
Terdengar lagi Damian bicara.
“Karena ternyata aku mencintai ibunya Henry,” ucap Damian.
Mendengar pengakuan Damian, membuat hati Bu Vina semakin tersayat-sayat, berbeda dengan Hanna merasa lega ternyata suaminya jujur mencintainya.
“Seharusnya aku tidak pernah mengijinkammu pergi ke Eropa waktu itu, seandainya aku tahu kalau itu kepergianmu untuk selamanya,” kata Bu Vina dengan mata yang yang berkaca-kaca.
“Kau benar-benar mencampakkanku Damian, kau pergi dan tiba-tiba kau sudah menikah, semua sangat menyakitkan!” kata Bu Vina, kini airmata itu menetes dipipinya.
Melihatnya membuat Damian merasa bersalah, diapun berjongkok didepan Bu Vina.
“Aku tidak bermaksud menghianatimu, memang pernikahanku tidak disengaja, semua berawal dari kesalahfahaman,“ ucap Damian, menatap ibunya Shezie.
“Kau banyak alasan, seharusnya kau kembali, tapi kau tidak kembali!” teriak Bu Vina, airmata deras membasahi pipinya.
“Aku minta maaf, aku jatuh cinta padanya,” jawab Damian.
“Aku mencintai ibunya Henry,” lanjut Damian.
“Kau bisa dengan mudah mengucap maaf, apa kau tidak memikirkan perasaanku, untuk melupakanmu aku terpaksa menerima lamaran pria yang tidak aku cintai, ayahnya Shezie,” kata Bu Vina, tidak bisa membendung airmatanya lagi yang terus menetes dipipinya.
Shezie terkejut mendengarnya, ternyata ibunya tidak mencintai ayahnya, pantas saja ibunya tidak banyak bercerita tentang ayahnya, bahkan makam ayahnyapun dia tidak tahu, ternyata ayahnya tidak berarti apa-apa buat ibunya, Shezie merasa sedih mengetahui kenyataan ini, matanya langsung berkaca-kaca.
“Aku minta maaf,” ucap Damian, dia merasa serba salah, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi.
Bu Vina semakin tidak bisa menahan tangisnya, dia terus menangis, merasakan luka lama yang terungkit kembali, mengingat betapa beratnya menjalani pernikahan dengan pria yang tidak dicintainya meskipun pernikahannya dengan ayahnya Shezie hanya beberapa tahun sampai akhirnya ayahnya Shezie meninggal saat Shezie kecil.
“Kau tahu, betapa beratnya aku berusaha mencintai ayahnya Shezie? Menjalani hari-hariku dengan pria yang tidak aku cintai begitu sangat menyiksaku, aku sudah terlanjur mencintaimu,” ucap ibunya Shezie, sambil menghapus airmatanya.
Henry menoleh pada Shezie yang kini butiran airmata menetes dipipinya. Henry mengulurkan tangannya pada Shezie tapi istrinya itu menepiskan tangannya Henry.
“Sayang,” panggil Henry dengan lirih, dia mengerti perasaannya Shezie, sepertinya Shezie akan menyalahkan ayahnya karena masalah ini. Dia pasti sakit hati karena ibunya tidak mencintai ayahnya.
Melihat Bu Vina tidak berhenti menangis, membuat Damian bangun dari jongkoknya, meraih bahunya Bu Vina supaya bersandar padanya dan memeluknya.
“Aku minta maaf,” ucap Damian.
Melihat Damian memeluk ibunya Shezie, matanya Hanna langsung berkaca-kaca. Damian mengatakan mencintainya tapi kenapa Damian memeluknya? Apa menghibur harus dengan memeluk segala?
“Sudah bernostalgianya?” terdengar suara yang mengagetkan Damian dan ibunya Shezie.
Henry terkejut saat melihat kearah ayahnya ternyata ibunya sudah ada disana.
Damian dan ibunya Shezie lebih terkejut lagi karena Hanna ada didepan mereka.
Damian melihat aura marah diwajahnya Hanna, tidak pernah istrinya menatapnya semarah itu. Kemudian dia tersadar telah memeluk ibunya Shezie, diapun segera melepaskannya.
“Sayang, ini tidak seperti yang kau lihat,aku tidak bermaksud..” ucap Damian tapi terpotong oleh ucapannya Hanna.
“Tidak bermaksud apa? Kau jelas-jelas memeluknya! Apa kau merasa bersalah dan menyesal menikah denganku?” tanya Hanna.
“Tidak sayang, aku minta maaf, bukan begitu,” jawab Damian dengan bingung, tadi dia spontan saja memeluk ibunya Shezie, bukan karena ada perasaan tapi karena dia merasa bersalah dan mencoba menghiburnya.
Hanna menoleh pada ibunya Shezie yang terlihat masih terkejut dengan kedatangannya.
“Aku tidak tahu ada kisah apa antara kau dan suamiku, jadi kalau kau tidak menyukai Shezie menikah dengan Henry, aku juga tidak! Kalau dari awal aku tahu kau mantan pacarnya suamiku, aku tidak akan mau melamar Shezie untuk Henry,” kata Hanna dengan tegas.
