Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-90 Tidak bisa tidur tanpa pelukanmu



Damian masih mengusap-usap punggung Hanna, gadis itu memeluknya Sangat erat. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Hatinya bertanya-tanya. Diabaikannya Hanna terus memeluknya sampai bosan.


“Maaf aku memelukmu terlalu lama,” kata Hanna, melepas pelukannya.


“Lama-lama juga tidak apa,” ucap Damian. Hanna tersenyum mendengar candaannya Damian.


Meskipun wanita itu tersenyum, tetap saja Damian bisa melihat Hanna masih bersedih.


“Apakah ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Damian.


“Tidak, tidak ada,” jawab Hanna.


“Baiklah kalau begitu kita lajut ke ibukota,” jawab Damian. Hanna mengangguk.


Damian meraih tangannya Hanna, menuntunnya sampai ke mobilnya.


“Bagaimana apa kau lihat bunga-bunga diatas makam kakek nenekmu?” tanya Hanna saat mereka sudah melakukan perjalanan kembali.


“Ada. Aku sudah menitip pesan pada penjaga makam kalau ada ibuku supaya memberiktahuku, atau menitipkan pesan pada ibuku kalau aku mencarinya,” kata Damian.


“Semoga kau cepat bertemu dengan ibumu,” ucap Hanna. Damian hanya mengangguk.


Sepanjang jalan Hanna tidak banyak bicara. Damian melirik wanita itu yang hanya diam, menunduk, melihat keluar kaca jendela sampingnya. Bukan lagi cemberut bukan lagi menggerutu apalagi mengomel. Damian bertanya-tanya apa yang terjadi pada Hanna, yang pasti wanita disampingnya sedang bersedih.


Tiba-tiba Damian menghentikan lagi mobilnya. Dia menoleh pada Hanna.


“Apa ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Damian, menatapnya dengan serius.


“Tidak, tidak ada,” jawab Hanna.


“Kau tidak mau berbagi kesedihan denganku?” tanya Damian lagi.


“Tidak, tidak, aku tidak sedih,” jawab Hanna, menoleh pada Damian dan tersenyum. Damian bisa tahu itu senyum yang dipaksakan. Damian masih menatapnya, tapi kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya.


Baru juga beberapa meter mobil itu berjalan, tiba-tiba Hanna bicara lagi.


“Bagaimana kalau aku pergi?” tanyanya.


Ciiiit! Damian mengerem mobilnya mendadak. Memasang rem tangan mobilnya.


Diapun menyandarkan tubuhnya ke jok mobil.


“Apa maksudmu kau bicara begitu?” tanyanya, dari nadanya terdengar tidak suka, tapi dia tidak menoleh pada Hanna.


“Aku ingin pulang,” ucap Hanna, menatap Damian. Suaranya sangat pelan hampir saja tidak terdengar. Damian sama sekali tidak menoleh kearahnya.


“Kau masih ada kontrak denganku,” kata Damian.


“Aku akan mengembalikan uangmu,” ucap Hanna.


“Aku tidak butuh uangmu,” jawab Damian. Lalu melepas rem tangan  mobilnya, dan kembali menjalankan mobilnya.


Hanna diam melihat sikap Damian seperti itu, dia kembali duduk menghadap kearah depan. Sepanjang jalan tidak ada yang bicara.


Damian kesal, kenapa Hanna mau meninggalkannya? Apa dia tidak mengerti kalau dia masih bergantung pada pelukannya? Kenapa Hanna berfikir untuk pergi darinya? Apa wanita itu tidak benar-benar mencintainya?


Bahkan saat sudah sampai ke rumahpun, Damian tidak bicara sama sekali, dia bergegas masuk ke kamarnya, Hanna mengikutinya dengan lesu. Diabaikannya tatapan ibu tirinya yang melihat kedatangannya dan berjalan begitu saja melewatinya.


Hanna hanya menggguk sebentar pada mertuanya, tanpa bicara apa-apa, dia mengikuti langkahnya Damian menuju kamar mereka.


Dilihatnya Damian masuk ka kamar mandi. Hanna hanya duduk dipinggir tempat tidur, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Damian, sepertinya pria itu marah.


Dilihatnya lagi pria itu sudah mandi dan berpakaian. Hanna berdiri menghampirinya. Pria itu sama sekali tidak mau menoleh kearahnya. Dia benar-benar marah.


“Damian!” panggil Hanna, menatap Damian, tapi pria itu masih tidak mau menoleh padanya. Damian memakai jam tangannya lalu mengambil kunci mobilnya.


“Kau akan pergi?” tanya Hanna.


