Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-80 Henry meminta orangtuanya melamar Shezie



Hanna baru saja pulang berolahraga  belari pagi disekitar pantai sendirian. Suaminya itu masih tidur tadi dan tidak mau dibangunkan karena masih mengantuk setelah begadang. Inilah yang tidak disukanya jika ikut Damian pergi-pergi, karena mereka pergi bukan untuk bersenang-senang tapi untuk bekerja.


Saat sampai di halaman rumahnya, ponselnya berbunyi. Cepat diambilnya ponsel yang ada disakunya sambil menutup pagar. Dilihatnya ada nomor Henry.


“Halo sayang,” sapa Hanna.


“Bu!” panggil  Henry.


“Ada apa sayang, apa kabarmu?” tanya Hanna, dia duduk di undakan tangga lantai teras.


“Aku baik Bu. Aku mau menanyakan kapan ayah dan ibu pulang?” tanya Henry. Hanna tertawa mendengarnya.


“Sayang, ibu ayah dan ibu baru juga beberapa hari disini sudah ditanya kapan pulang. Tentu saja masih lama, ayahmu saja begadang dan sekarang sedang tidur, ibu lari pagi sendirian,” jawab Hanna.


“Apa tidak bisa pulang?” tanya Henry.


“Memangnya ada apa sayang?” Hanna balik bertanya, sambil melap keringatnya dengan handuk kecil.


“Aku ingin melamar Shezie pada ibunya,” jawab Henry.


“Oh itu, tenang saja, setelah urusan ayah selesai, kita pasti langsung menemani ibunya Shezie,” kata Hanna.


“Terlalu lama Bu,” jawab Henry.


“Masa sih? Kau buru-buru sekali,” kata Hanna.


“Masalahnya ibunya Shezie sudah tahu pernikahanku dengan Shezie dan dia tidak merestuinya Bu,” jawab Henry.


“Tidak merestui?” tanya Hanna, agak terkejut.


“Iya Bu, aku bingung, bisakah kalian pulang dulu, lamarkan Shezie pada ibunya,” jawab Henry.


“Kenapa ibunya Shezie tidak merestui? Kau tampan, kaya, tidak ada yang kurang, orang-orang berlomba mau mempunyai menantu sepertimu,” kata Hanna.


Dia agak terkejut mendengar penolakan dari ibunya Shezie, apalagi tahu Henry anak pengusaha kaya seperti Damian, tidak mungkin Henry ditolak.


“Ada pria lain yang sudah direstui ibunya Shezie sbelum Shezie bertemu denganku Bu,” jawab Henry.


“Apa? Ada pria lain?” tanya Hanna semakin terkejut saja.


“Jadi ibunya Shezie lebih merestui pria itu daripada kamu, begitu?” Hanna balik bertanya.


“Benar Bu,” jawab Henry.


“Tapi kan kalian sudah terlanjur menikah, masa Shezie harus menikah dengan pria lain,” kata Hanna.


“Ibunya Shezie tidak menyukaiku karena menikahi Shezie tanpa restunya,” ujar Henry.


“Kau sudah minta maaf kan pada ibunya Shezie?” tanya Hanna.


“Sudah Bu, aku juga sudah bilang kalau aku akan mengakak ayah dan ibu untuk melamar Shezie, tapi ibunya masih bersikukuh tidak merestui pernikaahn kami,” jawab Henry.


“Rasanya tidak mungkin kalau kau ditolak, sayang,” gumam Hanna.


“Kenyataannya memang begitu Bu, tolong pulang lebih cepat ya Bu,” pinta Henry.


“Baiklah, ibu akan bertanya pada ayahmu dulu,” kata Hanna.


“Benar ya Bu, kepalaku pusing dengan semua ini. Aku tidak menyangka akan begitu sulit meminta restu,” keluh Henry.


“Atau mungkin ada alasan lain kenapa ibunya Shezie menolakmu?” tanya Hanna.


“Entahlah,” jawab Henry dengan putus asa.


“Masalahnya Orang tua pria itu sudah lebih dulu melamar Shezie,” ujar Henry


“Tapi kan kau terlanjur menikahi Shezie dengan sah, meskipun ada keterangan orang tua yang salah, Shezie menyebutnya yatim piatu, itu juga karena terpaksa kan. Apalagi Shezie memutuskan menjalankan pernikahan denganmu, masa harus bercerai dan menikah dengan pria itu?” kata Hanna.


“Memang seperti itu Bu,” ujar Henry.


