Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-77 Sulitnya mendapat restu



Pagi ini dirumahnya bu Vina tampak banyak kedatangan tamu. Martin membawa orangtuanya dan dua orang lagi pria yang tidak dikenal.


“Maaf kondisiku sedang tidak baik,” kata Bu Vina, yang duduk ditemani Bi Ijah.


Ibunya Martin langsung mecibir saja melihat keadaan Bu Vina yang sedang tidak bisa melihat. Aku bukan ancaman Martin, malas dia juga berbesanan dengan Bu Vina.


“Kami mendengar kalau Shezie ternyata sudah menikah dengan orang lain, kami sangat kecewa,” kata ayahnya Martin.


Mendengarnya membuat Bu Vina terkejut, wajahnya langsung pucat saja.


“Kami merasa dirugikan dan kami sangat malu, ternyata kalian sudah mempermainkan kami, kami sangat terlambat mengetahui hal ini,” ucap ibunya Martin.


“Kami sudah terlanjur mengundang keluarga besar dan rekan bisnis kami kalau Martin akan menikah dengan Shezie, bahkan Martin sudah meminta WO untuk mempercepat pernikahannya, bagaimana ini? Ibu tidak punya tanggung jawab sama sekali,” kata ayahnya Martin dengan kesal.


“Kami ingin ibu meminta Shezie bercerai dan menikah dengan Martin secepatnya atau kami akan menggunakan jalur hukum karena pencemaran nama baik,” kata ibunya Martin, semakin membuat Bu Vina Shock.


“Saya minta maaf atas kesalahan putri saya, saya minta waktu untuk bicara dengan Shezie supaya mengurus perceraiannya secepatnya,” kata Bu Vina.


“Kalau kau tidak punya uang untuk mengurus perceraiannya, kami sudah menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya Shezie,” ujar ibunya Martin.


Bu Vina terdiam, dia bukannya tidak meminta Shezie bercerai tapi putrinya itu bersikukuh melanjutkan pernikahannya dengan Henry.


“Tinggal ibu pilih saja, mengurus perceraian Shezie secepatnya, atau kami lapor ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan  dan pencemaran nama baik,” kata ibunya Martin, sambil bangun dari duduknya.


“Ayo Pak kita pulang sja, buat apa berlama-lama di tempat ini?” ajak ibunya Martin sambil manarik tangan suaminya.


Ayahnya Martinpun bangun dair duduknya diikuti oleh dua orang pengacara itu.


“Martin, ayo pulang! Buat apa tinggal disini?” ajak ibunya.


Bu Vina sangat shock mendapatkan ancaman dari orangtuanya Martin. Dia sudah kehilangan akal untuk meminta Shezie bercerai. Dia merasaka tubuhnya semakin lemah, fikirannya kacau, dadanya kembali sesak dan kepalanya semakin terasa berat.


Martin tersenyum melihat keadaan Bu Vina yang shock dan tertekan. Dia sudah tidak sabar ingin memenangkan permainan ini. Diapun beranjak mengikuti langkah kaki orang tuanya, meninggalkan rumahnya Shezie.


“Bu, ibu istirahat saja,” kata Bi Ijah.


Bu Vina tidak menjawab, dia hanya menangis saja, dia kecewa pada Shezie yang tidak menurut perkataannya untuk menikah dengan Martin.


Terdengar beberapa langkah memasuki teras.


“Bu! Bagaimana keadaan ibu Kita ke rumah sakit sekarang ya Bu,” seru Shezie masuk kedalam rumah dan langsung bersimpuh di kaki ibunya.


Bu Vina terdiam mendengar suara Shezie mendekat dan meraba kakinya. Tidak ada yang diucapkan Bu Vina, dia hanya diam mengetahui kedatanagn Shezie. Dia sudah lelah dengan semua ini.


Shezie melambaikan tangannya didepan ibunya yang hanya diam saja, airmata terus mengalir deras melihat ibunya sudah tidak bisa melihat.


 Sepertinya tadi ada tamu!” terdengar suara Shezie yang datang bersama Henry, dia sempat melihat mobilnya Martin meninggalkan halaman rumahnya.


“Bu, kita ke rumah sakit sekarang,” ajak Shezie.


Bu Vina tidak bereaksi apa-apa, masih diam saja mematung.


