
Saat tiba dirumah, tidak ada yang dikerjakan Shezie selain melihat ibunya tidur, lalu mengurung dirinya dikamar.
Diambilnya kembali gaun pengantin yang selalu tersimpan rapih dilemarinya. Diusapnya dan dipeluknya. Airmata langsung saja membasahi pipinya. Dia tidak bisa memilih bayi dan ibunya. Dia tetap akan mempertahankan bayinya juga ibunya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia harus memberitahu kehamilannya pada Henry, pasti Henry akan sangat senang, tapi…bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan Martin? Apakah dia harus jujur pada ibunya tabiat Martin sebenarnya? Ibunya pasti akan sangat kecewa. Ibunya pasti akan sangat merasa bersalah karena menikahkannya dengan pria seperti Martin.
Tidak terasa diapun berbaring sambill memeluk baju pengantinnya dan akhirnya terlelap.
Kesokan harinya, Shezie mengajak ibunya ke rumah sakit…
“Saya ingin membawa ibu berobat keluar negeri Dok, minta tolong direkomendasikan rumah sakit yang bagus, Dok,” kata Shezie, saat sudah berada diruangan praktek Dokter Arfan.
Dokter itu baru selesai memeriksa kondisi Bu Vina. Bi Ijah sedang membantunya turun dan pindah kekursi roda.
“Kau sudah yakin?” tanya Dokter Arfan.
“Iya Dok. Saya rasa tabungan saya cukup untuk biaya di luar negeri,” jawab Shezie.
“Baiklah, saya akan memberikan beberapa pilihan rumah sakit, juga estimasi biayanya,” kata Dokter Arfan, sambil mengambil sesuatu dilacinya.
Saat dia menjelaskan rumah sakit mana saja yang bisa direkomendasikan. Pintu ruangan prakteknya ada yang mengetuk, masuklah seorang perawat.
“Sus, Pasien atas nama Bu Vina akan pindah berobat. Coba kau bantu cek adminstrasinya apakah ada biaya yang masih harus diselesaikan?” kata Dokter Arfan, sambil memberikan secarik kertas pada perawat itu.
“Baik Dok,” jawab perawat itu langsung mengambil kertas itu dan keluar lagi dari ruangan.
Bu Vina menjalankan kursi rodanya kedekat meja Dokter Arfan. Dokter itu kembali melanjutkan penjelasannya.
Tidak berapa lama, perawat itu kembali masuk keruangan itu.
“Apa ada yang harus dibayar ?” tanya Shezie pada perawat itu, yang memberikan lembaran kertas pada Shezie.
“Tidak Bu, ini rincian dari kasir. Justru ada sisa Deposit yang akan dikembalikan, dan butuh tanda terimanya,” kata perawat itu.
“Sisanya banyak?” tanya Shezie, sambil membaca kertas itu.
“Ada 10 juta lebih, Bu,” jawab perawat itu.
“Ternyata besar juga. Aku akan menelpon Pak Martin untuk mengambil uang sisa depositnya,” kata Shezie.
“Tapi Bu, yang membayar Deposit pengobatan Bu Vina bukan Pak Martin,” jawab perawat itu.
“Apa?” Shezie terkejut juga Bu Vina, termasuk Dokter Arfan.
“Apa maksudmu bukan Pak Martin? Bukankah dia yang menanggung biaya ibu berobat disini? Kemo pertama, kemo kedua dan pengobatan yang lainnya,” tanya Shezie, kebingungan.
“Pak Martin memang memberikan deposit tapi hanya 20 juta saja Bu, selebihnya deposit dibayarkan orang yang tidak mau mencantumkan namanya. Ibu bisa cek pengeluaran kwitansinya di kasir,” jawab perawat itu.
Shezie semakin kaget saja, ternyata bukan Martin yang membayar biaya pengobatan ibunya dan pria itu dengan tidak tahu malunya sok dia yang membayar semuanya, sampai-sampai ibunya begitu membelanya! Benar-benar laki-laki yang memuakkan!
Bu Vina masih tidak percaya dengan pendengarannya. Dia yang merasa berhutang budi pada Martin ternyata semuanya hanya kebohongan belaka. Dia tidak menyangka Martin bisa berbuat selicik itu. Sekarang saja dia berani bersikap begitu apalagi nanti kalau Shezie sudah menikah dengan Martin? Apakah putrinya akan bahagia dengan pria seperti itu?
“Kau tidak salah kan Sus?” tanya Bu Vina pada perawat.
