
Henry menjalankan mobilnya memasuki sebuah gedung besar, dihalaman itu penuh dengan mobil-mobil terparkir.
“Ayo turun!" ajak Henry saat mobilnya sudah diparkir di halaman gedung itu.
“Ada cara apa? Kenapa begitu ramai?” tanya Shezie menatap gedung yang terlihat ramai orang hilir mudik, sebagian bercengkrama sambil membawa minuman ditangannya.
“Hanya pertemuan rutin pengusaha-pengusaha saja,” jawab Henry.
Shezie menoleh pada Henry dan menatapnya. Rasanya tidak percaya kalau dia sekarang istri dari pengusaha kaya seperti Henry.
“Kenapa?” tanya Henry menyadari Shezie malah menatapnya.
Henry balas menatapnya.
“Kau gugup berada ditempat umum denganku?” tanya Henry.
“Iya,” jawab Shezie, mengangguk.
“Kenapa? Bukankah kau biasa berakting jadi pacar orang?” tanya Henry.
“Tapi tidak istri orang,” kata Shezie. Sebenarnya ini bukan acting, tapi dia benar-benar istrinya Henry.
Henry terdiam sejenak mendengarnya, lalu meraih tangannya Shezie dan disentuhkan ke lengannya.
“Pegang tanganku kalau kau merasa gugup oke?” ucap Henry.
Shezie melihat tangannya kini berada di lengannya Henry. Diapun tersenyum dan mengangguk.
“Ayo!” ajak Henry, sambil membuka pintu mobilnya dan turun. Shezie menghela napas sebentar lalu diapun turun mengikuti Henry.
Henry melangkah duluan menaiki tangga lebar gedung itu, Shezie mengikutinya. Dia melihat orang-orang yang sedang berkumpul-kumpul diteras memperhatikan mereka.
Tiba-tiba Henry menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, menatap gadis itu yang berjalan mengikutinya, dia langsung mengulurkan tangannya pada Shezie.
“Ayo!” ajaknya karena Shezie terlihat ragu-ragu.
Shezie melihat tangan itu terulur, lalu menatap wajahnya Henry yang mengangguk padanya, diapun dengan perlahan menerima uluran tangan itu, dia merasakan genggaman erat tangannya Henry.
“Hei pengantin baru! Kemana saja kua mengilang! Sesi penting kau lewati!” terdengar seseorang berseru saat Henry sampai di teras dengan Shezie.
“Maaf, aku menjemput dulu istriku,” jawab Henry, sambil melirik pada Shezie.
“Kau membawa istrimu?” tanya seseorang yang bersama pria tadi.
“Namanya juga pengantin baru, ya kemana-mana dibawa lah!” jawab yang lainnya sembil tertawa. Henry hanya tersenyum mendengar candaan mereka.
“Ini istriku, Shezie,” kata Henry pada teman-temannya.
“Halo!”
“Halo!” Sapa teman-temannya Henry.
“Halo! Senang bertemu kalian semua,” ucap Shezie sambil tersenyum.
“Ko aku seperti pernah melihatmu, dimana ya?” tanya seseoang.
Mendengarnya Henry kaget, jangan-jangan pernah melihat acting Shezie lagi.
“Pada setiap wanita kau bilang begitu!” ucap Henry, diikuti teman-temannya, temannya itupun tertawa.
Shezie terdiam mendengar perkataan mereka. Entah kenapa bibirnya begitu kelu berakrab akrab dengan temannya Henry, dalam hatinya dia merasa orang asing meskipun statusnya adalah istrinya Henry.
Pria disampingnya itu meloleh ke arahnya dan mendeketkan kepalanya pada Shezie, kemudian berbisik ketelinganya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Henry.
“Aku baik-baik saja, aku hanya gugup,” jawab Shezie.
“Kau ingat apa yang aku katakan tadi?” tanya Henry.
“Apa?” tanya Shezie, kini menatap wajah tampan itu.
Henry melirik ke lengannya. Shezie mengikuti arah lirikan Henry, dia baru ingat kata Henry kalau dia gugup pegang saja lengannya. Shezie dengan ragu melingkarkan tanganya ke lengan kirinya Henry. Asalnya cuma menempel saja, dia merasa canggung harus bersikap seperti itu pada pria yang bukan siapa-siapanya, tapi lama kelamaan pelukan tangannya semakin erat memeluk lengannya Henry.
Henry tampak tidak terlalu memperhatikannya, dia bicara lagi dengan teman-temannya. Shezie sesekali melirik suaminya itu. Melihat pria itu bicara tertawa dan tersenyum bersama teman-temannya membuatnya merasa… entahlah merasa apa, pria itu tidak seperti saat pertama mengenalnya. Supir itu terlihat semakin berkharisma saja, kenapa dia begitu bodoh menganggapnya supir, sudah jelas jelas dia itu berbeda.
Shezie terus melamun, seandainya pria ini benar-benar suaminya, pasti akan sangat menyenangkan, punya suami tampan yang kaya impian semua gadis, dia sangat beruntung! Tidak, tentu saja tidak, dia bukan istrinya yang dicintai suaminya, Henry hanya membutuhkan jasanya saja, lamunan Sheziepun menghilang.
Shezie mengikuti langkah Henry saat suaminya itu dan teman-temannya masuk ke gedung itu, sepertinya acara akan dilanjutkan kembali.
Henry mengajak Shezie dudik disampingnya diantara deretan-deretan kursi yang hadir. Shezie melihat kesekeliling, apa ini seperti seminar? Tampak seseorang melanjutkan presentasinya di depan.
