
Damian masuk ke dalam rumah, dilihatnya istrinya itu duduk di sofa dengan wajah yang memberengut, sepertinya dia sedang marah. Damian memutar otaknya, memikirkan bagaimana cara supaya istrinya tidak marah lagi. Di fikir-fikirnya daripada dia berusaha berbagai cara supaya istrinya tidak marah, lebih baik dia diamkan saja. Akhirnya Damian pun memutuskan bersikap biasa-biasa saja.
Hanna melirik suaminya yang masuk tanpa bicara, diapun kembali mengalihkan pandangannya. Dia masih kesal dengan kebohongannya Damian soal Maria itu.
Tapi ada yang aneh, kenapa Damian cuek saja? Pria itu malah melewatinya, naik ke tangga masuk kedalam kamarnya, membuat Hanna kebingungan. Kenapa Damian tidak merayunya supaya tidak marah? Ditunggu dibawah, ternyata pria itu tidak datang-datang juga, membuat Hanna semakin kesal. Bukannya menghiburnya malah dicuekin. Huh!
Karena cukup lama duduk di ruang tamu itu dan Damian tidak muncul juga menghampirinya, akhirnya Hanna yang mengalah. Hanna pergi ka kamarnya, dilihatnya suaminya itu sedang tidur nyenyak, pantasan tidak turun-turun, pria itu benar-benar tidak punya itikad baik.
Hanna berdiri dekat tempat itu, menatap suaminya yang tertidur lelap, diapun tersenyum, dia bisa menebak suaminya sengaja bersikap cuek padanya. Meskipun kesal dia tidak bisa mengganggunya. Diapun naik ke tempat tidur dan berbaring miring menatap Damian lalu mencium pipinya dan memeluknya.
Hanna terkejut saat Damian bergerak memiringkan tubuh menghadap kearahnya dan langsung memeluknya. Pria itu membukakan matanya, merekapun saling bertatapan.
“Aku menunggumu merayuku dibawah, kau malah tidur,” keluh Hanna.
“Aku tidak ke bawah karena aku yakin aku tidak bisa membuatmu tidak marah lagi padaku. Aku nyerah kalau kau sudah marah,” ucap Damian.
“Tapi setidaknya kau harus punya usaha, kau malah mengacuhkanku,” keluh Hanna lagi.
Damian mempererat pelukannya.
“Aku dan Maria tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya berteman. Memang ku akui kalau setiap ke Bali aku bertemu dengannya tapi tidak dengannya saja, dengan yang lain juga, ada perempuan ada juga laki-laki, kebetulan Maria teman wanitaku yang paling dekat jadi kadang dia memang perhatian padaku,” kata Damian.
“Tapi kau sangat perhatian padanya, dia juga selalu menciummu, aku tidak suka,” ucap Hanna.
“Sekrang kan sudah tidak lagi, dia takut padamu,” kata Damian, tangannya menyibakkan rambut Hanna yang menutupi wajahnya.
“Dia tahu aku hanya mencintaimu,” ucap Damian lagi. Mendengar itu membuat Hanna tersenyum, dia sangat senang kalau Damian mengatakan hal yang manis-manis.
“Apa kau bicara jujur?” tanya Hanna.
“Tentu saja, kau tidak perlu meragukannya,” jawab Damian.
Hanna tersenyum lagi. Damian menyentuh wajahnya Hanna.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Damian.
“Apa? Aku tidak tahu. Aku belum melihat kadonya Maria,” jawab Hanna.
“Kita lihat nanti saja,” ucap Damian, jemarinya menyusuri wajahnya Hanna.
“ Arya sudah pulang, Maria juga sudah pulang, jadi tidak ada tamu lagi. Bagiamana kalau kita lanjutkan yang tadi?” tanya Damian.
“Yang tadi apa?” Hanna balik bertanya.
“Yang tadi sebelum Maria datang. Kita harus cepat-cepat membuat bayi,” jawab Damian.
“Membuat bayi? Memangnya kue, dibuat?” Protes Hanna.
“Hanna Grand Lake Side kan harus segera diresmikan, aku ingin kita bertiga yang meresmikannya,” ucap Damian.
“Kau benar!” seru Hanna.
“Jadi..” ucap Damian.
“Jadi…” ulang Hanna.
“Aku ingin bayi yang mirip denganku,” kata Damian.
“Bayi tidak bisa dipesan-pesan, ini bukan membuat kue,Damian. Bayi tidak ada cetakannya,” keluh Hanna.
“Aku ingin bayi setampan diriku,” jawab Damian.
