Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-39 Apakah mulai ada rasa



Malam telah larut, Henry pulang ke rumah dengan lelah karena dia harus melakukan perjalanan meninjau proyeknya diluar kota. Berada didalam mobil berjam-jam membuat badannya juga terasa pegal-pegal. Dia sudah tidak sabar ingin berbaring ditempat tidur dan beristirahat.


Saat membuka pintu kamar, dilihatnya tempat tidurnya kosong. Kemana Shezie? Diapun menutup pintu kamar itu. Saat menoleh kearah sofa, ternyata gadis itu sudah tidur di sofa. Henrypun membuka jasnya, bergegas mandi dengan air hangat, dia benar-benar lelah dan ingin segera tidur.


Setelah memakai baju tidur, Henry merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, dia bersiap-siap beristirahat, merasakan nyamannya berbaring. Baru juga akan terlelap, tiba-tiba ada suara gedebut yang mengagetkannya, padahal dia sudah sangat mengantuk. Matanya  menoleh kearah suara, dilihatnya Shezie bangun pindah ke sofa nya setelah terjatuh tadi.


Henry menghela nafas panjang, bagaimana dia bisa tidur kalau harus mendengar suara tubuh Shezie yang jatuh kelantai. Dia sudah sangat lelah dan ingin tidur. Akhirnya Henry bangun dari tempat tidur, menghampiri Shezie, menatap gadis yang sudah kembali terlelap.


Dilirknya ponsel Shezie yang ikut terjatuh tergeletak dilantai, lalu diambilnya ponsel itu. Saat mengambilnya, tuts ponsel tertekan olehnya dan membuat ponsel itu menyala, Henry melihat wallpaper dilayar ponsel itu.


Sejenak dia tertegun saat melihatnya, ternyata Shezie menjadikan foto pernikahan mereka jadi wallpaper ponselnya, Henrypun tersenyum, buat apa foto itu dijadikan wallpaper segala.


Henry menyentuh layar itu, dia mengerutkan keningnya saat ada artikel yang belum sempat ditutup sepertinya keburu ketiduran, diapun membaca artikel apa yang Shezie baca sebelum tidur. Henry langsung mengerutkan keningnya saat membacanya, isinya tentang pengobatan kanker di luar negeri


“Siapa yang sakit kanker?” guman Henry, sambil menscroll layar ponselnya. Dilihatnya diriwayat pencarian google pun tentang pengobatan -pengobatan kanker. Diapun merenung.


Henry menoleh pada Shezie yang masih terlelap. Jarinya menutup artikel itu, entah kenapa dia jadi merasa kepo saat melihat rekap tabulasi ada percapakan yang terbuka pesan masuk dari Dokter Arfan. Henry terdiam saat membacanya.


“Jadi ibumu sakit kanker?” gumamnya.


Berbagai opini bermunculan di kepalanya. Jadi saat Shezie ke rumah sakit itu menengok ibunya? Apa ini yang membuat Shezie tidak bisa meninggalkan ibunya karena ibunya sakit keras? Dan apa ini juga yang menyebabkan Shezie mencari uang tambahan berakting jadi selingkuhan orang untuk biaya berobat ibunya? Apa ini juga yang menyebabkan Shezie tidak mau mengotak atik uang 1M yang akan diberikannya jika sudah bercerai nanti? Apa ini juga yang menyebabkan gadis ini tetap bekerja di café karena uang itu untuk biaya berobat ibunya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya.


Henry menatap gadis yang terlelap itu. Sungguh mulia hatinya, disaat gadis-gadis lain berlomba-lomba untuk exis dengan performanya tapi dia bergelut dengan biaya pengobatan ibunya, hati Henry tersentuh memikirkan semua itu. Rasa tidak mengertinya kini mulai terkuak dan terjawab, Shezie sangat menyayangi ibunya.


Gadis ini bahkan tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Meskipun dia sadar dia mempunyai suami yang kaya, tidak lantas membuatnya lupa diri, dia masih menjalani hari-hari normalnya.


Terbersit juga bayang-bayang bagaimana gadis itu selalu kusut dengan penampilannya karena harus naik bis, pasti hari-harinya sangat sulit, bahkan dia rela  dimaki-maki orang lain demi untuk mendapatkan uang lebih.


Dilihatnya lagi gadis yang terlelap itu, gadis itu terlihat lelah dalam tidurnya. Tentu saja bagaimana dia tidak lelah melewati hari-harinya yang sulit. Sangat berbeda dengan dirinya yang sedari kecil bergelimang harta dan kemewahan.


Ada rasa bersalah didalam hati Henry, dia merasa bersalah karena selama ini selalu mencemooh gadis itu, tanpa dia sadari tidak semua orang seberuntung dirinya. Mungkin Shezie juga ingin hidup senang seperti gadis lain pada umumnya tapi karena keadaanlah yang menyebabkannya untuk melupakan kesenangan pribadinya.


Tiba-tiba Shezie bergerak, Henry buru-buru jongkok mendekati tubuh yang akan jatuh itu, berjaga-jaga kalau sampai Shezie jatuh ke lantai. Disimpannya ponsel itu diatas meja, tangannya terulur merengkuh tubuhnya Shezie, lalu mengangkatnya perlahan dan membawanya pindah ke tempat tidur, membaringkannya disana.


