
Satria memarkir mogenya disebuah café terbuka yang disebutkan oleh Cristian. Dicarinya ciri-ciri orang yang bernama Cristian.
“Kau Cristian?” tanya Satria pada Cristian yang sudah menunggunya.
“Ya, aku Cristian,” jawab Cristian sambil mengulurkan tangannya pada Satria.
“SIlahkan duduk,” lanjutnya. Satria membalas uluran tangan Cristian, lalu duduk disebrangnya.
Satria menatap Cristian, dia menilai sekilas Cristian itu mirip dengan kakaknya.
“Bisakah kita langsung ke pokok masalahnya saja?” tanya Cristian.
Satria tersenyum.
“Kau sepertinya buru-buru sekali?” ucap Satria.
“Ya kau benar. Aku sangat menunggu nunggu orang yang memberi kabar baik tentang pengantinku,” jawab Cristian.
“Pengantin? Maksudmu wanita yang kau cari itu pengantinmu?” tanya Satria, terkejut.
“Iya. Dia pengantinku. Dia tiba-tiba pergi saat kita akan berikrar di acara pernikahan kami,” jawab Cristian.
Satria terdiam. Tidak mungkin istri kakaknya yang dimaksud Cristian kan?
“Kau tau keberadaaan Hanna?” tanya Cristian.
Satria tampak berfikir.
“Bolehkah aku melihat KTPmu?” tanya Satria.
“Boleh, ini KTPku,” jawab Cristian dengan semangat.
“Aku bekerja di perusahaan milik ayahku, bisnis ayahku kebanyakan di bidang perhotelan,” jawab Cristian.
Satria membaca KTP itu. Cristian juga memberikan kartu namanya yang tertera alamat kantor tempatnya bekerja. Sepertinya orang ini jujur, fikir satria.
“Jadi kau kekasih wanita yang bernama Hanna itu?” tanya Satria.
“Iya, dia kabur dihari pernikahan kami. Aku tidak tahu kenapa dia bersikap seperti itu. Dia pergi dengan menumpang sebuah mobil mewah, entah kemana,” kata Cristian.
“Menumpang mobil mewah?” Satria mengerutkan keningnya. Dia masih bingung dengan semua ini.
“Benar. Aku sudah menulis berita orang hilang ini diberbagai daerah, tapi belum ada titik terang keberadaannya,” jawab Cristian. Wajahnya langsung sedih.
“Kau sangat mencintainya?” tanya Satria.
“Tentu saja, aku sangat mencintainya. Kami kenal dari kecil, kita juga pacaran bertahun tahun, saat aku melamarnya, dia menerimanya. Aku sungguh bingung dengan sikapnya. Aku sangat mengkhawatirkannya,aku takut dia dibawa orang jahat,” jawab Cristian.
Satria kembali berfikir, dia tidak langsung memberitahukan Hanna dimana, karena dia juga harus hati-hati, belum tentu istri kakaknya itu yang dicari oleh Cristian.
“Siapa nama orangtuanya wanitamu itu?” tanya Satria.
“Namanya Pak Louis dan Bu Astrid. Pak Louis ini teman ayahku, dia seorang pengusaha kapal nelayan, dan memiliki pabrik pengolahan ikan, dia juga memiliki kapal pesiar, dia seorang pengusaha kaya,” jawab Cristian.
Mendengar nama Pak Lois dan Bu Astrid, Satria menggeleng.
“Sepertinya dia bukan wanitamu, nama orangtuanya bukan Pak Louis dan Bu Astrid, tapi Pak Sanjaya dan Bu Sulastri,” kata Satria.
“Maksudmu dia?” tanya Cristian.
“Wanita yang mirip di Koran itu, nama orangtuanya Pak Sanjaya dan Bu Sulastri,” jawab Satria.
“Oh begitu? Jadi bukan Hannaku?” gumam Cristian.
“Sepertinya bukan. Aku juga tadinya penasaran karena dia mirip dengan yang dikoran,” jawab Satria.
“Dia itu temanmu?” tanya Cristian, dengan nada kecewa mendengar perkataan Satria.
“Bukan, dia kakak iparku. Istri kakakku,” jawab Satria.
“Oh begitu, berarti bukan,” jawab Cristian.
“Aku minta maaf,kau jauh jauh datang kesini. Aku tidak bisa bicara ditelpon karena aku takut kau orang jahat yang akan mengganggu kakak iparku,” jawab Satria.
“Tidak apa-apa. Baru mendengar ada yang melihatnya saja aku sangat senang. Sepertinya kakak iparmu sangat mirip dengan Hannaku,” jawab Cristian.
“Bukan mirip saja, namanya juga Hanna,” kata Satria.
“Benarkah? Sangat kebetulan sekali…” ucap Cristian.
Satria mengangguk.
