
Henry merasa gelisah di ruang kerjanya. Seharian ini fikirannya teringat terus pada Shezie, tapi dia tidak bisa menghubungi Shezie lagi. Berada jauh dari Shezie begitu menyiksanya. Akhirnya diapun beranjak dari kursi kerjanya, dia ingin menemui Shezie sekarang.
“Bu, aku pulang cebih cepat,” ucap Henry pada sekretarisnya.
“Baik Pak,” jawab sekretarisnya.
Sementara itu Hanna masih mengikuti kemana taxi yang Damian tumpangi pergi. Hati Hanna semakin gelisah saat jalan yang ditempuh taxi itu bukan lagi ke arah rumahnya atau rumah Henry, kemana Damian pergi?
Perasaan was-was semakin menghantuinya, apakah selama ini Damian telah membohongi dirinya? Kebohongan apa yang Damian lakukan? Sekian lama menikah dengan Damian, sekarang terasa kalau dia tidak mengenal Damian. Hatinya sangat kecewa mendapati Damian tidak jujur padanya.
Semakin lama taxi itu semakin jauh dari tujuan rumahnya juga rumah Henry.Kini taxi itu memperlambat jalannya dan berhenti dipingir jalan. Hanna meminta supir untuk menghentikan mobilnya. Kenapa taxi itu berhenti? Diapun melihat keluar lewat jendela, ternyata taxi itu berhenti di tempat dimana dulu Hanna pernah melihat Damian ke sebuah rumah, menemui wanita yang tidak jelas terlihat olehnya. Hatinya semakin terbakar cemburu, ternyata Damian ingin menemui wanita itu lagi.
“Apa kau menghianatiku Damian?” gumamnya dalam hati, matanya langsung berkaca-kaca saja.
Tapi Hanna terkejut saat taxi itu kembali berjalan, dan Damian sama sekali tidak turun.
“Pak ikutin taxi itu lagi Pak!” perintahnya pada supir itu.
Mobilnyapun kembali melaju.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, taxi itu berbelok masuk halaman rumah sakit, Hanna terkejut lagi, buat apa Damian ke rumah sakit? Kenapa tidak menemui wanita itu dirumahnya dan malah ke rumah sakit? Apa wanita itu sedang sakit?
Hanna melihat nama rumah sakit itu, ini adalah rumah sakit yang dia kunjungi kemarin bersama Henry, untuk menemui ibunya Shezie. Tunggu…apakah Damian menemui ibunya Shezie? Damian tahu darimana ibunya Shezie dirawat disini? Tapi kenapa Damian pergi menemui ibunya Shezie tanpa mengajaknya?
Mobil Hanna mulai memasuki halaman rumah sakit itu. Dilihatnya dikejauhan Damian sudah keluar dari taxi itu dan memasuki pintu masuk rumah sakit itu.
Hannapun segera turun, berlari mengikuti Damian jangan sampai dia kehilangan jejaknya Damian.
Sore itu rumah sakit terlihat ramai banyak yang berkunjung.
Hanna mencoba menelepon Damian, dia ingin tahu apakah ponselnya aktif atau tidak, tenryata tidak aktif. Hatinya semakin gelisah saja, sikapnya Damian benar-benar sangat mencurigakan.
Di dalam ruang rawat Shezie membantu ibunya turun dari temat tidur dan pindah duduknya ke kursi roda.
“Biasanya kalau sore banyak yang berjalan-jalan di taman Bu,” ucap Sheezie, sambil menyelimuti ibunya yang sudah duduk di kursi roda.
“Iya, ibu jenuh di dalam kamar terus,” kata Bu Vina.
“Ayo Bu,” ajak Shezie, sambil mendorong kursi roda itu keluar dari kamar itu menyusuri lorong menuju taman yang berada ditengah tengah bangunan rumah saat itu.
“Benarkan Bu, disini sangat indah, cuacanya juga sangat cerah, banyak pasien yang duduk-duduk menghilangkan bosannya,” kata Shezie. Diapun memilih tempat yang teduh dan mengunci kursi roda ibunya.
Bu Vina tersenyum senang melihat taman itu, setelah seharian berada didalam kamarnya akhirnya dia diperbolehkan keluar kamar dan menghidup udara segar ditaman.
