Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-102 Calon Menantu VS Calon Mertua



Pagi itu, Damian, Hanna dan Satria sedang sarapan saat Pak Indra datang ke rumah mereka.


“Maaf pak, saya mengganggu,” kata Pak Indra.


“Ada apa? Apa ada yang penting?” tanya Damian mengakhiri makannya.


“Benar Pak, penduduk tiba-tiba menolak untuk menjual tanah mereka, dan yang sudah berniat menjualpun membatalkannya,” jawab Pak indra, berdiri di dekat pintu ruang makan itu.


Damian menghampiri Pak Indra  dan menatapnya tajam.


“Ada apa? Bukankah mereka setuju kalau tanahnya akan jual? Apa yang terjadi?” tanya Damian, raut mukanya berubah masam. Terlihat sekali dia sangat kecewa dan marah.


Damian berjalan ke ruang tengah diikuti Pak Indra. Hanna dan Satria juga mengakhiri makannya dan mengikuti mereka.


“Saya juga tidak tahu Pak, tapi saya mendengar kalau mereka dapat instruksi dari Pak Louis untuk tidak menjual tanah mereka buat dijadikan real estate, padahal kan Pak Louis sudah bekerjasama dengan kita untuk membantu pembebasan lahan-lahan penduduk,” jawab Pak Indra.


Damian terkejut mendengarnya termasuk Hanna dan Satria.


“Bukan itu saja massa juga menolak dibangunnya real estate di daerah ini,” kata Pak Indra.


Damian terdiam mendengarnya. Hanna segera mendekati Damian berdiri didekatnya dan manatap Pak Indra.


“Pak Indra dengar dari orang-orang kalau Pak Louis yang menginstruksikan massa untuk menolak pembangunan real estate?” tanya Hanna.


“Benar Bu,” jawab Pak Indra.


Hanna menoleh pada Damian yang wajahnya berubah memerah. Hanna memeluk tangannya Damian.


“Aku akan bicara dengan Pak Louis,” ucap Hanna, menatap Damian.


“Tidak, ini masalah pekerjaan tidak ada sangkut pautnya denganmu,” kata Damian.


Tiba-tiba terdengar suara ramai-ramai orang diluar. Pak Indra langsung keluar menuju pintu rumah itu didiikuti Damian, Hanna dan Satria.


Mereka melihat massa berbondong-bondong berunjuk rasa penolakan didirikannya real estate di daerah mereka.


“Biar saya menangani massa dulu Pak,” kata Pak Indra, tanpa menunggu perintah Damian lagi langsung turun dari tangga rumah itu.


Hanna kembali memeluk tangannya Damian.


“Damian, apakah telah terjadi sesuatu?” tanya Hanna, menatap pria itu dengan cemas.


Damian tidak menjawab, wajahnya seketika terlihat sangat menyeramkan, dia sangat marah.


“Damian aku minta maaf, semua ini salahku, aku akan bertemu dengan Pak Louis, aku akan bicara dengannya,” kata Hanna, masih menatap wajah Damian yang seketika berubah memerah.


“Tidak, kau tidak ada urusan dengan pekerjaanku, aku yang akan bicara dengan Pak Louis,” kata Damian.


“Jangan, aku saja yang bicara dengannya,” ucap Hanna.


Damian memegang tangan Hanna dengan kuat.


“Satria!” panggil Damian.


Satria menoleh pada Damian.


“Bawa Hanna masuk, jangan biarkan dia keluar dari rumah,” perintah Damian, sambil menarik Hanna supaya masuk kedalam.


“Tidak Damian, aku harus ikut bersamamu! Aku harus bicara dengan Pak Louis,” teriak Hanna, saat melihat Damian pergi menuruni tangga.


Hanna akan mengejar tapi Satria menghalanginya dan segera menutup pintu rumah itu.


“Satria, aku harus mengejar Damian!” teriak Hanna.


“Kau dengar sendiri kan, kakakku menyuruhmu tinggal dirumah saja, kau tidak perlu ikut campur urusan pekerjaannya!” kata Satria.


Hanna melihat keluar lewat jendela, memegang teralisnya, dia melihat Damian mengendarai mobilnya meninggalkan halaman rukan itu.


