Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-60 Hanna menemui Shezie



Shezie duduk termenung diruang tamu. Sesekali melihat keluar jendela ke kgelapan malam. Malam semakin larut dan Henry belum juga pulang. Sebenarnya Henry sudah mengirimnya pesan tidak akan pulang dan tidur dirumah orang tuanya tapi entah kenapa dia berharap Henry akan tiba-tiba pulang.


Dilihatnya seisi rumah ini yang terasa sepi dan kosong. Ditempati hanya berdua dengan Henry dan para pelayannya. Tidak ada teman bicara hanya pada Henry seorang tapi pria itu sekarang memilih tidur dirumah orang tuanya.


Shezie menunduk lesu, dia merasa bingung dengan semua ini. Sebenarnya hatinya masih ragu untuk bercerai dengan Henry, jauh dilubuk hatinya dia ingin pernikahan sekali seumur hidupnya. Dilihatnya lagi keluar jendela, tidak ada yang datang, waktu semakin malam, tentu saja Henry tidak akan pulang.


Tiba-tiba ada sebuah mobil memasuki perkarangan. Shezie cepat-cepat bangun dan pergi menuju pintu yang segera dibukanya, tapi dia terkejut saat melihat siapa yang datang. Itu bukanlah mobilnya Henry, tapi mobil mertuanya.


Mobil itu berhenti tepat di depannya. Ibu mertuanya turun dari sana dan langsung menghampririnya.


“Ibu,” panggil Shezie sambil tersenyum, dia sangat terkejut melihat kedatangan ibu mertuanya malam-malam begini.


“Henry tidak ada dirumah Bu, katanya dia akan menginap di rumah ibu,” kata Shezie.


“Ya aku tahu, aku sudah bertemu dengannya,” jawab Hanna, sambil masuk kedalam rumah.


Shezie segera menutup pintu lalu mengikuti langkah mertuanya yang duduk di sofa ruang tamu. Diapun duduk tidak jauh dari sofa tempat Hanna duduk.


“Tumben sekali ibu datang kesini malam-malam, sendirian lagi,” kata Shezie, entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman saja melihat kedatangan ibu mertuanya yang tiba-tiba itu.


Hanna menatap Shezie lekat-lekat.


“Henry sudah menceritakan semuanya,” kata Hanna.


“Maksud ibu apa?” tanya Shezie tidak mengerti.


“Tentang statusmu yang menjadi istri bayarannya,” jawab Hanna, membuat Shezie terkejut, dia tidak menyangka Henry akan mengatakan hal itu pada ibunya.


“Henry sudah mengatakannya?” tanya Shezie.


“Iya, dia sudah cerita semua,” jawab Hanna.


Shezie pun terdiam.


“Henry juga sudah bilang kalau kau ingin bercerai dengannya,” kata Hanna.


Shezie masih terdiam dan menunduk.


“Aku tidak menginijnkan kalian bercerai sekarang,” lanjut Hanna membuat Shezie terkejut dan kini mendongak menatap ibu mertunya.


“Kalian tidak boleh bercerai,” kata Hanna.


“Tapi Bu, aku ingin mengakhiri semuanya, aku sudah bertunangan dan aku akan menikah,” ucap Shezie.


“Kau yakin akan bercerai dengan Henry?” tanya Hanna.


“Iya Bu,” jawab Shezie sambil kembali menunduk.


“Apa kau tidak tahu kalau Henry menyukaimu?” tanya Hanna lagi.


“Entahlah dia tidak pernah mengungkapkannya padaku,”jawab Shezie.


Apa yang dikatakannya memang benar Henry tidak pernah berterus terang kalau dia menyukainya, dia hanya mengatakan itu pada ibunya dan melamarnya, pria itu tidak pernah meyakinkannya kalau dia menyukainya, bisa saja itu hanya ego karena dia masih ingin menunda perceraian.


“Berikan dia waktu, aku bisa tahu Henry menyukaimu. Apa kau juga tidak menyukai Henry?” tanya Hanna.


“Aku…aku tidak tahu Bu,” jawab Shezie, tergagap, dia sendiri tidak tahu apakah dia menyukai Henry atau tidak.


“Pokoknya aku tidak mau kalian bercerai. Apa kau tahu masalah statusmu ini sudah menyebar diantara teman-temanku juga rekan kerja ayahnya Henry. Bu Yogi dan Andrea mempermalukanku di tempat arisan tadi,” kata Hanna, semakin membuat Shezie terkejut.


“Bu Yogi? Andrea?” tanya Shezie.


“Iya, kau pasti ingat kan ibu ibu yang suka bergosip itu? Andrea mantan pacarnya Henry dan ibunya,” jawab Hanna.


“Aku minta maaf soal itu Bu, aku sudah membuat kalian malu,” ucap Shezie.