Henry menatap gadis yang terlelap itu lagi. Gadis itu terlihat sangat cantik lebih cantik dari biasanya, karena aura kecantikannya  terpancar dari hatinya yang mulia. Tidak terasa ada senyum di bibirnya, dia sangat kagum pada gadis itu. Henry menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya Shezie.


Terdengar ponselnya yang tegeletak di tempat tidur berbunyi. Henry segera mengambilnya sambil duduk dipinggir tempat tidur.


“Bagaimana Pak Ben, kau sudah urus semuanya?” tanya Henry.


“Sudah Pak, surat-surat untuk balik nama dan sebagainya akan diproses besok, uang juga sudah disiapkan, semua sudah lengkap,”  jawab suara disebrang.


Henry masih berbicara dengan Pak Ben, diapun menyandarkan punggungnya ke bantal  sambil menelpon. Cukup lama dia menelpon sambil bersandar, dia sudah menguap beberapa kali sampai akhirnya pembicaraannya di tutup. Henrypun menurunkan tubuhnya merasakan pegal-pegal bekas perjalanan tadi. Lambat laun diapun terlelap tanpa menyadari  Shezie tidur disebelahnya.


***********


 


Hari sudah pagi saat Henry bangun dari tidurnya. Dia agak terkejut saat membuka matanya, dia melihat ada sosok yang berbaring disampingnya. Shezie masih tidur nyenyak. Henry mengerutkan keningnya, bukankah Shezie sudah duluan tidur kenapa dia yang masih tidur? Batinnya.


Ponselnya kembali berdering, Henry cepat-cepat mengambil ponselnya sambil melirik Shezie, dia tidak mau gadis itu terbangun karena bunyi ponselnya.


“Ya, Bu!” sapanya sambil menjauh dari tempat tidur.


“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Hanna disebrang sana.


“Shezie masih bekerja di café,” jawab Henry.


“Apa? Kenapa kau masih membiarkan itu terjadi?” tanya Hanna lagi.


“Shezie suka bekerja di café itu, jadi aku membeli café itu untuk dia kelola. Shezie akan tetap bekerja disana tapi tidak lagi jadi pelayan melainkan pemilik cafe,” jawab Henry.


“Baguslah kalau begitu, mungkin istrimu sudah terbiasa bekerja disana juga jadi agak sulit meninggalkannya.Ibu senang mendengarnya,” kata Hanna.


“Iya Bu,” sahut Henry.


“Jaga istrimu baik-baik. Ingatkan juga dia jangan terlalu cape mengurus cafenya nanti,” kata Hanna.


“Kenapa?” tanya Henry.


“Karena kalau terlalu lelah akan mengganggu proses kehamilannya. Istrimu harus menjaga kesehatannya supaya cepat hamil, jangan menunda-nunda kehamilan, biasanya kalau ditunda -tunda akan susah hamilnya. Tidak apa-apa meskipun kalian belum lama menikah tidak ada salahnya sudah memikirkan mendapatkan momongan, itu lebih baik,” kata Hanna.


Mendengar perkataan Hanna membuat Henry terkejut. Ada cerita apa lagi ini? Dia memperpanjang pernikahannya dengan Shezie hanya untuk menunda perceraian, kenapa ibunya membahas soal kehamilan? Bagaimana dia bisa bercerai kalau Shezie hamil? Ini sih alamat usia pernikahannya akan semakin panjang, boro-boro mau bercerai malah disuruh cepat hamil. Kepala Henry langsung saja berdenyut- denyut pusing memikirkannya,  masa dia harus membayar Shezie untuk mengandung anaknya?


Setelah telpon ditutup, Henry menoleh pada gadis yang masih terlelap itu. Dia merasa bingung, apa iya dia harus membuat Shezie hamil? Kenapa rencananya jadi kacau begini?


Dilihatnya jam didinding, Henry cepat-cepat pergi ke kamar mandi, dia harus segara berangkat ke kantor. Setelah dia mandi dan berpakaian, Shezie masih belam bangun juga tapi dibiarkannya gadis itu tidur,  Henry tetap berangkat tanpa membangunkannya.


“Pak Andi mana?” tanya Henry pada Pak Wiryo saat akan berangkat.


“Sebentar saya panggilkan!” kata Pak Wiryo, lalu bergegas pergi kebelakang memangil Pak Andi.


“Ya Pak, ada apa?” tanya Pak Andi.


“Pak Andi, aku minta tolong beritahu aku kemana saja kau mengantar istriku. Kalau istriku menggunakan bis lagi, tolong ikuti dia pegi kemana, dan langsung beritahu aku,” kata Henry.


“Baik Pak,” jawab Pak Andi.


“Tapi ingat, jangan sampai istriku tahu,” kata Henry.


“Baik, Pak,” jawab Pak Andi.


Setelah itu barulah Henry masuk ke mobilnya. Sebenarnya dia juga heran buat apa dia menyuruh Pak Andi melaporkan kegiatan Shezie dan juga mengikutinya? Bukankah perjanjiannya tidak boleh ikut campur privasi masing-masing? Entah kenapa dia malah jadi ingin tahu kehidupannya Shezie.


**********