Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-15 Hari H



Pagi ini Henry bangun dengan malas. Ini adalah hari pernikahannya dengan Shezie. Ditatapnya langit kamar yang ada rumbai rumbai dan bunga, melihatnya membuatnya gerah saja, bukan jelek tapi sangat bagus hanya Henry bingung buat apa hiasan di kamarnya ini? Diapun menguap dan bangun, duduk menatap sekeliling kamarnya yang banyak bunga bunga  disudut sudut kamarnya, bunga yang indah tapi tidak ada makna apa-apa baginya.


Henry tidak memlih malam pengantin di hotel karena rencananya dia akan bertengkar dengan Shezie di rumah supaya orangtuanya melihat dan memudahkannya untuk bercerai, jadi terpkasa dia merelakan kamarnya dihias hias seperti ini. Lagi-lagi dia menguap, dia benar-benar malas, tidak seperti pengantin pada umumnya yang biasanya semangat dihari pengantin, dia marasakan biasa-biasa saja.


Henry turun dari tempat tidur dan membuka jendela kamarnya, kakinya melangkah menuju balkon kamar itu menghirup udara diluar yang terasa dingin. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah taxi yang memasuki rumahnya. Dia melihat seseorang turun dari taxi itu. Shezie, gadis itu datang dipagi buta, gadis itu, ternyata dia memang gadis yang tepat waktu.


Henry kembali menguap, kenapa dia mengantuk sekali? Diapun kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu membuka pintu kamar keluar dari kamarnya.


Dilihatnya di lantai bawah tampak beberapa orang pekerja sibuk entah sibuk apa, mereka bolak balik mondar -mandir. Sekilas Henry melihat Shezie bersama beberapa orang wanita yang mungkin perias memasuki area kamar tamu yang ada di lantai bawah.


“Kau sudah bangun, sayang?” tanya Hanna, mengagetkan Henry, ibunya itu tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.


“Ibu!”sapa Henry sambil menoleh.


“Cepatlah bersiap-siap,” kata Hanna lagi.


“Sepagi ini?” tanya Henry.


“Acara jam 10, jam 9 kita harus sudah di gedung. Jangan sampai tamu datang lebih awal dari kita,” jawab Hanna, dia langsung menghampiri putranya dan menatapnya lalu tersenyum.


“Ternyata kau sudah dewasa, serasa baru kemarin kau masih bayi,” ucapnya sambil menyentuh wajah putranya.


“Kalian sedang apa?” tiba-tiba Damian muncul, keluar dari pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Henry.


“Aku hanya mengenang putra kita saat bayi,” jawab Hanna.


“Untung saja rambutnya sudah berubah hitam, kalau masih merah seperti waktu bayi, aku bingung kau ini anak siapa,” kata Damian, yang langsung di semprot istrinya.


“Damian! Kau selalu begitu!” gerutu Hanna. Suaminya hanya tersenyum dan langsung memeluk dan menciumnya.


“Henry akan menikah, kita akan dapat menantu, rumah ini tidak lagi sepi,” kata Hanna.


“Aku juga jadi punya teman belanja, kau kan sangat sibuk dengan Henry,” ucap Hanna, sambil menoleh pada Henry. Ibunya bilang begitu membuat Henry terdiam, ibunya tidak tahu kalau dia akan membuat skenario perpisahan setelah pernikahan.


“Calon istrimu gadis yang baik, Ibu sangat menyukainya,” ucap Hanna lagi. Mendengar perkataan ibunya semakin membuat kepala Henry berdenyut-denyut saja. Kenapa ibunya malah menyukai Shezie?


“Bu, pengantin prianya akan dirias sekarang!” Terdengar suara seorang wanita naik dari tangga.


Hanna langsung menoleh pada Henry.


“Ayo cepat mandi, calon istrimu dihias dikamar tamu,” kata Hanna.


Henry menganguk, diapun segera kembali ke kamarnya.


Di dalam kamarnya dia masih merenung, apa rencananya akan berhasil membuat Shezie pergi dari rumah? Melihat sikap ibunya yang senang mendapat menantu, hatinya menjadi gelisah, bagaimana jika tidak berhasil berpisah dengan Shezie? Ternyata rencananya tidak semudah yang dibayangkan.


Waktu terus berlalu, seluruh keluarga sudah siap berangkat menuju gedung tempat acara di langsungkan. Beberapa kerabat juga ada yang berangkat dari rumahnya Damian.


Henry juga sudah menggunakan pakaian pengantinnya. Dia terlihat mondar-mandir saja, gelisah. Sebentar sebentar duduk, lalu berdiri, berjalan-jalan lagi, duduk lagi, begitu terus menerus seperti yang ingin buang air.


“Kau kenapa? Kau cemas karena akan menikah?” tanya ibunya, yang sedang duduk di teras sedang menunggu pengantin perempuan siap, menatap kelakuannya Henry yang seperti setrikaan.


Henry tidak menjawab, yang dia cemaskan bukan pernikahannya tapi perpisahannya, kenapa dia merasa perpisahannya tidak akan semudah yang dibayangkannya?


