
Malam itu setelah makan, Cristian berada di kamarnya, dengan sebuah tabloid bisnis ditangannya. Sebuah ketukan terdengar dipintu.
“Ya,” jawab Cristian.
Pintupun terbuka, masuklah ibunya Cristian
“Kau belum tidur?” tanya ibunya.
“Belum bu,” jawab Cristian, menatap ibunya yang menghampirinya lalu duduk di pinggir tempat tidur. Tangan ibunya menyentuh kakinya yang berselonjor. Cristian buru-buru melipat kakinya bersila.
“Kau terlihat sangat pendiam, kalau ibu boleh tahu apakah telah terjadi sesuatu?” tanya ibunya.
“Tidak bu, semua baik-baik saja,” jawab Cristian, tersenyum hangat sambil menatap ibunya.
“Benar begitu?”tanya ibunya lagi, dia bisa melihat kalau putranya itu sedang bersedih.
“Kau memikirkan Hanna?” tanya Ibunya lagi.
Cristian tidak menjawab, dia diam saja, menunduk.
“Kau pasti sangat kehilangan dia,” ucap ibunya. Cristian masih tidak menjawab. Ibunya benar, dia sangat kehilangan Hanna. Gadis kecilnya yang selalu bermain bersamanya, yang selalu dekat dengannya, telah pergi, dia pergi.
“Bagaimana kalau ternyata Hanna pergi karena menikah dengan pria lain, Bu?” tanya Cristian, kini menatap wajah ibunya.
“Menikah dengan pria lain? Kenapa kau bisa berfikir begitu? Hanna pergi belum terlalu lama, mana mungkin dia tiba-tiba menikah dengan pria lain? Sedangkan selama ini dia selalu bersamamu. Apa maksudmu selama ini Hanna berselingkuh darimu? Ibu rasa, Hanna bukan tipe gadis yang seperti itu, tidak mungkin Hanna menikah dengan pria lain secepat itu,” jawab ibunya.
Mendengar perkataan ibunya membuat Cristian tersadar dan berfikir, apa yang diifkirkan ibunya benar. Rasanya tidak mungkin Hanna tiba-tiba menikah dengan Damian, karena yang dia tahu Hanna tidak punya teman yang bernama Damian apalagi kalau sampai berselingkuh darinya, Hanna bukan tipe seperti itu. Kenapa semua ini jadi terasa aneh?
“Menurut ibu pasti telah terjadi suatu kesalahfahaman antara kalian. Mungkin kalian bertengkar sesuatu yang membuatnya pergi,” lanjut ibunya, matanya menatap putranya itu.
Tangan ibunya menyentuh kakinya Cristian lagi, menepuk-nepuknya dengan pelan.
“Ibu tahu kau sangat mencintai Hanna, kau sangat baik pada Hanna, ibu yakin Hanna akan kembali padamu,” kata ibunya.
“Tidak Bu, Hanna tidak akan pernah kembali padaku,” jawab Cristian, kembali menunduk.
“Kenapa begitu? Kau selalu bersamanya selama ini, dia tidak akan semudah itu meninggalkanmu dan menikah dengan pria lain.”
“Bagaimana kalau ternyata Hanna tidak benar-benar mencintaiku dan menikah dengan pria lain?” tanya Cristian kini menatap ibunya.
Ibunya balas menatapnya, tangannya mengusap kepalanya Cristian.
“Itu artinya, dia bukan jodohmu. Kau harus bisa melupakannya, merelakan dia dengan keputusannya, kau harus yakin akan ada wanita lain yang akan mencintaimu,mungkin yang bisa lebih mencintaimu daripada Hanna,” jawab ibunya. Dia bisa melihat sorot mata kesedihan di wajah putranya.
“Tidak selamanya mencintai seseorang itu berarti kau akan bersama orang itu seumur hidupmu. Kadang ada badai yang mungkin tidak kau sadari akan memisahkan kalian. Itu bisa terjadi pada setiap hubungan, tidak ada yang benar-benar berjalan mulus. Jika orang itu jodohmu maka badai itu akan terlewati tapi kalau dia bukan jdoohmu, maka relakanlah. Kau harus yakin itu adalah yang terbaik untukmu. Jalani hidupmu dengan optimis, kau harus yakin jodohmu yang sebenarnya akan datang,” ucap ibunya.
Cristian terdiam mendengar perkataan ibunya, dia masih menunduk mendengarnya.
“Aku sangat kehilangan Hanna bu, aku selalu bersamanya sejak kami kecil, rasanya ada sesuatu yang hilang dari jiwaku begitu tahu dia pergi begitu saja. Aku merasa jiwaku hampa. Sebenarnya ini sangat sulit bagiku. Aku tidak pernah berfikir atau membayangkan Hanna akan meninggalkanku, aku sangat mencintainya, Bu,” kata Cristian yang kini menatap ibunya.
