Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-1 Arisan



Di sebuah restaurant mewah, tampak berkumpul wanita-wanita dengan dandanan yang glamour, sekan-akan mereka berlomba-lomba ingin tampil lebih wah dari yang lainnya. Mereka sedang menikmati makan malamnya di sebuah meja yang memanjang.


Seorang wanita dengan riasan tebal, lengkap dengan bulu mata palsu dan lipstik merah waterproof yang tebal, semakin memperlihatkan bibirnya yang penuh. Dia menoleh pada wanita yang ada disebelahnya yang sedang menikmati makanannya dengan santai.


“Bu Damian, bagaimana kalau kau ikut aku bisnis berlian, bisnis ini sangat menguntungkan. Kau kan memilki uang banyak, tentu kau tidak akan kesulitan modal,kan?” kata Wanita itu.


Wanita yang dipanggil Bu Damian menoleh padanya sambil terus mengunyah makanannya.


“Aku tidak suka bisnis, Bu Ema,” jawab Bu Damian, alias Hanna.


“Sangat disayangkan, uangmu hanya tersimpan sia-sia,” kata Bu Ema.


Hanna tidak menjawab lagi, dia kembali makan saja. Sebenarnya dia tidak sengaja ikut perkumpulan ibu-ibu ini.  Dia tidak sengaja diajak Bu Ema arisan yang kebetulan para suaminya adalah rekan bisnisnya Damian.


“Aku dengar kau juga memiliki kapal pesiar, bagaimana kalau arisan depan kita adakan dikapal pesiarmu saja?” celetuk wanita yang disebrang Hanna.


Hanna terdiam sebentar, sebenarnya dia kurang suka dengan perkumpulan istri-istri pengusaha ini karena kebanyakan mereka adalah penjilat yang pura-pura bermanis-manis karena mereka butuh dukungan Damian untuk bisnis suami mereka.


“Akan aku fikirkan,” jawab Hanna.


“Jangan lupa  datang di hari penikahan putraku, William.” kata seorang wanita yang duduk disebelah kanannya Hanna.


“Aduh aku hampir lupa Bu Pian, kapan resepsinya?” tanya Hanna.


“Seminggu lagi. Kau tahu kan William itu sangat tampan, banyak sekali gadis yang menyukainya, aku sampai pusing memilihkan gadis untuknya, semua cantik-cantik dan dari keluarga yang kaya raya,” jawab Bu Pian, membicarakan putranya dengan bangga.


“Sama dengan putraku, Bryan, dia juga memiliki banyak pacar, banyak gadis yang tergila-gila padanya,” sahut Bu Ema sambil tertawa dengan bangga.


Celetuk lagi ibu-ibu yang lain mengagulkan putra-putra mereka yang tampan dan kaya juga terkenal dikalangan gadis-gadis.


“Bagaimana dengan putramu? Henry juga berteman dengan William, tentu banyak juga dong gadis gadis yang mengejarnya,” tanya Bu Pian.


Ditanya begitu Hanna berfikir, dia tidak terlalu tahu soal pacarnya Henry. Putranya itu jarang membicarakan gadis-gadis, hanya Henry sudah berkali-kali membawa gadis ke rumah itupun mengakunya teman saja.


Karena tidak mau kalah gengsi dengan  ibu-ibu yang lain, Hannapun menjawab.


“Tentu saja! Putraku sangat tampan, banyak gadis-gadis yang mengejar-ngejarnya, dia sangat popular,” kata Hanna membanggakan putranya.


“Kau pasti pusing kan memikirkan putramu nanti akan menikah dengan gadis yang mana?“ tanya Bu Ema.


“O tentu saja, siapa yang tidak terila-gila pada putraku!” jawab Hanna tidak mau kalah. Hem memangnya hanya mereka saja yang punya putra yang tampan, dia juga punya, batinnya.


Percakapan mereka terhenti saat beberapa orang wanita menghampiri meja mereka. Semua yang duduk di meja itu menoleh pada yang datang. Salah seorangnya langsung menghampiri Hanna.


“Hai Bu Yogi, apa kabarmu?” sapa Bu Ema.


“Tidak terlalu bagus,” jawab wanita yang dipanggil Bu Yogi itu dengan ketus sambil menoleh pada Hanna. Sorot matanya tajam seperti tidak menyukai apa yang dilihatnya.