“Ya sudah, ibu akan bicarakan dengan ayahmu, sepertinya sudah bangun,” kata Hanna.


“Baiklah Bu, cepat kabari segera Bu,” ujar Henry lagi.


“Iya” jawab Hanna.


“I Love U Bu,” ucap Henry.


“I Love U sayang,” balas Hanna.


Selang beberapa waktu pembicaraannya dengan Henry selesai.


Hanna merasa heran, apa ibunya Shezie tidak tahu kalau Henry sangat kaya, rasanya sangat tidak mungkin Henry ditolak jadi menantu apalagi Henry juga tampan. Apa ibunya mendengar gosip Henry pelit? Pelit apa? Café saja dibelikan buat Shezie padahal waktu itu Shezie belum benar-benar menjadi istrinya.


Hanna berjalan masuk ke rumahnya, dia terus menaiki tangga rumah itu, sekarang dia sedang di Swiss, rumah ini selalu menjadi rumah transitnya Damian jika ada urusan ke beberapa negara Eropa.


Sebelum masuk ke kamarnya, dia mendengar suara dering ponselnya Damian di dalam kamar.


“Halo!” terdengar suara Damian menyapa. Hanna sudah memegang gagang pintu kamarnya saat mendengar Damian bicara lagi.


 “Ada informasi apa?” tanya Damian.


Hanna melepas pegangannya dan mengurungkan niatnya masuk ke kamar, dia mendengarkan percakapan Damian.


“Tentang penyakitnya Bu Vina Pak,” jawab suara yang di sebrang.


“Bagamana? Penyakit apa itu?” tanya Damian.


Hanna semakin merucingkan telinganya, siapa yang sakit?


“Kanker stadium lanjut Pak,” jawab suara diseberang.


“Kanker? Penyakitnya sudah parah? Apa tidak bisa disembuhkan?” tanya Damian, sangat terkejut mendengar kabar itu.


“Belum bisa dipastikan Pak, soalnya karena tidak adanya biaya jadi pengobatannya terlambat,” jawab suara diseberang.


Damian terdiam mendengarnya, hatinya merasa gelisah dan cemas mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Vina menderita penyait yang parah. Pantas Shezie mau jadi istri bayarannya Henry, apa uangnya untuk membiayai ibunya?


“Bisakah kau atur untuk membiayai pengobatannya?” tanya Damian.


“Bagaimana caranya Pak? Untuk mendapatkan donasi dari perusahaan Bapak, harus menggunakan identitas yang dibantu Pak,” jawab suara disebrang itu.


“Kau benar, pakai dana pribadiku saja. Kau hubungi bagian keuangan, berikan deposit pada rumah sakit tempat dia dirawat. Berapapun biayanya aku tanggung,” kata Damian.


Mendengar perkataan Damian, membuat ada perasan lain yang timbul dalam hati Hanna. Pengobatan kanker membutuhkan biaya yang sangat banyak, bahkan banyak yang pengobatannya di Luar negeri, butuh biaya yang tidak sedikit, tapi Damian dengan mudahnya mengeluarkan uang sebanyak itu untuk pengobatannya? Seberapa berhargakah wanita itu? Bahkan Damian membayarnya memnggunakan dana pribadi. Hanna tahu Damian memiliki uang yang banyak, tapi haruskah membiayai dengan uang pribadi? Damian bisa memintanya lewat badan sosial yang dikelola perusahaannya supaya orang itu mendapatkan donasi pengobatan. Ini dengan uang pribadi?


Rasa kecewa dan cemburu muncul dihati Hannna, apakah memang wanita itu seseorang yang istimewa bagi Damian? Terdengar lagi suara Damian bicara di telpon.


“Bagaimana dengan kondisinya sekarang?” tanya Damian.


“Menurut informan saya, Bu Vina kembali masuk rumah sakit,” kata suara itu.


“Kalau begitu, kirimkan dana secepatnya. Kau langsung hubungi bagian keuanganku. Berapapun biayanya bayar sampai pengobatannya selesai,” kata Damian.


“Baik Pak” jawab suara di sebrang.


“Tapi ingat, bayarkan tanpa memberikan identitasku,” lanjut Damian.


Ada rasa sedih yang timbul di hati Hanna. Begitu perhatiannya Damian pada wanita itu, sampai-sampai memberikan bantuan dengan jumlah banyakpun dia memberinya diam-diam.


“Kalau bisa, kau atur penawaran pengobatan ke luar negeri, carikan rumah sakit yang bagus,” lanjut Damian.


