Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-47 Aku suamimu



Martin tertawa mendengar jawaban dari Henry.


“Kau bercanda! Sepertinya kau salah orang! Shezie, gadis itu tunanganku! Jadi kau jangan ikut campur urusanku!” teriak Martin dengan kesal, sambil menunjuk pada Shezie yang terdiam mematung.


Shezie masih terlihat shock dengan apa yang terjadi, tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


Martin memegang perutnya yang masih terasa sakit karena tendangan dari Henry.


“Kau salah, dia istriku, jadi kau jangan mengganggunya lagi!” kata Henry.


Martin kembali tertawa mendengar perkataannya Henry.


“Aku tidak percaya! Tidak akan ada pria yang  benar-benar mau menikahinya! Hanya aku saja yang buta terus terusan mengejarnya, tapi apa yang dia lakukan gadis tidak tahu diri itu? Dia menolakku! Puih!” ucap Martin diakhiri meludah, lalu menoleh pada Shezie.


“Kau tahu,kau wanita yang tidak tahu diri! Sok jual mahal!” maki Martin lagi.


Mendengar perkataan Martin membuat Shezie sakit hati, matanya kembali berkaca-kaca, ternyata keraguan dalam hatinya terjawab, Martin tidak sebaik kelihatannya, dia baik karena ada maunya.


“Kau tahu, ibunya itu sakit kanker! Tidak ada pria yang mau mempunyai mertua yang penyakitan begitu! Paling-paling hanya dijadikan simpanan saja!” teriak Martin.


Perkataan Martin semakin membuat Shezie tersakiti, airmata terus menetes dipipinya, tidak menyangka Martin akan berkata seperti itu.


Tiba-tiba, buk! Henry kembali memukul wajahnya Martin saking kesalnya dengan hinaan Martin pada Shezie.


“Hei, kenapa kau memukulku lagi?” bentak Martin, dia akan membalas pukulan dari Henry, tapi tiba-tiba dua orang satpam berlarian menghampiri sambil berteriak.


“Ada apa ini? Hentikan! Jangan membuat keributan!” teriak satpam-satpam itu. Ternyata sudah banyak orang yang berkerumun melihat kejadian itu.


Martin menghentikan gerakannya, dia semakin kesal belum sempat membalas pukulannya Henry.


Henry menatap Martin.


“Kalau Shezie seburuk itu dimatamu, tinggalkan dia! Jangan ganggu dia lagi! Dia istriku sekarang!” bentak Henry.


“Ada apa ini?” tanya satpam sekali lagi, menatap Henry lalu pada Martin juga pad Shezie yang sedang terisak.


“Pria ini mengganggu istriku,” jawab Henry.


“Apa benar begitu? Kau harus dibawa ke kantor polisi!” kata satpam itu langsung mendekati Martin, akan memegang tangannya tapi Martin menepisnya.


“Dia berbohong! “ bela Martin.


“Pergi dari sini atau aku akan membawa kasus ini ke kepolisisan!” kata Henry pada Martin, tidak mau memperpanjang masalah.


Martin menatap Henry dengan penuh amarah lalu pada Shezie yang berdiri disamping mobilnya.


“Sebaiknya anda pergi atau kami memanggil polisi!” kata satpam.


Martin menoleh lagi pada Shezie.


“Urusan kita belum selesai!” kata Martin, lalu masuk kedalam mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya dengan kencang.


“Kami juga akan pergi,” ucap Henry pada satpam-satpam itu.


“Sebaiknya begitu,” kata satpam lalu menoleh pada Shezie.


“Kau baik-baik saja nona?” tanya satpam. Yang dijawab Shezie dengan anggukan. Setelah itu satpam membubarkan orang-orang yang berkerumun.


Henry menatap Shezie yang juga menatapnya. Gadis itu terlihat kusut, dengan wajahnya yang pucat. Henrypun menghampirinya. Shezie juga hanya bisa menatap Henry dibalik bola matanya yang berkaca-kaca, dia tidak menyangka Henry akan datang disaat yang tepat.