Diluar pagar para pengunjuk rasa begitu ramai. Beberapa orang karyawan mencoba menghalangi mereka supaya tidak anarkis dan masuk kedalam kantor.


Hanna menoleh pada Satria, dia akan menuju pintu, tapi Satria mengahalangi pintu itu.


“Kenapa kau harus ikut campur pekerjaan kakakku, kau diam saja sesuai permintaan kakakku!” kata Satria dengan kesal.


“Damian akan bertemu Pak Louis,” ucap Hanna.


“Ya biarkan saja, masalah seperti ini sudah biasa, kakakku pasti bisa menyelesaikannya, paling Pak Louis hanya minta uang tambahan, semua akan beres, kau tidak perlu khawatir, kakakku memiliki banyak uang,” kata Satria.


“Pak Louis tidak seperti itu!” teriak Hanna pada Satria.


Hanna merasa yakin ayahnya sudah mengetahui tentang indentitas dirinya. Tapi dia tidak tahu apakah ayahnya mengetahui kalau mereka sebenarnya pura-pura menikah? Tapi sepertinya tidak, kalau ayahnya tahu sebenarnya dia belum menikah dengan Damian, pasti ayahnya akan langsung membawanya pulang.


“Pak Louis tidak mencari uang dengan membuat kekacauan seperti ini!” teriak Hanna lagi.


Satria terdiam, kenapa Hanna seperti mengenal betul Pak Louis?


“Tolong Satria buka pintunya, aku harus menyusul Damian, aku harus membantunya bicara dengan Pak Louis,” kata Hanna. Satria menggelengkan kepalanya.


“Satria!” teriak Hanna.


Melihat Satria yang masih tidak memberinya jalan, Hannapun mendorong Satria ke samping dengan keras, membuat Satria kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Satria terkejut tidak menyangka Hanna akan senekat itu.


Hannapun cepat-cepat membuka pintu itu dan keluar dari sana


“Hanna! Tunggu! Kau tidak boleh menyusul kakakku! Kakakku akan marah!” teriak Satria, terkejut melihat Hanna berlari menuruni tangga. Akhirnya Satria berlari mengejarnya.


Hanna terus berlari menuju gerbang yang ditutup satpam.


“Aku mau keluar,” kata Hanna.


“Tapi diluar…” Belum selesai satpam bicara, Hanna langsung mendorong gerbang itu dan menyelinap keluar.


“Jangan dibuka gerbangnya!” teriak Satria.


Pak Satpam tampak bingung, tapi Hanna sudah terlanjur keluar dari gerbang masuk ke kerumuman yang berunjuk rasa.


Karena melihat gerbang yang terbuka sedikit, para pengunjuk rasa akan menerobos pagar, Pak Satpam buru-buru menutup gerbang pagarnya.


Satria menghentikan langkahnya, dia tidak mungkin mengejar Hanna yang sudah menghilang diantara pengunjuk rasa.


Hanna segera menyetop taxi yang lewat, meminta supir mengantarnya menuju kantor ayahnya.


 


 


******


Terdengar suara ketukan di pintu ruangannya Pak Louis.


“Ada tamu,Pak,” kata Bu wina.


“Siapa?”tanya Pak Louis.


“Pak Damian,” jawab  Bu Wina.


“Suruh dia masuk,” kata Pak Louis. Dia sangat marah mengingat Damian menikahi putrinya tanpa restu darinya, apalagi dengan kehadiran orangtua palsu Hanna.


“Baik Pak,” jawab Bu Wina, diapun keluar dan mempersilahkan Damian masuk.


“Selamat siang!” sapa Damian, sambil tersenyum ramah pada Pak Louis, tidak ada tanda-tanda dia marah karena masalah pekerjaan.


Pak Louis menatap Damian dan tersenyum dipaksakan.


“Silahkan masuk Pak Damian,” sapa Pak Louis, dia berdiri menatap Damian yang muncul dipintu ruang kerjanya.


Dalam benaknya Pak Louis menilai, Damian sebenarnya seorang pengusaha yang hebat, hanya saja kelakuannya yang menikahi putrinya tanpa seijinnya, sangat tidak terpuji dan tidak bertanggungjawab. Hal itu menunjukkan Cristian memang lebih pantas untuk Hanna.


“Maaf kalau kedatanganku tiba-tiba,” kata Damian, masih tersenyum ramah.