“Apa dia sangat mirip dengan Hannaku? Sampai -sampai kau menelponku? Boleh aku melihat fotonya?” tanya Cristian.
“Boleh,” jawab Satria, sambil mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkannya pada Cristian.
Cristian tampak kaget melihat foto itu. “Hanna?” gumamnya.
“Mirip sekali bukan?” kata Satria.
“Kau benar, sangat mirip, tapi dia bukan Hannaku, dia istri kakakmu,” ucap Cristian sambil mengembalikan handphonenya Satria.
“Iya, dia Istri kakakku, Damian,” jawab Satria.
Begitu mendengar nama Damian, Cristian semakin terkejut.
“Jadi kau adiknya Damian? Pengusaha muda itu?” tanya Cristian.
“Kau mengenal kakakku?” tanya Satria, menatap Cristian.
“Aku tidak tau apa yang aku kenal itu Damian yang istrinya bernama Hanna juga?” kata Cristian.
“Mungkin saja, tidak mungkin suami istri memiliki nama yang sama kan? Kalau kau kenal kakakku kau pasti punya nomor telpon atau fotonya?” tanya Satria.
“Iya, kami sedang bekerja sama dalam pembangunan real estatenya, di daerah pantai tempat tinggalku,” jawab Cristian.
Satria tersenyum lebar.
“Kau benar, kakakku sedang ada proyek real estate di dekat pantai yang akan dijadikan tempat wisata,” jawab Satria.
Cristian mengeluarkan handphonenya.
“Ini nomornya Damian. Dia juga mengajakku bertemu dengannya jika sampai di ibukota. Aku tidak mengira kalau akan bertemu adiknya,” kata Cristian sambil tertawa juga Satria.
Cristian menunjukkan nomor handphone Damian dan juga ada beberapa foto saat mereka meeting di Bali. Satria melihat foto-foto itu.
“Kau benar, ini kakakku. Kalau begitu kau juga mengenal istrinya? Mereka sempat di Bali beberapa hari,” kata Satria.
“Iya, aku juga main ke rumahnya bersama dengan rekan-rekan yang lain,” jawab Cristian.
“Jadi kau sudah bertemu istriku kakakku, Hanna?” tanya Satria.
“Iya memang mirip. Bagaimana kalau kau bertemu kakakku di rumah? Sepertinya kakakku hanya bekerja di rumah hari ini, istrinya sepertinya sedang sakit,” kata Satria. Dia teringat tadi malam kakaknya menggendong istrinya dari luar.
“Iya, istrinya sedang hamil,” jawab Cristian.
“Apa? Kakak iparku sedang hamil?” tanya Satria tidak percaya.
“Benar, sejak dari pantai dia sakit tidak keluar hotel berhari-hari karena sedang hamil, sepertinya masa-masa mengidam,” jawab Cristian.
Satria terdiam, ternyata kakak iparnya sedang hamil, pantas saja semalam digendong kakaknya, ternyata sedang sakit. Kenapa kakaknya tidak memberitahu keluarga kalau istrinya sedang hamil?
“Bagaimana kalau kau mampir ke rumah kami, kau juga kan berjanji bertemu dengan kakakku kan?” ajak Satria.
Cristian mengangguk setuju.
“Perlu kita telpon dulu?” tanya Cristian.
“Tidak usah, kita langsung ke rumah saja. Ayo!” ajak Satria.
Akhirnya mereka berdua menuju rumahnya Damian dengan mengendarai kendaraan mereka masing-masing.
Dirumahnya Damian, Hanna sedang berdiri di balkon kamarnya di lantai atas,saat Damian mencarinya.
“Kau tidak ke kantor hari ini?” tanya Hanna, karena Damian masih menggunakan baju santainya.
“Tidak, aku bekerja dirumah saja,” jawab Damian, menghampiri Hanna.
“Kau ada acara hari ini? Kalau kau jenuh, ingin berbelanja atau ke salon kau bisa minta antar supir,” kata Damian, menatap wanita itu.
“Iya, mungkin aku akan ke salon sebentar membersihkan rambutku, aku merasa masih ada ulat bulu di rambutku,” jawab Hanna.
“Bagaimana bentol-bentolnya sudah hilang?” tanya Damian,meraih tangan Hanna, melihat bentol-bentolnya.
“Totet totet!” terdengar suara klakson di halaman bawah. Damian menoleh kebawah, dilihatnya Mogenya Satria berhenti di depan rumah, adiknya itu menengadah menatapnya sambil membunyikan klakson motornya.
Hanna juga menoleh kearah suara klakson. Dia langsung saja bête melihat adik iparnya itu, dia mengalihkan pandangnya menatap Damian.
Mobilnya Cristian memasuki halaman rumah. Terdengar suara klakson mobil sekarang. Satria menoleh pada Cristian dan menunjukkan tangannya menunjuk ke atas gedung, ke balkon kamar kakaknya.
