
Setelah agak lama mereka terdiam, Satria bicara pada Damian.
“Kakak, bagimana kalau kita minta bantuan ibu,” usul Satria.
“Bantuan ibu untuk apa?” tanya Damian, menatap adiknya itu.
“Untuk melamar kakak ipar, melamar yang resmi. Mungkin kalau orangtua yang melamar, sikap Pak Louis akan melunak. Lagian kalian sudah terlanjur bersama-sama masa harus berpisah sekarang? Walaubagaimanapun dia kakak ipar yang menyenangkan,” jawab Satria.
“Akan semakin runyam kalau banyak orang yang tahu tentang kebohongan ini,” jawab Damian, mengusap wajahnya dengan tangannya.
Saat telapak tangannya menyentuh bibirnya, Damian teringat ciuman Hanna sebelum pergi, baru saja beberapa menit wanita itu pergi hatinya sudah rindu.
“Tidak ada lagi keluarga yang bisa mewakili kakak, hanya ibu satu-satunya, ya meskipun aku tahu kakak tidak menyukai ibuku,” kata Satria.
“Aku semakin rindu pada ibu, entah ada dimana ibu sekarang,” ucap Damian, dia jadi teringat ibunya.
Satria tidak bicara apa-apa lagi. Dia juga bingung bagaimana cara membantu kakaknya untuk membawa kembali kakak iparnya.
**************
Sesampainya dirumah, Bu Astrid sangat terkejut melihat Hanna terus menangis, dan datang bersama suaminya.
“Pak, ada apa ini?” tanya Bu Astrid, langsung memeluk Hanna.
“Dia sudah keterlaluan,” jawab Pak Louis, sambil duduk di kursi mencoba menenangkan dirinya, melirik Hanna dengan kesal.
Bu Astrid mengusap punggung putrinya.
“Ternyata Hanna belum menikah dengan Damian, dia juga tidak hamil,” ucap Pak Louis membuat Bu Astrid terkejut.
“Sayang, ada apa ini?” tanya Bu Astrid.
Hanna terus menangis di dalam pelukan ibunya. Bu Astrid menoleh lagi pada Pak Louis.
“Benar-benar
memalukan!” umpat Pak Louis, sambil beranjak meninggalkan Hanna dan Bu Astrid.
“Sayang ayo duduk, ceritakan sebenarnya ada apa? Apa maksud ayahmu tadi?” tanya Bu Astrid sambil membawa Hanna ke kursi mendudukkannya disana. Diambilnya tisue lalu melap wajahnya Hanna dengan tisue itu.
Cukup lama Bu Astrid menunggu tangisnya Hanna reda.
“Coba ceritakan apa yang terjadi?” tanya Bu Astrid.
Hanna menatap ibunya, dengan butiran airmata kembali menetes di pipinya, sepertinya airmatanya itu tidak ada habis habisnya.
“Sebelumnya aku minta maaf atas kesalahanku dan Damian,Bu,” kata Hanna.
Bu Astrid mengangguk sambil melap wajahnya Hanna lagi.
“Sebenarnya aku dan Damian belum menikah,” lanjut Hanna.
“Apa Maksudmu? Kau kan tinggal bersama Damian, kalian juga mengadakan resepsi pernikahan, bagaimana mungkin belum menikah? Kau juga bukankah sedang hamil?” tanya Bu Astrid tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Jadi semua ini sebenarnya karena salah faham Bu. Saat aku kabur di pernikahanku, aku menumpang mobil Damian, di kota sedang ada acara perusahaannya Damian, orang arang dan keluarganya mengira aku adalah istrinya Damian. Karena wakatu itu sedang banyak orang, Damian tidak bisa mengklarifikasinya, dia juga sedang sibuk waktu itu, lalu ibu tirinya membuatkan resepsi karena tidak enak dengan keluarga besar dan rekan bisnisnya Damian, pernikahan Damian tidak dirayakan padahal sebenarnya kami bukan sepasang pengantin, itu yang terjadi sebenarnya,” jawab Hanna, menjelaskan panjang lebar disela isak tangisnya.
Bu Atsrid hanya terbengong saja, dia tidak menyangka bisa terjadi hal seperti itu.
