Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-95 Tidak bisa berpaling



Terdengar suara ketukan pintu di rumahnya Shezie. Bi Ijah membukakan pintu itu, Martin sudah berdiri disana dan langsung masuk saat pintu terbuka.


“Panggilkan Shezie!” ucap Martin dengan nada ketusnya. Bi Ijah mengangguk, dia kurang menyukai pria itu yang terlihat sangat congkak.


Bi Ijah mengetuk pintu kamarnya Shezie beberapa kali.


“Non, Pak Martin sudah datang,” kata Bi Ijah


“Ya Bi, sebentar lagi aku keluar, makasih,” jawab Shezie dari dalam kamarnya.


Martin menunggu diruang tamu tanpa duduk, dia hanya berdiri saja mematung dengan tidak sabar menunggu Shezie menemuinya, sesekali dilihatnya jam tangannya, ini sudah melebihi jam makan malam.


Terdengar langkah sepatu menghampirinya, diapun menoleh kearah suara. Martin tertegun sesaat melihat Shezie sudah berdandan cantik untuk menemaninya makan malam sekarang. Tidak sia-sia dia berjuang keras untuk mendapatkannya.


“Kau sangat cantik,” puji Martin.


“Terimakasih,” jawab Shezie.


Martin mengulurkan tangannya pada Shezie, dengan berat hati dia menerima ulurannya Martin, meskipun itu bertolak belakang dengan hatinya tapi dia harus melakukannya, dia harus membiasakan keberadaan Martin di sisinya. Setiap kali memikirkan hal itu setiap kali ada perasaan sedih muncul dihatinya, sedih berpisah dengan Henry.


Merekapun menuju mobilnya Martin yang diparkir dipinggir jalan raya.


“Kita akan kemana?” tanya Shezie saat sudah berada dialam mobil.


“Kita cari makan, tapi aku belum reserve apa tempatnya  penuh atau tidak, sekarang weekend, semoga tidak penuh kita sudah terlamat dari jam makan malam,” jawab Martin.


Cukup lama mereka dijalanan karena di jalan juga sangat ramai malam itu.


Martin sesekali melirik Shezie yang tidak bicara sepatah katapun hanya menatap keluar. Martin merasa senang akhirnya Shezie bisa lepas dari Henry, dan dia akan menuju pernikahannya tanpa ada kendala lagi.


Sampailah mereka ditempat yang dituju. Benar saja halaman parkir sudah penuh.


“Sepertinya sudah penuh, kalau penuh kita cari tempat lain saja,” kata Martin sambil mematikan mobilnya.


Sheziepun turun dari mobilnya Martin, benar saja halaman penuh sepertinya didalam juga penuh.


“Ayo!” ajak Martin, meraih tangannya Shezie mengajak masuk ke dalam.


“Apa masih ada meja kosong?” tanya Martin pada seorang pelayan.


“Ada Pak, tapi hanya tinggal satu meja, sudah full,” jawab pelayan itu.


“Tidak apa-apa, yang mana saja,” jawab Martin. Diapun mengikuti langkah pelayan itu memasuki restaurant.


“Maaf seharusnya aku memesan dulu tadi,” kata Martin pada Shezie.


“Tidak apa-apa dimana saja,” jawab Shezie.


“Silahkan Pak!” kata pelayan itu berhenti pada tempat yang kosong.


“Terimakasih,” jawab Martin.


“Ditunggu sebentar ya Pak, nanti diambilkan daftar menunya,” kata pelayan itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Shezie tidak langsung duduk, tapi dia mengedarkan pandangannya ke isi restaurant itu. Tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat tidak jauh dari tempat makannya itu pada sebuah meja dengan kursi 6, ada tiga orang pria dan tiga orang wanita.


“Sayang, duduklah!“ kata Martin, tapi Shezie tidak menjawab, dia hanya berdiri mematung melihat kearah mereka.