Saat dia berencana menikah dengan Shezie yang terbersit dibenaknya adalah menikah berpisah selesai, tidak pernah mengantisipasi jika sulit berpisah. Tapi kenapa harus sulit berpisah? Dia dan Shezie tidak saling mencintai, tentu saja semua akan berjalan sesuai rencana, dia juga percaya Shezie pasti professional dengan pekerjaannya, dia akan pergi setelah menikah.


Shezie menatap dirinya di cermin, seluruh hiasan sudah selesai, dia disulap menjadi pengantin wanita yang sangat cantik. Rasanya tidak percaya kalau yang ada di cermin itu dirinya. Dia benar-benar cantik, pujinya pada diri sendiri.


Dilihatnya gaun yang dikenakannya. Dia akan menikah dengan supir, tapi gaun pengantin itu sangat indah bahkan dihiasi dengan mutiara-mutiara yang pastinya harganya fantastic, majikan Henry benar-benar menyayangi Henry seperti pada anaknya sendiri. Henry benar-benar beruntung memiliki majikan seperti mereka.


“Sudah,” jawab perias sambil merapihkan gaunnya Shezie.


Sekali lagi Shezie menatap dirinya dicermin, dipuas-puaskannya sebelum pernikahan usai. Belum tentu kalau dia menikah nanti akan memakai gaun pengantin seperti ini. Kira-kira kalau selesai acara pernikahan gaunnya boleh diminta tidak? Fikir Shezie.


Shezie masih terus berhayal, mutiara-mutiara digaunnya itu kalau diuangkan bisa kaya mendadak dia, uangnya bisa dia simpan untuk persediaan biaya pengobatan ibunya ke luar negeri yang kata orang-orang bisa sampai milyaran, terbersit fikiran yang tidak-tidak dibenaknya. Tidak ada salahnya kalau sudah menikah nanti dia akan bilang pada Henry untuk meminta gaun pengantin ini, yang sudah pasti Henry tidak akan memberikannya. Shezie langsung mengerucutkan bibirnya.


Damian keluar dari pintu rumah utama, menghampiri Hanna dan Henry.


“Pengantin wanita sudah siap, ayo berangkat!” kata Damian.


“Aku belum melihat pengantin perempuan,” ucap Hanna, kepalanya menoleh kearah pintu.


“Nanti saja, kita hampir terlambat!” kata Damian.


Henry malah sama sekali tidak penasaran ingin melihat pengantin perempuan, dia langsung masuk saja ke dalam mobil, fikirannya penuh dengan rencana perpisahan dengan Shezie.


“Baiklah, ayo!” jawab Hanna, sambil menggandeng suaminya menuju mobil pengantin pria.


Tidak beberapa lama pengantin perempuan bersama pengiring-pengiringnya memasuki mobil dibelakang mereka.


Hanna melihat dengan membuka kaca jendela, melongok keluar. Dia duduk disamping Henry sedangkan Damian duduk di depan.


“Pengantinnya sangat cantik, dia seperti bidadari,” ucap Hanna, mendengar perkataan Hanna, Henry sama sekali tidak bergeming dia tidak berminat melihat pengantin wanita secantik apapun, karena Shezie bukan istri sesungguhnya.


“Tapi kalau dibanding ibu dulu, Ibu lebih cantik, iya kan sayang?” tanya Hanna pada Damian.


“Hem,” jawab Damian.


“Apa maksudmu cuma Hem saja? Aku juga cantik waktu jadi pengantin!” kata Hanna sembil cemberut karena tidak mendapat pujian dari suaminya.


“Cantik menurut diri sendiri,” ucap Damian, membuat Henry tertawa.


“Kalau tidak cantik, putramu tidak akan setampan ini!” kata Hanna, sambil memeluk Henry.


“Dia tampan karena mirip denganku,” jawab Damian, tidak mau kalah, semakin membuat Hanna cemberut.


“Apa salahnya berbohong sedikit memujiku, Damian!” keluh Hanna, mendelik pada suaminya. Damian diam saja tidak menggubris perkataan istrinya.


“Ayahmu dari dulu memang seperti itu, tidak ada romantis-romantisnya, merayu- rayu ke giman ke,” gerutu Hanna, sambil menatap putranya. Henry jadi tertawa dan memeluk bahu ibunya.


“I Love U Ibu,” ucapnya sambil mencium pipi ibunya.


“Untung kau menyayangi Ibu, abaikan ayahmu itu!” kata Hanna. Suaminya itu cuek saja istrinya terus menggerutu.


“Ayo kita berangkat!” terdengar suara dari luar, ketua panitia rombongan pengantin, sambil berjalan menuju mobilnya yang ada di depan mobil yang ditumpangi keluarga Damian.


Supir-supirpun mulai menjalankan mobilnya beiringan meninggalkan rumahnya Damian.


*************


Readers maksud hati ingin yang lucu dan lebay, gara-gara lelah kesibukan di dunia nyata dan kurang tidur, nulis kondisi ngantuk terus jadi ga dapet deh yang lucu-lucunya…bawaannya flaaaaaat mulu..hadeueuh.. Maklum aku nulis mood harian ga ada planning cerita harus gimana-gimana...ngalir aja.


Terimakasih masih pada setia dengan novelku…


Jangan lupa vote ya…