“Sungguh Bu aku dan Damian tidak sengaja melakukan kebohongan ini, semua terjadi begitu saja, dan soal aku hamil juga kaeena kesalahfahaman saat aku sakit karyawannya Damian mengira aku hamil,” lanjut Hanna.
Bu Astrid kini terdiam.
“Sebenarnya aku tidak ingin berbohong pada ayah dan ibu hanya aku dan Damian bingung harus menjelaskannya bagaimana,” lanjut Hanna, sambil menunduk, airmata kembali menetes dipipinya.
“Aku minta maaf Bu. Bukan aku tidak mengahargai ibu dan ayah, semua tidak di sengaja,” Hanna kembali menatap ibunya.
“Aku juga tidak punya siapa-siapa di ibukota, aku tidak membawa uang sepeserpun, jadi aku ikut bersama Damian,” kata Hanna lagi.
Ibunya menatap putrinya itu, wajahnya Hanna terlihat pucat, matanya bengkak, akibat menangis terus menerus, tangannya menyentuh pipinya, mengusap airmata yang membasahi pipinya Hanna, dia tidak bisa melihat putrinya bersedih begitu.
“Ibu percaya kan padaku?” tanya Hanna.
Bu Astrid mengangguk.
“Hanya masalahnya, ayahmu akan sulit memaafkanmu, Nak. Karena kemarin ayahmu sudah membuka hatinya buat Damian dan sudah mau membantu proyeknya Damian. Ayahmu juga senang kau akan memberinya cucu, jadi kami mengabaikan segala ketidak nyamanan kami, tapi kalau sudah seperti ini, ibu tidak yakin ayahmu akan menerima Damian,” ucap Bu Astrid.
“Jadi aku harus bagaimana Bu? Aku mencintai Damian, Damian juga sudah melamarku,” kata Hanna, sambil memperlihatkan cincin di jari tengah dan jari manisnya.
Bu Astrid memegang tangan Hanna yang memakai cincin yang berbeeda dengan waktu Hanna pulang beberapa waktu lalu.
“Damian serius akan menikahiku, Bu,” kata Hanna.
Tiba-tiba ada suara yang memotong.
“Aku tidak suka pria yang melecehkanmu, dia bukan pria yang baik. Kau jangan dibutakan dengan cintamu,” kata Pak Louis.
“Yah, Damian tidak seperti itu, selama ini Damian sudah bersikap baik padaku, dia juga tidak macam-macam padaku,” sahut Hanna.
“Bagus kalau begitu, kalau belum ada apa-apa diantara kalian, jadi kau bisa menikah dengan Cristian secepatnya,” jawab Pak Louis, membuat Hanna terkejut.
“Yah kenapa harus membahas Cristian lagi, aku tidak mencintainya, aku mencintai Damian,” kata Hanna, bersikeras.
“Tapi dia bukan pria yang baik, sudahlah lupakan dia. Bukankah selama ini juga kau mencintai Cristian? Dia sangat baik padamu, kau rubah sikapmu jangan kekanak-kanakan lagi, lanjutkan acara pernikahan kalian,” ucap Pak Louis.
“Aku tidak mau, yah,” kata Hanna, airmata kembali keluar dari pipinya.
“Pokoknya aku tidak setuju kau menikah dengan Damian, aku lebih percaya Cristian bisa menjagamu dengan baik, daripada pria asing itu,” ucap pak Louis lagi.
Hanna menunduk dan kembali menangis. Bu Astrid tidak bisa bicara apa-apa, dia juga bingung.
“Mulai sekarang gerbang sudah ada yang menjaga, jadi kau tidak bisa kabur-kabur lagi, atau kalau perlu aku akan menguncimu dikamar. Kau tidak boleh bertemu pria itu lagi, jika kau mencoba kabur lagi, aku menganggap kau bukan putriku lagi,” kata Pak Louis, kemudian dia menelpon seseorang.
“Nak Cristian, kau dimana? Bisa ke kantorku sekarang?” tanya Pak Louis.
“Aku sedang pulang, Paman, ibuku baru tiba dari Luar negri,” jawab Cristian.
“Jadi ayah ibumu sudah pulang? Baguslah kalau begitu, nanti Paman akan menelpon ayahmu, Paman juga ada perlu dengan ayahmu,” kata Pak Louis.