“Aku pulang larut jangan menungguku, atau aku tidak pulang,” jawab Damian, lalu melangkah meninggalkan kamar itu dan menutup pintunya.


Hanna terdiam mematung.


“Pulang larut? Tidak pulang?” gumamnya, lalu kembali duduk dipinggir tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya.


Hanna merasa bingung dengan sikap Damian. Dia tidak bemaksud menekan pria itu, hanya saja dia tidak mau ayahnya menemukannya tapi sebenarnya dia juga rindu pada orangtuanya.


Dia juga tidak sanggup berbohong pada orangtuanya tentang pernikahan palsu mereka. Apalagi melihat semangatnya Damian membuatkan real estate nama dirinya, apa jadinya kalau hubungan kerjanya dengan ayahnya bermasalah? Real estate itu sepertinya tidak akan pernah terwujud dan dia tidak akan pernah bisa menggunting pita bertiga seperti yang Damian katakan.


Damian pergi kekantornya dengan hati yang tidak bersahabat.


“Aku sedang tidak mau menerima tamu, jangan ada yang menggangguku,” ucapnya dengan terus pada sekretarisnya.


“Baik Pak,” jawab Sekretarisnya.


Di dalam ruang kerjanya, Damian duduk dikursinya, bersandar dan hanya diam. Dia tidak suka Hanna berfikir untuk meninggalkannya, dia tidak suka. Dia bukannya tidak ingin menikahinya, tapi dia ingin pernikahannya disaksikan oleh ibunya.


Satu-satu impiannya, menemukan ibunya dan menikah atas restu ibunya. Bertahuan tahun dia merindukan ibunya, dia ingin ibunya menyaksikan kebahagiaannya dipernikahannya nanti.


Tapi kenapa begitu sulit bertemu ibunya? Kemana harus mencari ibunya? Apakah Hanna tidak bisa bersabar untuk menunggunya, memberinya waktu  lagi untuk menemukan ibunya?


*********************


Di tempat yang berbeda di ibukota.


Sebuah mobil berhenti disebrang jalan sebuah rumah yang berpagar tembok tinggi.


Wanita itu membuka kaca jedela mobilnya, menatap rumah yang pernah ditempatinya dulu.


Waktu di pasar itu, kenapa ada dompet yang menyimpan fotonya? Dengan orang sebanyak itu kemana dia harus mencari pemilik dompet itu? Apa benar pemilik dompet itu putranya?


Dia membayangkan putranya pasti sekarang sudah besar, lebih tua beberapa tahun dari Cristian.


Dilhatnya gerbang rumah bertembok tinggi itu terbuka, sebuah mobil keluar dari rumah itu, dia tahu itu bukanlah putranya. Sudah jelas di dinding tembok rumah itu bertuliskan bukan nama mantan suaminya lagi.


Dengan hati yang sedih, wanita itu kembali menyalakan mobilnya meninggalkan jalan raya yang lengang waktu itu.


*****************


Malam telah larut. Hanna melihat jam dinding sudah pukul 11 malam tapi Damian belum juga pulang. Meskipun Damian bilang jangan menunggunya, dia tetap menunggunya.


Satu jam dua jam sampai lewat jam 12 malam. Hanna kembali melihat jam dinding sudah jam 2 dini hari, Damain masih belum pulang. Diambilnya handphonenya. Apakah dia akan menelponnya? Tapi Damian mengatakan jangan menunggunya, itu artinya dia tidak mau diganggu.


Hati Hanna semakin gelisah, kemana Damian tidak akan pulang? Dia tidur dimana kalau tidak pulang? Selama ini pria itu selalu pulang jam berapapun dia selesai bekerja, dia selalu pulang.


Apa Damian benar-benar marah padanya karena ingin pergi darinya? Dilihat lagi jam dindingnya sudah pukul 3 pagi, hatinya semakin gelisah, kenapa pria itu tidak pulang juga?


Hannapun keluar dari kamarnya, di pergi ke bagian belakang rumah, membangunkan supirnya.


Pria itu tampak kaget saat Hanna mengetuk pintu kamarnya.


“Antar aku ke kantornya Pak Damian,” pinta Hanna. Meskipun bingung, supir keluarganya Damian segera berganti pakaian dan mengambil kuncinya.


Sekitar satu jam, Hanna sampai dikantornya Damian. Gedung itu terlihat gelap, hanya tulisan nama perusahanan saja yang menyala.


Dilhatnya mobil khusus Direktur masih terisi, ada mobil Damian disana. Suaminya itu masih ada dikantornya.


Setelah bicara dengan Pak Satpam, Hanna pun menuju ruangannya Damian. Dilihatnya ruangan itu gelap gulita. Hatinya berdebar-debar dan fikiran buruk menyerangnya, apakah Damian sedang bersama seorang wanita?