Henry segera menghampiri ibunya begitu juga dengan Shezie menghampiri ibunya.
Hanna menoleh pada Damian.
“Aku sangat kecewa padamu,” kata Hanna, lalu menoleh pada Henry.
“Henry, ayo kita pulang!” ajak Hanna.
“Tapi Bu,” Henry tampak kebingungan medapat ajakan dari ibunya.
“Buat apa disini? Sampai kapanpun kau dan Shezie tidak akan pernah bisa bersama,” ucap Hanna.
Henry menoleh pada Shezie, menatapnya dengan sedih dan bingung. Shezie tidak bicara apa-apa, dia juga galau dengan perasaannya, matanya sudah berkaca-kaca menatap Henry.
Melihat Hanna akan pergi begitu saja, Damian memanggilnya.
“Sayang! Tunggu!” panggil Damian.
Hanna menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya bukan karena Damian memanggil, tapi menarik tangannya Henry yang sedari tadi malah diam saja serba salah.
“Ayo kita pulang!” ajak Hanna lagi, mengajak Henry meninggalkan tempat itu.
Henry menoleh pada Shezie. Mata mereka bertemu tapi dengan tatapan nanar, mereka melihat jarak yang terbentang luas didepan mereka.
“Sayang! Tunggu!” panggil Damian lagi, tapi Hanna tidak menggubrisnya. Damian menoleh pada Henry yang juga menoleh pada Damian, dia sangat bingung dengan semua ini. Tapi Hanna kembali menarik tangan Henry, merekapun pergi meninggalkan taman itu.
Setelah kepergian Hanna dan Henry, tidak ada lagi yang bicara. Bu Vina masih terlihat shock dengan kejadian hari ini, diapun menghapus sisa sisa airmata dipipinya.
Damian menatap Shezie, dia bingung harus bicara apa. Shezie menatapnya dengan tatapan tidak suka. Damian sudah bisa menebak itu pasti karena Ibunya Shezie mengatakan tidak mencintai ayahnya Shezie.
Damian menoleh pada ibunya Shezie.
“Aku pulang, aku harus menjelaskan ini pada istriku,” ucap Damian.
Bu Vina menatap kepergiannya Damian dengan tatapan hampa.
Saat matanya bertemu dengan matanya Shezie, putrinya itu menatapnya tajam.
“Jadi ibu tidak mencintai ayahku? Jadi ibu mencintai ayah dari suamiku?” tanya Shezie, sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, matanya sudah berkaca-kaca, airmata bening sudah mengumpul dikelopak matanya.
“Sayang, ibu minta maaf, ibu tidak bermaksud..” Bu Vina tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dia sungguh bingung, sangat bingung, dia tidak menyangka Shezie akan ada ditempat itu dan mendengarkan percakapannya dengan Damian.
“Aku benci ibu,” ucap Shezie sambil menangis, airmata tak tertahankan lagi langsung menganak sungai dipipinya. Diapun beranjak meninggalkan ibunya sendiri.
Bu Vina terdiam, dia tahu Shezie pasti kecewa dengan perkataannya. Dia menyesal telah mengatakan itu dan tidak bermaksud menyakiti Shezie.
Sepanjang jalan Hanna hanya berdiam diri, dia tidak tahu apakah dia harus marah dengan sikapnya Damian? Jelas terlihat Damian begitu perhatian pada ibunya Shezie. Seharusnya Damian tidak perlu memeluk ibunya Shezie. Kalau dia tidak segera datang mungkin dia akan memeluknya lebih lama. Dia kesal pada Damian, dia merasa cemburu.
Hati Hanna semakin merasa kesal mengingat Damian juga sampai menyewa orang untu mencari wanita itu, bahkan memberikan biaya pengobatan secara pribadi. Apakah Damian sebenarnya masih menyimpan rasa pada ibunya Shezie itu?
Apakah dia dalam hubungan Damian dengan ibunya Shezie dia adalah orang ketiga? Dia tidak pernah merebut apapun dari ibunya Shezie, pernikahannya dengan Damian terjadi begitu saja juga timbulnya rasa cinta itu.
Henry mengendarai mobilnya sendiri, dia bingung dengan semua ini, apakah ini artinya dia tidak akan pernah bisa bersama Shezie seperti yang dikatakan ibunya? Dia bisa melihat dari sorot matanya Shezie yang marah dan kecewa karena ibunya tidak mencintai ayahnya. Bagaimana ini? Dia sudah terlanjur mencintai Shezie. Benar-benar bukan sesuatu yang mudah.
Damian kembali menggunakan taxinya. Dia juga bingung dan merasa bersalah, bagaimana cara menjelaskannya pada Hanna, tidak pernah Hanna marah seperti ini padanya, Hanna pasti sakit hati karena mengira dia perhatian pada ibunya Shezie. Damian juga memikirkan Henry, dia tidak menyangka kalau masa lalunya akan membuat putranya berpisah dengan orang yang dicintainya.
****************