Henry melihat mata Shezie yang berkaca-kaca itu ,dia bisa merasakan pasti Shezie sakit hati dengan apa yang dilakukan Martin juga kata-katanya yang menghinanya.


Henry tidak bicara apa-apa, dia berjalan lebih dekat, merengkuh punggungnya Shezie dan dipeluknya. Tidak ada kata yang bisa diucapkan Shezie, kerongkongannya seperti tersekat karena menahan tangis yang sepertinya ingin meledak. Pelukan pria itu terasa begitu kuat di memeluk tubuhnya.


Shezie membenamkan wajahnya ke dadanya Henry. Ini pertama kalinya pria itu memeluknya dengan benar selain pelukan-pelukan yang tidak disengaja sebelumnya, dia tidak mengerti ternyata berada dalam pelukan pria ini begitu nyaman, padahal dia mengenalnya tidak lebih lama dari mengenal Martin.


“Kita pulang sekarang,” ucap Henry sambil melepas pelukannya. Dibukanya mantel panjangnya dan dipakaikan pada tubuh Shezie.


Shezie sempat menatap wajah tampan itu yang merapihkan mantel di tubuhnya.


“Ayo!” ajak Henry tidak berkata apa-apa lagi. Hanya tangannya memeluk bahunya Shezie mengajaknya menuju tempat mobilnya diparkir.


Sepanjang jalan Shezie tidak bisa menahan tangisnya, air mata menetes terus dipipinya. Dia tidak menyangka akan mengalami hal seburuk ini. Apa yang akan terjadi kalau ternyata Henry tidak datang tepat waktu? Meskipun Martin adalah tunangan yang direstui ibunya tapi dia tidak mencintai Martin.


Henry hanya diam membisu, lama semakin lama  dia merasa kasihan pada gadis ini, dia tidak rela ada orang yang menyakitinya. Tadi dia sempat memutuskan pulang karena tidak mau ikut campur dengan urusan Shezie, tapi tiba-tiba dia teringat kalau Shezie tidak menyukai Martin, jadi dia memilih kembali lagi ke hotel itu dan ternyata melihat kejadiaan itu.Bisa dibayangkan bagaimana kalau Shezie jadi menikah dengan tunangannya yang brengsek itu.


Sesampainya di rumah, Henry langsung membawa Shezie ke kamarnya dan membantunya berbaring.


“Tidurlah, supaya besok kau bangun lebih segar,” kata Henry.


Henry berdiri menatap gadis itu, dia tidak bisa membiarkan Shezie bersama pria yang seperti Martin, bagaimana hidup Shezie kalau menikah dengan pria itu, dia yakin Martin akan menyakiti Shezie.


Henry duduk dipinggir tempat tidur dekat kaki Shezie, dilihatnya gadis itu memejamkan matanya mencoba untuk tidur, tapi di sudut-sudut matanya ada tetesan airmata.


Dilihatnya lagi kaki Shezie yang masih menggunakan sepatu talinya. kedua tangan Henry terulur menyentuh sepatu itu dan melepaskannya dari kaki Shezie. Lalu diambilnya selimut dan diselimutkan pada tubuh itu perlahan. Henry semakin menyadari kalau dia merasa menyayangi gadis itu. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu dalam kesedihan.


Setelah itu Henry merebahkan tubuhnya disamping Shezie, kepalanya penuh dengan rencana hari esok. Dia tahu Martin pasti akan mengadu pada ibunya Shezie. Apa yang terjadi kalau sudah begini? Dia yakin Martin akan memutar balikkan fakta, sudah terlihat kalau pria itu bukan pria yang baik.


“Terimakasih!” tiba-tiba terdengar suara Shezie berbicara, ternyata gadis itu belum tidur. Shezie menatap apa saja yang ada didepannya sambil tetap tidur berbaring membelakangi Henry.


“Untuk apa?” tanya Henry, menatap langit-langit.


“Kau sudah menolongku,” jawab Shezie.


“Aku suamimu, sudah seharusnya aku menjagamu,” kata Henry.