Cristian menghentikan mobilnya. Matanya menatap ke atas balkon itu, jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat sosok wanita yang berdiri menyamping dengan tangan yang dipegang oleh Damian yang sedang melihat bentol-bentolnya Hanna.
Tanpa rambut berwarna dan kacamatanya, istri Damian itu sangat mirip dengan Hanna, apakah itu Hanna? Tidak, tidak mungkin Hannanya. Bagaimana mungkin Hannanya menikah dengan Damian? Siapa Damian? Yang dia tahu Hanna tidak memiliki teman bernama Damian. Semua teman-temannya Hanna, dia mengenalnya. Apakah Hanna selingkuh saat mereka pacaran? Kemudian janjian dengan Damian untuk kabur dihari pernikahannya? Tapi ah tidak mungkin! Orangtuanya istri Damian itu namanya Sanjaya dan Sulastri berarti bukan Hannanya.
Cristian pun menghela nafas panjang. Mencoba menenangkan hatinya.
Damian tampak terkejut melihat kedatangan sebuah mobil mengikuti moge adiknya.
“Sepertinya aku ada tamu,” kata Damian, saat Satria memberi kode menunjuk kearah mobil Cristian.
“Coba aku temui ya. Kalau kau mau ke salon, pergi saja, tapi ingat jangan pulang terlalu sore,” kata Damian pada Hanna, sambil masuk ke kamarnya diikuti oleh Hanna yang malas menoleh lagi pada adik iparnya dibawah, jadi tidak melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.
Cristian turun dari mobilnya, Satria segera menghampirinya.
“Cristian, aku minta tolong padamu supaya tidak memberitahukan alasan aku bertemu denganmu, aku tidak mau nanti kakakku salahfaham dan mengira aku ikut campur urusannya,” kata Satria.
“Iya, aku mengerti, kau tennag saja,” jawab Cristian, sambil menepuk bahu Satria.
“Terimakasih. Ayo masuklah,” ajak Satria. Merekapun masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Damian sudah menyambutnya.
“Cristian? Aku tidak percaya kau datang ka rumahku, apalagi dengan Satria!” seru Damian, sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan Cristian.
“Kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol ternyata dia adikmu, jadi aku mampir. Apakah kedatanganku mengganggumu?” kata Cristian, tersenyum ramah.
“Tentu saja tidak, aku senang kau datang ke rumahku, ayo-ayo duduklah!” seru Damian, mempersilahkan tamunya duduk.
“Bagaimana dengan urusanmu itu? Sudah bereskah?” tanya Damian saat Cristian sudah duduk bersama Satria.
“Sudah, sudah,” jawab Cristian.
Damian menoleh pada Satria.
“Ini rekan bisnisku di Bali juga di proyek real estate di dekat pantai,” kata Damian.
“Ya tadi Cristian sudah bercerita,” jawab Satria.
“Begitu?” ucap Damian, diangguki Cristian.
Satria menoleh pada kakaknya.
“Kakak, kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kakak ipar sedang hamil?” tanya Satria. Sontak saja Damian terkejut, dia menoleh pada Cristian yang tersenyum padanya.
“Aku minta maaf, aku fikir kau sudah memberitahu keluargamu kalau istrimu sedang hamil,” kata Cristian.
Wajah Damian langsung pucat dan serba salah.
“Ya,” jawabnya pendek.
“Siapa yang hamil?” tiba-tiba ada suara perempuan mengagetkan mereka.
Semuanya menoleh kearah suara. Ibu tirinya Damian sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Dia menghentikan langkahnya saat melihat Cristian, tadi dia mendengar suara mobil yang datang jadi ingin melihat tamunya. Dia tertegun menghentikan langkahnya karena Crsitian sekilas mirip dengan Damian, membuatnya mengingatkannya pada ayahnya Damian juga ayahnya Satria yang sudah meninggal.
“Siang tante,” sapa Cristian tersenyum ramah.
“Siang,” jawab Ny. Sofia, tersenyum ramah, mecoba mengendalikan diri dari keterkejutannya karena Cristian sekilas mirip Damian.
“Siapa yang hamil?” tanyanya mengulang.
“Kakak ipar Bu,” jawab Satria.
“Benarkah? Damian! Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau istrimu sedang hamil? Dimana dia sekarang?” tanya Ny. Sofia.
“Dia sedang istirahat, jangan diganggu!” kata Damian dengan ketus.
“Oh begitu?” gumam Ny. Sofia.
“Sudahlah ibu, nanti saja menemuinya, kakak ipar pasti ingin istirahat” kata Satria.
“Ya, nanti saja ibu menemuinya,” jawab Ny.Sofia. Menoleh lagi pada Cristian, lalu meinggalkan ruang tamu itu.
*****************
Jangan lupa like vote dan komen
Baca juga karya author yang lain :
- “Kontes menjadi istri Presdir” episode : Lomba memasak