
Hanna berdiri didepan Damian, menghalangi antara Damian dan Maria.
“Meskipun kau laki-laki tapi aku tidak mau kau mencium suamiku!” kata Hanna sambil bertolak pinggang.
Damian menggaruk-garuk kepalanya sambil melirik pada Maria, istrinya itu belum tahu kalau Maria wanita tulen.
Maria tampak memberengengut mendengar perkataannya Hanna. Bukan karena tidak boleh mencium Damian, masalahnya dia tidak suka di dikira transgender.
“Aku bukan laki-laki! Aku tidak suka kau menyebutku laki-laki!” hardik Maria. Mendengar perkataan Maria membuat Hanna terkejut.
“Apa maksudmu kau bukan laki-laki?” tanya Hanna, menatap Maria lalu pada Damian yang melengos pergi. Hanna akan menarik tangannya tapi Damian terlanjur pergi.
“Damian!” panggil Hanna, lalu menoleh pada Maria.
Hanna kembali melihat Maria dari atas sampai bawah. Maria gadis cantik yang sexy dengan tubuhnya bodygoalnya, ternyata dia wanita tulen, jadi ternyata Damian membohonginya dan..dan ..dia percaya saja dengan perkataannya Damian?
“Damiaaaan!” teriak Hanna, ternyata pria itu sudah berjalan menaiki tangga.
“Damiaaaan! Jangan lari! kau sudah membohongiku!” teriak Hanna, diapun langsung berlari mengejar Damian.
“Awas kau ya! Kau membohongiku! Damian! Awas kau! Aku marah padamu!” teriak Hanna.
Karena melihat Hanna mengejarnya, Damianpun berlari menghindarinya. Ternyata Hanna terus mengejarnya.
“Kau mau kabur ya? Kau mau beralasan apa lagi? Kau berbohong padaku sekian lama! Awas kau ya!” teriaknya sambil mengejar Damian ke lantai atas.
Maria mengerjapkan matanya melihat dua orang itu yang masih kejar-kejaran. Dilihatnya kado yang ada ditangannya. Ternyata kedatangannya sia-sia
“Tunggu Damian! Kau membohongiku!” Hanna terus berteriak sambil mengejar Damian.
Yang dikejarnya malah masuk ka dalam kamar dan akan menutup pintunya, Hanna langsung mendorong pintu itu yang juga ditahan oleh Damian, mereka jadi beradu kekuatan saling dorong dipintu.
“Aku menuntut penjelasan darimu!” teriak Hanna.
“Penjelasan apa?” tanya Damian sambil akan menutup pintu tapi Hanna kembali mendorongnya, Damianpun menahannya jangan sampai Hanna masuk.
“Apa maksudmu kau membohongiku? Ternyata Maria seorang wanita, kau berbohong padaku! Dia wanita disetiap kotamu itu kan?” teriak Hanna.
“Aku hanya berteman!” jawab Damian, masih mencoba menutup pintu, Hanna kembali mendorongnya dan Damian menahannya lagi.
“Ternyata kau memiliki wanita ditiap kota! Kau sudah membohongiku! Kau sengaja berbohong padaku supaya aku tidak curiga dan kau bebas berkencan kan? Aku membencimu Damian!” teriak Hanna.
“Sudah aku katakan aku cuma berteman dengan Maria!” kata Damian.
“Kalau berteman kenapa kau mengatakan dia laki-laki?” tanya Hanna, kepalanya menyembul dipinggir pintu yang terbuka sedikit.
“Aku tidak mau kau cemburu!” jawab Damian.
“Alasan! Kau bilang begitu supaya kau bebas berduaan dengannya kan?” teriak Hanna.
“Tidak! Bukan begitu!” jawab Damian.
“Kau berbohong padaku! Aku tidak suka!” teriak Hanna, sambil kakinya menendang pintu membuat Damian terkejut dan pintu terdorong kedalam. Karena gerakan yang tiba-tiba itu membuat Damian kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.
DUG! GUBRAG! GEDEBUG! Tubuh Damian terjatuh ke lantai.
