
Pulang dari kantornya Pak Louis, di depan rukannya Damian sudah tidak ada lagi yang berunjuk rasa, petugas keamanan dan kepolisian tampak berjaga jaga di gerbang rukan itu.
Damian sesekali melirik Hanna yang sepanjang jalan diam dan hanya airmatanya yang terus menetes dipipinya.
Saat mereka turun dari mobilnya, Satria langsung menyambutnya, matanya melirik Hanna yang juga keluar dari mobil kakaknya. Dia agak terkejut melihat mata Hanna yang sembab.
“Kakak, kita akan rapat emergency?” tanya Satria, menatap kakaknya.
“Ya, siapkan saja, aku akan bicara dengan kakak iparmu dulu,” jawab Damian.
Satria mengangguk, lalu kembali masuk ke kantor, sedangkan Damian mengikuti langkahnya Hanna yang menaiki tangga rumah mereka.
Damian masuk ke ruang makan mengambil gelas dan diisi dengan air putih lalu masuk ke kamarnya. Dilihatnaya Hanna sedang duduk di sofa sambil melepas sepatunya. Wajahnya terlihat pucat, wanita itu benar-benar kehilangan senyumnya.
“Kau minumlah,” ucap Damian, sembil mengulurkan gelas yang berisi air putih itu. Hanna menerimanya dan segera meminumnya, supaya dia lebih tenang.
Damian mengambil gelas dari tangan Hanna dan disimpan diatas meja.
“Sebaiknya kau istirahat, aku ada rapat emergency sekarang,” kata Damian, sambil duduk disamping Hanna.
Hanna menatap wajah pria itu.
“Apa yang akan terjadi dengan pekerjaanmu?” tanya Hanna.
Damian terdiam ditanya begitu.
“Apa kau akan membatalkan pembangunan real estate itu?” tanya Hanna.
“Aku belum tahu, sebenarnya aku bisa melakuakn apapun supaya proyekku bisa berjalan hanya saja aku tidak mau berperang dengan ayahmu,” jawab Damian.
Hanna masih menatap wajahnya Damian, yang terlihat kusut.
“Aku minta maaf atas semua ini,” kata Hanna.
“Aku telah menghancurkan semuanya,menghancurkan impianmu,” lanjut Hanna.
Damian menatap wajah wanita yang dicintainya itu. Dia terlihat bingung.
“Ayahku ingin kau pergi dari daerah ini, apa kau akan melakukannya?” tanya Hanna.
“Entahlah sebenarnya aku sangat bingung. Kalau aku berperang melawan ayahmu, ayahmu akan semakin membenciku,” kata Damian.
“Apa aku yang harus pergi darimu? Aku akan kembali pada ayahku dan mengatakan kalau kita sebenarnya belum menikah?” tanya Hanna.
“Jangan, jangan seperti itu,” Damian menggelengkan kepalanya, walaubagaimanapun dia tidak mau kehilangan Hanna.
“Kau tahu, aku tidak bisa tidur nyenyak tanpa kau peluk, aku akan menderita kalau kau pergi,” ucap Damian. Tangannya meraih bahunya Hanna, supaya bersandar ke tubuhnya. Diapun memeluknya dengan erat.
“Apa kau tahu cara membuat hati ayahmu luluh?” tanya Damian.
“Entahlah, masalahnya ayahku juga sangat menyukai Cristian, dia tidak akan mudah menerima pria lain yang mendampingiku, apalagi dengan kejadian yang seperti ini. Orangtuku pasti terluka, aku telah berbuat salah pada mereka,” ucap Hanna.
Damian terdiam, entah kenapa sekarang dia merasa tidak suka pada Cristian, karena pria itu yang disukai oleh ayahnya Hanna.
Terdengar suara ketukan dipintu rumah mereka.
“Siapa yang datang? Tumben Satria pulang dengan mengetuk pintu dulu,” ucap Damian, sambil bangun dari duduknya.
Hanna tidak bicara apa-apa, dia hanya diam saat Damian keluar dari kamarnya dan membukakan pintu rumahnya.
Damian tampak terkejut saat melihat siapa yang datang, orang yang tadi dibicarakan olehnya dengan Hanna, Cristian.
Damian langsung menatap pria itu dengan tajam. Sebelumnya saat mengetahui kalau Cristian adalah pengantin prianya Hanna, dia masih bisa toleransi, karena Cristian pria yang ditinggalkan Hanna. Tapi sekarang saat ayahnya Hanna menolaknya, dia merasa sangat cemburu pada pria ini.