Didorongnya pintu itu perlahan yang ternyata tidak dikunci.  Mekipun lampu diruangan itu tidak dinyalakan, tapi lampu diluar gedung sedikit menerangi masuk ke dalam ruangan itu lewat jendela kacanya yang lebar.


Hanna tertegun melihat pria itu duduk tertidur di kursi kerjanya. Dia manatapnya dengan tatapan sedih. Bagaimana bisa dia meninggalkannya? Dia sangat mencintai pria itu.


Merasakan ada bunyi dari deritan pintu, Damian terbangun dari tidurnya. Dia terkejut melihat sosok yang berdiri di pintu itu meskipun tidak jelas, karena lampunya mati, tapi dia bisa melihat siapa yang berdiri disana.


“Apa yang kau lakuakn?” tanya Damian, sambil berdiri dan melangkah menghampiri Hanna.


“Kau tidak pulang,” jawab Hanna, menatap Damian.


“Aku kan sudah bilang mungkin aku tidak pulang,” jawab Damian, menghentikan langkahnya, merekapun berdiri berhadapan.


“Tapi biasanya kau pulang,” jawab Hanna, dengan hati yang sedih, bagaimana bisa dia melewati malam tanpa ada Damian disisinya.


“Kau sedang berperan menjadi seorang istri sesungguhnya? Yang menyusul suaminya karena tidak pulang? Atau kau berfikir suamimu bermalam dengan wanita lain?” tanya Damian. Menatap Hanna dalam cahaya yang remang-remang.


“Aku tidak bisa tidur kalau kau tidak memelukku,” jawab Hanna, suaranya agak tersekat, dia merasa sedih, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan Damian? Hatinya sudah terikat oleh pria itu.


Damian merentangkan kedua tangannya.


“Kemarilah,” ucapnya. Hanna pun mendekat dan langsung memeluknya.


“Kau fikir aku juga bisa tidur tanpa kau peluk?” bisik Damian ke telinga Hanna.


“Kau berbohong,” kata Hanna.


“Tidak,” jawab Damian, memeluk Hanna semakin erat.


“Kau tadi tidur dikursi tanpa ku peluk, itu artinya ku bisa tidur tanpaku peluk,” kata Hanna.


“Bukan begitu. Aku bisa tidur karena aku bermimpi kau memelukku,” jawab Damian, membuat hati Hanna berbunga-bunga saja, diapun tertawa kecil.


Pelukan itu semakin erat saja. Hanna menengadah menatap wajahnya Damian yang juga menatapnya. Dia sangat mencintai wanita ini, dia tidak mau kehilangan wanita ini, dia tidak mau Hanna pergi darinya.


Damianpun mendekatkan wajahnya akan mencium bibirnya Hana. Dan Klik! Tiba-tiba lampu menyala, Damian menghentikan gerakannya tidak jadi mencium Hanna. Ruangan mendadak terang.


“Maaf Pak, saya menyusul Bu Hanna memastikan sampai keruangan, takut tersesat kerena gelap,” kata Satpam yang sudah berdiri dipintu melihat bosnya sedang berpelukan dengan istrinya.


“Apa aku harus memecatmu karena menggagalkan ciumanku?” keluh Damian dalam hati.


“Ya Terimakasih, istriku sudah sampai,” itu yang keluar dari mulutnya Damian, sambil menoleh pada Pak Satpam. Pak Satpam itupun kembali menutup pintu ruangannya.


Hanna menatap Damian sambil tersenyum. Damian pun menoleh kearahnya.


“Kau senang aku selalu gagal menciummu?” tanya Damian.


Hanna tidak menjawab, malah tertawa.


“Meskipun kau tertawa karena aku gagal menciummu, tapi tidak apa, melihatmu tertawa lagi aku sangat senang,” ucap Damian.


Hanna berjinjit, mendekatkan bibirnya ke pipi Damian dan menciumnya.


“Ya tidak apa-apa mencium pipi juga daripada tidak sama sekali,” ucap Damian, membuat Hanna tertawa lagi.


“Ya sudah ayo kita pulang, aku tidak akan mencoba menciummu lagi, sudah kapok,” kata Damian,menyerah.


Diapun memeluk pinggangnya Hanna keluar dari ruangan itu. Hanna hanya tertawa saja sambil balas memeluk pinggangnya Damian.


******************


Readers, apakah ada yang udah degdegan, saat Hanna membukakan pintu kantor Damian ternyata Damian dengan seorang wanita? Hhehe…tidak ya..author ingin yang sweet sweet saja. Love Love.


Jangan lupa like vote dan komen.