Ternyata bukan Damian saja yang terjatuh, karena Hanna menendang pintu dengan keras dan tidak menyangka kalau Damian tidak menahannya diapun hilang keseimbangan terjatuh ke depan dan BRUG! Tubuhnya menimpa tubuhnya Damian tepat diatasnya.
Damian yang baru saja terjatuh ditambah lagi dengan beban yang menimpa tubuhnya meringis menahan sakit, tapi dia terkejut saat benda yang jatuh keatas tubuhnya adalah istrinya.
Dua pasang mata bertatapan dengan rasa terkejut mereka.
“Sayang, ini posisi yang bagus,” ucap Damian.
“Tidak ada posisi yang bagus! Aku membencimu!” teriak Hanna menyadarkan Damian. Hanna langsung bangun dan merapihkan rambut juga bajunya.
“Aku akan mengusir wanita itu!” ucap Hanna.
“Jangan!” larang Damian, sambil mencekal tangan Hanna, diapun ikut bangun.
“Kenapa? Aku tidak mau wanita-wanitamu bergentayangan dimana-mana!” maki Hanna.
“Dia temanku, kau lihat apa yang dia bawa? Dia pasti membawa kado hadiah pernikahan kita!” kata Damian.
Hanna menepiskan tangannya Damian.
“Kau menyukai wanita itu kan? Kau bilang dia cantik, tubuhnya bagus, Huh!” omel Hanna.
Damian segera berdiri dan memegang tangannya Hanna.
“Aku hanya bercanda. Kami cuma berteman, aku juga sudah tidak mau dia mencium pipiku,” jawab Damian.
“Kenapa?” tanya Hanna.
“Aku hanya mau kau saja yang menciumku,” jawab Damian, membuat hati Hanna sedikit berbunga-bunga dalam hati. Sedikit ya hanya sedikit! Hanna masih kesal.
“Damian!” terdengar suara Maria memanggil dari bawah.
“Aku akan mengusirnya!” ujar Hanna akan beranjak tapi tangannya ditahan lagi Damian.
“Jangan! Dia temanku! Dia juga yang menemaniku saat di Bali kemarin!” kata Damian.
“Apa? Kau kemarin ke Bali dan diditemaninya?” tanya Hanna terkejut mendengarnya, matanya membelalak menatap Damian
“Kau tidak jujur padaku, Damian!” keluh Hanna.
“Aku minta maaf, tapi benar, Maria adalah temanku,” jawab Damian.
“Apa kau tidur dengannya?” tanya Hanna.
“Apa? Tidur? Tidak, dia temanku, sungguh dia temanku,” jawab Damian mencoba meyakinkan Hanna.
Hanna memberengut, dia belum percaya seratus persen. Dia masih ingat saat pertama kali melihat Damian pergi dengan Maria, pria itu memeluk pinggangnya yang ramping, membukakan pintu mobil buat Maria, dan mereka pergi bersama, dia sangat cemburu waktu itu. Maria sangat cantik, siapa pria yang tidak akan tergoda?
“Damian! Kalau aku mengganggumu, aku akan pulang! Aku simpan kadonya dimeja ya!” terdengar suara Maria lagi.
“Tunggu! Jangan pulang dulu!” teriak Damian, dan langsung bergegas turun meninggalkan Hanna yang masih mematung.
Dengan hati yang kasal, Hanna pun mengikuti langkah suaminya. Dia benar-benar kesal Damian membohonginya, sampai membanding-bandingkan kecantikannya dengan kecantikan Maria segala yang katanya adalah laki-laki saja cantik, membuat hatinya semakin sebal saja.
“Ada apa? Aku mendengar suara yang jatuh!” kata Maria saat Damian menghampirinya.
Hanna menuruni tangga rumah perlahan, matanya melihat pada Damian dan Maria yang sedang bercakap-cakap. Wajah Hanna langsung ditekuk saja, saat menyadari betapa cantiknya Maria. Rasanya tidak percaya kalau Damian tidak menyukai Maria.
“Aku membawakan kado pernikahan kalian. Maaf aku tidak datang, kau memberitahuku dadakan,” kata Maria, sambil memberikan kado yang ada ditangannya yang segera diterima Damian.
Hanna masih memberengut menghampiri mereka. Damian menoleh pada istrinya itu.
