
Henry membuka pintu kamar hotelnya, kemudian memberi jalan buat Shezie supaya masuk duluan.
“Diluar sangat dingin, cepat masuk” kata Henry.
Sheziepun masuk duluan, Henry menutup pintunya kembali.
Shezie melepaskan mantel hangatnya juga sarung tangannya, digantung di gantungan dekat pintu.
“Aku buatkan minuman hangat,” ujar Shezie, berjalan menuju meja yang terdapat termos teh dan coffee.
“Kau mau teh atau coffee?” tanya Shezie, mengambil dua cangkir gelas yang sudah tersedia disana.
“Teh saja,” jawab Henry, dia juga melepaskan mantel dan sarung tangannya disimpan di gantungan yang sama dengan Shezie yang tersedia dekat pintu masuk.
Shezie memberikan secangkir teh pada Henry yang segera mengambilnya.
“Terimakasih,” ucap Henry sambil tersenyum, Shezie membalas senyumannya.
Henry menyeruput teh panas itu sedikit lalu berjalan menuju sofa dan duduk disana, lalu menyalakan televise.
Dia agak bingung melihat tayangan di televisi.
“Apa ini? Tidak ada acara yang bagus?” gumamnya, disimpannya cangkir teh di atas meja, lalu memindah-mindahkan chanel.
“Kenapa?” tanya Shezie , menghampiri sambil membawa cangkir cofeenya.
“Apa itu?” teriaknya saat matanya melihat acara di televisi, Shezie langsung menghentikan langkahnya dan memejamkan matanya.
Henry menoleh kearah Shezie dan tersenyum melihat gadis itu hanya mematung dan memejamkan matanya.
“Sepertinya ini tv kabel, karena acara kita berbulan madu, jadi dipilihkan tayangan seperti ini,” kata Henry sambil tertawa.
“Apa tidak ada acara lain? Aku malu melihatnya,” keluh Shezie, masih dengan mata tertutup.
“Coba aku cari chanel yang lain,” kata Henry, dia kembali mencari-cari chanel, ternyata hampir sama tayangannya fim-film dewasa yang hot, tentu saja Shezie akan malu menontonnya apalagi dengan pria yang menemaninya.
“Nah ada juga berita, kau mau menonton berita?” tanya Henry, memilihkan chanel news dalam bahasa perancis.
“Aku tidak mengerti bahasanya,” ucap Shezie.
“Nanti aku terjemahkan,” kata Henry, sambil tersenyum menoleh pada Shezie.
“Apa sudah kau pindahkan?” tanya Shezie memastikan, dia akan malu kalau melihat adegan-adegan syur bersama Henry.
“Sudah,” jawab Henry, mengeraskan suara chanel news nya supaya Shezie percaya. Barulah Shezie mau membukakan matanya.
Gadis itupun duduk agak jauh disampingnya Henry. Henry melirik Shezie yang menjaga jarak darinya, tangannya segera menarik pingganganya Shezie supaya lebih dekat padanya. Shezie hanya menatap pria itu sekilas.
Shezie meniupi coffeenya yang panas, setelah agak dingin didekatkannya cangkir itu ka mulutnya tapi tiba-tiba Henry menarik tangannya Shezie dan meminum coffee itu diseruputnya sedikit lalu menoleh pada Shezie.
“Kenapa?” tanya Shezie.
“Cofee nya manis,” jawab Henry.
“Kau kebiasaan selalu meminum cofeeku,” keluh Shezie.
“Aku ingin tahu cofeenya manis atau tidak?” jawab Henry.
“Kalau begitu kenapa kau minta teh tadi?” tanya Shezie.
“Supaya kau bertanya cofeenya manis atau tidak, nanti aku akan membuktikannya,” jawab Henry.
“Hemm modus,” ucap Shezie mencibir.
Henry tersenyum dan mengusap rambutnya Shezie.
“Memangnya kenapa kalau manis?” tanya Shezie.
“Malam itu kau mmebauat coffee tanpa gula kenapa?” Henry balik bertanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Shezie, kembali meniupi cofeenya.
“Kau sengaja menahan kantuk karena menungguku kan?” tanya Henry, menatap Shezie, bukannya menonton televise.
“Tidak, “ Shezie menggelengkan kepalanya, tidak mau ngaku.
“Mulai sekarang kau tidak perlu menungguku,” kata Henry.
“Kenapa?” tanya Shezie, kembali menatap Henry.
“Karena tanpa kau tunggupun aku pasti pulang,” jawab Henry, membuat Shezie tersenyum bahagia rasanya mendengar Henry mengatakan itu.
Henry kembali meminum coffee lagi yang ada ditangan Shezie bahkan sekarang sampai habis.
“Kau menghabiskan cofeeku,” protes Shezie.
“Aku tidak akan bertanya begitu, kau sok tahu,” ujar Shezie.
“Kau memang tidak perlu bertanya, tapi aku yang akan memberitahumu kalau cofeenya sangat manis,” jawab Henry, membuat Shezie tegang mendengarnya.
Dan seperti dugaannya, pria itu mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Ternyata kali ini tidak cukup sekali, tangan Henry mengambil cangkir coffee di tangan Shezie dan disimpan diatas meja, lalu kembali mencium Shezie sampai dia benar benar merasakan manisnya coffee dimulut Henry.