Tidak berapa lama telponpun ditutup.
Hanna menatap ayahnya.
“Ada apa ayah mau bertemu dengan Pak Sony?” tanya Hanna.
“Tentu saja membicarakan pernikahanmu dengan Cristian, apa lagi? Kejadian kau kabur itu membuatku malu, jadi ayah harap kau jadi anak yag baik, kau akan menikah dengan Cristian,” jawab ayahnya.
“Tapi yah, berapa kali aku bilang aku tidak mau menikah dengan Cristian,” kata Hanna.
“Cristian adalah pria yang terbaik buatmu, bukan orang asing itu. Jika kau punya masalah dengan Cristian, kau bisa membicarakannya baik-baik dengan Cristian, jangan bertengkar lagi,” ucap Pak Louis, lalu beranjak keluar rumah, kemudian terdengar suara mobil meninggalkan halaman rumah.
Hanna menatap ibunya dengan tangisan yang semakin keras. Bu Astrid memeluknya.
“Bu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak sanggup berpisah dengan Damian, tolong aku Bu, aku mencintai Damian, Damian bukan pria yang jahat, dia sangat mencintaiku,” pinta Hanna.
“Kau bersabarlah dulu, ayahmu masih marah, mungkin nanti kalau ayahmu tidak marah, kita bicara lagi.
***********
Damian masih berada diruang tamu itu, dia berbaring disofa dengan menempelkan satu lengan diatas keningnya. Dia sangat pusing, dia bingung apa yang harus dilakukannya? Dia sangat mencintai Hanna, entah cara apa yang bisa dilakukannya untuk membuat Pak Louis mau memaafkannya dan merestui pernikahannya dengan Hanna.
Satria keluar dari kamarnya, melihat kakaknya yang seperti itu. Diapun menghampirinya.
“Kakak, apa kau mau menerima saranku tadi?” tanya Satria.
“Saran apa?” tanya Damian.
“Bicaralah pada Ibu, minta ibu melamarkan kakak ipar untuk kakak, mungkin dengan cara itu Pak Louis akan melihat keseriusan kakak untuk menikahi kakak ipar,” kata Satria.
Damian tidak bicara lagi.
“Kalau kakak tidak mau bicara dengan ibu, biar aku yang bicara,” ucap Satria.
“Tidak perlu,” kata Damian.
Satria duduk di salah satu sofa dekat kakinya Damian.
“Kakak, tolong maafkan ibuku, semua sudah terjadi, ibuku sudah berusaha menjadi ibu yang baik buat kita, meskipun kakak tidak bisa memaafkannya,” kata Satria.
“Kau bicara begitu karena dia ibumu, tapi dia bukan ibuku,” ucap Damian.
“Ya aku tahu kakak, aku mengerti, tapi sekarang itu satu-satunya cara supaya Pak Louis mau menikahkan kakak dengan kakak ipar, tidak ada keluarga terdekat kakak lagi hanya ada ibu saja. Kakak lihat saja ibu mau mengurus resepsi pernikahan kakak dengan kakak ipar, ibu juga pasti mau melamar kakak ipar,” lanjut Satria.
Damian tidak menjawab.
“Tapi itu terserah kakak, aku hanya memberi saran saja, apa kakak akan diam saja dan berpisah dengan kakak ipar? Dia akan kembali pada Cristian kak kalau kakak tidak bergerak cepat,” lanjut Satria, lalu diapun berdiri.
“Aku mau keluar cari angin,” ucap Satria, lalu keluar dari rumah itu meninggalkan Damian di ruang tamu itu.
Damian tidak menjawab, dia sangat bingung apa yang harus dilakukannya? Sepertinya malam ini dia tidak bisa tidur, dia rindu pelukannya Hanna.
“Sayang, aku merindukanmu,” gumamnya, dalam bayangannya muncul saat terakhir Hanna meninggalkannya, ciumannya masih terasa di bibirnya, sentuhan jarinya masih terasa diwajahnya.
Melihat Hanna pergi meninggalkannya, keluar dari rumah ini mengingatkannya saat-saat terakhir berpisah dengan ibunya yang terasa menyesakkan dada, rasa itu kini terasa kembali, rasa sakit ditinggalkan orang-orang yang dia cintai.
***********