“Masa punya bayi reques segala. Ada juga lagu bisa reques,” ucap Hanna, kadang sauminya itu berfikirnya diluar nalar.
“Tapi aku memang ingin bayi sepertiku, aku tidak mau bayiku sepertimu,” ucap Damian, membuat Hanna terkejut.
“Tapi kan aku ibunya,” ucap Hanna.
“Mempunyai bayi yang mirip denganku itu lebih menyenangkan,” kata Damian, Hanna langsung memberengut. Masa mempunyai bayi harus diminta-minta, gimana cara membuatnya supaya sesuai permintaan?
“Damian, punya bayi tidak bisa diminta-minta mirip siapa,” ucap Hanna.
“Bisa,” kata Damian.
“Tidak!” jawab Hanna.
“Bisa!” ucap Damian lagi, tangannya sudah mulai tidak bisa diam, menyusuri setiap inci tubuh
istrinya.
“Bagaimana caranya supaya bayinya mirip denganmu?” tanya Hanna, kebingungan.
“Kau diam saja, aku yang akan melakukannya,” jawab Damian, semakin membuat Hanna kebingungan, memangnya Damian akan melakukan apa supaya bayinya mirip dirinya?
Tapi Hanna tidak bicara lagi saat suaminya sudah mulai menciumnya, mencumbunya, melanjutkan yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Maria.
**************
Dua bulan kemudian…
“Sayang! Kita harus kembali ke ibukota, aku banyak pekerjaan disana!” terdengar suara Damian masuk ke dalam kamarnya, dia baru saja mendapat telpon dari Pak Indra.
Diedarkannya pandangannya ternyata istrinya tidak ada di kamar itu. Kemana Hanna? Tadi saat bangun istrinya masih tidur. Damian mendengar suara air yang dimatikan di dalam kamar mandi, rupanya Hanna ada di kamar mandi.
“Sayang! Kau sedang mandi?” teriak Damian, dia kembali menekan ponselnya.
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Damian menoleh pada istrinya. Istrinya itu terihat berbinar-binar dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Kau kenapa? Keluar dari kamar mandi senyum-senyum?” tanya Damian.
Hanna langsung mendekati suaminya, diapun berseru sambil menujukkan sesuatu ditangannya.
“Tararrara!” serunya, mengacungkan sesuatu ke hadapan Damian.
“Apa itu?” tanya Damian.
Hanna tidak menjawab, dia memberikan benda ditangannya yang langsung diterima Damian. Dengan bingung Damian melihat benda itu.
“Apa ini?” tanya Damian.
“Itu dua garis merah, aku hamil, Damian!” Seru Hanna, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
“Hamil?” tanya Damian, merasa terkejut bukan main, dia menatap tespek itu.
“Ini artinya kau hamil?” tanyanya. Hanna mengangguk.
Damian menatap Hanna dengan tidak percaya.
“Aku akan menjadi ayah?” tanyanya lagi. Hanna mengangguk.
“Benarkah? Aku akan jadi ayah!” seru Damian, langsugn memeluk Hanna.
“Akhirnya kau hamil juga, sayang. Aku senang!” ucapnya sambil mencium bibirnya Hanna.
“Apakah nanti bayinya akan mirip denganku? Aku sudah membuatnya semirip mingkin,” tanya Damian, membuat Hanna cemberut.
Damian malah tertawa melihat istrinya cemberut.
“Tapi kalau mirip denganku lebih bagus,” ucap Damian, membuat Hanna semakin cemberut.
Tiba-tiba Hanna berteriak kaget saat merasakan tubuhnya naik keatas, suaminya mengangkatnya supaya sejajar dengannya.
Hanna melingkarkan kedua tangannya di leher Damian.
“Kau senang akan menjadi ayah?” tanya Hanna.
“Tentu saja, Aku bahagia kita akan menjadi keluarga yang lengkap,” jawab Damian.
Hanna tersenyum sambil menatap suaminya.
“Aku juga,” ucapnya, mendekatkan wajahnya pada Damian lalu mencium bibirnya.
“Aku mencintaimu,“ ucap Hanna, tangannya mengusap pipinya Damian.
Damian menatap istrinya itu.
“Tetaplah bersamaku, selamanya,” kata Damian. Hanna mengangguk sambil mempererat pelukannya.
“Aku tidak sabar ingin melihat bayi kita,” ucap Damian, sambil menurunkan tubuh Hanna, kini tangannya menyentuh perut istrinya. Hanna tidak bicara, tangannya menumpang diatas tangannya Damian yang menyentuh perutnya.
“Aku yakin dia sangat mirip denganku,” kata Damian membuat Hanna menatapnya.