“Apa kabarmu Bu Yogi?” sapa Hanna, sambil tersenyum.


“Kabar buruk!” jawab Bu Yogi membuat semua orang terdiam dan memandangnya. Hanna sampai terkejut dengan jawaban Bu Yogi itu, dia salah satu istri pengusaha kaya di ibukota.


Hanna menatapnya dengan keheranan.


“Ada apa? Kenapa kau seperti marah?” tanya Hanna.


“Bagaimana aku tidak marah? Putramu, Henry sudah membuat putriku dirawat dirumah sakit!” jawab Bu Yogi, membuat semua orang terkejut dan menatap Hanna.


“Apa? Apa maksudmu?” tanya Hanna sambil berdiri berhadapan dengan Bu Yogi.


“Henry sudah membuat putriku dirawat!”jawab Bu Yogi.


“Apa yang dilakukan Henry?” tanya Hanna, sangat penasaran, bayangan-bayangan buruk terlintas dibenaknya, jangan-jangan Henry sudah melecehkan putrinya Bu Yogi, fikirnya.


“Masa kencan dengan putriku tidak mengajaknya makan sama sekali? Putriku punya magh akut, gara-gara kencan dengan putramu yang pelit itu jadi magh putriku kambuh dan sekarang dirawat dirumah sakit,” jawab Bu Yogi dengan ketus.


“Apa? Aku tidak mengerti?” tanya Hanna, kebingungan.


“Kalau jadi pria yang pelit itu akan membuatnya susah dapat jodoh. Mana ada gadis yang mau dengan pria pelit seperti putramu itu. Heran, orang kaya ko pelitnya minta ampun!” gerutu Bu Yogi dengan sinis.


Semua orang yang mendengarnya sampai terkejut dan mulai mencibir.


“Mungkin kau salah paham, tidak mungkin putraku mengajak kencan gadis membiarkannya kelaparan, putraku tidak seperti itu,” kata Hanna.


“Kenyataannya memang begitu. Henry itu sangat pelit, super pelit. Selama pacaran dengan putriku, tidak pernah tuh memberi putriku hadiah apa ke. Tidak ada yang kuat pacaran dengan pria pelit seperti itu! Mana ada gadis yang mau menikah dengan pria yang pelit. Saat pacaran saja pelitnya minta ampun, apalagi kalau sudah menikah?” gerutu Bu Yogi, lalu menoleh pada ibu-ibu yang lain.


“Dengar ya ibu-ibu, jangan biarkan anak gadisnya pacaran dengan Henry, pelitnya minta ampun, ih amit-amit deh,” hasut Bu Yogi, lalu melirik pada teman-temannya mengajak meninggalkan meja itu.


Hanna terdiam, tertegun mendapat cacian dari Bu Yogi. Apa benar putranya sepelit itu sampai membuat putrinya Bu Yogi masuk rumah sakit?


Ibu-ibu yang ada disana langsung saja saling berbisik-bisik, mereka mulai bergosip, membicarakan Henry putranya Damian yang kaya raya ternyata sangat pelit pada pacarnya.


Hanna duduk kembali dikursinya dengan menahan malu yang amat sangat. Apa benar Henry bersikap begitu pada pacarnya?


Putranya yang sedang ada dalam fikirannya Hanna, saat ini sedang berdua dengan seorang gadis disebuah restaurant yang berbeda.


“Henry, aku senang akhirnya kau mau menerima ajakan makan malamku,” kata gadis cantik itu, sambil tersenyum menatap Henry.


“Jangan lupa kau yang membayar makanannya,” ucap Henry.


Henry tidak bicara lagi, menyantap makanannya saja dengan santai.


“Aku dengar kau putus dengan Andrea,” kata gadis itu.


“Kami hanya berteman,” jawab Henry.


“Syukurlah kalau  begitu,” ucap gadis itu, kembali tersenyum.


Disaat mereka makan, ada drama yang terjadi dimeja lain yang menyita perhatian orang-orang yang ada direstaurant itu.


“Jadi selama ini kau berbohong padaku? Ternyata kau selingkuh dibelakangku?” bentak gadis yang duduk itu sambil berdiri menatap pria yang sedang bersamanya. Pria itupun jadi berdiri.


“Maaf sayang, aku…” ucap Pria itu.


“Jangan memanggilku sayang! Kita putus sekarang juga!” maki gadis itu sambil meraih tasnya.


