditekuk.


“Kenapa harus balikan lagi? Ibunya Shezie itu masa lalu sayang, tidak perlu marah begitu, itu kejadian yang sudah berlalu,” kata Damian, berjalan mendekat dan duduk dipinggirnya Hanna, masih dengan selimut dan bantal ditangannya.


Hanna menggeserkan duduknya menjauhi Damian.


Damian menatap  istrinya itu, yang sedang cemberut itu.


“Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku!” kata Hanna.


Melihat sikap Hanna itu malah membuat Damian merasa lucu, selama menikah rasanya tidak pernah Hanna cemburu seperti itu, kecuali pada Maria dulu.


“Kau sedang cemburu?” tanya Damian.


“Tidak,” jawab Hanna.


“Itu tidak mau dekat-dekat kenapa?” tanya Damian.


Hanna langsung menoleh pada Damian.


“Aku kesal, ternyata wanita yang kau cari sembunyi-sembunyi dariku itu adalah mantan pacarmu ! Pantas saja kau juga mengirimkan uang untuk biaya pengobatan ibunya Shezie secara pribadi, maksudnya apa itu?” tanya Hanna.


Damian terkejut mendengar Hanna bicara begitu.


“Kau tahu darimana itu semua?” tanya Damian.


“Tentu saja aku tahu, wanita yang kau temui di sebuah rumah yang halamannya luas itu bukannya ibunya Shezie?” jawba Hanna, semakin membuat Damian terkejut lagi.


“Kau mengikutiku?” tanya Damian.


“Tentu saja, aku ingin tahu sampai dimana kejujuran suamiku,” jawab Hanna.


Mata merekapun bertemu.


“Aku hanya tidak mau terjadi kesalahfahaman,” kata Damian.


“Justru ini masalahnya, bagaimana aku tidak salah faham, kau begitu perhatian membayar biaya pengobatannya secara pribadi, maksudmu apa begitu? Dia siapamu sekarang? Kau masih menyimpan rasa pasanya?” tanya Hanna, dengan nada ketus.


Damian menatap istrinya, dia tahu istrinya sedang cemburu.


“Tidak begitu sayang, aku hanya merasa prihatin dia menderita penyakit yang serius dan sudah stadium lanjut. Shezie mau menikah dengan Henry karena ingin membantu biaya pengobatan ibunya, jadi aku fikir tidak ada salahnya kalau membantunya,” kata Damian.


“Tetap saja itu artinya kau tidak jujur padaku,” ucap Hanna.


“Aku tidak mau kau marah,” kata Damian.


“Tentu saja aku akan marah walaubagaimanapun kau membantunya secara pribadi, kenapa tidak kau berikan saja datanya pada yang mengurus donasi bantuan dari perusahaanmu? Kenapa secara pribadi?” keluh Hanna.


“Dana bansos itu kan terbatas, ada administrasinya juga, jadi ibunya Shezie bisa tahu itu bantuan darimana, dia pasti menolak,” kata Damian.


“Iya itu sama saja kau perhatian padanya,” keluh Hanna lagi, masih memberengut kesal.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, semakin terdengar saura semakin mendekati rumah dan kemudian berhenti.


Damian menyimpan bantal dan selimut yang di tangannya, lalu mengikuti langkahnya Hanna menemui Henry.


Henry menatap ibunya yang menghampirinya, dia terus berjalan keruang keluarga tanpa bicara dan menyimpan kunci mobil juga ponselnya diatas meja, lalu dia duduk dengan lesu di sofa itu.


Dilihatnya ayahnya juga turun menghampirinya, beriringan dengan ibunya. Henry menatap ayahnya, menuntut penjelasan.


“Kita perlu bicara sayang,” kata Damian, mendekati Henry lalu duduk disamping Hanna yang lebih dulu duduk.


Karena suaminya duduk di sampingnya, Hanna bangun dan pindah duduknya di sofa yang lain berjauhan, dia masih sebal pada suaminya.


Damian menatap istrinya sebentar, dia malah merasa lucu dengan sikap istrinya, apalagi istrinya itu tidak mau menatap wajahnya.


Damian kembali menatap Henry.


“Sayang, ayah  minta maaf atas kejadian ini,” kata Damian memulai bicara.


Henry diam tidak menjawab.


“Ayah dan ibunya Shezie dulu pernah dekat,” lanjut Damian.


“Katakan saja kau pacaran dengannya, tidak perlu bilang pernah dekat!” potong Hanna dengan ketus.


Damian terdiam mendapat reaksi istrinya begitu.