“Cofeenya manis kan?” tanya Henry, sambil melepaskan ciumannya perlahan.
“Iya,” jawab Shezie, dengan wajah yang memerah.
“Jadilah istriku yang sesungguhnya” ucap Henry.
Shezie menatap wajah pria itu.
“Mulai malam ini kau istriku, aku suamimu,” kata Henry, jarinya menyentuh bibirnya Shezie.
“Aku mencintaimu,” ucapnya lagi, semakin membuat Shezie terbuai dengan kata-katanya. Dia tidak bisa menolak saat pria itu kembali menciumnya.
Bukan itu saja, pria itu juga menciumi seluruh wajahnya. Keningnya, matanya, hidungnya, pipinya. Shezie menatapnya masih dengan rasa yang tidak percaya dia dan Henry benar-benar akan melanjutkan pernikahan ini.
“Apa kita akan melakukan disini?” tanya Henry.
“Melakukan apa?” Shezie balik bertanya.
“Tentu saja pulang dari sini kita harus memberikan kado buat orang tuaku juga ibumu. Ibumu pasti senang kalau kau memberinya cucu kan?” jawab Henry.
Shezie tampak berfikir.
“Kau terlalu banyak berfikir, kita sudah menjadi suami istri yang sah sudah beberapa waktu yang lalu,” kata Henry, mulai tidak sabar, membuat Shezie tertawa.
“Kau membuatku gemas saja,” keluh Henry.
Tangannya menyentuh pipinya Shezie, kembali menciumi wajahnya sampai Shezie kewalahan tapi membiarkan apa yang dilakukan Henry, bukankah dia sudah menerima untuk menjadi istrinya Henry yang sebenarnya? Sudah kewajibannya sekarang memberikan apa yang menjadi hak suaminya.
Shezie tersentak kaget saat Henry mengangkat tubuhnya memangkunya berpindah ke tempat tidur.
“Henry kau mengagetkanku!” teriaknya.
Menyadari sekarang tubuhnya ada di tempat tidur, keringat dingin langsung membasahi keningnya, jantungnya berdebar kencang, dia sangat gugup, apakah ini akan menjadi malam pertamanya dengan Henry?
“Kita mulai sekarang?” tanya Henry, yang ikut berbaring disampingnya.
“Apa?” tanya Shezie dengan bingung, membuat Henry tersenyum.
“Bukankah kita sudah menjadi suami istri yang sah?” tanya Henry, memiringkan tubuhnya menghadap Shezie.
Wajah Shezie tambah pucat saja ditanya begitu.
“Apa kita akan melakukan malam pertama?” tanya Shezie dengan gugup.
“Apa lagi? Kau istriku sekarang, aku suamimu. Kita sudah berjanji akan melanjutkan pernikahan ini dengan sebenarnya, aku tidak main-main. Aku ingin memilikimu seutuhnya, kau juga memilikiku seutuhnya,”jawab Henry.
“Kau membuatku sangat gugup,” ucap Shezie, membuat Henry tertawa.
“Kenapa kau tegang begitu?” tanya Henry, sambil membelai rambutnya Shezie dan kembali mencium pipinya, membuat Shezie juga tertawa karena malu.
“Aku hanya merasa aneh saja,” jawab Shezie, menoleh kesamping menatap wajah Henry.
“Aku juga,” kata Henry, kembali mencium bibirnya Shezie.
“Aku tidak menyangka aku akan jatuh cinta padamu,” lanjutnya, tangan kirinya melintasi pungung Shezie dan memeluk bahunya, membuat tubuhnya lebih mendekat.
“Bisakan kau tidak berfikir macam-macam lagi?” tanya Henry, hembusan nafasnya begitu terasa saking dekatnya wajah itu.
“Iya,” jawab Shezie, menatap wajah yang begitu dekat dihadapannya. Tangannya dengan ragu memegang pipinya Henry.
Lagi-lagi tangan Henry menarik tangan Shezie supaya tangannya menyentuh wajahnya.
“Kau boleh menyentuhku, kau boleh memelukku, kau boleh menciumku, aku tidak akan marah, aku suamimu,” ucapnya, dia merasa lucu melihat sikap Shezie yang canggung, mungkin karena mereka baru sedekat ini sekarang.
“Orang tuamu tahu kita pergi kesini?” tanya Shezie.
“Tidak, kita buat kejutan, berikan mereka cucu secepatnya, kau mau?” tanya Henry jemarinya menyusuri wajahnya Shezie.
“Iya,” jawab Shezie, dengan lirih, dia sudah tidak berdaya dipelukan suaminya, merasakan pelukan yang semakin erat dan semakin hangat, tidak ingin dia lepas dari pelukannya.
Henry menghentikan gerakannya di wajah SHezie, tapi beralih ke bagian lain, menyusuri punggung istrinya dengan perlahan. Shezie menahan nafas dalam-dalam, dia semakin merasa gugup, merasakan tangan itu mulai menyentuh kulitnya.
Ini adalah yang pertama kalinya buat mereka berdua seintim ini. Malam pertama mereka sebagai suami istri yang sah, tidak ada lagi siapa yang dibayar dan yang membayar, kini ikatan itu sudah berubah menjadi ikatan suami istri yang sebenarnya.
Malam semakin larut, udara juga semakin dingin, tidak ada lagi yang bicara, dua insan menyatu dalam suatu ikatan suami istri yang seharusnya.
***********