
Damian menghentikan mobilnya di sebuah lapangan luas yang berumput.
“Apakah kita sudah sampai?” tanya Hanna. Menengok kanan kiri melihat ke sekeliling.
“Mana rumahnya?” tanya Hanna, karena dia tidak melihat rumah di dekatnya. Itu hanya lapangan berumput saja.
Damian turun dari mobilnya, bersandar di depan kap mobil. Memandang jauh ke depan. Hanna pun turun masih celingak celinguk kebingungan.
“Mana rumahnya?” tanya Hanna lagi, menoleh pada Damian.
“Disana!” jawab Damian menunjuk ke sebuah bukit di kejauhan.
“Itu sih masih jauh, kenapa kita berhenti disini?” tanya Hanna, keheranan.
“Supaya kau bisa melihat di sekelilingnya,” jawab Damian.
Hanna berdiri beberapa meter di depan Damian.
“Kau benar, sekelilingnya sangat indah. Apalagi rumahnya? Dari kejauhan rumah itu terlihat cantik,” kata Hanna. Angin bertiup meriakkan rambutnya yang tergerai. Kemudian dia membalikkan badannya menatap Damian.
“Apakah kita akan bermalam disana?” tanya Hanna. Damian mengangguk.
“Jangan lupa kau harus memelukku. Jangan banyak alasan, seharusnya kau sudah kena finalti. Kau membuatku merasa lelah,” ucap Damian kemudian.
“Ya, ya aku minta maaf. Aku akan memelukmu nanti malam,” ucap Hanna.
Damian tidak bicara lagi, dia menelpon seseorang menanyakan kunci dan beberapa surat jual beli rumah itu.
“Ayo kita lihat rumah itu!” ajak Hanna pada Damian, setelah Damian bicara dengan orang itu. Damian malah menatapnya.
“Ayo!” ajak Hanna lagi, sambil menarik tangan Damian supaya masuk ke mobil.
Tidak berapa lama mobilpun melaju menuju rumah yang sudah Damian beli itu.
Beberapa puluh menit kemudian, mobil Damian memasuki pekarangan sebuah rumah yang cantik di atas bukit.
“Bukankah ini hampir mirip dengan rumahmu di Swiss?” tanya Hanna, menoleh pada Damian.
“Sedikit, ini halamannya datar dan lebih luas. Ada kolam renang diluar,” jawab Damian. Mobilun berhenti tepat di depan rumah itu. Tampak sebuah mobil sudah berada disana. Dua orang pria menyambutnya. Damian segera turun dan bersalaman dengan mereka.
Sepertinya mereka adalah dari agen penjualan rumah dan pengacra yang akan memberikan kunci dan surat-surat rumah.
Melihat mereka masih berbincang diluar, Hanna pergi menaiki tangga yang ada disamping rumah itu. Ternyata tangga itu menuju halaman samping rumah itu yang menghadap kearah pantai. Benar kata Damian, ada kolam renang di sana. Ada beberapa kursi-kursi untuk berjemur juga. Hanna berjalan menuju kursi kursi itu. Dilihatnya dibawah adalah tepian pantai yang bersih. Hanna tersenyum senang melihatnya. Dia merasa terharu, bisa melihat keindahan alam seperti ini.
“Kau menyukainya?” tanya Damian, tiba-tiba mengagetkannya.
“Tentu saja, tempat ini sangat indah,” jawab Hanna, tanpa menoleh.
“Tapi sayang, aku tidak bisa membelinya, uangku tidak cukup,”gumam Hanna.
Damian tidak bicara.
“Kau beruntung memiliki banyak uang yang orang lain belum tentu nasibnya sebaik dirimu,” kata Hanna, kini menoleh pada Damian.
“Kata siapa nasibku baik?” ucap Damian, berjalan selangkah kedepan menatap kearah pantai yang indah.
“Apa maksdumu bicara begitu?” tanya Hanna, tidak mengerti.
“Lihat saja aku, untuk tidur nyenyak saja aku tidak bisa. Bahkan aku harus membayarmu mahal hanya untuk bisa membuatku tidur nyenyak,” kata Damian. Lalu membalikkan badannya menatap Hanna.
