Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-84 Kabar Hanna



Hanna duduk di depan meja riasnya, menatap cermin sambil memegang pipinya.


“Kenapa kau terus memegang pipimu, aku kan tidak menciummu?” tanya Damian, saat mereka sudah pulang ke rumah.


“Kau memang tidak menciumku, aku sedang menghitung berapa kali kau mencium pipiku,” Hanna mengingat ingat dan mengitung berapa kali Damian mencium pipinya.


“Apa itu artinya kau ingin aku lebih banyak menciummu, begitu?” tanya Damian.


Melihat tingkahnya Hanna membuat Damian tertawa dan berdiri memperhatikannya.


Hanna tidak mengubris apa yang dikatakan Damian, dia sedang sibuk kapan saja Damian mencium pipinya.


Damianpun menghampirinya dan berdiri dibelakang Hanna sambil memegang pundaknya.


“Apa kau sudah menemukan angkanya?” tanya Damian.


“Aku masih mengingat ingat,” ucap Hanna.


“Masih mengingat-ingat? Berarti kau lupa kapan aku menciummu?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Ah kau ini, masa kau lupa berapakali aku menciummu, baru juga beberapa kali sudah lupa,” keluh Damian sambil pergi menjauh.


Hanna langsung berdiri dan mengikutinya langkah Damian. Pria itu memakai jam tangannya, mau siap-siap berangkat, tadi sempat mandi dulu sepulang dari pasar.


“Jadi kau ingat berapa kali kau menciumku?” tanya Hanna.


“Kau kurang kerjaan menghitung ciuman,” jawab Damian.


Hanna malah tertawa.


“Aku tidak menyangka kalu kau tahu berapa kali menciumku,” ucap Hanna.


Damian membalikan badannya menghadap Hanna yang menatapnya.


“Katakan saja kau ingin aku menciummu lebih banyak lagi, tidak perlu pura-pura menghitung berapa kali aku menciummu?” ucap Damian.


“Aku hanya berfikir kalau aku lupa berapa kali kau mencium pipiku, itu artinya  ciumanya tidak berkesan,” ucap Hanna membuat Damian mengerutkan keningnya.


“Jadi maksudnya ciuman ku tidak berkesan begitu?” tanya Damian.


“Sepertinya begitu,” jawab Hanna.


“Jadi kalau cuma mencium pipi saja itu tidak bereksan?” tanya Damian lagi sambil melangkah mendekati Hanna.


“Sepertinya begitu kalau lupa,” jawab Hanna, menatap Damian yang melangakh semakin dekat.


“Jau kau mau ciuman yang berkesan?” tanya Damian.


“Oh aku tidak bicara begitu,” jawab Hanna, langung saja wajahnya memerah.


Damian melangkah lagi satu langkah lebih dekat.


“Ingat kau tidak pernah berhasil menciumku,” ucap Hanna. Damian langsung menghentikan langkahnya.


“Kau benar tidak akan berhasil, dan aku juga sedang tidak ingin menciummu,” ucap Damian menggeleng, membuat Hanna mencibir.


“Aku mau ke kantor. Jangan lupa minum obatnya,” kata Damian, membalikkan badannya, melangkah menuju pintu.


“Ya nanti aku minum obatnya,” jawab Hanna.


“Jangan kemana-mana, kau istirahat, aku tidak mau kau sakit,” kata Damian lagi, membuat Hanna langsung tersenyum.


“Kau kenapa senyum senyum? aku bicara serius,” kata Damian, kesal karena Hanna malah cengengesan.


“Kau mengkhawatirkanku ya?” tanya Hanna.


“Tidak usah ge'er, aku cuma tidak mau repot,” jawab Damian membuat Hanna sebal.


“Sudah pergi sana! Malas bicara denganmu, tidak bisa diajak beromantis-romatis, payah,”umpat Hanna.


“Aku tidak romantis?” tanya Damian, membalikkan badannya tidak jadi membuka pintu.


“Iya, kau lihat ini, lihat!” ujar Hanna, sambil memperlihatkan cincinnya.


“Kenapa dengan cincin itu?” tanya Damian.


“Seharusnya kau melamarku di tempat yang romatis,” jawab Hanna.


“Aku kan tidak melamarmu,” ucap Damian.


“Melamarku! Buktinya nih, cincin ini ada dijariku,” seru Hanna.


“Itu kan karena kau menangis saja makanya aku pakaikan, bukan berarti melamarmu,” ucap Damian.


“Apa maksudmu kau bicara begitu? Cincin ini kan buatku, kau lihat cukup dijariku, bilang tidak melamarku segala,” keluh Hanna.


Damian terdiam, berfikir sejenak.


“Katamu kan kalau melamar harus ditempat yang romantis?” tanya Damian.


“Benar,” jawab Hanna.


“Disini dimana tempat yang romantis?” tanya Damian.


“Aku tahu tempatnya!” seru Hanna.


