
Shezie menatap Henry dengan tidak percaya.
“Kau serius, setuju?” tanya Shezie.
“Iya,” jawab Henry, mengangguk lagi, dia agak kesal karena SHezie bertanya lagi bertanya lagi.
“ 1 M itu uang yang banyak,” gumam Shezie.
“Tapi itu kan yang kau butuhkan? Aku tidak masalah asalkan kau menerima tawaranku dan bekerja professional,” ucap Henry.
Shezie termenung lagi, Henry yang awal pertemuan sangat pelit ternyata malah royalnya minta ampun, dengan mudahnya pria itu mengeluarkan uang 1M, membuatnya tidak percaya.
“Tapi…Tidak, tidak, aku hanya bercanda, aku tidak bisa menerima tawaranmu!” Tolak Shezie mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa lagi? Aku berikan 1 M tapi setelah kita bercerai, bagaimana?” tanya Henry.
Shezie tampak kebingungan tidak percaya dengan pendengarannya.
“Kau serius akan memberiku 1M? Memangnya kau punya 1M? Eh aku lupa kalau kau bukan supir,” tanya Shezie.
“Aku serius, tapi semua permainan ikut aturanku, kau harus mendengar kata-kataku, kau harus menurut,” jawab Henry.
“Apa maksudmu menurut?” tanya Shezie.
“Tentu saja karena aku yang membayarmu, kau harus menurut padaku,” jawab Henry.
Shezie terdiam, dia masih tidak percaya, apa benar Henry akan memberikan uang 1M? Uang yang sangat besar yang selalu diidam-idamkan untuk pengobatan ibunya ke Luar negeri.
“Bagaimana, kita Deal?” tanya Henry. Dia sudah tidak sabar ingin mengakhiri negosiasi ini.
Shezie berfikir lagi, ini adalah kesempatan untuk membawa ibunya berobat, tapi apakah ibunya akan mau melakukan pengobatannya jika uang yang didapat hasil menjadi istri bayarannya Henry?
“Tapi aku tidak punya kewajiban sebagai istri yang sebenarnya kan? Maksudku, kau tidak memintaku untuk berhubungan semacam itu kan?” tanya Shezie.
“Seharusnya dengan uang 1M aku bisa melakukan itu, tapi aku tidak mau,” ucap Henry.
Mendengar kata tidak mau sebenarnya Shezie merasa senang cuma disisi lain dia jadi berfikir apa dia benar-benar tidak menarik dimata Henry? Dilihatnya dirinya, Henry selalu mengatakan untuk ke salon, memang benar Henry tidak tertarik padanya. Bibirnya langsung mengerucut.
“Kenapa? Kau mau berhubungan denganku?” tanya Henry saat melihat cibiran itu.
“Tidak, tidak, aku tidak mau! Aku hanya mau dengan suamiku yang sebenarnya, yang aku cintai dan mencintaiku, bukannya kamu,” elak Shezie, dia tidak bisa membayangkan harus tidur bersama Henry, dia tidak mengenal pria itu.
“Bagaimana? Kita deal? Ini sudah larut, bukankah kau harus cepat pulang?” kata Henry, dia mulai kesal dengan negosiasi ini yang begitu sulit mendapatkan kesepakatan.
“Aku membutuhkan waktu untuk berfikir,” ucap Shezie.
“Masih harus berfikir lagi? Kau kan tidak perlu melakukan apa-apa, aku hanya minta statusmu menjadi istriku dan menunda perceraian itu saja,” kata Henry.
Shezie menatap Henry.
“Ini bukan masalah uang, tapi didalam lubuk hatiku, aku tidak ingin mempermainkan pernikahan, Henry, hatiku menolak,” kata Shezie.
“Kau fikir aku juga mau melakukan ini? Aku hanya ingin masalah ini selesai, itu saja, aku merasa tertekan dengan status kau istriku yang harus selalu ada bersamaku. Kau tau? Pernikahan ini rasanya aneh. Foto-foto pernikahan kita juga sudah jadi semua, ibuku menyuruhku memasangnya dirumah kita,” keluh Henry.
“Foto-foto?” tanya Shezie.
“Hem!” jawab Henry, sambil mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, lalu diberikan pada Shezie yang segera melihatnya, ada beberapa foto pernikahan yang difoto Henry.
“Fotonya bagus bagsu,” ucap Shezie sambil tersenyum.
“Aku sangat cantik,” ucapnya lagi dengan sumringah, membuat Henry mendelik kearahnya, gadis itu mulai lebay.
“Kenapa kau memfotonya? Jangan-jangan…” Shezie menoleh pada Henry yang langsung menoleh juga menatapnya.
“Jangan-jangan apa?” tanya Henry.
“Jangan-jangan kau ingin aku masih jadi istrimu karena kau menyukaiku,” tebak Shezie.
“Tidak, kenapa aku harus menyukaimu?” elak Henry.
“Buktinya ini kau sampai foto di ponsel segala,” ucap Shezie.
“Itu buat aku tunjukkan pada orang-orang saat mencarimu, kau jangan ge’er,” kata Henry.
“Tapi ternyata tidak ada yang mengenalmu juga,” kata Henry.
“Tentu saja, karena foto pengantinku sangat cantik, iya kan? Aku tidak menyangka aku akan secantik ini, seperti foto model! Benar kan?” seru Shezie, membuat Henry medelik lagi melihat lebay gadis itu bermunculan.