“Padahal dengan jumlah uang sebanyak itu aku bisa membeli wanita tidak hanya untuk memelukku,” jawab Damian. Hanna langsung tebelalak mendengarnya.
“Apa maskudmu bicara begitu? Kalau selain memelukmu, aku tidak mau kau bayar. Aku menerimanya karena aku kasihan padamu. Kau bermimpi buruk tiap malam, itu sangat menyedihkan,” kata Hanna dengan nada sebal.
“Kau bisa memiliki rumah ini,” ucap Damian. Membuat Hanna terkejut bukan main.
“A…apa? Aku bisa memiliki rumah ini?” tanya Hanna dengan tidak percaya.
“Rumah ini sangat mahal,” lanjutnya, menatap Damian dengan tanda tanya.
“Iya, kau bisa memilikinya,” jawab Damian dengan serius.
“Benarkah?” tanya Hanna. Senyum Hanna langsung melebar. Mimpi apa dia dibelikan rumah semahal ini oleh pria yang bukan siapa-siapanya.
“Tapi tentu saja tidak gratis,” lanjut Damian, melipat kedua tangannya menatap Hanna.
“Maksudmu aku harus membelinya? Aku tidak punya uang 200 Milyar,” kata Hanna.
“Aku bisa memperpanjang masa kerjamu seharga rumah ini,” jawab Damian.
“Apa? Memperpanjang masa kerja? Maksudmu menambah beberapa tahun lagi untuk memelukmu setiap malam?” ulang Hanna.
Damian mengangguk. Dia kembali membelakangi Hanna, menatap kearah pantai.
Hanna berfikir sejenak.
“Hemmm…memperpanjang masa kerja. Setahun 40 Milyar. Harga rumah ini 200 Milyar. Berarti aku harus bekerja 5 tahun. Benar begitu?” tanya Hanna pada Damian yang masih memunggunginya.
“Waduh, 5 tahun? Ditambah masa kerja sekarang 1 tahun jadi semua 6 tahun?” tanya Hanna lagi pada diri sendiri, tangannya menutup mulutnya. Kini Damian menghadap ke arahnya dan mengangguk.
“Tapi kan dalam perjanjian itu aku tidak boleh punya kekasih atau punya teman laki-laki. Aku jomblo selama 6 tahun berarti?” tanya Hanna, menatap Damian penuh tandatanya.
“Hem, iya,” Damian mengangguk.
“Selama itu?” Hanna masih menatap Damian, yang kembali mengangguk.
“Tapi aku kan ingin punya kekasih juga. Masa jomblo 6 tahun. Aku keburu tua untuk menikah,” ucap Hanna.
“Memangnya apa gunanya kekasih? Kau kan bisa memelukku tiap malam,” ucap Damian dengan enteng.
“Kekasih fungsinya bukan untuk memeluk saja! Kau bagaimana sih?” tanya Hanna dengan ketus.
“Memangnya apa lagi selain itu? Kau mau yang lebih dari memeluk?” tanya Damian, menatap Hanna dengan serius.
“Apa maksudmu bertanya begitu? Maksudku bukan begitu. Kekasih artinya Saliiii..ng apa ya..aaah pokoknya begitu saja!” ucap Hanna.
Hanna kembali berfikir, dia kembali melihat rumah cantik itu, lalu melihat kearah pantai.
“Aku mau punya rumah indah ini, tapi bagaimana dengan kekasihku? Masa aku jomblo 6 tahun. Aku juga ingin punya kekasih,” keluh Hanna dengan wajah yang muram.
“Kalau begitu, anggap aku kekasihmu,” jawab Damian, membuat wajah muram Hanna berubah menjadi tegang dan membelalakkan matanya, tidak percaya mendengar perkataan Damian.
“Apa? Apa kau bilang?” tanya Hanna, masih kebingungan.
Damian tidak menjawab, dia melangkah meninggalkan Hanna.
“Damian! Tunggu! Maksudmu apa?” teriak Hanna, tapi Damian tidak menggubrisnya, dia masih terus melangkah menyusuri kolam renang menjauh dari Hanna.
“Bagaimana aku harus mengaggapmu kekasih? Sudah menjadi istri bohong-bohongan, sekarang menganggapmu kekasih. Sangat membingungkan! “ teriak Hanna lagi. Tapi Damian sama sekali tidak menoleh.