“Kau, mau apa kau kemari?” tanya Damian, menatap Cristian dengan tajam.
“Bisakah aku bicara dengan Hanna? Maaf aku datang langsung karena handphone-nya tidak bisa dihubungi,” jawab Cristian.
“Tidak bisa!”jawab Damian, tangannya masih memegang pinggiran pintu, dia sama sekali tidak suka Cristian datang menemui Hanna. Meskipun sebenarnya Hanna belum sah menjadi istrinya, tapi dia sudah melamar Hanna untuk menjadi istrinya.
Cristian terdiam melihat sikap Damian yang seperti itu.
“Baiklah, kalau begitu, aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja,” kata Cristian.
“Apa urusanmu? Kau tidak perlu lagi peduli padanya, Hanna sudah jadi milikku!” kata Damian dengan keras.
Hanna mendengar suara Damian yang keras, diapun keheranan memangnya siapa tamunya? Sepertinya tamu itu tidak disukai oleh Damian.
“Aku bukan mau mengganggu Hanna, aku hanya memastikan saja, apa Hanna sudah bertemu dengan Pak Louis? Melihat kejadian unjuk rasa ini, sepertinya kau juga sudah tahu kalau Pak Louis adalah ayahnya Hanna,” kata Cristian. Damian terdiam.
“Beberapa hari yang lalu aku mencoba menghubunginya mau memberitahunya kalau orang-orang ayahnya sudah mencurigainya kalau dia adalah istrimu,” lanjut Cristian. Dia masih berdiri di depan pintu. Damian bener-benar tidak mengijinkannya untuk masuk.
“Terus kenapa kalau ayahnya tahu Hanna adalah istriku?” tanya Damian.
“Ya tidak apa-apa, aku hanya memastikan itu saja, mudah mudahan Pak Louis menerima kalian dengan baki,”jawab Cristian.
Mendengar ucapannya Cristian, Damian yang sedang dalam keadaan emosi menanggapinya lain, dia malah merasa Cristian mengejeknya atas penolakan Pak Louis pada dirinya.
“Kau mengejekku?” tanya Damian, membuat Cristian terkejut.
“Tidak, aku tidak bermaksud mengejekmu,” jawab Cristian, kebingungan.
Hanna mendengar-dengarkan percakapan Damian dengan tamu itu. Dia bingung, kenapa Damian seperti sedang marah? Diapun bangun dari duduknya, keluar dari kamar itu, melongokkan kepalanya melihat keruang tamu.
Hanna terkejut saat melihat Cristian ada diluar pintu, berdiri berhadapan dengan Damian. Dia baru sadar ternyata Damian bicara dengan nada tinggi itu karena bicara dengan Cristian.
Hanna buru-buru berlari mengampiri mereka.
“Cristian! Kau mencariku?” tanya Hanna, sambil menatap Cristian lalu menoleh pada Damian.
“Iya tadinya aku akan bicara denganmu, tapi tadi aku sudah menyampaikanya pada Damian,” jawab Cristian, tersenyum pada Hanna.
“Bicara soal apa?” tanya Hanna sambil menoleh pada Damian.
“Kau masuk saja!” kata Damian.
“Kenapa? Cristian ingin bicara denganku, pasti ada yang penting,” ucap Hanna.
“Aku bilang masuk, masuk!” bentak Damian, membuat Hanna terkejut, Damian membentak bentaknya hanya saat dia bekerja itu tapi sekarang, di rumahpun dia membentaknya! Ada apa? Apa karena kedatangan Cristian?
Sangat aneh biasanya Damian bersikap tenang saat bertemu Cristian. Tapi sekarang, pria itu terlihat sangat tidak menyukai Cristian. Apa Damian cemburu?
Cristian terkejut melihat Damian membentak Hanna. Terlihat sekali kalau Damian tidak suka dia bertemu dengan Hanna. Dia menebak-nebak sepertinya memang telah terjadi sesuatu, mungkin Hanna sudah bertemu dengan ayahnya.
“Sebaiknya aku pergi, aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan pada Hanna,” kata Cristian pada Damian.
“Kita bertemu di kantormu, aku ikut rapat emergency,” kata Cristian, melirik Hanna sebentar lalu membalikkan badannya menuruni tangga meninggalkan rumah itu, dan terus melangkah menuju kantornya Damian di bawah.