“Kembalikan ponselku!” kata Henry, tangannya akan meraih ponselnya tapi dijauhkan oleh Shezie.
“Aku minta fotonya!” ujar Shezie sambil diapun mengeluarkan ponselnya.
“Buat apa?” tanya Henry.
“Aku masih suka melihatnya, ternyata aku sangat cantik,” jawab Shezie sambil tersipu. Dia langsung memindahkan foto-foto itu.
“Nah sudah!” kata Shezie, lalu memberikan ponsel milik Henry pada pria itu yang segara menerimanya.
“Jadi bagaimana? Kau mau menerima tawaranku?” tanya Henry.
“Besok aku akan memberikan jawabannya, kau tunggu di café yang kemarin kita bertemu itu jam makan siang, café itu dekat halte jadi aku gampang menemuimu,” jawab Shezie.
“Baiklah, kita bertemu besok, aku akan mengantarmu pulang. Jika kau setuju kau harus langsung ikut denganku pulang kerumah,” kata Henry, sembil kembali menjalankan mobilnya.
Shezia mengangguk, tapi dalam hatinya merasa bingung. Ini adalah kesempatan dia mendapatkan uang besar meskipun kata Henry akan memberikannya setelah perceraian tapi bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dia meninggalkan ibunya sendirian? Sepertinya dia harus memikirkan hal hal lain supaya tidak mengganggu rutinitasnya mengurus ibunya dan tentu saja cara yang tepat supaya ibunya tidak curiga.
************
Sesampainya dirumah, Shezie masuk ke kamar ibunya yang sudah terlelap tidur. Dia bingung harus membuat alasan apa pada ibunya. Apalagi dia harus sering tidak pulang karena tinggal bersama Henry. Tapi difikir lagi uang 1M akan segera dia dapatkan asal mau melanjutkan sandiwara ini. Kalau ibunya sembuh dia juga akan merasa tenang.
Di dalam kamar Shezie kembali melihat foto-foto pernikahan itu. Pernikahan yang terasa begitu nyata, karena memang pernikahannya nyata, dia sudah dinikahi Henry.
Tidak terasa dia terlelap hingga dirasakannaya ada sinar matahari masuk mengenai wajahnya dan suara deritan gorden. Diapun menggeliatkan tubuhnya.
“Sudah pagi, sayang,” tendengar suara ibunya,membuatnya mecoba membuka mata.
“Perasaan aku baru tidur tadi ternyata sekarang sudah siang lagi,” kata Shezie.
“Mungkin kau lelah, kau pulang larut sampai ibu ketiduran,” ucap ibunya.
Shezie teringat dia pulang larut gara-gara harus bicara dulu dengan Henry. Diapun segera bangun dan menatap ibunya.
“Bu ada yang ingin aku bicarakan,” ucapnya.
“Apa?” tanya ibunya.
Shezie menatap wajah pucat ibunya. Melihat ibunya yang semakin kurus, dia semakin membuladkan tekadnya menerima tawarannya Henry untuk melanjutkan sandiwara pernikahannya dan berusaha mempercepat perceraian.
“Travel membutuhkanku lagi. Aku juga kan punya utang yang dicicil pada temanku itu, jadi aku membayarnya dengan pekerjaan Bu. Kalau di café kan gajinya sedikit, di travel lumayan besar, hanya memang begitu jadi aku harus pergi pergi, tapi biaya penginapan semua di tanggung oleh travel,” kata Shezie, tapi dia tidak berani menatap mata ibunya, karen dia sedang berbohong .
Ibunya menatapnya dan duduk dipinggir tempat tidur.
“Asal kau bisa jaga diri dan kesehatanmu, tidak apa, karena kita juga tidak enak kalau punya utang,” kata ibunya, membuat Shezie merasa senang mendengarnya.
“Yang pasti aku akan sering-serig melepon ibu,” ucap Shezie.
“Katanya kau akan membawa temanmu ke rumah,” kata ibunya.
“Nanti aku bawa, dia sangat sibuk makanya sekarang dia membutuhkanku,” ucap Shezie. Ibunya terdiam.
“Kalau ibu mengijinkan, aku akan berangkat nanti siang keluar kota Bu,” ucap Shezie. Dia ingat kata Henry kalau dia setuju, Henry akan langsung membawanya pulang ke rumah orang tuanya, artinya dia tidak bisa pulang ke rumah ibunya.
“Hati-hati saja dijalan, sering-sering menelpon ibu, jangan seperti kemarin ponselmu tidak aktif, ibu jadi khawatir,” ucap ibunya.
“Iya Bu,” kata Shezie, sambil memeluk ibunya.
“Maaf kan aku Bu, aku berbohong lagi, semua aku lakukan karena aku ingin ibu sembuh,” batinnya. Dia hanya meraksaan ibunya memeluknya lagi dan mencium rambutnya.
“Bu, karena gajiku di Travel lumayan besar, aku akan mencarikan orang untuk menemani ibu di rumah,” kata Shezie.
“Apa gajimu cukup untuk membayarnya?” tanya ibunya.
“Cukup Bu, atau bisa juga asisten rumah tangga yang pulang pergi, terserah ibu saja, tapi lebih baik yang bisa menginap biar ibu punya teman,” ucap Shezie. Ibunya mengangguk, sambil membelai rambut putrinya.
************