 “Bi, kenapa ibu Bi?” tanya Shezie dengan matanya yang sudah penuh dengan airmata, dia merasa khawatir pada ibunya.


“Ibu sudah tidak bisa melihat non dari kemarin non,” jawab Bi Ijah.


“Bu, ayo kita kerumah sakit, aku tidak mau terjadi apa-apa pada ibu,” bujuk Shezie.


Bu Vina masih tidak mau bicara, hanya memegang dadanya yang terasa semakin sakit.


“Tadi juga ada orang tuanya Pak Martin non,” kata Bi Ijah.


“Mereka mau apa?” tanya Shezie.


“Mereka minta supaya Bu Vina mengurus perceraian non secepatnya atau akan melaporkan Bu Vina ke polisi karena perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik,” kata Bi Ijah, membuat Shezie terkejut.


“Apa? Mereka berani berbuat begitu?” Shezie menoleh pada Henry yang masih berdiri menatapnya.


“Berani sekali mereka mengganggu ibumu,” ujar Henry merasa kesal dengan kelakuannya Martin.


“Itu semua karena kalian, kalian yang membuat semuanya jadi berantakan!” tiba-tiba Bu Vina bicara.


Shezie dan Henry menatap Bu Vina.


“Kalau kalian tidak mempermainkan Martin, keluarga Martin juga tidak akan melakukan ini!” maki Bu Vina lagi.


“Bu, aku minta maaf, masalahnya aku mencintai Henry Bu, aku tidak menyukai Martin, dia pria yang tidak baik,” kata Shezie.


“Sudah. Aku tidak mau berdebat lagi, sebaiknya kalian pergi,” usir Bu Vina.


“Bu, jangan begitu, kami kesini mau membawa ibu kerumah sakit,” ucap Shezie, menahan sakit atas pengusiran ibunya.


 “Jangan mengurusiku lagi, Pergilah!“ Bu Vina masih mengusir Shezie.


“Bu jangan  begitu Bu, aku khawatir dengan keadaan ibu. Aku tidak ingin meninggalkan ibu,” ujar Shezie.


“Kau sudah menyakiti ibu, Shezie,” ucap Bu Vina.


“Tolong maafkan aku Bu,” pinta Shezie.


Henry menghampiri dan berjongkok disamping Shezie di depan Bu Vina.


“Soal ancamannya Henry, biar aku yang tangani, ibu tenang saja, Ibu ikut kami ke rumah sakit sekarang,” ujar Henry.


“Bi, Bi ijah, bawa aku kamar, “ kata Bu Vina, tangannya menggapai-gapai mencari tangan Bi Ijah yang segera memegangnya.


Shezie menatap ibunya dengan sedih tidak tega melihat ibunya sudah tidak bisa melihat tapi tidak mau berobat. Diapun mengejar ibunya yang berjalan menuju kamarnya.


“Bu, aku minta maaf, aku tidak mau jadi anak yang durhaka, katakan aku harus melakukan apa supaya ibu mau berobat? Aku ingin ibu sembuh,” kata Shezie. Diapun bersimpuh dilantai, dengan kepala menunduk dan airmata yang terus menetes dipipinya.


Henry berdiri mematung melihat Shezie yang bersimpuh dilantai. Dia merasa sedih, begitu sayangnya Shezie pada ibunya, kenapa ibunya tidak mau mengerti juga? Apa dia benar-benar tidak bisa dimaafkan? Apakah Martin memang lebih baik darinya?


 “Pergilah aku tidak mau dikasihani,” ucap ibunya Shezie.


“Aku tidak akan bangun sebelum ibu mau memaafkanku dan mau ke rumah sakit,” kata Shezie.


 “Bu, tolong aku ingin bicara,” kata Henry pada ibunya Shezie.


Bu Vina menghentikan langkahnya, tangannya memegang pintu kamarnya.


“Aku benar-benar minta maaf telah membuat semua ini jadi kacau, aku menikahi Shezie tanpa restumu. Percayalah Shezie sangat menyayangi ibu, dia melakukan semua ini karena dia sangat menyayangi ibu.Tolong maafkan kami,” kata Henry.


“Apa kau mencintai putriku?” tanya Bu Vina.


“Iya,  aku sangat mencintai putrimu. Ibu jangan khawatir, aku akan menyayanginya sepenuh hatiku, aku akan membahagiakannya,” jawab Henry.


