Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-104 Bertemu Henry



Sekitar jam 7.30 malam Shezie berangkat menuju Hotel berlin dengan menggunakan taxi. Dia tidak menggunakan mobilnya Henry karena memang mobil itu tidak dia bawa saat pergi dari rumah.


Bahkan rumah itu meskipun Henry sudah memberikannya tapi dia belum pernah sekalipun melihatnya atau berfikir untuk menempati rumah itu. Banyak kenangan di rumah itu yang akan membuatnya merasakan kesedihan dan semakin tidak bisa melupakan Henry.


Tapi sekarang dia sedang hamil, dia tidak tahu apakah dia bisa bersama Henry lagi atau tidak. Yang pasti dia harus membatalkan pernikahannya dengan Martin. Setelah itu barulah dia akan menemui Henry. Dia akan senang kalau bisa kembali tapi kalau tidak, dia sudah siap untuk hidup sendiri membesarkan bayinya.


Taxi itu berhenti di halaman parkir di Hotel Berlin. Shezie langsung menuju restaurant Hotel itu. Sekarang suduah pukul 8 lewat beberapa menit, mungkin Martin masih menunggunya, fikir Shezie.


Saat akan memasuki restaurant itu tampak ramai pria wanita yang menggunakan stelan blazer memasuki restaurant itu. Sepertinya memang ada perusahaan yang mengadakan acara di Hotel itu.


Kaki Shezie akan malangkah memasuki restaurant itu, tapi karena matanya sambil mencari-cari Martin diantara orang yang berkerumun di depan restarurant, tiba-tiba dia menyenggol seseorang yang sedang membelakanginya berbicara dengan seorang  pria yang sepertinya akan pamitan.


“Maaf,” ucap Shezie dengan terkejut, membuat pria yang membelakanginya itu membalikkan badannya kerena ada yang menabrak punggungnya.


Jantung Shezie berhenti berdetak saat melihat pria yang sekarang berdiri menatapnya.


“Henry?” panggilnya, tidak percaya. Sudah lebih dari satu bulan dia tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Henry apalagi bertemu. Sekarang di Hotel tempat janjiannya dengan Martin dia bertemu mantan suaminya itu. Pria itu terlihat tambah tampan dan gagah, atau karena memang dia sangat merindukannya?


Raut wajah Shezie langsang berubah berseri, ada bahagia dan rindu saat melihatnya. Dia ingin sekali langsung mengatakan pada Henry kalau dia sedang hamil sekarang, pastilah Henry akan sangat senang mendengarnya.


“Kau disini?” tanya Henry keheranan, dia juga sangat terkejut bisa bertemu Shezie disini. Sudah sebulan lebih wanita itu tidak ada disampingnya, rasanya dia begitu merindukannya. Inginnya dia memeluk dan menciumnya tapi dia ingat kalau dia dan Shezie sudah bercerai dan mereka tidak mungkin bersatu lagi.


“I iya,” jawab Shezie mendadak gugup.


“Dengan siapa?” tanya Henry, matanya melirik kesekitar ruangan hotel itu, mencari-cari sosok Martin yang pasti sedang bersama Shezie.


Shezie tidak menjawab.


“Kau disini?” tanyanya balik.


“Iya, aku ada acara workshop tapi sudah selesai, kami akan pulang,” jawab Henry.


“Oh begitu…” ucap Shezie, mendadak canggung.


“Apa kabarmu? Kau baik-baik saja?” tanya Henry, tatapannya tidak lepas menatap mantan istrinya itu.


“Iya,” jawab Shezie.


“Kau ada janji dengan Martin?” tanya Henry.


“Iya, dia mengajak makan malam disini, aku baru tiba, aku harus mencarinya,” jawab Shezie.


Ada rasa cemburu yang dirasa Henry saat tahu ternyata Shezie janjian bertemu dengan Martin, tapi sekali lagi dia sudah berpisah dengan Shezie.


Merekapun sekarang saling diam membisu, mereka bingung harus berbicara apa. Ada rasa rindu yang teramat sangat dihati keduanya tapi tidak ada yang mereka lakukan selain memendam perasaannya masing-masing.


“Henry,” ucap Shezie, menatap wajah tampan itu.


“Iya,” jawab Henry.


“Ada yang ingin aku katakan padamu,” ucap Shezie.


“Iya, katakana saja,” jawab Henry.


Shezie menatap kedua bola mata Henry, tatapan mata itu begitu sejuk dihatinya. Tatapan mata yang biasanya selalu didapatnya setiap hari.


“Aku…aku tidak tahu aku harus bicara dari mana dulu,” ucap Shezie dengan ragu-ragu, dia ingin mengatakan pada Henry kalau dia sedang hamil, Henry pasti akan sangat senang mendengarnya.


“Iya, kenapa?” tanya Henry tampak penasaran.


Suara Henry itu terdengar sangat merdu ditelinga Shezie, dia semakin merasakan pria itu masih menyayanginya. Bisa dilihat dari cara dia menatapnya, dan berbicara padanya.


“Aku ingin kau tahu kalau aku…” ucapan Shezie terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya.


“Sayang!” suara seorang wanita terdengar dari arah pintu masuj restaurant.


Deg! Hati Shezie seakan berhenti berdetak, ada yang memanggil Henry dengan sebutan sayang.


Diapun menoleh kearah pintu restaurant, seorang wanita yang dikenalnya tampak terkejut juga melihatnya, wanita itu Andrea. Ternyata Henry tidak sendiri tapi dia bersama Andrea!


Tiba-tiba saja rasa bahagia tadi hilang musnah begitu saja, berganti rasa sedih dan cemburu. Henry bersama Andrea di Hotel ini. Meskipun tadi kata Henry dia sedang ada workshop tapi melihat Andrea bersama Henry rasanya tidak bisa dipungkiri lagi, Shezie merasa cemburu.