Damian mengangguk dan diapun duduk di sofa yang ada di ruangan itu diikuti pak Louis.


“Ada perlu apa kau datang menemuiku?” tanya Pak Louis, basa basi, ada nada sinis dari kata-katanya, tidak seramah tadi.


Damian terdiam sesaat. Dia tahu Pak Louis sedang marah padanya.


“Aku mendapat laporan kalau penduduk yang akan menjual tanahnya padaku tiba-tiba membatalkannya dan pagi ini terjadi unjuk rasa di depan kantorku menolak didirikannya reas estate, padahal kita sama-sama tahu kalau perijinan sudah aku kantongi,” jawab Damian.


“Hubungan dengaku apa?” tanya Pak Louis, kemarahannya sudah mulai uncul.


“Apakah ada masalah dengan hubungan kerjasama kita?” tanya Damian, menatap Pak Louis, juga ayahnya Hanna itu.


“Mungkin para penduduk berubah fikiran, itu saja,” jawab Pak Louis.


“Kenapa para penduduk berubah fikrian?” tanya Damian.


“Kau tinggal tanya saja pada mereka,” jawab Pak Louis mulai ketus.


“Pak Louis, dari awal kita bekerja sama, saya membutuhkan Bapak untuk membantu pembebasan lahan yang akan dibangun real estate itu dan bapak sudah menyanggupinya, tapi kemudin tiba-tiba semua ini berubah, tolong jelaskan padaku, ada apa?” tanya Damian, menatap Pak Louis.


Sebelum membahas masalah pribadinya, Damian ingin memastikan apa yang Pak Louis tahu tentang dirinya dan Hanna.


“Aku sudah mengatakan padamu tadi para penduduk berubah fikiran, apa kau tidak mengerti juga?” tanya Pak Louis, sudah tidak bisa menyembunyikan kakesalannya lagi.


Damian terdiam, keduanya mulai bersitegang.


“Aku tidak berkuasa kalau memang penduduk memiliki keinginan seperti itu, kau tinggal pindah lokasi, mencari lokasi lain untuk dijadikan proyekmu,” kata Pak Louis.


“Apa maksud Bapak bilang begitu? Bapak mengusir saya dari daerah sini?” tanya Damian.


“Aku hanya menyarankan saja karena penduduk sudah tidak mau menjual tanahnya lagi,” kata Pak Louis.


Damian mulai tersulut emosi, dia tidak suka pekerjaannya terganggu. Dan dia bukan tipe yang mudah menyerah begitu saja dengan masalah pekerjaannya.


“Pak Louis, aku minta maaf kalau aku sudah berbuat salah padamu, tapi aku harap untuk tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi,” kata Damian.


“Apa maksudmu bicara begitu? Masalah pribadi apa? Kau merasa mempunyai masalah pribadi denganku?” tanya Pak Louis, tersenyum sinis.


Damian terdiam, dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan emosinya, meskipun dia marah merasa dipermainkan oleh Pak Louis, tapi Pak Louis adalah ayahnya Hanna dan dia harus minta restu darinya untuk menikahi Hanna. Dia juga belum tahu sejauh mana Pak Louis mengetahui tentang dirinya dan Hanna.


Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu berlari mendekati ruangan itu.


“Ayah!” panggil Hanna, begitu masuk ke ruangan itu dan melihat ayahnya yang sedang duduk di sofa berhadapan dengan Damian. Hanna juga menoleh pada Damian.


Damian terkejut melihat Hanna muncul dikantor itu.


Hanna menatap ayahnya yang juga menatapnya.


“Ayah!” panggil Hanna lagi, berdiri menatap ayahnya.


“Jangan memanggilku ayah lagi!” bentak Pak Louis dengan keras. Mendapat bentakan itu membuat Hanna sedih.


“Ayah, aku minta maaf ayah,” ucap Hanna , diapun berlari dan bersimpuh dikaki ayahnya.


“Aku minta maaf ayah,” ulang Hanna. Damian terkejut melihat Hanna bersimpuh dikakinya Pak Louis.


“Jangan memanggilku ayah!” teriak Pak Louis, sambil menepiskan tangan Hanna yang menyentuh kakinya.


Hanna langsung saja menangis.


