
Shezie menatap ibunya dengan kebingungan.
“Iya sayang, orang tuanya Nak Martin kesini untuk melamarmu. Ibu rasa itu sangat baik karena kalian mengenal juga sudah sangat lama,” kata ibunya Shezie.
Shezie akan bicara tapi ibunya sudah bicara duluan.
“Ibu sudah memberi jawaban dan ibu merestui kalian,” ucap ibunya.
Mendengar perkataan ibunya, tidak ada lagi kata yang bisa Shezie katakan untuk menolaknya. Entah kenapa ibunya memutuskan menerima lamaran Martin tanpa menunggu dia pulang?
Shezie menatap ayah dan ibunya Martin.
“Saya rasa tidak perlu dilama-lama lagi, kami sudah terlalu lama menunggu disini,” ucap ibunya Martin, ingin buru-buru pulang.
Kalau dilihat dari sikap ibunya Martin sepertinya ibunya Martin itu kurang menyukainya, mungkin karena dirinya bukanlah orang kaya seperti mereka.
Martin mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dan membukanya, ada dua buah cincin disana lalu menyimpannya di meja dan mengulurkan tangannya pada Shezie.
Shezie tampak bingung, dia ragu, apakah dia memang harus menerima lamarannya Martin? Tapi dia juga tidak bisa membuat ibunya malu kalau harus menolaknya sekarang.
Shezie menoleh pada ibunya, yang mengangguk dan melirik pada Martin memberi isyarat untuk menerima pertunangannya dengan Martin. Terpaksa Shezie mengulurkan tangannya pada Martin yang langsung menerimanya.
Semua mata tertuju pada tangannya Shezie yang akan dipasangkan cincin oleh Martin. Semua mata juga terkejut karena dijarinya Shezie ada sebuah cincin berlian yang indah. Dimana Shezie memakai cincin berlian yang harganya sangatlah mahal.
Shezie menyadari keterkejutan mereka, dia langsung menarik tangannya lagi.
“Ini hanya imitasi,” ucapnya sambil tersenyum, lalu menatap Martin.
“Tidak apa-apa kan kalau kau memasang cincinnya di jari tengah?” tanya Shezie.
Sebenarnya Shezie bisa memindahkan cincin dari Henry itu, tapi dia ingat perkataan Henry untuk tidak melepas cincinnya. Mesipun dia tidak punya perasaan apa-apa pada Henry tapi dia tidak mau mengecewakan Henry yang dengan susah payah membelikannya cincin lagi karena dia berbohong kalau cincinnya dijual padahal cincin pernikahannya disimpan dilemari.
“Tidak masalah,” jawab Martin, meskipun dia merasa heran kenapa Shezie memiliki cincin yang sangat mahal? Cincin itu sama sekali tidak terlihat imitasi. Tapi dari pada acara lamarannya terganggu, dia memilih tidak banyak bicara. Tangannya kembali mengulur pada Shezie yang terpaksa kembali mengulurkan tangannya pada Martin. Pria itu memasukkan cincin tunangannya di jari tengahnya Shezie yang juga terpaksa memasangkan cincin pada jarinya Martin.
“Selamat, Ibu senang kalian sudah bertunangan,” kata ibunya Shezie.
“Pernikahannya bulan depan!” kata Martin tiba-tiba membuat Shezie kembali terkejut.
“Apa? Bulan depan? Maaf aku tidak bisa!” kata Shezie, kini semua orang yang ada diruangan itu yang terkejut dan menatapnya menuntut jawaban.
“Kenapa?” tanya ayahnya Martin. Berbeda dengan suaminya yang terkejut, Ibunya Martin tampak sumringah mendengarnya.
“Aku masih ada kontrak dengan travel beberapa bulan lagi,” jawab Shezie, sebenarnya Henry hanya minta waktu dua bulan penangguhan perceraiannya tapi Shezie senang menambahnya supaya bisa mengulur waktu pernikahannya dengan Martin.
Tiba-tiba ibunya Martin memotong.
“Ibu rasa tidak masalah pernikahannya ditunda beberapa bulan lagi, biar Shezie beres dulu dengan kotrak pekerjaannya,” kata ibunya Martin.
