
Beberapa hari kemudian disebuah mall…
Henry duudk berhadapan dengan seorang gadis cantik yang wajahnya terlihat masih pucat.
“Selama aku dirumah sakit kau sama sekali tidak menengokku,” kata gadis itu.
“Aku sibuk,” jawab Henry, pendek.
“Kau sama sekali tidak perhatian padaku,” kata gadis itu lagi.
“Dengar Andrea, aku sudah berapakali mengatakan aku tidak bisa menjadi pacarmu, aku tidak mencintaimu,” ucap Henry.
“Tapi aku sangat mencintaimu, Henry,” kata Andrea.
“Sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi, karena malah menimbulkan kesalah fahaman. Orang-orang menganggap kita benar-benar pacaran,” ucap Henry.
“Tidak bisa Henry, aku tidak mau kita putus,” ucap Andrea sambil memegang tangannya Henry.
“Kau jangan membuang-buang waktumu untuk besamaku,” kata Henry.
“Aku tidak mau putus Henry,” ucap Andrea lagi terus memegang tangannya Henry.
Henry sudah berulang kali menolaknya tapi Andrea terus mengejar-ngejarnya. Akhirnya Henry diam, kenapa begitu susah melepaskan wanita ini?
“Sebaiknya kau pulang saja aku tidak akan mengantarmu, aku akan kembali ke kantorku,” kata Henry.
Andrea menatap Henry dengan lesu, kenapa begitu sulit menaklukkan hatinya Henry. Akhrinya diapun mengangguk.
“Kau yang bayar kan,” kata Henry pada Andrea sambil dia juga beranjak, dan begitu saja meninggalkan Andrea yang menatapnya dengan kesal.
“Kalau kau tidak tampan dan tajir, malas aku harus mengemis-ngemis cintamu,” batinnya, sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.
Henry berjalan menyusuri lorong matanya menoleh kearah lain dan dia melihat sebuah drama terulang lagi seperti yang direstaurant itu, diapun menghentikan langkahnya.
“Aku adalah pacarnya Fery,” kata gadis itu berdiri di sebuah meja kedai bakso. Henry mengerutkan dahinya, itu kan gadis yang menjual jasa pemutus cinta itu, tidak disangkanya melihat lagi gadis itu, fikirnya.
“Apa? Jadi kau berselingkuh?” tanya gadis yangs sedang duduk dengan seorang pria.
“Maaf sayang, aku…”
“Stop! Jangan bicara lagi! Dasar pria hidung belang!” maki gadis itu.
Tapi ternyata semua tidak sesuai dengan yang dikira. Tiba-tiba seorang gadis masuk ke kedai itu dan melihat ada kejadian ribut-ribut itu, dia langsung menghampiri Shezie.
“Hei jadi kau pacaran juga dengan pria lain?” maki gadis itu.
Shezie yang tiba-tiba mendapat makian tampak terkejut dan menatap gadis itu. Dia mengingat-ingat siapa gadis itu.
“Apa kau tidak punya kerjaan selain menjadi selingkuhan?” maki gadis itu lagi.
Gadis yang duduk tadi keheranan melihat gadis selingkuhan pacarnya dimaki orang lain.
“Ada apa ini?” tanyanya sambil berdiri.
“Wanita ini juga selingkuhan pacarku!” jawab gadis yang datang itu.
“Apa? Jadi dia memang suka menyelingkuhi pacar orang?” tanya gadis itu lalu merekapun memaki-maki Shezie dengan kata-kata yang tidak pantas , tapi Shezie tampak tidak bergeming, dia masih percaya diri. Diapun menoleh pada gadis yang memakinya itu.
“Aku sudah putus dengan pacarmu, sekarang aku pacaran dengan Fery,” ucap Shezie sambil menoleh pada pria yang sedang duduk itu.
Gadis yang duduk itu menatap Fery.
“Kita putus!” ucapnya lalu meraih tasnya beranjak meninggalkan Fery.
Gadis yang memaki Shezie menatap Shezie sebentar, mencibir lalu pergi.
Shezie menoleh pada Fery, setelah gadis-gadis itu pergi.
“Ini bayaranmu! Urusan kita selesai!” kata Fery sambil mengeluarkan amplop dari sakunya lalu diberikan pada Shezie.
Tanpa bicara lagi, Shezie keluar dari counter bakso itu sambil memegang amplopnya yang tebal itu sambil tersenyum, dia tidak peduli tadi dimarahi gadis- gadis itu yang penting dia mempunyai uang.
“Hem sepertinya kau akan cepat kaya!” Tiba-tiba terdengar suara di samping Shezie.
Shezie menoleh kearah suara tenyata pria yang pernah ditemuinya diretaurant itu sedang berdiri bersandar di tembok sambil melipat kedua tangan didadanya.
“Kau mengejekku lagi?” tegur Shezie.
“Apa kau tidak bisa bekerja selain berpura-pura jadi pacar orang lain?” tanya Henry.
Shezie menghampiri Henry.
“Dengar, pekerjaan ini sangat mudah dan uangnya juga besar,” kata Shezie.
“Kau benar, bisa dibayangkan pasti uangmu sudah bertumpuk-tumpuk,” ucap Henry.
“Tentu saja. Hei, aku sudah memberimu kartu nama, kenapa kau tidak menelponku?” tanya Shezie, menatap Henry.
“Buat apa?” tanya Henry.
