
Damian tampak senang sekali dengan kehadiran Cristian. Mereka mengobrol bertiga dengan Satria sangat akrab.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga diruangan sebelah. Hanna mencari supirnya ke ruangan belakang, keluar pintu yang ada diruang dapur, setelah bertanya pada pelayan yang lain, Hanna berjalan memutar menuju samping rumah, ternyata supir itu sedang melap mobilnya di sana.
“Pak, antar aku berbelanja sebentar,” kata Hanna pada pak supir yang sedang melap mobilnya.
Cristian yang sedang duduk berhadapan dengan Damian tidak sengaja mengedarkan pandangannya pada kaca-kaca memanjang disamping ruangan tamu itu yang bertirai putih. Dilihatnya sesosok wanita muncul dari belakang rumah menghampiri pak Supir yang sedang melap mobilnya.
Dia kembali terkejut melihatnya, karena semakin dekat wanita itu semakin mirip dengan Hanna, tapi kemudian dia hanya bisa memandang punggung wanita itu yang berbicara dengan supir itu. Hatinya semakin gelisah dan penasaran apakah wanita itu yang istrinya Damian benar-benar Hannanya? Bagaimana mungkin?
“Kau akan kembali ke lokasi real estate kapan?” tanya Cristian pada Damian.
“Belum tahu, aku masih ada pekerjaan disini,” jawab Damian.
Fikiran Cristian benar-benar kacau, dilihatnya istri Damian itu memasuki mobilnya. Tiba-tiba terbersit dikepalanya untuk mengikutinya, dia ingin memastikan apakah itu Hannanya atau bukan.
“Damian, aku minta maaf, aku lupa barangku ada yang tetinggal di café tadi, aku akan kesana mengeceknya mudah-mudahan masih ada disana,” kata Cristian beralasan. Dilihatnya mobil disamping rumah itu mulai menyala.
“Benarkah? Semoga barangmu masih ada disana,” ucap Damian ikut khawatir.
“Iya, aku akan segera kesana,” kata Cristian. Dilihatnya mobil Hanna mulai melaju, Cristianpun langsung berdiri.
“Satria, senang bertemu denganmu. Sesekali kau ikut ke pantai bersama Damian,” ucap Cristian. Satria dan Damian langsung berdiri.
“Tentu saja, kalau itu tidak mengganggu kakakku, karena dia lebih suka ditemani kakak ipar,” ucap Satria sambil tertawa. Damian hanya tersenyum. Merekapun bersalaman.
Damian dan Satria mengantar Cristian ke halaman rumahnya. Cristian melihat mobilnya Hanna sudah keluar dari gerbang rumah itu, berbelok kearah kanan.
“Kakak ipar pergi kemana? Bukannya lagi sakit?” tanya Satria yang juga melihat mobil kakaknya itu keluar.
“Mungkin ada yang ingin dia beli,” ucap Damian.
“Kakak ini bagaimana? Seharusnya kakak menemaninya,dia sedang hamil muda, bagaimana kalau tiba-tiba pusing dijalan?” kata Satria.
“Aku ada pekerjaan,” jawab Damian.
“Oke kalau begitu aku pergi dulu,” kata Cristian, dia ingin segera menyusul Hanna jangan sampai mobilnya ketinggalan jauh.
“ya, sampai jumpa di pantai,” ucap Damian.
“Ya,” Cristian mengangguk. Diapun masuk ke mobilnya. Fikirannya terus pada istri Damian itu. Kenapa istri Damian semakin mirip dengan Hanna? Bagaimana kalau ternyata memang dia adalah Hannanya? Ada apa ini? Kenapa Hanna meninggalkannya di hari pernikahannya dan malah menikah dengan Damian? Dia benar-benar harus mengetahui alasannya dari Hanna.
Sekarang mobil Cristian sudah memasuki jalan raya, mobilnya Hanna ada didepan terhalang oleh beberapa mobil, Cristian harus bisa melewatinya sebelum ketinggalan jejak. Dia harus memastikannya harus! Meskipun ternyata istri Damian itu sedang hamil, setidaknya dia harus tau alasan Hanna meninggalkannya. Mobil Cristian terus membuntuti mobil Hanna, dia juga menjalankannya agak menjaga jarak jangan sampai Hanna melihatnya.
Setelah cukup jauh, dilihatnya mobil itu memasuki halaman sebuah salon kecantikan di sebelah kanan jalan. Satria menghentikan mobilnya di sebelah kiri jalan, dia ingin melihat Hanna turun dari mobil itu. Tidak berapa lama, Hannapun turun, tapi sayang, karena dia parkir dikiri jalan, banyak mobil dibelakangnya yang menyiapnya, lagi-lagi pandangan matanya terhalang oleh mobil lain.