“Sayang, memangnya berapa bulan lagi kontraknya? Aku tidak mau menunggu terlalu lama, atau kau berhenti saja dari travel itu,” ucap Martin sambil menatap Shezie, dalam hatinya dia kesal, kenapa banyak sekali halangan untuk menikahi Shezie.
Ibunya Martin langsung menoleh pada Martin.
“Kau jangan membatasi ruang geraknya Shezie, biarkan saja Shezie bekerja, dia punya ibu yang harus dia rawat,” kata ibunya Martin.
“Iya, aku harus tetap bekerja,” ucap Shezie.
“Baiklah kalau begitu, aku harap setelah kontrakmu selesai kita bisa langsung menikah,” kata Martin.
Shezie tidak bicara apa-apa lagi, dia tidak bisa membayangkan kalau harus menikah dengan Martin, tapi apa mau dikata, ibunya sudah menerima lamarannya Martin.
Setelah pemasangan cincin pertunangan Shezie dan Martin, tidak berapa lama orang tuanya Martin pamitan, Shezie dan ibunya mengantar mereka sampai masuk ke mobil mewahnya. Mobil itupun melaju meninggalkan rumahnya Shezie.
“Ibu harap pernikahan ini tidak pernah terjadi, syukur-syukur kontraknya di travel itu diperpanjang lama jadi pernikahannya bisa dibatalkan,” kata ibunya Martin saat sudah di dalam mobil.
“Iya ih, kakak ini seperti tidak ada gadis lain saja, banyak gadis cantik juga kaya pasti mau sama kakak,” terdengar celetukan dari adiknya Martin.
“Kau berisik, kakak menyukainya dari kuliah, cuma dia gadis yang berani menolak kakak,” sahut Martin.
“Semoga saja kakak cepat bosan dan segera mencampakkannya, jangan seumur umur bersamanya, sangat merugikan apalagi ibunya sakit parah begitu, bisa miskin kita,” kata Yesi lagi, adiknya Martin.
Martinpun diam, dia juga memikirkan hal itu, tapi yang utama sekarang adalah dia ingin rasa penasarannya tercapai, dia ingin memiliki Shezie, ingin menaklukkan gadis yang terus terusan menolaknya, soal dia merasa bosan nanti itu bagaimana nanti saja. Disaat mereka masih membicarakan Shezie, ayahnya Martin tidak bicara apa-apa, dia hanya menerima panggilan telponnya.
Shezie menatap ibunya saat keluarganya Martin sudah meninggalkan rumahnya.
“Bu, apa aku benar-benar harus menikah dengan Martin?” tanya Shezie.
Ibunya balas menatapnya.
“Nak Martin itu pria tampan dan kaya tapi dia mau menerimamu apa adanya, dia pria yang baik. Kau belum tentu mendapatkan pria yang mau menerimamu dengan kondisi ibu seperti ini,” kata ibunya Shezie.
“Ibu harap mulailah memikirkan masa depanmu sayang, jangan memikirkan ibu terus,” kata ibunya, sambil mengusap rambutnya Shezie lalu memeluk bahunya mengajak masuk kedalam rumah.
“Lagi pula kau tidak punya pacar kan? Atau pria yang sedang dekat denganmu?” ucap ibunya.
“Tidak,” jawab Shezie, dia langsung teringat Henry apakah Henry termasuk kategori pria yang dekat dengannya karena mereka sudah menikah?
“Aku akan bersiap-siap ke café Bu,” kata Shezie.
“Café mu tidak masalah kau bekerja didua tempat?” tanya ibunya.
“Tidak Bu, aku sudah mengatur jadwal di café dan travel,” jawab Shezie berbohong.
“Syukurlah kalau begitu,” jawab ibunya.
“Aku berganti pakaian dulu Bu,” ucap Shezie yang diangguki ibunya.
Di dalam kamarnya Shezie hanya duduk dipinggir tempat tidur dan menatap jari jarinya yang bercincin, satu cincin pernikahan pengganti dari Henry dan satu cincin pertunangan dari Martin. Meskipun dia berat menikah dengan Martin tapi Martin adalah masa depannya sedangkan pernikahannya dengan Henry akan menjadi masa lalu.