Pak Louis bangun dari duduknya, menjauh dari Hanna.


“Keluar dari ruanganku!” usir Pak Louis.


“Ayah!” panggil Hanna sambil bangun dan menghampiri ayahnya, tangannya meraih tangan ayahnya tapi Pak Louis menepisnya lagi.


“Ayah aku minta maaf,” ucap Hanna.


Pak Louis menatap Hanna.


“Minta maaf untuk apa? Setelah apa yang kau lakukan pada kami, orangtuamu dan dengan mudahnya kau meminta maaf?” bentak Pak Louis.


“Ayah, aku…” tidak ada kata-kata lagi yang bisa Hanna ucapkan, airmata deras membasahi pipinya.


Pak Louis masih menatap Hanna dengan tajam.


“Kau pergi dari pernikahanmu dengan seenaknya, tidak memikirkan rasa malu yang aku tanggung! Sekarang, kau menikah dengan pria itu dan kau juga tidak meminta restu dari orangtuamu, bahkan kau membawa orang tua lain dalam resepsimu! Apa pantas seorang anak berlaku seperti itu?” maki Pak Louis dangan nada tinggi.


“Ayah aku minta maaf,” ucap Hanna, seperti dugaannya ayahnya sudah mengetahui kalau dia menikah dengan Damian. Tapi sepertinya ayahnya belum tahu kalau pernikahan mereka pura-pura.


“Ayah tolong maafkan aku, dan maafkan juga Damian yah,” pinta Hanna.


Pak Louis menoleh pada Damian yang sekarang berdiri didekat Hanna, menatap Damian penuh kebencian.


“Memaafkan pria ini? Pria yang tidak tahu sopan santun dengan seenaknya menikahi gadis orang tanpa restunya? Apa-apaan yang kalian lakukan itu?” teriak Pak Louis dengan keras.


“Pak Louis aku minta maaf atas semua yang terjadi,” ucap Damian.


“Jangan harap aku memafkan kalian berdua! Cepat keluar dari ruanganku! Keluar!” teriak Pak Louis.


“Ayah, aku mencintai Damian, ayah. Kami ingin meminta restu darimu,” kata Hanna.


“Restu? Bukankah kalian sudah mendapat restu dari orangtua palsu itu? Buat apa minta restuku lagi?” maki Pak Louis.


Hanna terdiam begitu juga Damian. Mereka mengerti pasti perasaan Pak Louis sangat terluka saat ini.


“Aku tidak akan pernah merestui pernikahan kalian! Keluar dari ruanganku!” usir Pak Louis lagi.  Lalu menoleh pada Damian yang masih berdiri tidak jauh dari Hanna.


“Dan kau, sebaiknya kau angkat kaki dari daerah ini, jangan sekali-sekali muncul didaerah ini, atau kau akan mendapat masalah!" usir Pak Louis.


“Dan satu lagi, kerjasama kita batal!” kata Pak Louis mengultimatum.


“Pak Louis, aku…” Damian mencoba bicara tapi Pak Louis mengangkat tangannya.


“Aku tidak mau berhubungan denganmu lagi, Pak Damian. Aku sangat kecewa pada anda,” kata Pak Louis.


“Tapi Pak Louis, tolong maafkan putrimu,” pinta Damian, dia tidak tega melihat Hanna menangis seperti itu.


“Semua kesalahanku, aku minta maaf,” lanjut Damian.


“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Silahkan keluar!” usir Pak Louis lagi.


Hanna terus menangis mendapat pengusiran dari ayahnya.


Damian menoleh pada Hanna, mendekatinya dan memeluk bahunya.


“Ayo kita pulang,” ajak Damian.


Hanna menatap ayahnya yang sekarang berdiri membelakanginya.


“Ayah, aku pulang,” ucapnya dengan terbata-bata disela isaknya.


Pak Louis sama sekali tidak menoleh.


Damian menarik bahu Hanna untuk keluar dari ruangan itu. Hanna pun dengan berat hati keluar dari sana, airmata terus menerus menetes di pipinya.


*****************


 


Jangan lupa like vote dan komen ya!


Nih udah dikasih konflik yang komen support malah dikit. Mau masukin yang lebay-lebaynya jadi susah.


Besok mau ngelebay lagi ah.


Ini hampir 2000 kata ya readers.