“Sayang, Maria memberikan kado pernikahan buat kita,” kata Damian, sambil menyodorkan kado itu pada Hanna.
“Simpan saja dimeja!” ucap Hanna dengan ketus, sebal dia melihat Damian akrab dengan wanita lain.
Maria terdiam melihat sikap Hanna itu.
“Baiklah,” ucap Damian sambil menyimpan kado itu di atas meja.
“Terima kasih kadonya, Maria!” kata Damian, kembali menoleh pada Maria.
Mata Hanna tertuju pada sebuah kaca jendela, tidak sengaja dia melihat Maria dan dirinya yang berdiri berhadapan saat Damian menyimpan kado itu. Ada rasa tidak nyaman dalam dirinya. Kaca itu seolah membandingkan dirinya dan Maria, gadis yang sangat cantik, dia saja yang perempuan mengatakan dia cantik apalagi laki-laki?
“Apa kau mau minum?” tanya Damian, sambil berjalan ke ruangan lain menuju dapur mini, dia langsung mengambilkan minuman buat Maria yang juga mengikuti langkahnya. Hanna menoleh pada mereka.
“Kapan kau datang?” tanya Maria sambil menerima minuman dari Damian.
“Sebenarnya kami baru datang,” jawab Damian.
“Oh kalau begitu aku benar-benar mengganggu kalian,” ucap Maria.
“Tidak, tidak apa-apa,” ucap Damian.
Mendengar perkataan Damian membuat Hanna semakin kasal. Tadi saat belum tahu Maria yang datang Damian mengomel tapi sekarang bilang tidak apa-ap, benar-benar laki-laki tidak teguh pendirian, runtuknya dalam hati.
“Sayang!” panggil Damian, menoleh pada istrinya yang hanya diam berdiri dengan bibir mungilnya yang memberengut, membuatnya ingin mencium bibir itu..
Hanna menghampiri sambil menatap Maria.
“Mau apa kau kemari? Mengganggu kami saja!” tanya Hanna sambil menghampiri.
“Hanna, Maria ini temanku,” kata Damian. Hanna masih memberengut.
“Maaf kalau aku mengganggu. Aku baru kemari karena mendengar kalian sudah menikah. Soalnya aku juga mau sekalian berpamitan,” ucap Maria.
“Berpamitan kemana?” tanya Damian.
“Aku akan mempersiapkan pernikahanku di Paris,”jawab Maria. Jawabannya itu membuat Damian terkejut juga Hanna.
“Kau serius akan menikah?” tanya Damian.
“Iya, kau juga kan sudah menikah, buat apa aku menunggumu?” jawab Maria sambil tertawa, begitu juga Damian tapi tidak dengan Hanna. Dia merasa tidak lucu dengan perkataannya Maria itu, dia juga tidak suka suaminya tertawa seakrab itu dengan wanita lain.
“Sepertinya calon suamimu sudah menunggumu. Kau tidak bisa lama-lama disini,” kata Hanna, seolah olah mengusir Maria.
Damian menoleh pada istrinya.
“Sayang, Maria baru tiba,” ucap Damian, dia tahu istrinya masih marah.
“Tidak apa-apa, istrimu benar, aku hanya mampir sebentar, aku akan segera berangkat sore ini,” kata Maria.
“Baiklah,” ucap Damian. Maria mendekati Damian akan memeluknya, tiba-tiba Hanna menghalanginya.
“E e ee. tidak ada peluk pelukan!” kata Hanna, melipat kedua tangannya di dadanya. Melihat sikap Hanna begitu, Maria terdiam.
“Maaf, aku pulang sekarang, Damian!”Pamit Maria.
“Baiklah,” ucap Damian, merekapun berjalan menuju pintu rumah, bahkan Damian mengantar Maria sampai ke mobilnya.
Hanna berdiri dipinggir pintu yang terbuka memperhatikan mereka.
Damian menoleh pada istrinya saat mobilnya Maria meninggalkan halaman rumah mereka. Hanna langsung menutup pintu rumahnya.
BRUG! Terdengar suara pintu ditutup begitu keras. Damian hanya menghela nafas melihatnya.
************