Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-72 Misi hari pertama



Setelah mandi dan berpakaian Damian pergi ke ruang makan. Dilihatnya Hanna ada disana bersama Satria. Dilihatnya sekilas istri palsunya yang tampak sangat cantik hari ini. Diapun duduk di kursi yang kosong.


Satria menoleh pada kakaknya.


“Hari ini kau sibuk?” tanya Satria.


“Ya hari ini aku ada janji dengan rekan bisnisku, aku akan keluar, kau bantu di kantor ya,” jawab Damian, sambil mengambil menu makanan di atas meja dipindah ke piringnya.


Hanna yang mendengar Damian punya janji, langsung memasang telinga dengan tajam. Hari ini, mulai hari ini dia akan memantau apapun yang dilakukan Damian. Dia harus terus menemaninya, sampai dia bisa tahu siapa wanita yang ingin Damian nikahi itu.


Damian meraih handphonenya, menekan nomor seseorang. Terdengar dering telpon di atas meja makan itu. Damian menatap kearah hendphone yang ada di dekat Hanna itu, dia mengerutkan keningnya, dia merasa mengenal handphone itu.


Melihat handphone diatas meja berdering, Hanna menghentikan makannya lalu diambilnya handphone itu.


Damian masih mendengarkan suara nada tut tut panggilan di handphonenya, ternyata yang dia telpon belum mengangkat panggilannya.


“Haloo!” terdengar suara seseorang yang menjawab telponnya. Damian mengerutkan keningnya kenapa telponnya Pak Indra diangkat oleh seorang wanita? Apakah ada istrinya Pak Indra? Tapi ko dia merasa mengenal suara itu?


“Bisa bicara dengan Pak Indra?” tanya Damian.


“Maaf Pak Indra selama satu minggu libur,” jawab suara di telpon itu. Tapi ko suara itu seperti begitu dekat ya, fikir Damian.


“Libur? Kenapa libur?” tanya Damian.


“Aku yang meliburkannya,” jawab suara di sebrang. Damian semakin mengenal suara di telpon itu yang terasa dekat, tentu saja terasa dekat karena yang menjawab ada di hadapannya.


“Kau! Apa yang kau lakukan? Kenapa handphone Pak Indra ada padamu?” tanya Damian sambil menutup telponnya, dia menatap wanita yang duduk dihadapannya.


Hanna juga melakukan hal yang sama, dia menutup telponnya dan menyimpan ponsel itu di atas meja.


“Pak Indra aku liburkan satu minggu,” jawab Hanna.


“Apa? Apa maksudmu meliburkan Pak Indra?” tanya Damian, terkejut dengan jawaban Hanna.


“Iya aku liburkan,” jawab Hanna.


“Kau tidak bisa  begitu saja meliburkan Pak Indra,” kata Damian mulai kesal.


Hanna menatap Damian.


“Selama Pak Indra libur, aku yang akan menggantikanya, aku akan menemanimu kemanapun kau pergi, kau tenang saja, aku akan membantumu bekerja,” kata Hanna.


“Apa maksudmu? Kau akan ikut aku bekerja seharian?” tanya Damian, balas menatap Hanna. Jadi ini alasannya wanita itu pagi-pagi sudah berdandan cantik, senyum senyum manis padanya ternyata mau menemaninya bekerja?


“Tentu saja, kau senangkan, istri cantikmu ini akan menemanimu seharian?” tanya Hanna, tersenyum manis. Damian malah kesal melihatnya. Satria ikut ikutan menatap Hanna lalu kembali makan menu dipiringnya.


“Aku sedang banyak pekerjaan, sebaiknya kau tidak menggangguku,” kata Damian, wajahnya berubah masam dan dia mulai makan sarapannya.


“Sayang, mana mungkin aku mengganggumu. Aku menemanimu bekerja supaya kau bersemangat karena ada istri tercintamu ini yang selalu bersamamu,” jawab Hanna, membuat Damian semakin ilfeel, dia tidak suka pekerjaannya diganggu.


Satria yang mendengar perkataan lebay Hanna jadi ingin tertawa, tapi melihat kakaknya yang cemberut, dia menahan tawanya, dia bisa menebak kakaknya pasti marah, kakaknya sangat serius dalam bekerja, dia tidak suka pekerjaannya terganggu.


“Apa kau yakin akan menggantikan tugas Pak Indra selama seminggu?” tanya Damian dengan tegas pada Hanna, sambil menatapnya tajam. Mendengar nada suara Damian yang tegas, membuat hati Hanna menciut, ternyata Damian benar-benar serius dalam pekerjaannya, dia jadi ragu apa ini cara terbaik untuk misinya? Bagaimana kalau Damian berbalik marah padanya? Tapi kalau dia tidak begini, dia tidak tahu aktifitas Damian selama bekerja, dia tidak tahu wanita mana yang suka ditemui Damian. Jangan jangan Damian punya wanita baru di kota ini. Dia sengaja meliburkan Pak Indra, supaya dia benar-benar tahu apa saja yang dilakukan Damian selama diluar rumah dan tidak ada rahasia- rahasia lainnya yang tidak dia ketahui.