“Ayah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan ibunya Shezie sejak ayah bertemu dengan ibumu,” kata Damian lagi, sambil menoleh pada Hanna yang masih tidak mau memperhatikannya.


“Saat melihat Shezie kesini, mengingatkan ayah pada ibunya Shezie, ayah tidak mengira kalau orang yang pernah ayah kenal itu ibunya Shezie, ayah baru tahu belum lama ini,” kata Damian.


Diliriknya lagi Hanna masih cemberut, ada perasaan bersalah juga karena telah menyakiti anak dan istrinya.


“Jadi apakah itu artinya aku benar-benar harus berpisah dari Shezie?” tanya Henry, menatap ayahnya terus pada ibunya.


Hanna menatap Henry.


“Sayang, ibu minta maaf, ibu tidak bisa merestui hubunganmu dengan Shezie. Kau tahu sendiri, ibunya Shezie juga merasa ibu yang sudah mengambil posisinya, dia juga tidak akan membiarkan Shezie melanjutkan pernikahannya denganmu,” kata Hanna.


Damian menatap Hanna.


“Sayang, sebenarnya aku tidak tega memisahkan Henry dan Shezie, bisakah kau mencoba untuk tidak memikirkan hal itu, karena aku juga tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan ibunya Shezie,” kata Damian.


Perkataannya Damian langsung mendapat sorot tajam Hanna.


“Bagaimana kalau kalian nanti CLBK? Jelas-jelas ibunya Shezie masih mencintaimu, sampai-sampai dia tidak bisa mencintai ayahnya Shezie, apa kau lupa itu?” ujar Hanna, membuat Damian diam.


“Kau juga masih perhatian padanya, meskipun kau bilang alasannya kau merasa kasihan, tetap saja itu menunjukkan kalau kau peduli padanya,” lanjut Hanna.


“Tapi ibunya Shezie memang perlu dibantu, sayang, dia terlantar dengan penyakitnya karena kekurangan uang,” kata Damian.


“Iya tapi tidak perlu dengan berhubungan dengannya terus, membiarkan Henry bersama Shezie dan kita menjadi satu keluarga! Kau fikir aku senang begitu?” runtuk Hanna.


Damian kembali diam, dia juga bingung harus bersikap bagaimana. Hanna masih menatapnya tajam.


“Kau juga memeluknya tadi, aku tidak suka, itu akan bahaya untuk pernikahan kita, kecuali kau memang menginginkan pernikahan kita berakhir,” ujar Hanna, membuat Damian terkejut.


“Aku hanya merasa bersalah karena dulu meninggalkannya dan membuatnya menderita,” kata Damian. Dia juga jadi serba salah kalau begini.


“Kalau kau berfikir begitu, kenapa kau malah menikah denganku?” hardik Hanna, hatinya semakin merasa cemburu karena Damian bicara jujur malah seakan-akan menunjukkan perhatiannya.


“Karena aku terlanjur jatuh cinta padamu sayang. Apa bedanya kau dengan Cristian? Seperti itu,” jawab Damian.


“Tapi aku dan Cristian berbeda. Aku tidak pernah memperhatikan Cristian sejak kita menikah, tapi kau, menyewa orang untuk mencarinya, memberinya biaya pengobatan, apa artinya itu?” keluh Hanna.


Melihat orang tuanya yang malah bertengkar, membuat Henry merasa pusing.


“Sudahlah tidak perlu bertengkar didepanku,” ucap Henry, membuat kedua orang tuanya menoleh kearahnya.


“Jika memang hubunganku dengan Shezie membuat kalian bertengkar, aku akan mundur, aku akan meceraikan Shezie, aku juga tahu ibunya Shezie tidak akan merestui kami jika masalahnya seperti ini, aku tidak mau ada masalah antara ibu dan ayah” jawab Henry.


Damian dan Hanna terdiam mendengarnya, mereka masih menatap Henry, terlihat sekali putra mereka itu merasa bersedih.


“Aku akan menandatangani surat perceraian secepatnya jika pengacara Martin sudah memberikan berkas peceraiannya,” jawab Henry.


Sebenarnya hatinya merasa sedih mengatakan itu, tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang? Keluarganya akan hancur karena hubungannya dengan Shezie. Dia tidak menyangka rasa cintanya akan berakhir dengan perceraian.


“Aku tidur disini, aku ingin istirahat,” kata Henry, langsung bangun dan meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam terkejut dengan keputusan Henry.


Hanna menatap Damian seakan menyalahkannya, dan Damian hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasa bersalah pada putranya, hatinya merasa sedih melihat putranya bersedih. Hannapun beranjak meninggalkan Damian tanpa bicara apa-apa lagi.


 


***********