“Benar Bu, informasi dari kasir begitu, itu tanda terimanya sudah atas nama ibu atau Bu Shezie, bukan Pak Martin,” jawab perawat itu.
Bu Vina dan Shezie saling pandang. Shezie membaca blangko tanda terima yang harus dia tandatangani yang ada ditangannya.
“Pak Martin yang suka menemani ibu itu?” tanya Dokter Arfan jadi ikut penasaran.
“Iya, dia calon menantu saya,” jawab Bu Vina.
Dokter Arfanpun terdiam.
“Jadi bukan Martin yang selama ini membayar pengobatan ibu?” tanya Bu Vina pada Shezie, masih merasa tidak percaya dengan kebohongan yang dibuat Martin ini.
“Bukan Bu, Martin ada memberikan deposit hanya 20 juta, sisanya yang besar orang lain yang membayarnya tidak mencantumkan namanya,” jawab Shezie.
Bu Vina kembali diam, ada rasa kesal dan marah muncul dihatinya. Martin benar-benar telah mempermainkannya. Dia melihat pengorbanan dan ketulusan Martin pada Shezei, ternyata itu palsu? Sampai-sampai dia merasa bersimpati dengan pengorbana Martin yang begitu mencintai Shezie meskipun memiliki ibu yang sakit. Dia juga begitu yakin dan percaya Martin akan membahagiakan Shezie.
“Kenapa Martin mengaku-ngaku dia membiayai pengobatan ibu?” tanya Shezie.
Bu Vina terdiam, hatinya menjadi gelisah, simpatinya pada Martin langsung hilang begitu saja, dia tidak menyangka Martin akan selicik itu, memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan tujuannya.
Shezie melihat raut kekecewaan diwajahnya ibunya. Lalu dia menoleh pada perawat tadi.
“Suster, jadi yang membayar biaya ibuku tidak memberikan identitasnya? Aku tidak mau menerima uang yang bukan hakku, apala lagi aku tidak tahu siapa dia, kalau memang ternyata itu bukan uangnya Martin,” kata Shezie.
“Tapi pemberi deposit tidak mencantumkan nama jadi Bu Vina yang berhak dengan sisa uang deposit itu,” kata perawat.
“Baiklah nanti aku ke kasir,” jawab Shezie akhirnya. Dia kembali menoleh pada Dokter Arfan.
“Maaf Dok, bisa dilanjutkan lagi?” tanya Shezie.
Dokter Arfan mengangguk, sedangkan perawat tadi kembali keluar dari ruangan itu.
Selama Dokter menjelaskan, fikiran Shezie justru jadi pada Martin. Ternyata pria itu telah membohonginya dan ibunya. Ibunya begitu percaya pada Martin dan selalu membanggakannya sebagai calon menantu yang baik yang mau menerimanya meskipun dia memiliki ibu yang sedang sakit. Kenyataannya ternyata bukan Martin yang membiayai seluruh pengobatan ibunya.
Setelah keluar dari ruangan Dokter Arfan, Shezie pergi ke kasir, untuk menerima sisa uang deposit itu.
“Bu, bisa ibu ingat-ingat seperti apa orang yang sudah membayar biaya pengobatan ibu saya?” tanya Shezie pada kasir.
“Maaf Bu, saya tidak ingat,” jawab kasir.
Akhirnya Shezie kembali menemui ibunya di ruang tunggu, ibunya menatapnya penuh tanda tanya.
“Kau menerima uangnya?” tanya Bu Vina.
Bu Vina terdiam.
“Pada awal ibu kemo juga uangnya dari orang yang tidak mau dicantumkan namanya, jadi bukan dari Martin juga,” kata Shezie.
“Kenapa Martin melakukan hal ini?” gumam Shezi, sambil dudik didekat ibunya.
“Jadi siapa yang membayar pengobatan ibu?” tanya ibunya Shezie menatap putrinya.
“Aku tidak tahu Bu, apa mungin Henry?” jawab Shezie.
Yang terbersit dalam benaknya Shezie adalah Henry, karena orang yang berhubungan dengannya yang mengetahui soal ibunya adalah Henry dan Martin saja.
Kalau benar Henry, berarti dari awal dia belum ada hubunganpun pria itu sudah begitu baik dan perhatian padanya. Tiba-tiba Shezie teringat perutnya dan langsung menyentuhnya.