Hanna masih mengikuti langkah Damian dari kejauhan, hatinya semakin berdebar-debar penasaran, siapa yang akan Damian temui. Kelau menemui ibunya Shezie, kenapa Damian pergi sendirian? Kemarin dia sudah mengatakan supaya menemui ibunya Shezi bersamanya, kenapa malah tatap saja pergi sendiri, atau memang Damian akan menemui orang lain?
Dilihatnya Damian mulai memasuki deretan kamar rawat inap. Di daerah ini, tidak ada tempat untuk Hanna bersembunyi, karena isinya kamar-kamar . Hanna bersembunyi disebuah tembok yang agak jauh tapi masih bias melihat kemana arah kakinya Damian melangkah.
Tiba-tiba Damian berhenti disebuah ruang rawat inap. Ternyata benar, Damian akan menemui ibunya Shezie, itu adalah kamarnya ibunya Shezie. Hanna melihat kesekeliling, dia tidak bisa mendengarkan percakapan Damian dengan ibunya Shezie.
Dilihatnya Damian menghentikan seorang perawat yang lewat, entah apa yang dibicarakan, hanya perawat itu seperti menunjukkan sebuah arah. Tidak berapa lama Damian, berjalan lagi keluar dari daerah ruangan rawat inap itu.
Hanna buru-buru pergi berpindah persembunyinya, karena itu artinya Damian akan kembali melewatinya lagi. Kenapa Damian kembali? Hanna masih berada dipersembunyiannya saat dilihatnya Damian sudah melewatinya. Mau kemana Damian?
Hanna harus menunggu beberapa waktu sampai Damian agak menjauh, diapun buru-buru mengikuti sambil sesekali bersembunyi di balik tembok atau apapun yang bisa membuatnya tidak ketahuan oleh Damian. Ternyata Damian memasuki area taman. Dia menghentikan langkah kakinya dan mengedarkan pandangannya kesekeliling taman, sepertinya ada yang sedang dicarinya.
Hati Hanna semakin tidak sabar saja ingin tahu, siapa yang akan Damian temui itu?
Shezie yang sedang duduk disebuah kursi taman menemani ibunya menikmati sore ini, bangun dari duduknya.
“Bu, aku lupa tidak membawa minum, ibu pasti haus. Aku kembali ke kamar dulu Bu, ambil air,” kata Shezie.
“Iya,” jawab ibunya mengangguk pelan dan hanya tersenyum pada Shezie. Putrinya itupun beranjak meninggalkan ibunya sendirian.
Shezie melangkahkan kakinya meninggalkan taman, kembali menuju ruang rawat inap.
Henry melajukan mobilnya perlahan memasuki halaman rumah sakit itu. Saat memarikir mobilnya dia terkejut melihat mobil Shezie ada di halaman parkir itu.
Diapun turun dan menghampiri mobil itu, apakah ibunya sedang ke rumah sakit?
Dilihatnya Pak Supir sedang beristirahat duduk didalam mobil.
“Pak!” panggil Henry pada Pak Supir yang langsung menoleh kearahnya.
“Pak Henry!” kata Pak Supir sambil keluar dari mobil itu.
“Bapak sedang apa disini?” tanya Henry.
“Sedang mengantar ibu Pak,” jawab Pak Supir.
“Mengantar ibu? Ibu bukannya ada acara dengan teman-temannya?” tanya Henry.
Ibunya sempat bilang kalau dia akan meminjam mobilnya Shezie untuk datang kerumah temannya.
“Acaranya sudah selesai Pak, tadi sempat ke bandara dulu lalu kesini,” jawab Pak Supir.
“Ke Bandara?” tanya Henry tambah heran saja.
“Mengantar temannya ibu yang kan menjemput anaknya di Bandara Pak, mobilnya dibawa supirnya ke bengkel,” jawab supir.
“Masuk ke dalam Pak,” jawab Pak Supir.
“Apa ibu menemui Shezie?” tanya Henry.
“Kurang tahu Pak, ibu tidak bilang,” jawab supir, tidak mengatakan kalau dia mengikuti sebuah taxi didepannya.
“Baiklah, aku masuk dulu,” ucap Henry, sambil menepuk bahu supirnya Shezie itu.