Martin menoleh kearah pandangannya Shezie, dia juga terkejut melihatnya. Yang Martin kenal adalah Henry dan Andrea, mereka makan malam bersama dengan pria wanita yang lebih tua dari mereka, apakah itu orang tuanya Henry juga orang tuanya Andrea? Diapun langsung tersenyum bahagia, sungguh sangat tidak diduga akan melihat pemandangan itu disini.


Hati Shezie rasanya tersayat-sayat melihat mantan suaminya bersama Andrea, juga mertuanya dan sepasang laki-laki dan perempuan yang mungkin orang tuanya Andrea, ya sepertinya orang tuanya Andrea, karena dia pernah melihat wanita yang duduk dekat Andrea itu di mall.


“Sayang, duduklah!” kata Martin lagi.


Shezie tidak menjawab, diapun duduk dikursi dengan hati yang berkecamuk. Meskipun dia dan Henry sudah bercerai, melihat mantan suaminya itu bersama mantan pacarnya, rasanya hatinya sungguh tidak rela, apalagi mereka bercerai belum lama.


Tapi saat melihat kedepan ternyata ada Martin, dalam hatinyapun berkata apa bedanya dengan dia? Dia juga belum lama bercerai tapi sudah berjalan berdua dengan pria lain bahkan Martin sedang menyiapkan pernikahan mereka.


Shezie menunduk lesu.


“Sayang kau mau makan apa?” tanya Martin, saat pelayan datang membawakan menu.


“Apa saja,” jawab Shezie, sama sekali tidak menoleh.


Rasanya matanya seperti mendadak kena debu dan ingin mengeluarkan airmata, tapi ditahannya. Hatinya terasa tercabik-cabik melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain bahkan bersam mertuanya seakan ada pertemuan yang resmi, apakah Andrea dan Henry juga akan menjalin hubungan yang serius?


“Kau ini kenapa?” tanya Martin, setelah memesan makanan pada pelayan itu.


“Kau lihat mantan suamimu itu? Kau bela-belain dia ternyata dia juga cepat move on darimu,” kata Martin, membuat hati Shezie semakin tersakiti. Apa benar Henry begitu? Apa Henry sudah begitu cepat berpaling darinya?


“Dia itu tetap saja menganggapmu wanita bayaran, jadi kau jangan percaya cinta palsunya, kau hanya buang-buang waktu saja menangisinya,” ucap Martin, saat melihat Shezie mengambil tisu dan melap airmata di pipinya.


“Maaf, aku mau ke toilet,” kata Shezie, langsung bangun dari duduknya, tidak mendengar lagi perkataannya Martin.


Damian dan Pak Yogi tampak mengobrol dengan serius membahas pekerjaan, benar-benar obrolan yang sangat membosankan. Bu Yogi terus saja bicara ini itu hal yang berlebihan yang juga membosankan. Hanna hanya sesekali saja menimpali. Dilihatnya Andrea mencoba lebih perhatian pada Henry yang juga bicara dengan Pak Yogi juga Damian.


“Apa makanmu mau tambah? Aku masih ingat kau suka sekali makanan ini makanya aku memesankannya untukmu,” kata Andrea, sambil menatap Henry.


“Tidak, aku sudah tidak menyukai makanan itu lagi,” jawab Henry.


Andreapun diam, sepertinya Henry menjaga jarak darinya.


Bu Yogi pun ikut menambahkan.


“Maaf, seharusnya tadi Adrea tanya dulu kau mau memesan apa? Ternyata dia masih ingat kesukaanmu padahal kalian sudah putus,” kata Bu Yogi.


“Oh iya kemana tunangannya Andrea? Tidak diajak juga?” tanya Hanna, teringat kata Bu Yogi kalau Andrea itu sudah bertunangan.


“Maaf Andrea dan tunangannya sudah putus,” jawab Bu Yogi, membuat Damian juga menoleh ke arahnya.


“Putus?” tanya Damian.


“Iya Pak, tunangannya Andrea itu ternyata pria yang kasar,” jawab Pak Yogi.


“Aku turut prihatin mendengarnya,” ucap Damian.