Cristian tidak bisa bicara jujur pada ibunya kalau Hanna sudah menikah dengan pria lain, dia takut ibunya kecewa dan sedih.
Ibunya kembali mengusap kepalanya Cristian.
“Itulah yang disebut ikhlas. Merelakan sesuatu yang mungkin sebenarnya bukan milik kita, meskipun melepas dan melupakan orang yang kita cintai itu tidak mudah. Tapi kau harus yakin kau bisa melewati semua masalah ini, kau harus berbesar hati. Lagipula kau kan belum menemukan Hanna, belum tentu dia menikah dengan orang lain dalam waktu secepat ini, apalagi menurutmu dia tidak memiliki pria lain. Kau harus terus berusaha mencarinya lagi,pasti ada kesalahfahaman yang terjadi dan Hanna tidak bisa jujur padamu,” kata ibunya panjang lebar.
Cristian kembali diam. Ibunya benar, kesalahfahaman telah terjadi antara dirinya dan Hanna. Ternyata Hanna tidak mencintainya, dia mencintai Damian yang kini sudah menjadi suaminya. Dia telah benar-benar kehilangan Hanna.
“Istirahatlah, sudah malam, kau bekerja besok?” tanya ibunya.
“Iya bu, aku akan meninjau lagi lokasi pembangunan real estate,” jawab Cristian.
“Dengan rekan kerjamu?” tanya ibunya.
“Iya bu, dengan Damian,” jawab Cristian.
Mendengar nama Damian ibunya terlihat sangat terkejut, raut mukanya tiba-tiba berubah.
“Da Damian?” tanya ibunya mengulang kata-kata itu.
“Iya,” jawab Cristian.
Ibunya terdiam.
“Dia pengusaha dari kota?” tanya ibunya lagi.
“Iya,” jawab Crsitian.
“Dia masih
muda?” tanya ibunya lgi.
“Iya mungkin lebih tua beberapa tahun dariku,” jawab Cristian. Melihat ibunya yang tiba-tiba jadi pendiam,
Cristian keheranan.
“Kenapa Bu? Ibu mengenalnya?” tanya Cristian.
“Iya masih muda, dia sudah menikah dan istrinya sedang hamil,” ucap Cristian pada ibunya.
“Sudah menikah?” tanya ibunya.
“Iya,” jawab Cristian.
“Kau suka bekerja sama dengannya?” tanya ibunya lagi.
“Iya Bu dia sangat baik, orangnya bersahabat dan sangat professional, aku suka bekerjasama dengannya,” jawab Cristian.
“Baguslah kalau begitu. Sudah sekarang kau tidur, istirahat, kau harus yakin Hanna akan segera ditemukan,” ucap ibunya terus-terusan memberinya semangat.
“Baik Bu, terimakasih. Aku sangat menyayangi ibu,” ucap Cristian sambil menatapnya. Ibunya tersenyum lalu bangun dan mendekatinya. Diciumnya kepala putranya itu.
“Ibu juga sangat menyayangimu, Nak. Cepatlah istirahat,” kata ibunya, kembali mengusap kepalanya Cristian. Putranya itu cepat mengangguk, diapun hanya menatap kepergian ibunya yang menghilang dibalik pintu.
Setelah dari kamar putranya, ibunya Cristian masuk ke kamarnya. Dilihatnya suaminya sudah tidur nyenyak. Diapun duduk disamping tempat tidur. Hatinya merasa gelisah saat Cristian menyebut nama Damian. Ada rasa sedih dan kehilangan yang amat sangat. Dia bisa mengerti perasaan Cristian yang merasa kehilangan Hanna, diapun pernah merasakan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Tidak terasa airmata menetes dipipinya.
Cristian menghela nafas panjang, mencoba membuat tubuhnya dan hatinya rilex. Dia ingin melepaskan rasa sedih, kecewa, marah, dan segala macam rasa yang tidak bisa digambarkan bercampur aduk dalam dirinya. Kehilangan Hanna tidak mudah baginya, sangat sulit, apalagi tahu kalau Hanna mencintai pria lain. Gadis kecilnya yang disukainya dari kecil ternyata tidak benar-benar mencintainya, ini sungguh membuatnya merasa kecewa. Bertahun-tahun bersama gadis itu dan dalam waktu yang singkat tiba-tiba dia sudah menikah dengan pria lain, sangat tidak masuk akal.