“Aku akan bekerja dengan baik,” jawab Hanna.


Damian tidak bicara lagi, dia kembali menyantap sarapannya. Sebenarnya dia kesal Hanna bertindak semaunya tapi dia berfikir Hanna pasti punya alasan melakukan semua ini, dia jadi ingin tahu apa yang akan Hanna lakukan.


Setelah sarapannya habis, Damian bangun dari duduknya. Merapihkan bajunya yang kusut. Diapun berdiri.


“Kalau kau akan menjadi Pak Indra, kau harus selesai makan sebelum aku selesai. Kau harus sudah siap dengan pekerjaanmu,” ucap Damian dengan tegas. Hanna yang masih mengunyah makanannya terkejut mendengar perkataan Damian. Dia menghentikan makannya dan menatap Damian.


“Apa lagi? Sekarang waktunya bekerja!” kata Damian dengan ketus, lalu pergi dari ruang makan itu.


Hanna terbengong melihat sikap Damian yang galak seperti itu. Dia yang punya misi kenapa dia yang jadi di omeli Damian? Tiba-tiba terdengar suara tawa tertahan. Adik iparnya itu menertawakannya.


“Kenapa kau malah tertawa?” bentak Hanna pada Satria.  Pria itu manatapnya.


“Kau salah kalau mau bermain-main dengan pekerjaannya kakakku!” kata Satria.


“Salahnya dimana?” tanya Hanna, balik menatap Satria.


“Kakakku sangat keras dalam pekerjaan, kau tidak akan sanggup bekerja dengannya,” jawab Satria sambil kembali tertawa. Hannapun tersenyum kecut.


“Aku kan istrinya, dia tidak akan berani memarahiku,” bela Hanna.


“Kata siapa? Paling juga kau bertahan hanya beberapa menit,” ucap Satria, membuat hati Hanna semakin ketar ketir, apa segalak itu Damian?


“Hanna! Aku banyak pekerjaan! Apa kau tidak tahu jadwal kerjaku?” terdengar teriakan Damian dari ruang tengah.


Satria tertawa mendengar teriakan Damian, semakin membuat Hanna kesal. Dia langsung cemberut.


“Hanna! Apa kau tidak dengar?” terdengar lagi Damian berteriak.


“Iya!” jawab Hanna balas berteriak sambil bangun dari duduknya. Adik iparnya kembali menertawakannya.


“Kau senang ya, aku diteriaki kakakmu?” bentak Hanna pada Satria.


“Lagian sok sokan menemani kakakku seharian, jadi istri posesif banget,” ucap Satria.


“Aku cuma ingin tahu apa dia punya wanita lain diluar,” kata Hanna.


“Ya pasti banyak wanita yang suka pada kakakkulah, dia kan tampan, kaya, mana berani wanita menolaknya?” ucap Satria semakin membuat hati Hanna merasa khawatir.


“Kau hanya membuatku kesal saja,” gerutu Hanna, sambil beranjak dengan wajah yang kusut, membuat Satria merasa lucu dan kembali menertawakannya.


Hanna keluar dari ruang makan itu meninggalkan Satria. Bicara lama-lama dengan adik iparnya itu malah akan membuatnya merasa panas hati saja. Adik iparnya itu seperti sengaja mengomporinya, menyebalkan.


“Kau tahu kan jadwalku apa saja hari ini?” tanya Damian pada Hanna saat menuruni tangga rumahnya. Hanna mengikutinya dari belakang.


“Iya, hari ini kau harus menandatangani beberapa hasil siteplan arsitek dan beberapa kontrak kerjasama dengan pihak ketiga, terus jam 11 siang kau ada janji bertemu dengan klien di sebuah restaurant, terus…” Hanna membacakan jadwalnya Damian.


“Kau bekerja sangat lambat,” keluh Damian dengan ketus, sambil terus berjalan memasuk ruangan kantornya di lantai bawah. Hanna menatap punggung pria itu. Kenapa pria itu berubah jadi sangat galak padanya? Sepertinya benar kata Satria, dia tidak akan sanggup berlama-lama bekerja dengan Damian, keluhnya dalam hati. Padahal saat bangun pagi tadi dia begitu bersemangat untuk mengintai Damian. Ternyata berlama-lama dengan Damian sambil bekerja  bukan pilihan yang benar. Dia tidak akan sanggup seminggu bekerja dengan Damian.