“Kau tahu? Tempat apa itu?” tanya Damian.


“Rumah makan seafood,” jawab Hanna.


“Rumah makan seafoord?” Damian mengerutkan keningnya.


“Iya, rumah makan seafood  dipinggir pantai, dengan dihias oleh lampion lampion,” ucap Hanna.


“Sepertinya tempat yang bagus,” kata Damian.


“Iya, kita akan kesana?” tanya hanna.


“Iya nanti kita kesana, aku banyak pekerjaan sekarang, mau berangkat” jawab Damian.


“Baiklah, jadi kalau begitu kau akan melamarku disana?” tanya Hanna, saat Damian keluar dari pintu kamar.


“Siapa bilang mau melamarmu?” tanya Damian, tanpa menoleh.


“Lho, kita kan mau ke rumah makan seafood itu,” jawab Hanna.


“Aku mengajakmu kesana untuk makan seafood bukan melamarmu,” jawab Damian sambil menutu pintu.


Hanna bengong saja melihat pintu yang terutup itu. Hiii Damian! Bibirnya langsung memberengut kesal.


*****************


Setelah mengantar ibunya pulang, Cristian datang ke kantornya Pak Louis dengan dua orang karyawannya. Tidak berapa lama datang juga Damian dengan Pak Indra.


Mereka berkumpul diruang meeting kantornya Pak Louis.  Terdengar suara ketukan diruang meeting itu, masuklah sekretarisnya Pak Louis.


Dia berjalan menghampiri Pak Luois dan berbisik.


“Maaf aku keluar sebentar,” ucap Pak Louis meninggalkan ruang meeting itu diikuti sekretarisnya. Damian hanya menoleh sekilas pada Pak Louis, diapun kembali menyimak rekan yang sedang bicara diruang rapat itu.


Pak Loius masuk keruangannya, disana ada  seorang pria yang sedang menunggunya, duduk di sofa.


“Ada apa?” tanya Pak Louis, menatap pria itu.


“Iya pak, saya sering menyewa perahu dari Bapak,” jawa nelayan itu.


“Ada apa kau kemari? Kalau soal perahu kau bisa langsung berurusan dengan Pak Usman,” kata Pak Louis, sambil duduk disofa dengan pria itu.


“Bukan itu Pak, saya mau menyampaikan kalau belakangan ini saya melihat seorang gadis yang mirip non Hanna,” jawab nelayan itu.


“Apa? Kau melihat gadis yang mirip putriku?” tanya Pak Louis.


“Dua kali,” jawab nelayan itu.


“2 x? Dimana? Dipantai?” tanya Pak Louis, sangat terkejut.


“Benar Pak,” nelayan itu mengangguk.


“Kau yakin?” tanya Pak Lous lagi.


“Iya, tapi hanya sebentar dan tidak melihatnya lagi,” jawabnya.


“Kapan kau bertemu dengan gadis yang mirip Hanna itu?” tanya Pak Louis.


“Beberapa hari yang lalu Pak,” jawab nelayan itu.


“Kenapa kau baru bilang sekarang?” tanya Pak Louis.


“Karena saya baru tahu kalau non Hanna belum pulang, tadinya saya fikir saat melihat gadis mirip non Hanna, non Hanna sudah ditemukan Pak,” jawab nelayan itu.


Pak Lois bangun dari duduknya. Jadi Hanna ada dipantai ini dan dia tidak mau menemui orangtuanya?  Ada apa ini? Kenapa putrinya kucing-kucingan dengannya? Apa dia takut bertemu dengannya?


“Bu Rita! Bu Rita!” panggilnya pada sekretarisnya, yang sgera masuk ke ruangan.


“Ya pak?” tanya Bu Rita.


“Tolong panggil Cristian,” jawab pak Louise. Bu Rita langsung keluar lagi dari ruangan itu.


Cristian menoleh pada Bu Rita, saat sekretarisnya Pak Louis itu berbisik ke telinganya.


“Dipanggil Pak Louis,” ucap Bu Rita.


Damian menoleh kearah Cristian yang bicara dengan Pak Louis, dilihatnya Cristian mengangguk, lalu beranjak mengikuti Bu Rita keluar dari ruangan itu.


Cristian masuk ke ruangan itu, dilihatnya Pak Louis duduk sendirian dikursi kerjanya. Nelayan yang tadi sudah disuruhnya pulang dan diberi sejumlah uang.


“Duduklah,” kata Pak Louis yang segera dituruti Cristian.


Pak Louise bangun dari duduknya, mendekati Cristian.


“Katakan padaku apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Pak Louis.


“Soal apa paman?” tanya Cristian, tidak mengerti.


“Apa kau tahu kalau Hanna ada didaerah sini?” tanya pak Louis, membuat Cristian terkejut. Bagaman Pak Louis bisa tahu kalau Hanna ada dikota ini? Tapi dia sudah berjanji pada Hanna untuk tidak mengatakan apa-apa pada ayahnya.