“Sayang, aku sudah selesai, tadi kau mengajakku buru-buru pulang,” kata Andrea, sambil mendekati Henry dan langsung memeluk tangannya.


Shezie menatap Andrea lalu pada Henry, matanya terasa panas melihat kemesraan mereka.


“Kau, sedang apa kau kesini?” tanya Andrea, menatap Shezie.


“Oh aku lupa, kau pasti sedang bersama Martin kan? Aku dengar kalian akan menikah beberapa hari lagi, selamat,” ucap Andrea.


Henry terkejut mendengarnya, teryata Shezie akan menikah dengan Martin secepat itu? Mereka baru sebulan bercerai, kenapa Shezie tidak menunggu beberapa bulan bercerai baru menikah dengan Martin?


Shezie tidak menjawab pertanyaan Andrea, mulutnya seperti terkunci, ada rasa sesak didadanya melihat mantan suaminya bersama Andrea. Rencana mengatakan kalau dia hamil seketika terhenti.


“Tadi kau akan bicara apa?” tanya Henry.


“Aku..aku…aku akan mengatakan itu tadi..,” jawab Shezie, kebingungan.


Andrea melirik pada Henry.


“Sayang, ayo kita pulang, tadi kau yang mengajakku buru-buru pulang,” ajak Andrea.


Henry masih menatap wajahnya Shezie, wanita itu berbohong, dia bukan akan mengatakan menikah dengan Martin, dia akan mengatakan hal lain.


Andrea menatap Shezie, dia tidak suka Henry bicara lama-lama dengan Shezie.


“Sepertinya Martin menunggumu didalam, aku tadi melihatnya berbincang dengan Pak Jodi di dalam,” kata Andrea.


"Aku tidak tahu kalau kau mengenal Martin," kata Henry, menoleh pada Andrea.


"Dia temannya pacar temanku, aku hanya pernah melhatnya saja sekilas," jawab Andrea berbohong.


“Baiklah aku masuk kedalam,”ucap Shezie, diapun menatap Henry.


Rasanya begitu berat pergi dari Henry tapi melihat sikap mesranya Andrea mungkin saja Henry


sudah menjalin kasih lagi dengan Andrea.


“Aku permisi,” ucap Shezie, lalu membalikkan badannya, dan beranjak masuk kedalam restaurant.


Hati Shezie terasa sakit, sakit melihat mantan suaminya bersama wanita lain tapi dia tidak bisa menyalahkan Henry, dia sendiri malah akan menikah sebetar lagi. Meskipun Henry mungkin tidak tahu kalau dia datang kesini untuk membatalkan pernikahannya.


Disentuhnya perutnya yang masih rata. Dia terpaksa tidak mengatakannya karena kehadirannya Andrea. Dia ingin mengatakannya, tapi dia merasa bingung sekarang apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Henry? Dia butuh privasi.


Shezie memutar pandangannya kedalam ruangan restaurant itu, dilihatnya Martin bicara dengan seorang pria setengah baya dan pria itu kemudian pergi meninggalkan Martin sendirian.


Shezie melirik sekilas pria yang keluar dengan melewatinya, lalu pada Martin yang juga menoleh kearahnya.


“Sayang!” panggil Martin.


Shezie langsung menghampirinya.


“Sayang, ayo duduklah!” ucap Martin sambil menggeser kursinya supaya Shezie duduk.


Sheziepun duduk disana, barulah Martin duduk kembali dikursinya.


“Maaf kita harus janjian disini, aku sedang ada meeting, maaf,” ucap Marin dengan sopan.


“Tidak apa-apa,” jawab Shezie.


“Kau mau makan apa?” tanya Martin.


“Tidak, aku tidak mau makan,” jawab Shezie membuat Martin terkejut.


“Kenapa? Kau kesini kan untuk makan malam,” ucap Martin, lalu memanggil seorang pelayan.


“Kau mau mengambil sendiri atau diambilkan?” tanya Martin.


Shezie tidak menjawab, karena pelayan tadi sudah tiba dimeja mereka. Martinpun bicara pada pelayan untuk membawakan makanan yang sama dengan yang dia pesan.


“Aku juga belum makan, acara meetingnya baru selesai,” ucap Martin.


Shezie tidak menjawab, hatinya sedang lesu sekarang, ingatannya pada Henry yang bersama Andrea.


“Aku tidak bisa lama-lama, aku langsung saja,” ucap Shezie.


“Maksudmu langsung saja apa?” tanya Martin.


“Aku ingin membatalkan pernikahan kita,” jawab Shezie.


“Apa?” Martin pura-pura terkejut, dia sudah memprediksi itu akan dilakukan Shezie karena ibunyapun sudah duluan membatalkannya dan pasri Shezie mengikuti keinginan ibunya.


“Apa maksudmu begitu?” tanya Martin.


“Aku ingin membatalkan pernikahan kita,” ulang Shezie.


Martinpun terdiam, dia langsung naik darah, ternyata memang Shezie sudah mempermainkannya tanpa memikirkan perasaannya. Wanita itu sudah membuatnya kehilanga kesabaran. Sepertinya apa yang dilakukannya untuk menjual Shezie pada Pak Jodi adalah benar, biar Shezie tahu rasa.


****


Readers kita memasuki episode-episode terakhir.


Jangan lupa like dan vote ya,  rasa-rasanya aku jarang deh minta dukungan vote kalian.


Ada beberapa episode kedepan yang sudah kutulis, kalau sempet aku up lagi sore ya.


Tapi jangan lupa likenya ditiap bab, jangan diloncat-loncat.


************