“Kau ingin aku maafkan?” tanya Bu Vina lagi.


“Iya,” jawab Henry.


“Kalau begitu, tinggalkan Shezie,” kata Bu Vina.


“Apa?” Henry terkejut begitu juga Shezie.


“ Ibu memaafkan kami tapi aku harus meninggalkan Shezie?” tanya Henry terkejut.


“Bu, aku mencintai Henry Bu, itu sama saja dengan ibu tidak memaafkan kami,” seru Shezie.


“Bu, kalau masalahnya Martin, biar aku yang mengurusnya, aku tidak mau bercerai dari Shezie. Kami baru menjalani hari-hari kami menjadi suami istri, aku hanya ingin ibu merestui kami,” kata Henry.


Bu Vina tidak menjawab lagi, dia melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya.


“Bu, jangan dulu membicarakan ini, yang penting sekarang ibu ikut kerumah sakit, supaya ibu


bisa melihat lagi, aku khawatir kondisi ibu semakin memburuk,” piñta Shezie.


“Kalau kau masih menganggap aku ibumu, kau harus mengurus perceraianmu secepatnya atau biarkan ibumu ini membusuk dipenjara,” jawab Bu Vina, tangannya akan menutup pintu kamarnya.


“Tapi Bu, aku mencintai Henry Bu,” ucap Shezie.


Bu Vina tidak menjawab lagi dia menutup pintu kamarnya.


Shezie masih bersimpuh di lantai, hanya bisa melihat pintu kamar ibunya yang terutup. Henry memeluk bahunya Shezie.


“Bangunlah sayang, kita bicara,”ajak Henry. Shezie menatap Henry dengan taatpan yang kosong, begitu sulitnya mendapatkan maaf dari ibunya.


“Ayo bangunlah.” Henry mengajak Shezie duduk di sofa, diapun duduk disampingnya. Menatap wanita yang dicintainya itu. Jari-jarinya mengusap pipi Shezie yang basah.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Shezie menatap Henry.


 “Ibu tidak mau berobat, aku tidak mau kehilangan ibu,” ujar Shezie.


“Sepertinya aku harus mengurus Martin supaya dia tidak menekan ibu lagi,” kata Henry.


“Jangan membuat rusuh suasana Henry, orang tuanya akan melaporkan ibu ke polisi. Aku takut Martin jadi nekat menjebloskan ibu ke penjara. Aku tidak tega melihat ibu yang tidak bisa melihat mendekam dipenjara,” kata Shezie menggelengkan kepalanya.


“Tapi kita bisa biarkan Martin seenaknya begini. Kalau kau memang menolaknya, dia tidak boleh memaksa. Martin biar aku urus,” ujar Henry, wajahnya berubah masam, terlihat kalau dia mulai kesal.


“Masalahnya aku tidak mau apa yang kau lakukan malah membuat ibu semakin tidak merestuimu. Kau dengarkan tadi permintaan ibu apa? Ibu ingin kau meninggalkanku,” kata Shezie.


Henry tidak bicara lagi, kenapa semua ini begitu rumit? Ternyata menikah tidak hanya cukup sama-sama suka dua insan yang mencintai.


 “Henry aku ada permintaan padamu,” kata Shezie, menatap Henry.


“Apa sayang?” tanya Henry.


“Bolehkan aku tinggal beberapa hari disini, aku ingin membujuk ibu berobat,” pinta Shezie.


Henry menatap SHezie, entah kenapa dia merasa khawatir meninggalkan Shezie disini.


 “Tapi sayang aku merasa khawatir kau tidak bersamaku,” ujar Henry.


“Aku hanya membujuk ibu supaya mau berobat, boleh ya,” pinta Shezie.


Henry menatap istri tercintanya.


“Baiklah, tapi ponselmu harus selalu aktif supaya aku bisa menghubungimu,” kata Henry. Tangannya mengusap rambutnya Shezie, lalu mencium keningnya.


“Aku juga akan menelpon ayah dan ibu, kalau bisa mereka pulang secepatnya aku akan minta mereka pulang. Aku ingin ayah dan ibu melamarmu pada ibumu. Mungkin dengan begitu, ibumu percaya kalau aku menikahimu dengan benar,” kata Henry.


Shezie tersenyum mendengarnya, diapun mengangguk dan langsung memeluk Henry.


************