Ucapan itu malah membuat tetes-tetes airmata Shezie kembali menetes. Andai saja, andai saja yang bicara itu adalah suaminya yang sesungguhnya dia akan sangat senang sekali memiliki suami seperti Henry.


“Tidurlah!” ucap Henry.


Shezie tidak bicara lagi. Dua insan yang tidur dalam satu tempat tidur itu hanya diam dengan berbagai pemikiran yang berbeda. Suasana sangat hening, hanya tendengar suara binatang malam yang menandakan hari semakin larut.


****


Keesokan harinya…


Saat Henry membukakan matanya, yang pertama dilihatnya adalah Shezie duduk dikursi meja rias yang ada dikamar itu, sedang menyisir rambutnya. Gadis itu sudah rapih dengan baju kerjanya.


“Sepagi ini kau akan berangkat bekerja?” tanya Henry. Diapun bangun, duduk ditempat tidur menatap Shezie.


“Aku akan ke café banyak yang harus aku kerjakan, bukankah katamu aku tidak  boleh membuat cafenya bangkrut?” jawab Shezie.


Henry terdiam, masih menatap Shezie.


“Kau sudah lebih baik sekarnag?” tanya Henry.


Shezie menyelesaikan menyisir rambutnya lalu beranjak menghampiri Henry.


“Iya aku lebih baik,” jawab Shezie.


“Menurutmu apa yang akan Martin lakukan?” tanya Henry.


“Seharusnya kau tidak mengatakan statusmu pada Martin,” jawab Shezie.


“Tapi aku mengatakan yang sebenarnya, aku suamimu,” jawab Henry.


“Aku hanya khawatir Martin bicara pada ibu, aku bingung harus mengatakan apa. Ibuku pasti sakit hati karena pernikahan kita tanpa restunya,” kata Shezie.


“Kalau begitu, aku akan minta restu ibumu,” ucap Henry membuat Shezie terkejut.


“Kau gila! Ibuku akan marah padaku kalau tahu ini semua!” kata Shezie.


“Memangnya kau akan tetap menikah dengan Martin?” tanya Henry. Dengan hati yang harap harap cemas.


“Entahlah!” jawab Shezie.


“Kau tidak bisa menikah dengan pria brengsek seperti itu. Katakan saja pada ibumu kalau Martin mengganggumu dan pertunangan kalian batal,” kata Henry.


 “Tidak semudah itu meyakinkan ibu, karena selama ini Martin sangat baik dan perhatian pada ibuku bahkan dia membayar biaya pengobatan ibuku,” ucap Shezie.


Henry kembali diam. Dia juga membayar biaya pengobatan ibunya Shezie, berarti Martin selama ini banyak membantu Shezie juga karena mereka kenal lebih lama.


“Kalau memang Martin banyak membantu kalian, kenapa kau menolaknya? Kalian bisa langsung menikah sebelum kau menikah denganku,” kata Henry.


“Entahlah, aku hanya ragu pada Martin,” jawab Shezie.


Henry masih menatap gadis yang sedang menunduk itu.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Aku hanya akan berangkat bekerja saja,” ucap Shezie, sambil meraih tasnya.


Henry tidak bicara lagi, dia tidak mau banyak berdebat mungkin Shezie juga butuh waktu untuk menyendiri dan merenung, dibiarkannya gadis itu keluar dari kamarnya.


Sekarang kepala Henry penuh dengan rencana, kalau misalkan Martin mengadu pada ibunya dan ibunya marah tidak merestui pernikahannya dengan Shezie, otomatis ibunya akan menyuruh Shezie bercerai darinya. Tunggu! Bukankah bercerai itu lebih baik? Sesuai dengan rencana? Tapi ah tidak, bagaimana dengan orangtuanya yang sangat mendambakan cucu. Yang pasti dia tidak bisa membiarkan Shezie menikah dengan pria yang brengsek seperti Martin, hidup Shezie akan hacur kalau menikah dengan pria itu.


******


Readers jangan lupa vote nya