“Kau yang sabar ya, percayalah nanti kau pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dari tunanganmu,” kata Hanna menghibur Andrea, menatap gadis cantik itu.


“Iya tante terimakasih,” jawab Andrea.


“Iya sayang, kau harus sabar kau pasti mendapatkan penggantinya yang lebih baik,” ucap Bu Yogi sambil melirik pada Henry yang tampak acuh saja.


Hanna mulai mengerti  kenapa Pak Yogi mengajak mereka sekeluarga untuk makan malam, ternyata Andrea putus dari tunangannya, sepertinya Bu Yogi sudah tahu kalau Henry dan Shezie sudah bercerai, dasar biang gossip cepet saja tahunya.


“Maaf, aku mau ke toilet,” kata Henry seakan ingin menghindari percakapan ini.


Semua orangpun diam. Andrea sudah mengerti kalau Henry mencoba menghidar darinya, diapun kembali makan. Bu Yogi hanya miliriknya sekilas lalu menatap Hanna dan mengajak lagi mengobrol.


Henry berjalan di lorong restaurant itu menuju toilet. Dia merasa sangat gelisah, sedetikpun dia tidak bisa melupakan Shezie. Dia bisa mengerti kalau Andrea masih menyukainya tapi hatinya sudah tertutup dan terisi penuh oleh cintanya Shezie. Diapun terus berjalan dan melihat arah toilet pria dan wanita. Langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang keluar dari toilet perempuan, Shezie.


“Sayang!” panggilnya.


Shezie yang tidak menyangka ada yang memanggil sayang, menoleh kearah yang memanggil. Matanya langsung terhenti pada sosok pria yang sangat dirindukannya itu.


“Henry!” panggilnya, dengan bibir yang bergetar, tidak menyangka Henry akan melihatnya.


Sejenak mereka hanya berdiri saja tidak tahu harus berbuat apa, ini pertama kalinya mereka bertemu setelah resmi bercerai.


“Kau ada disini?” tanya Henry, menghampiri Shezie.


“Iya, aku sedang makan dengan Martin,” jawab Shezie, mengalihkan pandangannya pada Henry seakan tidak mau menatap wajahnya.


Henry melihat ada sesuatu yang aneh, apakah Shezie sudah menangis di toilet? Terlihat matanya sedikit sembab meskipun sudah dirapihkan dengan riasan.


“Sayang, apa kau baik baik saja?” tanya Henry.


“Aku baik-baik saja,” ucap Shezie.


Tapi seketika matanya tidak bisa diajak kompromi langsung saja berlinang airmata kembali. Henry melangkah lebih dekat dan langsung merengkuh bahunya Shezie memeluknya erat. Perlahan tangis Sheziepun tumpah membasahai bajunya Henry.


“Aku sangat merindukanmu,” ucapnya disela isaknya.


“Iya sayang, aku juga,” jawab Henry, semakin erat memeluk Shezie.


“Aku tidak mengerti kenapa kita harus berpisah,” ucap Shezie.


Henry tidak menjawab, dia juga tidak tahu kenapa takdir memisahkannya dengan wanita yang di cintainya.


Shezie mengendurkan pelukannya dan mengangkat wajahnya menatap Henry.


“Apa kau berkencan dengan Andrea?” tanya Shezie.


“Tidak, aku ada urusan bisnis dengan ayahnya,” jawab Henry, membuat Shezie lega, sekarang Henry baru tahu sepertinya itu yang menyebabkan Shezie menangis, Shezie melihat dirinya bersama Andrea.


“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Andrea,” ucap Henry, membuat hati Shezie semakin tenang.


Henry menarik bahu Shezie lagi dan kembali memeluknya.


“Aku selalu mencintaimu,” ucap Henry, merasakan pelukan Shezie semakin erat.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya. Hanna merasa Henry pergi ke toilet terlalu lama dan  membuatnya khawatir  jangan jangan Henry pergi begitu saja meninggalkan restaurant, jadi diapun menyusulnya ke toilet. Ternyata dia melihat pemandangan ini, Putranya sedang berpelukan dengan Shezie.


*************