Hanna tidak bicara apa-apa lagi, Damian menutup pintu rumah itu. Dia terlihat sangat stress. Hanna menatapnya. Hanna bisa membayangkan perasaannya Damian yan hancur, impiannya hancur, Hanna Grand Lakeside mungkin tidak akan pernah berdiri. Seperti yang sudah diduganya, hanya gapuranya saja yang jadi kenangan atau mungkin akan dirobohkan. Impian menggunting pita bertiga itu sudah hilang musnah lenyap begitu saja, hancur menjadi debu yang tertiup angin.
Damian pergi meninggalkan Hana yang menatapnya. Hanna mengikutinya.
Pria itu duduk diruang tengah dengan wajahnya yang kusam.
Hanna menatap Damian.
“Kenapa kau marah pada Cristian? Memangnya apa yang dikatakan Cristian?” tanya Hanna pada Damian.
“Jangan pernah menyebut nama itu lag!” kata Damian dengan ketus. Hanna terdiam, diapun duduk disebelah Damian.
“Aku hanya ingin tahu apa yang dikatakannya, kenapa kau marah pada Cristian?” tanya Hanna.
“Sudah aku bilang jangan menyebut namanya lagi!” teriak Damian dengan kesal, diapun bangun dari duduknya dan masuk ke kamar tidur. Melihat sikap Damian seperi itu membuat Hanna kebingungan, diapun mengikuti Damian masuk kekamar mereka.
“Kau marah dan membentak-bentakku dengan alasan yang tidak jelas,” ucap Hanna, menatap Damian yang ternyata hanya berdiri di dekat jendela melihat keluar.
Hanna mendekatinya dan memeluk Damian dari belakang, menempelkan kepalanya di punggung pria itu.
“Apa kau cemburu?”tanya Hanna. Damian tidak menjawab.
“Kau tidak perlu cemburu, aku hanya mencintaimu saja,” lanjut Hanna.
Mendengar ucapannya Hanna itu dan juga pelukannya, membuat marah Damian sedikit mereda. Tangannya memegang tangan Hanna yang melingkar di pinggangnya. Hanna semakin erat memeluk Damian. Tidak ada kata-kata yang diucapkan lagi.
Fikiran Damian sangat kacau, melihat Cristian membuat hatinya terasa terbakar. Bukan saja kerena cemburu pada Cristian, tapi cemburu karena ternyata ayah Hanna lebih menyukai Cristian dari padanya.
Apalagi mengingat pengusiran ayahnya Hanna bukan hanya mengusir dari ruangannya tapi mengusir dari kota ini, hengkang dari proyeknya yang sudah berjalan. Entah berapa besar kerugian yang akan dialaminya.
“Aku akan ke kantor, ada rapat penting,” kata Damian. Hanna segera melepas pelukannya. Damian membalikkan badannya menatap Hanna. Hanna berjinjit dan mencium bibirnya Damian. Mendapat ciuman dari Hanna hati Damian sedikit terobati. Setidaknya dia yang memiliki Hanna bukan Cristian, meskipun restu belum dia dapatkan dari ayahnya Hanna.
Tangan Damian mengusap rambutnya Hanna.
“Sepertinya aku akan sangat sibuk dan pulang larut. jangan menungguku. Ingat, jangan menungguku,“ kata Damian.
Hanna mengangguk. Setelah itu Damian pun beranjak menjauh. Baru juga sampai pintu, Hanna memanggilnya.
“Damian!” panggil Hanna.
Damian menoleh dan menatapnya.
“Aku punya pemintaan bolehkah?” tanya Hanna.
“Permintaan apa?” tanya Damian.
Hanna berjalan mendekatinya.
“Di kantor kau akan bertemu Cristian kan?” tanya Hanna, bicara dengan hati-hati. Damian tidak menjawab.
“Aku minta jangan bertengkar ya,” pinta Hanna.
“Aku hanya mencintaimu, bukan Cristian,” lanjut Hanna. Kini beridiri lebih dekat pada Damian.
Damian terdiam mendengarnya, dia masih kesal kenapa nama Cristian disebut lagi. Dia tidak menjawab permintaan Hanna, Damian hanya menunduk dan mencium pipinya Hanna, setelah itu dia keluar dari kamar itu.
Melihat Damian tidak menjawab permintaannya, membuat Hanna gelisah, kentara sekali kalau Damian sangat tidak menyukai Cristian. Hanna juga merasa bersalah pada Damian. Kalau saja waktu itu dia tidak menumpang mobilnya Damian, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
*******************
Readers, jangan lupa like vote dan komennya ya..