“Sayang, jangan begitu, tunggu sayang!” kata si pria.


Gadis itu menatap  gadis yang berdiri dekat pria itu yang mengaku selingkuhannya si pria, tanpa bicara lagi dia pergi meninggalkan restaurant itu dan sama sekali tidak menoleh meskipun pria itu terus memanggilnya.


Henry bangun dari duduknya.


“Aku mau ke toilet!” kata Henry, sambil beranjak meninggalkan mejanya.


Saat melewati meja tempat keributan tadi, Henry melihat pria itu menarik tangan gadis itu mengajaknya duduk, lalu si pria memberikan sebuah amplop pada gadis itu.


“Kerjamu bagus, akhirnya aku bisa putus juga dengan dia,” kata pria itu sambil mengacungkan jempolnya. Gadis itu tersenyum senang dan mencium amplop coklat itu.


“Terimakasih, kalau kau butuh jasaku lagi, kau telpon aku saja,” kata gadis itu.


Henry tersenyum sinis saat mendengar percakapan merka, ternyata gadis itu pura-pura menjadi pacar pria itu supaya pria itu bisa putus dari pacarnya. Kemudian dia kembali berjalan menuju toilet yang letaknya dibagian samping restaurant. Toilet pria dan wanita saling bersebelahan.


Saat keluar dari toilet pria, Henry bertabrakan dengan seseorang yang berjalan buru-buru, membuat sesuatu terjatuh ke lantai. Buk!


“Maaf,” ucap Henry, sambil berjongkok mengambilkan sebuah amplop coklat yang terjatuh itu. Saat akan memberikan amplop itu dia terkejut melihat gadis tadi sudah berdiri didepannya.


“Itu punyaku!” kata gadis itu, tangannya terulur akan mengambil amplop itu tapi Henry malah menjauhkannya.


“Hei, amplop itu milikku!” teriak gadis itu, kesal dengan sikap Henry.


“Pekerjaan yang sangat mudah untuk menghasilkan uang yang banyak,” ucap Henry  sambil menatap gadis itu, barulah dia memberikan amplop itu.


“Apa maksudmu bicara begitu? Kau menghinaku?” bentak gadis itu sambil meraih amplop itu. Henry tidak menjawab, dia akan pergi, tapi dihalangi gadis itu. Merekapun saling bertatapan dengan tatapan penuh permusuhan.


“Kau pura-pura menjadi selingkuhan pria itu untuk memutuskan pacarnya kan?” ucap Henry.


“Apa pedulimu? Yang penting aku mendapatkan uang!” kata gadis itu.


Henry tidak bicara lagi, dia melangkahkan kakinya, tapi gadis itu segera menyusulnya menghalangi jalannya, menatap Henry dari atas sampai bawah.


“Sepertinya kau orang kaya,” kata gadis itu.


Henry menatap gadis itu.


“Ada apa?” tanya Henry dengan ketus, menatap gadis di depannya itu.


“Biasanya orang kaya gampang bosan dengan pacarnya, jadi ini kartu namaku,” jawab gadis itu sambil mengeluarkan sebuah kartu nama.


“Ini kartu namaku!” kata gadis itu.


“Aku tidak butuh!” jawab Henry, sambil akan beranjak tapi gadis itu meraih tangannya menyimpan kartu nama itu di telapak tangannya Henry.


“Namaku Shezie, pekerjaanku menjual jasa pemutus cinta,” jawab Shezie.


Henry tertegun mendengarnya, apa ada pekerjaan seperti itu?


“Ada nomor telponku disitu,” ucap Shezie, lalu meninggalkan Henry yang terbengong saja membaca kartu nama itu.


Di kartu nama itu tertera sebuah nama SHEZIE yang digaris bawahi, dan dibawahnya terdapat tulisan menjual jasa pemutus cinta, ditengahnya tercantum nomor ponsel.


Dibawahnya lagi ada slogan :


‘Anda bingung ingin memutuskan pacar anda? Silahkan hubungi kami, kami adalah solusinya’


Henry mengerutkan keningnya, dilihatnya ada tong sampah terpasang dipinggir taman dekat toilet, diapun langsung membuang kartu nama itu ke dalam tong sampah.


*************


Jangan lupa like dan vote ya.


Maaf kalau ada yang tidak suka, ini cerita fiktif hiperbola untuk hiburan saja.