Dilihatnya sosok mirip Hannanya itu memasuki salon itu. Dia sedikit kesal dengan pandangannya yang lagi-lagi terhalang mobil yang lewat. Sepertinya dia memang harus parkir di salon itu saja dan menunggu Hanna selesai ke salon. Tapi itu akan membutuhkan waktu lama. Dia harus segera masuk sekarang. Cristianpun menyalakan send lampu mobilnya akan menyebrang kearah salon itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil memasuki halaman parkir salon itu, dan melihat siapa yang turun, ternyata Damian. Ya, Damian menyusul istrinya.
Cristian tampak kecewa melihat Damian berbicara dengan supir Hanna. Sepertinya kali ini Cristian tidak bisa menemui Hanna, nanti apa kata Damian? Dia menguntit istrinya? Akhirnya Cristian menjalankan mobilnya meninggalkan area itu.
Damian membuka pintu salon, ternyata didalam sangat penuh. Begitu suara pintu itu terbuka, wanita-wanita yang sedang menunggu antrian langsung menoleh ke arahnya, wajah mereka langsung saja berbinar-binar. Ada pria tampan datang ke salon! Apalagi receptionisnya langsung saja tersenyum lebar dan menyapanya.
“Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu?” tanya wanita cantik itu, dengan riasannya yang tebal.
“Aku mencari…” Damian menoleh pada wanita-wanita yang sedang menunggu antrian itu yang semuanya menatap kearahnya, bahkan ada yang melambaikan tangannya diam-diam. Membuat Damian tidak suka. Di antrian itu tidak ada Hanna.
“Aku mencari Nyonya Hanna,” lanjut Damian.
“Nyonya Hanna, baru saja masuk ke dalam, ke ruang luluran, Bapak bisa menunggunya disana,” jawab petugas salon, menunjuk kearah kursi tunggu. Yang menunggu antrian itu malah sibuk bergeser sana sini, mereka berebut memberikan ruang untuk Damian duduk.
“Ya baiklah,” jawab Damian, mengangguk. Tidak ada pilihan lain, karena diluar sangat panas dan tidak ada kursi tunggu. Diapun terpaksa duduk diantara wanita-wanita itu, yang langsung berekpresi pada genit, juga mendadak begitu tegang dan aroma persaingan yang ketat.
Damian mengeluarkan handphoennya akan menelpon Hanna. Tiba-tiba wanita disamping kanannya menyebutkan sebuah nomor handphone. Apa maksudnya? Damian mengernyitkan keningnya, mengabaikan wanita itu. Ternyata handphone Hanna tidak aktif, sepertinya Hanna sedang luluran, dia pasti merasa geli terus dengan ulat bulu itu.
“Kau sedang menunggu siapa?” tanya wanita disamping kirinya.
“Menunggu…” belum juga menjawab, wanita yang disamping kanannya Damian tiba-tiba mengambil handphonenya. Wajah Damian tampak kesal, kenapa wanita itu merebut handphonenya? Tangannya akan merebut kembali handphonenya tapi dijauhkan oleh wanita itu, dia mengetikkan sesuatu disana. Setelah itu baru memberikan handphoene itu pada Damian.
“Itu nomor handphoeneku, tampan,” ucapnya. Tersenyum manis. Damian langsung terdiam, sepertinya menyusul Hanna ke salon adalah keputusan yang salah! Dia juga tidak tahu kalau Hanna akan kesalon hanya dia jadi kefikiran dengan ucapan Satria yang menyuruhnya menemani istrinya yang sedang hamil jadi Damian menyusulnya. Tentu saja dia tidak mau dianggap tidak peduli pada istrinya yang dikira sedang hamil sementara dia ada dirumah sekarang. Tapi melihat kondisi di tepat salon ini malah membuatnya tidak nyaman.
Wanita yang di sebelah kirinya tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Damian. Damian hanya menatap tangan itu dan mengabaikannya. Wanita itu malah memaksa meraih tangan Damian dan bersalaman.
“Namaku Sania,” ucapnya. Damian terdiam. Mau Sania ke mau Bimoli ke dia tidak peduli.
Sepertinya wanita itu tidak menyerah begitu saja.
“Apa kau akan potong rambut?” tanyanya. Damian tidak menjawab.
Entah apalagi yang wanita itu katakan, Damian hanya diam dan diam. Diliriknya jamnya ternyata Hanna masih belum keluar juga.
“Kau ada waktu senggang kapan, kau bisa menelponku kapan saja,” ucap wanita disebelah kanan. Beberapa wanita yang duduk di jajarannya tampak seperti iri karena Damian tidak duduk disebelahnya.
“Aku sedang menunggu istriku,” ucap Damian dengan ketus. Dia berharap godaan dari wanita-wanita itu berhenti. Dia melihat ruangan depan yang terhalang kaca itu berjejer yang memotong rambut. Sepertinya ruangan creambath masuk lagi ke dalam, karena Hanna bilang mau creambath juga.