“Aku kira memang Henry yang membayar biaya pengobatan ibu dengan diam-diam, karena dia yang tahu soal kondisi ibu. Dia tahu aku mau menikah dengannya untuk mendapatkan uang pengobatan buat ibu ke luar negeri,” ucap Shezie lagi.
Bu Vina masih terdiam, wajahnya terlihat kembali memucat.
“Bu,” ucap Shezie, menatap ibunya yang juga balas menatapnya.
“Bu, ada kemungkinan aku hamil, tapi aku baru tespack tadi pagi, belum ke Dokter,” ucap Shezie membuat Bu Vina terkejut.
“Apa? Kau hamil?” tanya Bu Vina.
Shezie mengangguk.
“Aku baru ingat kalau aku memang telat bulan, dan hasil tespacknya positif,” jawab Shezie.
Bu Vina terdiam lagi. Bagiamana ini? Shezie hamil?
“Bayi Henry,” lanjut Shezie dengan lirih, dia takut ibunya marah dan tidak mau menerima kenyataan. Sudah mendapat kenyataan Martin berbohong, ternyata dia malah hamil oleh Henry, orang yang tidak disukai ibunya.
“Bu!” Shezie meraih tangan ibunya.
“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menggugurkan kandunganku, aku tidak mau,” ucap Shezie, dengan airmata mulai menggenang dan perlahan menetes dipipinya.
“Apakah Martin tahu? Bagaimana pernikahanmu dengan Martin? Kalian akan menikah beberapa hari yang lagi,” tanya Bu Vina.
“Martin sudah tahu dan dia memintaku menggugurkan kandunganku, aku tidak mau,” jawab Shezie.
Bu Vina terkejut mendengatnya tapi dia tidak bicara, tangannya mengusap airmata dipipinya Shezie.
“Aku menyangi ibu, aku ingin ibu bahagia tapi aku tidak mau kehilangan bayiku. Aku tidak mungkin mengaku-ngaku bayi ini bayinya Martin, aku tidak bisa seperti itu,” ucap Shezie. Airmata semakin deras menganak sungai.
“Aku ingin Henry tahu aku hamil, aku tidak bisa melanjutkan pernikahanku dengan Martin, Bu. Tapi Martin akan memperkarakan ibu jika aku tidak melanjutkan pernikahan kami,” lanjut Shezie, kini menunduk membuat airimatanya jatuh berjatuhan kepangkuannya.
“Ibu minta maaf, ibu juga tidak tahu apa yang harus ibu lakukan?” ucap Bu Vina.
Shezie masih terus menangis sesenggukan.
“Sayang,” panggil Bu Vina, meraih wajah Shezie supaya mau menatapnya. Tangannya kembali menghapus airmata putrinya.
Shezie meraih tangan ibunya dan disentuhkan pada perutnya.
“Aku hamil Bu, cucu ibu. Aku bahagia tapi aku juga sedih. Aku tidak bisa memilih antara ibu dan bayiku, aku menyayangi kalian berdua,” ucap Shezie.
Bu Vina tidak bicara apa-apa lagi, diraihnya bahu Shezie dan dipeluknya. Bukan Shezie saja yang menangis, dikelopak mata Bu Vinapun butiran-butiran airmata itu menggenang dan kemudian menetes dipipinya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Merestui Shezie kembali pada Henry demi anak yang dikandung SHezie?
*********
Sepulang dari rumah sakit…
“Bu setelah mengantar ibu pulang, aku ke akan ke café. Ibu istirahat saja, ada apa apa bilang pada Bi Ijah,” ucap Shezie.
“Iya,” jawab Bu Vina.
Tapi saat Shezie sudah mengantarnya pulang dan berankat ke café, Bu Vina menoleh pada Bi Ijah.
“Bi, tolong panggilkan taxi,” ucap Bu Vina.
“Taxi? Ibu mau kemana?” tanya Bi Ijah.
“Kita kerumahnya keluarga Martin,” jawab Bu Vina.
“Tapi tadi kata non Shezie ibu harus istirahat, kondisi ibukan sedang lemah,” kata Bi Ijah.
“Kau panggilkan saja taxinya,” jawab Bu Vina.
“Baiklah,” ucap Bi Ijah.
Akhrnya Bi Ijah pergi kejalan raya yang ada didepan rumahnya Bu Vina. Menyetop taxi yang kebetulan lewat, kemudian kembali kerumah membawa Bu Vina menuju taxi itu pergi kerumahnya keluarga Martin.
****************
Readers, apakah sedang ada gangguan? Kenapa review lama? Semoga ini lancar ya.
************