“Tentu saja untuk memutuskan pacarmu itu, “ kata Shezie.
“Pacar yang mana?” tanya Henry.
“Itu, gadis yang bersamamu tadi,” kata Shezie, tadi dia juga sempat melihat Henry bersama dengan seorang gadis.
“Masa sih? Kau ingin memutuskannya? Pakai jasaku saja! Aku jamin berhasil!” tawar Shezie.
“Tidak perlu, aku bisa memutuskannya sendiri,” ucap Henry.
“Yakin begitu? Aku bisa melihat dia tidak mau diputuskan kan! Dia akan terus terusan menghubungimu, siang malam, dia akan terus mengganggumu,” hasut Shezie.
Henry tergoda sejenak, Shezie benar, padahal dia sudah begitu tidak peduli dengan Andrea, tapi gadis itu masih saja mengejar-ngejarnya, padahal dia juga sudah membuat Andrea masuk rumah sakit karena diacuhkannya, tapi masih tidak mau putus juga.
“Bagaimana?” tanya Shezie.
Henry menatap Shezie, mereka jadi saling bertatapan.
“Kau tenang saja, aku akan memberimu diskon,” kata Shezie.
“Diskon? Memangnya berapa tarifmu?” tanya Henry jadi penasaran.
“Sini, sini, sini, kita ngobrol disini!” kata Shezie sambil menarik tangannya Henry ke sebuah kursi di counter minuman. Diapun langsung memesan teh botol dua.
Henry dan Shezie duduk berhadapan, wanita yang berjualan minuman itu menyimpan dua botol minuman diatas meja.
“Tarifku, 5 juta!” kata Shezie.
“Apa? 5 Juta? Mahal amat! Pekerjaanmu cuma aku adalah pacarnya Fery, cuma begitu saja, 5 juta!” cibir Henry.
“Dengar, pria-pria itu orang kaya, uang 5 juta apasih artinya? Lagi pula aku butuh beli baju sepatu supaya terlihat cantik dan meyakinkan,” kata Shezie, sambil membetulkan tali gaunnya dan tersenyum manis lalu menyibakkan rambut ikalnya yang panjang bergaya menggoda.
Henry menatap Shezie, memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
“Kenapa?” tanya Shezie, kembali menghadap Henry dengan serius.
“Apa cantiknya?” jawab Henry.
“Kau! Aku cantik!” bentak Shezie dengan kesal dia langsung cemberut.
“Standar!” jawab Henry, semakin membuat Shezie sebal.
“Aku merasa tidak yakin kau akan berhasil memutuskan Andrea, kau saja kalah cantik dari Andrea, dia tidak akan percaya kau selingkuhanku,” kata Henry, mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau ini benar-benar keterlaluan! Kau meragukan keahlianku! Wanita yang kau bilang standar ini sudah memutuskan banyak pasangan! Mereka percaya aku selingkuhan pacarnya! Aku pekerja yang profesional!” seru Shezie.
“Apa benar begitu?” Henry masih tidak percaya.
“Kalau tidak percaya, ayo kita coba memutuskan pacarmu!” kata Shezie.
“Tidak, aku tidak mau mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak penting,” jawab Henry.
“Aku discount deh,” seru Shezie.
“Discount?” tanya Henry.
“Iya, tarifku 5jt. Di discount jadi 4,5 jt,” jawab Shezie.
Henry kembali mencibir.
“Hah, hanya buang uang-uang saja!” keluh Henry, sambil beranjak.
“Banyak yang sudah memakai jasaku! Kau harus percaya aku bisa memutuskanmu dari pacarmu!” seru Shezie, dia juga berdiri menatap Henry.
“500ribu! Jadi!” jawab Henry membuat Shezie terkejut dan menatapnya tidak percaya.
Shezie melihat Henry dari atas sampai bawah. Stelan jasnya yang bermerk dan sepatunya yang mengkilat terlihat sangat mahal. Dilihat dari wajahnya yang tampan dan penampilannya kelihatan dia orang kaya, wajah itu terlihat begitu kelimis dan terawat.
“Kau tidak pura-pura kaya kan? Masa membayarku 500 ribu? Yang benar saja!” gerutu Shezie.
Henry menatap Shezie.
“Pekerjaanmu hanya mengatakan aku pacarnya Henry, Cuma ngomong begitu doang! Cukuplah 500ribu!” kata Henry.
“Jadi namamu Henry?” ucap Shezie.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang.
“Maaf mba, mau pergi ya? Dibayar dulu minumannya!” kata wanita itu.
Shezie beru teringat tadi dia memesan minuman teh botol.
“Dia yang bayar!” kata Henry sambil beranjak akan pergi. Shezie tambah terkejut lagi,
“Masa aku yang bayar?”tanya Shezie.
“Kau kan yang memesan, aku tidak!” jawab Henry lalu meninggalkan Shezie, membuat Shezie kesal, terpaksa dia mengeluarkan uangnya dan diberikan pada wanita itu.
“Minumannya dibungkus plastic saja,” ucap Shezie. Wanita itu mengangguk dan memindahkan minuman botol ke dua kantong plastic.
Shezie menerimanya sambil menoleh kearah Henry, ternyata pria itu keluar dari mall, diapun segera mengejarnya.
“Hei tunggu!” teriak Shezie sambil berlari mengejar Henry.
Henry mengabaikan teriakan Shezie dan terus saja menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir.
**************