“Aku tidak tahu Pamam,” jawab Cristian, berbohong.


“Kau tidak sedang berbohong kan?” tanya Pak Louis.


“Tidak paman,” jawab Cristian. Pak Loius pun diam dia tidak tahu apakah Cristian jujur atau tidak, yang pasti  dia tahu Cristian sangat mencintai putrinya, dia selalu melindungi dan menjaga putrinya, bisa saja Cristian juga berbohong soal Hanna dengan alasan yang dia tidak tahu.


“Kenapa Paman bertanya begitu?” tanya Cristian.


“Ada nelayan yang melihat Hanna dua x dipantai,” jawab Pak Louis. Cristianpun diam, dia tidak menyangka kalau akan ada yang melihat keberadaan Hanna padahal tempat mereka bertemu sangat sepi. Hatinya merasa tidak nyaman, apakah nelayan itu juga melihatnya bersama Hanna saat mereka bicara dipantai?


Pak Louis menoleh pada Cristian.


“Coba kau cari lagi Hanna, mungkin dia ada dirumah teman-temannya,” ucap pak Louis.


“Baik Paman,” jawab Cristian.


“Aku heran, kalau putriku ada di sini, kenapa dia tidak pulang? Apa dia tidak mau bertemu dengan ayah ibunya?” ucap Pak Louis.


Cristianpun diam, dia tidak bisa mengatakan kalau Hanna sudah  menikah dan takut orangtuanya tidak menyukai Damian yang sekarang ada di ruang meeting.


“Ayo kita ke ruang meeting lagi, aku akan menyuruh orang untuk mencari Hanna disekitar pantai,” ucap Pak Louis.


Cristian mengangguk. Dia merasa gelisah, apa yang akan terjadi kalau Hanna ditemukan dan ternyata sudah menikah dengan Damian? Apakah Pak Louis akan menerima pernikahan mereka?


Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya Cristian, dia melangkah mengikuti Pak Louis.


“Maaf Paman, aku mau ke toilet dulu,” ucap Cristian saat sampai di pintu ruang meeting.


Pa Louis hanya menanggguk. Cristianpun pergi ke toilet. Dlihatnya suasana sangat sepi, berarti tidak ada siapa-siapa di toilet.


Diapun mendial nomor seseorang.


Hanna sedang tiduran ditempat tidurnya masih menggerutu soal Damian yang tidak melamarnya dengan romantis. Tendengar suara dering handphonenya. Diraihnya telponnya itu yang tergeletak diatas tempat tidur.


Dia langsung mengerutkan keningnya saat terlihat nama Cristian di Hpnya.


“Halo,” sapa Hanna.


“Kau dirumah?” tanya Cristian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Ada yang ingin aku sampaikan,” ucap Cristian.


“Apa ?” tanya Hanna.


“Ada nelayan yang melihatmu di pantai,” jawab Cristian.


“Apa?” Hanna terkejut, dia langsung bangun, dia lupa beberapa kali ke pantai tidak menggunakan wignya.


“Siapa?” tanya Hanna.


“Tidak penting nelayan itu, tapi nelayan itu sudah memberitahukannya pada ayahmu, aku sudah ditanyai ayahmu, jadi selanjutnya terserah padamu, aku tidak akan ikut campur apapun langkah yang kau pilih,” ucap Cristian panjang lebar.


“Ayahku pasti menyuruh orang untuk mencariku di sekitar pantai?” tanya Hanna.


“Iya, juga menyuruhku untuk mencari ke rumah-rumah temanmu,” jawab Crsitian.


Hanna langsung terdiam.


“Halo!” panggil Cristian.


“Ya,” jawab Hanna.


“Aku hanya mau memberitahu soal itu saja, semua tergantung padamu,” ucap Cristian.


“Ya baiklah, terimakasih Cristian,” ucap Hanna, telponpun ditutup.


Hanna menatap keluar jedela, jadi ayahnya menyuruh orang-orang mencarinya di sekitar pantai. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus mengajak Damian kembali ke kota? Bagaimana cara bicara pada Damian supaya mau kembali ke kota sedangkan disini banyak pekerjaan yang harus dia lakukan? Tapi kalau tidak segera ke kota takutnya keberadaannya akan ditemukan. Apakah dia harus merayu Damian lagi supaya mau ke kota beberapa waktu?


Cristian menutup telponnya, diapun keluar toilet dan hampir saja dia bertabrakan dengan seseorang yang juga masuk ke toilet pria.


“Maaf,” ucap Cristian dan dia terkejut saat melihat pria itu adalah Damian.


“Maaf, aku hampir menabrakmu,” ucap Cristian lagi, wajahnya langung pucat, apakah Damian mendengar pembicaraannya dengan Hanna?


“Ya tidak apa-apa, aku juga terburu-buru,” jawab Damian.


Cristian pun keluar dari toilet itu.


***********************