“Sampai sini apa ada yang ditanyakan?” tanya nasa sumber di depan.
“Tidak!” jawab hadirin.
Tiba-tiba nara sumber itu menoleh kearah Henry.
“Dia jaim sedang bersama istrinya!” terdengar celetukan dari belakang diikuti tawa yang lain.
“Oh ternyata anda membawa istri? Halo Bu! Senang bertemu denganmu!” kata Nara sumber.
Shezie tampak bingung dia disapa di depan umum. Henry menoleh paad Shezie, tangannya mengusap punggungnya Shezie sambil tersenyum. Shezie menoleh kearah nara sumber itu.
“Halo! Senang juga bertemu denganmu!” jawab Shezie sambil tersenyum, lalu menoleh pada Henry lagi yang tersenyum padanya. Rasanya begitu nyaman pria itu tersenyum padanya, dengan tangannya yang mengusap pungungnya, serasa benar-benar jadi istrinya saja.
“Kalau begitu kita lanjutkan,” kata nara sumber, diapun melanjutkan slide berikutnya.
Shezie mengikuti acara ini tanpa banyak bicara karena dia juga tidak mengerti dan tentunya tidak terlibat-apa-apa dengan acara ini. Dia hanya duduk mendengarkan menyimak. Sesekali menoleh pada suaminya itu, yang sangat serius mengikuti setiap uraian nara sumber di depan.
“Jangan sering-sering melihatku!” ucap Henry, membuat Shezie terkejut ternyata pria itu merasakan kalau dia sering menatapnya.
“Siapa yang melihatmu?” elak Shezie, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Dia merenung, semua orang mengetahui dirinya istrinya Henry. Apa yang akan terjadi jika mereka bercerai nanti?
“Setelah dari sini, apa kita akan pulang?” tanya Shezie.
“Iya, kita langsung pulang, ayah dan ibu belum melihatmu pulang ke rumah,” jawab Henry.
Shezie tidak menjawab, dia hanya mengangguk.Kemudian Henry yang menoleh menatapnya.
“Besok kita melihat rumah baru,” ucap Henry.
“Rumah?” tanya Shezie.
“Iya, kita bisa langsung pindah,” jawab Henry.
“Baiklah,” kata Shezie kembali mengangguk. Sepertinya tinggal dirumah baru memang akan lebih leluasa, dia bisa mengatur waktunya untuk melihat ibunya.
************
Di rumah Shezie…
Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah itu. Ibunya Shezie membukanya, dia mengira asisten rumah tangganya datang, tapi ternyata yang berdiri dipintu itu adalah Martin.
“Bu!” sapa Martin.
“Kau nak, masuklah!” kata Bu Vina.
“Shezie kemana? Aku telpon tidak diangkat-angkat, kau juga ke cafenya ternyata dia tidak masuk, padahal beru kemarin dia ijin,” kata Martin, langsung memberondong dengan pertanyaan, sambil melangkahkan kakinya masuk kerumah itu.
“Shezie sedang pergi keluar kota, dia bekerja di travel lagi,” ujar ibunya.
“Apa travel sedang ramai sekarang? Padahal ini bukan bulan liburan,” ucap Martin.
Mendengar perkataan Martin, ibunya baru teringat, memang benar sekarang bukan masa liburan anak sekolah, tapi travel itu membutuhkan tenaga tambahan.
“Ibu tahu Shezie bekerja di travel mana? Aku ingin mengajak Shezie makan malam bersama orang tuaku,” ucap Martin, sambil menatap ibunya Shezie.
“Shezie tidak bilang bekerja dimana,” ucap Bu Vina.
Martin langsung bewajah masam, dia kesal sudah mengejar-ngejar Shezie seperti ini masih saja diacuhan oleh gadis itu.
“Nanti ibu tanyakan kalau dia pulang atau menelpon,” jawab Bu Vina.
“Shezie sangat susah dihubungi padahal aku benar-benar serius padanya, aku ingin melamarnya,” kata Martin.
Bu Vina menatap pria muda itu. Dai juga bingung harus bagaimana, dia sudah meminta Shezie untuk membuka hatinya buat Martin.
“Kau ingin melamar Shezie?” tanya Bu Vina.
“Iya, aku akan mengajaknya menemui orang tuaku,tapi dia malah tidak bisa dihubungi,” jawab Martin dengan raut muka yang masam karena kecewa.
Martin menatap Bu Vina.
“Bu, bisa kan aku minta tolong ibu,” ucap Martin.
“Minta tolong apa?” tanya Bu Vina.
“Bicara pada Shezie supaya mau menikah denganku. Aku sudah menunggunya cukup lama,” jawab Martin.
“Biaklah nanti ibu bicara lagi dengan Shezie,” kata Bu Vina.
Dalam hati Bu Vina juga bingung kenapa Seezie seperti tidak tertarik sama sakali pada Martin padahal pri itu tampan dan kaya juga baik hati, apa Shezie punya pacar?
Tiba-tiba saja terbersit di fikirannya Bu Vina, jagan-jangan Shezie punya pacar diluar yang tidak diperkenalka padanya? Jangan-jangan pacarnya itu teman di travelnya? Kenapa dia tidak kefikiran sampai kesitu?
Akhirnya Martin pulang dari rumahnya Shezie dengan kasal, dia sudah hilang kesabaran menunggu gadis itu membuka hatinya. Tapi untuk melepasnya rasanya dia tidak rela kalau belum mendapatkannya.
************
Maaf banyak typo. SInyal jelek sampai berkali-kali ngedit.