“Baik Pak,” jawab suara disebrang itu.


“Kalau ada apa-apa kabari aku, tolong pantau terus keadaannya, Jika ada yang sangat urgent segera kabari aku, ponselku standbye,” kata Damian.


Airmata Hanna langsung tumpah saja,  tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau dia akan menjadi yang tidak terlalu penting bagi Damian. Asalnya dia begitu percaya diri, dirinyalah satu-satunya wanita Damian, dan tidak akan pernah ada wanita lain dalam hati Damian. Tapi setelah pernikahan yang berlangsung lebih dari dua puluh tahun, akhirnya terkuak kalau ternyata ada wanita lain yang sangat diperhatikan Damian.


“Oke!” terdengar Damian mengakhiri pembicaraannya. Hanna masih berdiri mematung didekat pintu, dengan menahan perasaannya yang kecewa.


Hanna terkejut saat tiba-tiba pintu itu terbuka, cepat-cepat dihapusnya air matanya.


Damian terkejut saat melihat Hanna sudah berdiri dipintu.


“Sayang, kau sudah pulang?” tanya Damian.


“Iya, aku baru pulang,” jawab Hanna sambil buru-buru menghapus airmatanya, membalikkan badannya menatap Damian dan tersenyum, mencoba menutupi perasaannya.


“Maaf aku tidak bisa menemanimu lari pagi, aku sangat lelah,” kata Damian.


“Iya, tidak apa-apa,” jawab Hanna, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Damian mengikutinya.


“Tadi Henry menelpon,” kata Hanna.


“Henry menelpon? Ada apa?” tanya Damian.


“Dia ingin dilamarkan pada ibunya Shezie,” jawab Hanna.


“Apa?” tanya Damian, terkejut mendengarnya, dia langsung merasa cemas saja. Apa dia sanggup bertemu dengan Vina?


“Apa harus cepat cepat? Aku sedang banyak pekerjaan sekarang,” jawab Damian.


“Kata Henry, ibunya Shezie itu tidak merestui pernikahan mereka, ada pria lain yang telah lebih dahulu direstui oleh ibunya Shezie,” jawab Hanna.


“Apa? Ada pria lain?” tanya Damian terkejut.


“Benar, padahal Henry sudah minta maf, “ kata Hanna lagi, dia berjalan menuju meja yang ada dikamar itu mengambill air minum lalu diminumnya, dia ingin mencoba menenangkan hatinya. Dalam kondisi seperti ini rasanya dia juga tidak focus untuk menyelesaikan masalahnya Henry.


“Kau tadi seperti sedang menelpon, telpon siapa?” tanya Hanna, mencoba memancing.


“Dari karyawanku, pekerjaanku sangat banyak, makanya aku sepertinya tidak bisa cepat-cepat pulang,” kata Damian.


“Benar begitu?” tanya Hanna.


“Iya, atau bagaimana kalau kau saja yang mewakili melamar Shezie untuk Henry?” tanya Damian.


Hanna  terdiam. Untuk mengurus wanita itu Damian punya waktu, mengurusi anaknya sendiri kenapa dia tidak mau?


“Memangnya tidak  ada orang yang bisa mewakilimu?” tanya Hanna.


“Tidak bisa, pekerjaanku ini sangat penting, kalau salah mengambil kebijakan kita bisa rugi,” jawab Damian.


Hannapun terdiam.


“Jadi kau mau aku saja yang melamarkan Shezie pada ibunya?” tanya Hanna.Damian terdiam sebentar.


“Apa Henry sudah yakin dengan keputusannya?” tanya Damian.


“Kau ini bicara apa? Makanya dia meminta kita melamar itu artinya sudah yakin,” jawab Hanna.


Damian menghela nafas panjang.


“Ya sudah kalau kau sibuk, biar aku saja yang melamarkan ke ibunya Shezie,” kata Hanna.


“Ya begitu juga lebih baik,” ucap Damian.


“Ya sudah aku siapkan perjalanan pulang,” kata Hanna, padahal dalam hatinya dia masih ingin memantau perkembangan urunsannya Damian dengan wanita itu.


Kalau dia pulang, dia tidak tahu apa-apa, tapi melihat Henry yang membutuhkannya,kasihan putranya itu juga sedang dalam masalah. Tapi urusan putranya lebih penting dari segala-galanya.Yang penting putranya bahagia.


Hannapun langsung mengambil ponselnya memberikan pesan pada Henry kalau dia akan pulang secepatnya.


********