“Bagaimana kalau tidak mirip?” tanya Hanna.
“Bagaimana tidak mirip, aku yang membuatnya,” jawab Damian.
“Apa tidak ada kata-kata lain yang lebih pantas? Ini bayi, Damian! Bukan kue!” keluh Hanna.
Damian tidak menjawab, dia hanya memeluk Hanna dari belakang sambil kembali mencium pipi istrinya itu.
“Kita pulang ke ibu kota, kita kabari semua keluarga, mereka pasti senang sekarang kau benar-benar hamil, bukan pura-pura lagi,” ucapnya. Hanna mengangguk, merasakan nyamannya dipeluk suaminya.
**********
Beberapa bulan kemudian…
Di sebuah rumah sakit ibukota Hanna melahirkan dengan normal, melahirkan bayi laki-laki yang tampan yang sangat mirip dengan Damian.
“Benarkan, dia sangat mirip denganku,” kata Damian, sambil menggendong bayi itu dengan senyum bahagia.
Hanna menatap suaminya dengan senyum di bibirnya. Ny.Sofia dan Satria ada diruangan itu juga, mereka terlihat bahagia dengan kehadiran anggota keluarga yang baru.
“Kau akan memberi nama siapa?” tanya Ny.Sofia pada Damian.
“Henry, namanya Henry,” jawab Damian.
“Henry…Nama yang bagus, cepatlah kau beritahu mertuamu kabar gembira ini,” kata Ny.Sofia.
“Iya,” jawab Damian, dia terus menatap bayinya itu, dia sangat senang melihatnya. Kemudian Damian menoleh pada Hanna yang masih memperhatikannya.
“Terimakasih sayang, kau ibu yang hebat,” ucap Damian.
“Kau juga ayah yang hebat,” jawab Hanna.
Satria mendekati Damian dan melihat bayi itu.
“Dia memang mirip denganmu. Tapi..kenapa rambutnya merah?” kata Satria membuat semua orang terdiam dan menoleh kearah bayi.
Damian membuka sedikit kain yang menutupi kepala bayi, benar saja rambutnya merah.
“Sayang, bayi kita rambutnya merah, kenapa jadi merah?” tanya Damian.
“Itu warna rambutnya Maria!” jawab Hanna.
“Maria? Apa hubungannya dengan Maria?” tanya Damian.
“Aku sebal padanya karena dia terlau cantik dengan rambut merahnya,” jawab Hanna, sambil cemberut.
Damian menoleh pada ibu tirinya.
“Apa benar kalau tidak suka pada seseorang bayinya akan mirip orang yang tidak disukainya?” tanya Damian.
“Iya, biasanya begitu,” jawab Ny.Sofia.
Damian menoleh pada bayinya lagi.
“Bayi ini sangat mirip denganku, berarti…” Damian menoleh pada Hanna.
“Berarti apa?” tanya Hanna, tidak mengerti.
“Kau tidak suka padaku?” tuduh Damian membuat Hanna terkejut.
“Apa maksudmu?“ tanya Hanna.
“Bukankah bayi akan mirip orang yang tidak disukainya? Bayi ini mirip denganku, berarti kau tidak suka padaku,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa.
“Ya tidak begitu juga, sayang. Dia mirip denganmu karena kau ayahnya, kau ini ada-ada saja,” ucap Hanna.
Damian kembali melihat bayinya dan tersenyum.
“Kau membuatku kaget saja. Aku fikir ibumu tidak menyukai ayahmu ini,” ucapnya pada bayinya, lalu menoleh lagi pada Hanna sambil duduk dipinggir tempat tidur pasien itu.
“Untung dia mirip denganku,” kata Damian, sambil mencium pipinya Henry.
“Aku dan Henry akan menjadi tim yang kompak,” jawab Damian.
“Aku tidak diajak?” tanya Hanna.
“Kau tim hore saja, sayang,” jawab Damian, membuat Hanna memberengut. Tim Hore? Apaan Damian ini!
Damian mencondongkan tubuhnya mencium pipinya Hanna, membuat Hanna kembali tersenyum.
Tiba-tiba Henry merengek, Damian memberikan bayi itu pada Hanna.
“Dia sangat kecil,” ucap Damian.
“Ukuran bayi memang begini, nanti juga besar,” jawab Hanna, menepuk-nepuk bayinya supaya tidak menangis lagi.
Damian menatap istri dan bayinya itu, tidak ada kata lagi yang bisa diucapkannya, dia sangat bahagia dengan keluarga kecilnya.
************
Exrapartnya cukup sampai disini ya.
Next season 2…