Henry bertanya-tanya dalam hati, buat apa ibunya datang ke rumah sakit menemui Shezie tanpa bicara dulu padanya? Apa ibunya ingin bertemu dengan ibunya Shezie lagi membahas lamarannya lagi?
Mesikipun bingung, Henry melangkahkan kakinya menuju gedung ruang rawat inap pasien.
Shezie mengambil sebuah botol minuman air putih untuk ibunya, diapun keluar dari kamar dan menutup pintunya. Saat membalikkan badannya dia terkejut saat ada sosok yang dikenalnya sudah berdiri menatapnya.
“Henry!” panggil Shezie, menatap wajahnya Henry, dia sangat terkejut Henry datang menemuinya.
“Sayang, apa kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir, aku terus-terusan memikirkanmu,” ucap Henry, dia merasa lega bisa melihat Shezie langsung.
Shezie hanya mematung menatapnya, dia sangat senang Henry datang , tapi dia bingung harus melakukan apa? Ibunya sudah menolak Henry dan Martin sedang menyiapkan surat peceraiannya. Sebelum semua itu terjawab, kedua tangan Henry sudah merengkuh tubuhnya dibawa kedalam pelukan Henry.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap Henry, memeluk Shezie dengan erat.
Tidak ada kata yang bsia diucapkan Shezie, dengan ragu kedua tangannyapun memeluk Henry, dia juga sangat merindukan suaminya. Suami yang sebenarnya yang hanya dalam waktu singkat harus dia tinggalkan kembali.
Beberapa lama mereka hanya saling memeluk tanpa mengucapkan kata apapun. Kemudian Henry melonggarkan pelukannya.
“Dimana ibu?” tanya Henry.
“Ibu? Ibuku sedang ditaman,” jawab Shezie.
“Bukan ibumu, tapi ibuku, apakah ibuku sedang bersama ibumu?” tanya Henry.
“Apa maksudmu? Ibumu datang kesini?” Shezie malah berbalik bertanya, membuat Henry heran.
“Iya, ibuku, aku bertemu supirmu di halaman parkir, katanya dia mengantar ibu kesini, dan sekarang sedang menunggunya,” kata Henry.
Shezie mengerutkan keningnya, setahu dia tidak ada yang berkunjung hari ini.
“Hari ini tidak ada yang berkunjung pada ibuku,” jawab Shezie.
“Kau serius tidak bertemu ibuku?” tanya Henry lagi, dengan bingung.
“Iya, ibumu tidak ada kemari,” jawab Shezie.
“Tapi kenapa kata supir ibuku masuk kerumah sakit? Kalau pak supir menunggu, itu artinya ibu sudah duluan menemuimu kan?” tanya Henry.
“Entahlah, aku sama ibuku tadi sedang di taman, tidak ada siapa-siapa,” jawab Shezie.
Saat mereka bicara, ada seorang perawat yang lewat.
“Sus, apa ada yang datang menjenguk ibuku kemari? Aku dan ibuku sedang ada ditaman,” kata Shezie.
“Maaf sepertinya tidak ada, yang ada juga seorang pria yang menanyakan Bu Vina” jawab perawat itu.
“Seorang pria?” tanya Shezie keheranan, sepertinya tidak pernah ada yang menjenguk seorang pria.
“Iya, tadi sudah saya katakan kemungkinan Bu Vian sedang di taman,” jawab perawat itu.
Shezie dan Henry saling berpandangan.
“Maaf, saya permisi,” kata perawat itu.
“Baiklah, terimakasih Sus,” ucap Shezie.
Henry menatap Shezie yang tampak sedang berfikir.
“Siapa pria yang menemui ibumu?” tanya Henry.
“Aku tidak tahu, setahuku ibuku tidak punya teman pria,” jawab Shezie.
Henry terdiam tidak menjawab, dia masih bingung dengan keberadaan ibunya.
“Ayo kita ketaman saja, aku ingin tahu pria yang menemui ibu, mungkin saja ibumu juga ada ditaman,” kata Shezie.
“Ayo,” jawab Henry, mengulurkan tangannya memeluk bahunya Shezie. Merekapun melangkah meninggalkan tempat itu menuju taman rumah sakit.
***************
Planing NEXT NOVEL...