Tiba-tiba Cristian memikirkan sesuatu. Ya dia teringat kata-kata ibunya. Hanna bukan tipe gadis peselingkuh, dia tidak akan secepat itu menikah dengan pria lain. Benar kata ibunya. Apakah dia harus menyelidikinya?
Cristian menatap tabloid bisnis yang sedang dibacanya. Lalu matanya beralih ke kalender. Ada tanggal yang dilingkari, tanggal hari pernikahannya dengan Hanna yang seharusnya menjadi hari yang bahagia untuknya ternyata menjadi hari yang sangat mengecewakannya.
Cristian kembali menatap tumpukan beberapa taloid laam yang ada di lemari bukunya. Diapun bangun dari duduknya. Dipilihnya beberapa tabloid bisnis minguan itu yang terbit setelah tanggal pernikahannya.
Setelah diambilnya beberapa tabloid itu, dia kembali ke tepat tidurnya bersandar, memilah milah tabloid itu. Dia berfikir Damian adalah pengusaha sukses di kota, pasti pernikahannya akan di cetak di media massa minimal tabloid bisnis ini. Dia juga teringat kalau saat dia menghadiri resepsi perniakahannya Damian dia merasa familiar dengan foto prewed yang terpampang di berbagai suduh tempat resepsi, fotonya Hanna. Waktu itu dia sempat berkata pada Bobby kalau pengantin wanitanya Damian mirip pengantinnya. Bukankah itu waktu yang tidak jauh dengan hari pernikahannya, mungkin selang seminggu dua minggu, kenapa Hanna semudah itu menikah dengan Damian?
Cristian membuka-buka tabloid bisnis itu lagi, dia mencari-cari tabloid yang mungkin memuat artikel pernikahannya Damian. Biasanya dia juga tidak sempat untuk membaca tabloid ini, hanya sesekali membacanya kalau senggang.
Dibukanya perlahan satu lembar dua lembar, tiap halaman di bacanya. Satu tabloid sudah selesai dia baca, tidak ada berita itu. Damian menjajarkan tabloid tabloid itu, dilihatnya tanggal tanggalnya barangkali ada yang terlewat. Ternyata ada sebagian tabloid yang tercecer dan tidak ada dikamarnya, mungkin ada di ruang tamu, atau ada dirumah kakeknya atau mungkin di kantor lebih lengkap, pasti sekretarisnya bisa membantunya mencarinya diruang pengarsipan. Dia harus mencari tabloid yang tercecer itu, dia harus mencaritahu jawaban dari sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Cristian terus membuka-buka tabloid yang ada di hadapannya dengan teliti, sampai kantuk pun datang, akhirnya dia menguap beberapa kali dan tertidur.
***************
Malam ini Hanna sangat gelisah, dia mondar-mandir dikamarnya. Dilihatnya Damian sudah tidur nyenyak. Fikirannya terganggu dengan kata-kata Damian yang menyinggung pernikahan. Sebenarnya Damian akan menikah dengan siapa? Kalau saja Damian mau menikah dengannya, seharusnya Damian harus mengatakan cinta padanya dengan serius dan melamarnya dengan sebuah cincin ditempat yang romantis seperti di rumah makan yang romatis itu. Kenapa Damian tidak melamarnya tapi bicara seakan akan dia berencana untuk menikah? Terus kalau Damian akan menikah dan tidak mengajak-ajaknya? Damian akan menikah dengan siapa? Hatinya kembali lesu mengingat semua itu.
Hanna menghentikan langkahnya, berdiri menatap pria itu, diapun tersenyum.
Pria itu tidur seperti bayi. Pria itu akan tidur nyenyak setelah dia memeluknya. Kembali bibirnya tersenyum. Kasihan sekali Damian sangat merindukan ibunya. Dia ingin ibunya hadir dipernikahannya. Bagaimana jika ibunya tidak juga ditemukan? Apa dia tidak akan menikah menikah? Tapi siapa wanita yang akan dinikahi Damian? Jangan-jangaaan…
Hanna duduk dipinggir tempat tidur, kepalanya terus berfikir. Apakah Damian diam-diam punya kekasih? Punya kekasih dibelakangnya? Aaah tidak tidak tidak. Bagaimana kalau Damian benar-benar punya kekasih dibelakangnya? Karena sangat aneh, Damian berencana menikah tapi tidak mengajak ajak dirinya. Tidak mungkin kan Damian menikah sendirian atau dengan benda mati. Kalau tidak mengajak dirinya, berarti mengajak wanita lain? Haduuuuh bagaimana ini? Damian pasti punya wanita lain seperti Maria-Maria itu, atau jangan-jangan mau menikah dengan Maria atau Mario itu? Ih. Hanna tiba-tiba bergidik, dalam bayangannya Hanna membayangkan Damian menikah bersandaing dengan Maria lalu Maria tiba-tiba berubah menjadi Mario, lagi-lagi dia bergidik. Tapi tidak mungkin Damian menikah dengan Mario, sepertinya dia normal, pria itu hampir saja menciumnya, mereka hampir berciuman di pantai. Ah tidak jadi gara-gara sandal yang terbawa arus. Itu artinya Damian normal. Tapi ko mau menikah tidak mengajak ajak dirinya? Terus menikahnya dengan siapa dong?