“Maksud ibu apa?” tanya Shezie.


“Aku ingin kalian benar-benar menjadi pasangan suami istri,” jawab Hanna.


Shezie semakin terkejut saja mendengarnya.


“Aku ingin kalian cepat cepat punya anak, aku tidak mau putraku dicemooh orang karena membayarmu, aku tidak mau citra putraku hancur, dan semua itu akan terpatahkan kalau kau hamil, aku ingin kalian melanjutkan pernikahan dengan sebenarnya,” kata Hanna, panjang lebar.


“Tapi Bu,” Shezie tidak melanjutan perkataannya, dia sangat bingung.


“Kenapa? Kau masih butuh uang? Sebutkan saja berapa uang yang kau butuhkan aku akan menyanggupinya, asal kau tidak bercerai dari Henry,” kata Hanna.


“Tapi Bu, ini bukan masalah uang, ibuku sudah menerima lamarannya Martin, dan ingin pernikahan kami dipercepat,” kata Shezie.


“Itu juga, ibumu. Kau bilang kau yatim piatu, ternyata kau masih punya ibu?” tanya Hanna.


“Maaf Bu, aku berbohong,” jawab Shezie kembali menunduk, dia merasa sangat bersalah karena telah membohongi semua orang.


“Jadi ibumu juga tidak tahu kalau kau sudah menikah dengan Henry?” tanya Hanna.


“Iya Bu, Ibuku tidak tahu makanya ibuku menerima lamarannya Martin dan ingin kami cepat menikah, jadi aku harus becerai dari Henry,” jawab Shezie.


“Apa Martin itu pacarmu? Dan kau tidak menyukai putraku?” tanya Hanna.


Ditanya begitu, Shezie tidak bisa menjawab. Dia bertanya dalam hati apakah dia menyukai Henry atau tidak?


“Kau menyukai putraku kan?” tebak Hanna.


“Tidak Bu, aku tidak menyukainya,” jawab Shezie, kembali menunduk tidak mau menatap ibu mertuanya.


Hanna memperhatikan sikap gadis itu. Shezie tidak akan dengan terang-terangan mengatakan suka pada Henry kalau Henry tidak memulai duluan, putranya itu memang payah, dia bisa tahu kalau Henry menyukai gadis ini dan putranya itu benra-benar tidak ada perjuangan sama sekali menyatakan cintanya.


Kalau Shezie menyukai tunangannya, tidak mungkin Shezie mau menjadi istri bayaran Henry, itu artinya sebenarnya dia juga tidak ada hubungan yang serius dengan pria itu, mungkin pertunangannya karena dijodohkan oleh ibunya. Hanna terus saja membuat opini dalam diamnya.


“Kalau kau mau aku bicara dengan ibumu, aku tidak keberatan melamarmu dengan resmi pada ibumu asal kalian tidak bercerai,” kata Hanna.


“Jangan jangan Bu!” larang Shezie hampir berteriak.


“Ibuku sedang sakit, aku tidak mau ibuku Drop, kalau tahu aku menikah diam-diam, ibuku akan shock. Sekarang  sedang dirawat di rumah sakit, kemarin ibuku drop karena Henry mencoba memberitahukan soal pernikahan ini, tolong Bu, jangan bicara apa-apa pada ibuku,” pinta Shezie.


Melihat sikap Shezie itu Hanna semakin yakin kalau Shezie mau menikah dengan Martin itu karena ibunya.


“Jadi kau tetap ingin bercerai dari Henry?” tanya Hanna.


“Iya Bu, aku harus bercerai dengan Henry. Aku ingin melihat ibuku bahagia, ibuku ingin melihat aku menikah dengan Martin. Aku minta maaf tidak bisa meneruskan pernikahan ini,” jawab Shezie.


Hanna terdiam mendengarnya. Dia juga bingung kalau sudah begini.


“Apa tekadmu sudah bulat untuk bercerai?” tanya Hanna.


“Iya Bu, aku minta maaf,” jawab Shezie.


Hanna kembali diam, apa yang harus dilakukannya sekarang? Sepertinya Shezie benar-benar ingin bercerai dari Henry. Kasihan sekali putranya itu, dia sudah menyukai gadis yang dijadikan istri pura-puranya, dia juga yakin Shezie juga menyukai putranya hanya saja dia tertekan dengan kondisi ibunya.


Hanna berfikir apakah dia harus menemui ibunya Shezie?


***********


Raeders maaf ya alurnya sangat lambat, nulis juga dikit dikit. Kalian pasti sudah kesel dan bosan. Authornya masih harus pergi-pergi keluar kota sampai beberapa hari kedepan jadi nulis-nulis di perjalanan sesempatnya saja. Kalau urusannya sudah beres, kita ngebut ya.


Terimakasih bagi yang masih setia meskipun ceritanya kurang seru.


***********