“Hanna!” terdengar suara teriakan Damian dari dalam ruangan. Hannapun buru-buru masuk ke ruangan menyusul Damian. Dilihatnya pria itu sedang bersama arsiteknya. Terdengar handphone Damian berbunyi. Damian segera mengangkat telponnya.


“Iya Bu Susan,” sapa Damian. Mendengar Damian menyebut nama seorang wanita, Hanna langsung saja memasang telinganya, dia harus tahu itu wanita yang sedang dekat dengan Damian bukan?


Damian bicara di telponnya sambil berjalan menjauh menuju jendela. Hanna berjalan mengendap endap dibelakang punggungnya Damian, dia ingin tahu apa yang dibicarakan Damian dengan wanita yang bernama Bu Susan itu.


“Hahha..” terdengar Damian tertawa. Entah apa yang dikatakan Bu Susan itu sampai membuat Damian tertawa begitu. Hanna terus mengikuti langkahnya Damian yang menelpon sambil berjalan jalan tidak bisa diam. Kalau Damian menghentikan langkahnya, Hanna juga menghentikan langkahnya pura-pura sibuk apa saja, kalau Damian berjalan lagi, Hanna akan berjalan mengikuti langkah Damian pelan-pelan, dia tidak boleh sedetikpun melewatkan pembicaraan Damian dengan siapapun, jangan sampai ada informasi yang terlewatkan.


Dari balik kaca jendela, Damian melihat sikap Hanna itu, wanita itu menguntitnya terus dari belakang.


“Iya Bu Susan, tentu saja aku tidak bisa menolak permintaan wanita secantik anda,” terdengar Damian berbicara memuji Bu Susan. Mendengarnya membuat Hanna semakin sebal saja, ternyata Damian suka menggobal gombal wanita juga. Gerrr, emosinya semakin meningkat. Sepertinya kata cinta dari mulut Damian saat dia tidur itu adalah perkataan palsu atau memang sebenarnya hanya sebuah mimpi atau dia salah dengar, buktinya Damian merayu-rayu wanita lain, berarti benar, dia memiliki wanita lain yang akan diajaknya menikah. Hati Hanna merasa kecewa memikirkan Damian bersama wanita lain.


“Iya Bu Susan, sebentar lagi kita ketemu,” ucap Damian lagi, yang berdiri di dekat jendela, kemudian dia membalikkan badannya. Hanna buru-buru melihat Hpnya pura-pura mengutak atik Hpnya padahal tidak ada pesan dari siapapun, sambil bersandar di tembok.


Damian meliriknya sekilas lalu berjalan lagi melewati Hanna sambil tertawa-tawa.


Hanna kembali mengikuti langkahnya perlahan sambil menunduk melihat kaki-kakinya yang melangkah sambil mendengarkan percakapannya Damian dengan Bu Susan, dia penasaran apa sih yang dikatakan Bu Susan sampai-sampai Damian terus saja tertawa, dia terlihat sangat senang bicara dengan Bu Susan. Kenapa hatinya menjadi sedih mengetahui Damian akrab dengan wanita lain. Ternyata benar masih banyak Maria-Maria yang lainnya.


Karena berjalan sambil melamun, Hanna terkejut saat dia menabrak seseorang. Diapun menghentikan langkahnya dan menatap orang yang ditabraknya. Pria itu sudah menatapnya dengan tajam.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Damian, membuat Hanna bingung menjawabnya. Lalu matanya melirik meja di belakang Damian. Dia tidak menyangka kalau Damian akan membalikkan badannya secepat itu, sampai sampai dia menabraknya.


“Aku akan memeriksa berkas di meja itu,” jawab Hanna, berdalih, sambil buru-buru mendekati meja kerjanya Damian, pura-pura mengecek berkas yang bertumpuk itu.


“Ingatkan aku untuk bertemu dengan Bu Susan jam 11 siang,” ucap Damian, sambil berjalan ke kursi kerjanya.


“Iya,” jawab Hanna, sambil mengecek satu-satu berkas dimeja itu, padahal tidak benar-benar dia baca, dalam hatinya bertanya-tanya seperti apa Bu Susan itu yang dipuji cantik oleh Damian. Rasa-rasanya Damian tidak pernah memujinya cantik, kalaupun memujinya, pria itu akan meralatnya,alih-alih memujinya, pria itu sering mengejeknya. Bibir Hanna tidak terasa memberengut cemberut.


Sikapnya tidak luput dari perhatian Damian, hanya saja Damian membiarkan wanita itu kesal padanya dan mengacuhkannya.


***********************


Hanna dan Damian will back. Makasih buat Readers yang masih setia menunggu kelanjutan kisahnya.


Yang punya vote silahkan vote. Untuk sementara author belum proses mengajukan rekomendasi di beranda ya, nulisnya masih tarik tarikan dengan pekerjaan. Dua kali proses pengajuan rekomendasi terputus terus.