Mau sebaik apapun Henry, dia tetaplah orang asing yang membayarnya, jadi tidak sepantasnya kalau dia harus memikirkan hal lain dari pernikahannya dengan Henry.
Setelah berganti pakaian dan membawa beberapa baju ganti, Shezie berangkat bekerja ke cafenya seperti biasa, karena dia memang tidak mengundurkan diri dari cafenya ataupun berbagi jadwal kerja dengan travel.
“Kau sering tidak masuk, itu tidak baik buat pekerjaanmu, kau bisa dipecat,” kata seorang gadis temannya Shezie, saat mereka berada diruang ganti café, mereka berganti pakaian seragam pelayan café itu.
“Belakangan ini aku sibuk dengan pekerjaan lain,” kata Shezie.
“Kemarin si tampan itu mencarimu kemari, apa ponselmu tidak kau aktifkan?” tanya Anita, temannya Shezie itu.
“Si tampan siapa? Martin?” tanya Shezie.
“Siapa lagi kalau bukan Martin, pacar setiamu itu,” jawab Anita.
Shezie memasukkan tasnya kedalam locker. Anita menatapnya sambil bersandar di locker sebelahnya. Saat Shezie memasukkan tasnya ke Locker, Anita melihat yang mengkilat ditangannya Shezie.
“Hei lihat tanganmu!” serunya sambil menarik tangannya Shezie.
“Kenapa aku baru memperhatikan kalau kau memilki cincin yang indah, ini berlian aslikan?” tanya Anita, menyentuh cincin berlian dari Henry.
“Ini juga, ini cincin baru, aku baru melihatnya,” lanjut Anita kini menyentuh cincin dari Martin.
Shezie segera menarik tangannya, dia sudah menebak pasti cincin itu akan menjadi banyak pertanyaan orang, karena cincin seperti itu biasanya dipakai oleh orang-orang kaya dan bukan seorang pelayan café seperti dirinya.
“Ini hanya imitasi,” jawab Shezie.
“Benarkah? Tapi seperti asli, sangat indah,” ucap Anita.
“Ayo kita kerja!” ajak Shezie, dia mendengar suara teriakan dari manager café menyuruh mereka segera melayani tamu-tamu café.
Shezie pun beranjak meninggalkan Anita yang merenung.
“Imitasi tapi sangat indah,” gumamnya, lalu mengikuti langkahnya Shezie.
“Kenapa lama sekali? Meja 24 belum dilayani!” kata Manager café menatap Shezie dan Anita.
“Kau juga, ingat kalau kau ijin lagi, aku terpaksa memberhentikanmu dan akan mencari penggantimu,” kata Manger café pada Shezie.
“Iya Pak, maaf, saya tidak akan banyak ijin lagi,” ucap Shezie, lalu bergegas ke meja nomor 24. Walau bagaimanapun dia masih membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-harinya dan ibunya, jadi dia tetap harus bekerja meskipun statusnya menjadi istri pengusaha kaya sekarang.
Shezie segera mendatangani meja 24 sambil membawa kertas menu.
“Selamat siang, silahkan dipilih menunya,” kata Shezie sambil memberikan menu itu yang segera diterima oleh seorang gadis.
“Menu andalannya apa? Aku baru mampir ke café ini,” tanya gadis yang menerima kertas menu itu sambil menoleh pada Shezie.
Gadis itu sangat terkejut saat melihat Shezie yang menggunakan seragam pelayan café.
“Kau? Kau bekerja disini?” tanyanya dengan tidak percaya, menatap Shezie dari atas sampai bawah, rasa keterkejutannya membuat ketiga temannya ikut ikutan melihat Shezie dan juga memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Gadis itu tiba-tiba tertawa.
“Ada apa?” tanya temannya.
“Dia, dia istri pengusaha kaya raya, berkerja di café, ha..haha… sangat tidak bisa dipercaya!” kata gadis itu yang tiada lain adalah Andrea, dia terus menertawakan Shezie.
**************