Berbagai macam pertanyaan kembali muncul dikepala Hanna. Dia merasa cemas, gelisah, jangan-jangan Damian memiliki wanita lain.
Apa yang harus dilakukannya untuk membuktikan itu? Hemmm dia ada ide. Sepertinya dia harus mengikuti kemanapun Damian pergi termasuk menyadap Handphonenya, membaca pesan-pesannya, selama ini dia tidak pernah mengotak atik handphonenya Damian. Ih tapi kan dia bukan istrinya, kenapa harus membuka hapenya Damian? Bukankah itu tidak sopan?
Hanna menunduk lesu lagi. Dia penasaran dengan wanita yang akan diajak menikah oleh Damian. Dia semakin merasa khawatir kalau Damian memang punya kekasih yang lain. Dan dia harus mencari tahu siapa wanita itu.
Hanna memicingkan kedua matanya, dia terus berfikir. Mulai besok. Ya mulai besok dia harus mengkuti kemanapun Damian pergi, dan mengintip Damian kalau sedang mengirim pesan juga harus mendengarkan setiap kali Damian bicara di telpon. Ya dia harus melakukan itu.
Hanna menguap beberapa kali, menguap lagi menguap lagi. Dia benar-benar mengantuk sekarang. Dia harus cepat cepat tidur, misi akan dilaksakan mulai besok pagi. Lagi-lagi Hanna menguap. Matanya semakin mengantuk saja. Diapun naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya, beberapa menit kemudian dia terlelap.
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali Hanna sudah mandi dan berdandan cantik. Dia akan memulai misinya mulai dari hari ini.
Damian menguap beberapa kali, menggeliatkan tubuhnya sebentar dan membuka matanya. Dilihatnya wanita itu sedang ada di depan meja rias menyisir rambutnya. Bahkan wanita itu berdandan sangat cantik.
Damian mengerutkan keningnya. Mau kemana Hanna pagi-pagi begini? Tumben sekali, fikirnya.
“Kau sudah bangun?” tanya Damian, menatap Hanna, dia tidak berkedip melihat wanita itu sudah berdandan cantik. Wanita yang suka diejeknya biasa saja itu ternyata semakin hari semakin terlihat cantik dimatanya. Dia merasa bersalah dulu selalu mengejek- ejeknya tidak cantik.
Hanna menoleh ke arah suara, dan memutar badannya yang masih duduk menghadap Damian. Bibirnya yang sudah berlipstik merah soft tersenyum manis sangat manis pada Damian. Damian tertegun, bagun tidur disuguhkan senyuman manis dibibir itu yang terlihat sangat..sangaaat..
“Selamat pagi, Suamiku,” sapa Hanna membuyarkan lamunan Damian.
Melihat wanita itu menyapanya dengan seperti itu, langsung saja Damian mengerutkan dahinya, dia merasa ada sesuatu dibalik senyuman itu. Dia mencium bau-bau yang mencurigakan.
“Selamat pagi,” jawab Damian. “Istriku,” lanjutnya. Hanna merasa geli Damian menyebutnya seperti itu.
“Bagaimana tidurmu tadi malam? Kau nyenyak?” tanya Hanna, masih dengan senyum manis lembah lembut menatap Damian,
“Cepatlah kau mandi suamiku, kita sarapan,” ucap Hanna. Barulah dia bangun dan pergi keluar kamar.
Damian tampak kebingungan, ada angin apa wanita itu bangun pagi-pagi berdandan cantik, menyapanya dengan kata suamiku, senyum manis dengan bibirnya yang ah..harusnya Hanna membangukannya sambil menciumnya dengan bibirnya itu..aaaah fikiran Damian kemana-mana. Diapun cepat bangun dan bergegas ke kamar mandi.
***************
Readers, author tidak bosan bosannya mengingatkan, mohon maklum jika ada hal hal yang ganjil dan tidak masuk akal, mungkin terkesan bodoh, memang sengaja author abaian unsur itu karena tujuannya hanya komedi ringan, untuk hiburan saja.
Jangan lupa like vote dan komen