“Oh istrimu kalau dirumah, kalau diluar, kau bujangan kan?” goda wanita yang disebelah kanan. Damian akhirnya tidak bicara lagi, malas dia meladeni wanita itu. Kalau bukan karena istri palsu tercintanya yang dikira sedang hamil itu tidak mungkin dia mau menunggu diantara wanita-wanita genit ini, membuatnya gerah saja.
Tidak berapa lama, Damian melihat Hanna keluar dari pintu samping ruangan berkaca tempat potong rambut itu. Hanna tampak terkejut saat melihat Damian ada diantara wanita-wanita itu. Apa yang dilakukan Damian di salon itu?
Damian langsung berdiri menghampiri Hanna.
“Sayang, kau sudah selesai?” tanyanya dengan manis. Hanna mengerutkan keingnya, ada apa dengan kata sayang yang mencurigakan itu. Diliriknya wanita-wanita diantrian itu yang mungkin sedang menunggu giliran atau hanya menunggu temannya nyalon.
“Sudah,” jawab Hanna. Tiba-tiba Damian, memeluk pinggangnya, raut muka wanita-wanita yang mengantri itu langsung saja berubah kecut.
“Apa kau sudah membayar? Ayo kita pulang,” ajak Damian, Hanna hanya mengangguk, mengikuti saja saat Damian menarik pinggangnya melewati receptionis, menuju pintu keluar. Hanna bisa melihat raut kecemburuan dari tatapan wanita-wanita itu. Diapun tersenyum, pria yang bersamanya yang menjadi suami palsunya itu memang sangat tampan, dia juga suka menatapnya saat tidur.
“Aku tidak tahu kau menyusulku,” kata Hanna, saat Damian membukakan pintu mobil untuknya. Mobil yang Hanna pakai dengan supir sudah tidak ada diparkiran, sepertinya Damian sudah menyuruh supirnya pulang duluan.
“Aku menyesal sudah menyusulmu ke salon, aku menunggumu sangat lama diantara wanita-wanita itu,” keluh Damian.
Hanna tertawa mendengarnya.
“Bukankah pria senang berada diantara wanita-wanita cantik?” goda Hanna, saat Damian sudah berada di belakang kemudi dan memarkir mobilnya.
“Aku pusing! Aku tidak mau menunggumu disalon lagi,” ucapnya.
Hanna kembali tertawa.
“Kenapa kau menyusulku? Bukankah kau ada tamu?” tanya Hanna.
“Tentu saja sebagai suami yang baik aku harus menemanimu kemana pun kau pergi,” jawab Damian, asal bicara. Hanna lagi-lagi tertawa dan menoleh pada Damian.
“Kau memang suami yang baik juga manis,” ucap Hanna, sambil mencubit pipi Damian.
“Lama-lama kau seperti wanita-wanita yang didalam,” keluh Damian. Lagi-lagi Hanna tertawa, dia bisa membayangkan Damian pasti sangat kesal menunggunya tadi.
“Coba kau lihat di hapeku, itu wanita menulis apa?” kata Damian, melirik sekilas pada hapenya yang ada di dekat rem tangan. Hanna segera mengambilnya, dan menyalakannya lalu membuka pesannya.
“Hai tampan, jangan lupa untuk menelponku,” Hanna membaca isi tulisan itu.
“Hapus!” perintah Damian dengan ketus.
“Serius?” tanya Hanna.
“Kau fikir aku main-main? Hapus!” kata Damian semakin ketus.
“Ya ya aku hapus, tidak perlu marah,” ucap Hanna.
“Sama nomor kontaknya juga!” perintah Damian lagi.
“Serius?” tanya Hanna lagi.
“Aku tidak main-main Hanna! Aku tidak suka wanita-wanita genit seperti itu!” gerutu Damian.
Hanna segera menghapus kontak wanita itu. Dalam hati dia merasa senang, ternyata Damian tidak segampang itu digoda wanita, dia pun tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Damian.
“Ternyata kau sangat setia pada istrimu ini,kau memang suami yang manis, aku ingin mencubit pipimu lagi,” jawab Hanna bercanda. Damian masih serius dengan menyetirnya.
“Daripada kau mencubit pipiku, lebih baik kau mencium pipiku,” jawab Damian.
“Apa? Hemmm modus terus!” gerutu Hanna. Damian tersenyum dan mengusap rambut Hanna yang lembut dan harum. Kemudian kembali memegang setirnya.
Hanya dengan belaian rambut seperti itu saja, membuat jantung Hanna berhenti berdetak sesaat, sikap lembut seperti itu yang nantinya akan membuat sakit hatinya yang lebih dalam.
“Kita cari makan ya, aku lapar, sekalian ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Damian. Seketika lamunan Hanna buyar dan diapun mengangguk. Memangnya Damian akan membicarakan apa? Hatinya bertanya-tanya.
***************
Jangan lupa like vote dan komen