
Damian merasakan sakit hati yang amat sangat, dia benar-benar telah kehilangan Hanna sekarang. Sesampainya dirumah, tidak banyak yang dibicarakan oleh Damian, membuat ibunya keheranan.
“Sayang, apa telah terjadi sesuatu? Katakan pada ibu,” kata Bu Sony. Mereka duduk berkumpul di ruang tengah dirukannya Damian.
Tangan Bu Sony mengusap kepalanya Damian yang duduk di sampingnya. Jelas terlihat wajah putranya sangat muram.
“Tidak ada apa-apa Bu, semua baik-baik saja,” kata Damian, tangannya langsung memeluk bahu ibunya.
“Jangan berbohong, katakan yang sebenarnya ada apa? Kita memang baru bertemu tapi aku tetap ibumu yang dulu, tempat kau mengadu disaat kau sedang sedih,” ucap Bu Sony. Menarik kepalanya Damian kedekatnya lalu mencium keningnya.
“Sebenarnya aku ingin memperkenalkan seseorang pada ibu,” kata Damian.
“Seseorang? Siapa? Pacarmu?” tanya Bu Sony, wajahnya langsung berseri-seri, ternyata putranya mempunyai kekasih.
Terdengar suara pintu kamarnya Satria terbuka. Ny.Sofia mengeluarkan kopernya dari kamar itu.
“Kau akan pulang?” tanya Bu Sony saat Ny.Sofia sampai diruang tengah.
“Iya,”jawab Ny. Sofia, menoleh pada Bu Sony yang langsung berdiri menghampirinya, kemudian menoleh pada Damian.
“Aku pulang diantar supir kantormu,” kata Ny.Sofia pada Damian.
Sebenarnya Ny.Sofia ingin mengatakan pada Damian kalau adiknya adalah Cristian calon suaminya Hanna, tapi kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk mengatakan hal itu, Damian pasti masih ingin berkangen kangenan dengan ibunya. Kalau mengatakan hal itu sekarang pasti akan menambah kekecewaan lagi buat Damian, kasihan dia, pertemuan yang seharusnya menyenangkan akan berubah lagi jadi kesedihan dan dilema, jadi Ny.Sofia memilih diam saja.
Damian tidak mengerti kenapa ibu tirinya menatpnya seperti itu seperti ada yang ingin disampaikan, tapi Damian tidak mengungkapkan keheranannya, dia hanya mengangguk saja.
Bu Sony menatap ibu tirinya Damian.
“Aku berterimakasih kau sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk Damian,” kata Bu Sony. Ny. Sofia hanya mengangguk.
Tiba-tiba Satria sudah muncul dipintu.
“Ayo Bu, supirnya sudah menunggu,” seru Satria.
Ny.Sofia menganguk, diapun keluar dari rumah itu. Bu Sony mengantarnya hanya sampai tangga begitu juga Damian. Putranya itu menoleh padanya lalu tersenyum dan memeluk bahu ibunya.
Dilihatnya Ny.Sofia masuk ke mobilnya Damian, perlahan mobil itu meninggalkan halaman rukan itu.
Bu Sony menoleh pada Damian.
“Kau belum melanjutkan ceritamu, ibu sangat penasaran seperti apa wanita yang sudah mengisi hati putra ibu,” kata Bu Sony. Tangannya menunjuk pada dadanya Damian, yang hanya tesenyum dan memegang tangan ibunya
yang ada di dadanya.
Damian menganggukan kepalanya, merekapun kembali duduk diruang tengah.
“Bagaimana kalau ibu tidur disini saja?” usul Damian.
“Tidak sayang, dirumah ada suami ibu, kau juga harus mengenalnya. Ibu harus selalu menemaninya karena ibu tidak mau perpisahan ibu dan ayahmu akan terulang lagi karena jarangnya kita bertemu. Makanya ibu jarang tinggal disini, ibu selalu ikut kemanapun suami ibu pergi,” jawab Bu Sony.
“Kapan aku harus bertemu dengannya?” tanya Damian, dia ingin tahu seperti apa ayah tirinya itu terutama adik kandungnya.
“Harus menunggu waktu yang tepat. Ibu akan bicara dengan suami ibu dulu, ibu juga harus meminta ijin padanya untuk menceritakan siapa ayah kandung adikmu. Ibu harus pelan-pelan mengatakannya pada adikmu karena ini pasti tidak mudah baginya, nanti ibu kabari kalau ibu sudah bicara dengan mereka,” jawab Bu Sony.
Damianpun mengangguk setuju.
“Aku senang melihat ibu baik-baik saja, ibu tidak banyak berubah, meskipun lama tidak berjumpa aku masih sangat mengenali ibu,” kata Damian, menatap wajah ibunya.
Bu Sony tersenyum mendengar perkataan Damian, tangannya menyentuh pipinya Damian.
“Ibu juga senang kau sudah dewasa sekarang, kau sangat tampan, pacarmu itu juga pasti sangat cantik,” kata Bu Sony, tersenyum pada Damian, putranya itu memerah wajahnya karena malu.
“Sebenarnya dia tidak terlalu cantik. Dia bukan super model,” ucap Damian sambil tertawa kecil membayangkan Hanna ada didepan matanya. Gadis yang tidak secantik super model yang dikencaninya tapi sudah membuatnya jatuh cinta.
“Apa?” Bu Sony terkejut mendengarnya.
“Tapi dia sangat lucu, aku sangat bahagia bersamanya,” lanjut Damian.
“Kau sangat mencintai kekasihmu?” tanya Bu Sony.
“Iya, aku sangat mencintainya. Selama hidupku aku mengenal banyak wanita cantik, tapi aku hanya jatuh cinta padanya,” jawab Damian.
“Ibu juga mengerti, pria setampan dirimu pasti banyak gadis-gadis yang menyukiamu,” kata Bu Sony, memegang bahunya Damian, mengusapnya berkali-kali. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa bahagia hatinya melihat putranya tubuh dewasa dengan sempurna.
“Aku sangat mencintainya Bu. Ibu juga kalau bertemu dengannya pasti akan menyukainya, dia sangat lucu, aku bahagia saat dia bersamaku,” kata Damian.
Bu Sony tersenyum lagi, dia bisa melihat dari binar-binar matanya Damian saat menceritakan kekasihnya itu ada raut kebahagiaan disana.
“Aku sudah berjanji padanya untuk memperkenalkannya pada ibu,tapi dia sudah pergi sekarang,” kata Damian, sambil menunduk kini raut wajahnya berubah sedih.
Bu Sony tampak terkejut dengan perubahan rona muka Damian, tangannya langsung meraih tangannya Damian lalu mengusapnya dengan lembut mencoba menguatkan hatinya, Damian balas menggenggam tangan ibunya.
“Dia akan menikah dengan orang lain,” jawab Damian. Membuat Bu Sony merasa sedih.
“Dia akan menikah dengan orang lain?” tanya Bu Sony mengulang perkataan Damian.
“Iya, dia sudah lebih dulu dilamar pria lain,” jawab Damian.
“Sayang sekali, tapi kau jangan bersedih mungkin dia memang bukan jodohmu,” hibur Bu Sony, menatap wajahnya
Damian yang masih menunduk.
“Tapi aku sangat mencintainya, aku belum pernah merasakan sekehilangan seperti ini pada wanita, aku benar-benar kehilangan dia,” kata Damian, kini menatap ibunya.
Bu Sonypun terdiam, dia mengerti bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang dicintainya, dia juga mengalami hal yang sama berpisah dengan suaminya dan Damian.
Tiba-tiba terdengar handphonenya berdering. Dilihatnya di layar ponselnya ternyata Cristian yang menelpon.
“Bu, aku sudah dirumah, ternyata ibu tidak ada,” kata Cristian, saat ibunya mengangkat telponnya.
“Iya sayang ibu ada diluar, sebentar lagi ibu pulang,” jawab Bu Sony.
“Aku baru mengantarkan Hanna, kami sudah melihat bahu pengantin kami,” kata Cristian.
“Baguslah kalau begitu,” jawab Bu Sony.
“Aku tunggu dirumah,Bu,” kata Cristian lagi.
“Iya, sebentar lagi ibu pulang,” jawab Bu Sony. Kemudian telponpun ditutup, lalu Bu Sony menoleh pada Damian.
“Sayang, ibu harus pulang, adikmu ada dirumah. Ibu juga harus bicara pada suami ibu untuk memberitahu perihal ayah adikmu, setelah itu barulah kalian ibu pertemukan,” kata Bu Sony.
“Baiklah Bu, aku mengerti,” jawab Damian, dengan lesu, sebenranya dia ingin ibunya bersamanya.
“Nanti kalau kalian sudah bertemu, kau tinggal saja bersama ibu, adikmu juga pasti senang,” kata Bu Sony.
“Iya Bu,” jawab Damian.
“Adikmu itu akan menikah dalam waktu dekat ini. Ibu harap kau sudah bisa bertemu dengannya sebelum dia menikah,” kata Bu Sony, tangannya mengusap usap punggung Damian.
“Menikah?” tanya Damian keheranan.
“Iya, seharusnya kau menikah lebih dulu dari adikmu, tapi dia sudah terlanjur akan menikah, mudah-mudahan kau tidak keberatan di dahuui oleh adikmu,” ucap Bu Sony.
“Aku tidak apa-apa Bu, karena calon pengantinku juga sudah pergi,” kata Damian.
“Sayang, bersabarlah, pasti ada hal yang baik disetiap kesedihan yang kau alami,” hibur ibunya.
Damian tidak bicara lagi, dia menatap ibunya, dia masih rindu.
“Aku masih rindu,” ucap Damian.
“Ibu juga sebenarya masih rindu, tapi ibu harus pulang dulu ke rumah supaya kau bisa bertemu dengan suami ibu dan adikmu,” kata Bu Sony.
“Baiklah Bu, aku sudah menyimpan nomor telpon ibu, aku bisa menelpon ibu kapan saja,” ucap Damian.
“Besok ibu kesini lagi, ibu akan membawa makanan buatmu,” kata Bu Sony.
“Iya Bu,” ucap Damian, mengangguk senang.
Bahagia rasanya ibunya sudah kembali padanya, dia kangen masakan ibunya.
Damian mengantar ibunya ke halaman parkir, disana karyawan yang lain sudah menunggu akan mengantar ibunya pulang.
Damian memeluk ibunya lagi dan mencium pipinya.
“Aku menyayangi ibu,” ucapnya.
“Ibu juga,”ucap Bu Sony dengan mata yang kembali berkaca-kaca, diapun mencium keningnya Damian, kembali mengusap usap rambut putranya.
“Jangan bersedih Nak, besok ibu kesini lagi,” ucap Bu Sony. Damian mengangguk.
Akhirnya dia hanya melihat mobil kantor yang membawa ibunya meninggalkan halaman parkir itu.
Setelah ibunya pergi, sepi kembali menyelimuti hatinya, dia kembali merasakan kehampaan dalam hatinya, mengingat Hanna yang akan diperkenalkannya pada ibunya akan menikah dengan Cristian. Hatinya terasa remuk redam, hancur berkeping-keping.
Damianpun berfikir, apa yang harus dilakukannya untuk mendapatkan Hanna kembali?
**********************