“Damian! Tunggu! Aku butuh penjelasannmu!” Hanna terus berteriak. Damian semakin jauh.
Hanna menghela nafas panjang, saat Damian menghilang ke bawah tangga disamping rumah itu.
Hanna menatap rumah indah itu lagi. Bibirnya langsung tersenyum. Rumah yang benar-benar indah, sesuai dengan yang dia impikan. Lalu pada arah pantai yang juga sangat indah. Entah kapan dia bisa membeli rumah mahal ini.
“200 Milyar. Hemmm 200 Milyar,” gumam Hanna, sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jarinya.
“Tapi 6 tahun. Aku harus memeluk Damian 6 tahun. Selama itu? Dan aku jomblo selama itu? Ah tidak jomblo. Damian memintanya untuk mengaggapnya kekasih. Mana bisa begitu? Sudah istri bohongan, kekasih juga Cuma dianggap. Ah bagaimana ini? Kekasih kan harus saling mencintai, dan perjanjiannya tidak boleh saling jatuh cinta atau uang hangus. Selama itu dengan pria ini apa benar tidak akan membuatku jatuh cinta padanya? Bagaimana kalau aku malah jatuh cinta padanya? Aku akan patah hati dan mengembalikan uangku. Haa..semuanya sia-sia,” Hanna terus saja bicara sendiri, sambil menatap ke arah pantai.
“Jadi kau takut jatuh cinta padaku?” tiba-tiba terdengar suara mengagetkan dibelakangnya.
Hannapun menoleh dan ternyata Damian sudah berdiri dibelakangnya. Bukankah tadi dia menghilang ditangga itu? Kenapa tiba-tiba dia muncul seperti hantu dibelakangnya?
“Kau mengagetkanku!” ucap Hanna dengan ketus.
Damian memberikan salah satu gelas ditangannya yang berisi minuman jeruk.
Hanna langsung mengambil gelas itu dengan senyum lebar di bibirnya.
“Waaah, kau sangat perhatian sekali. Kau tau aku sudah haus dari tadi,” ucap Hanna dan langsung meminum minuman itu sampai habis. Setelah habis, dia memberikannya lagi pada tangan Damian.
“Sudah aku bawakan minum, kosongnya kau berikan padaku?” keluh Damian. Membuat Hanna tertawa dan tersadar.
“Oh iya, maaf maaf,” ucap Hanna. Kembali mengambil gelas kosong itu.
“Jadi apa keputusanmu?” tanya Damian, menatap kearah pantai.
“Aku bisa menganggapmu kekasih, begitu?” tanya Hanna.
“Kalau kau mau,” jawab Damian.
Hanna mendekati Damian, menatap pria tampan itu yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
“Tapi kalau kekasih itu biasanya ada kencan,” ucap Hanna.
“Kencan?” tanya Damian, tanpa menoleh. Dia meminum airjeruk di tangannya.
“Iya. Biasanya kekasih itu berkencan,” jawab Hanna.
“Selain itu?” tanya Damian lagi.
“Kekasih itu akan memberikan kado ulang tahun, akan membelikan sesuatu keinginan wanitanya,” jawab Hanna lagi.
“Selain itu?” tanya Damian lagi.
“Mmm..apalagi ya..” Hanna berfikir keras.
“Kekasih itu harus selalu ada setiap kali dibutuhkan,” lanjut Hanna.
“Gampang,” jawab Damian. Membuat Hanna menatapnya. Memajukan wajahnya agak mendekat ke wajah Damian.
“Apa maksudmu gampang?” tanya Hanna, menatap pria tampan itu.
Kini Damian menatap wajah yang ada didepannya itu.
“Menjadi kekasih yang kau sebutkan itu, sangat gampang,” jawab Damian.
Hanna kembali menarik wajahnya menjauh dari wajahnya Damian. Keningnya kembali berkerut.
“Tapi aku tidak mau jatuh cinta padamu. Nanti uangku hilang dan aku akan patah hati jika masa kerjaku selesai,” ucap Hanna.
Damian menoleh pada hanna, yang juga menoleh padanya.
“Kau jatuh cinta padaku?” tanya Damian.
“Tidak. Buat apa aku jatuh cinta padamu? Aku tidak mau uangku hilang. Enak saja!” gerutu Hanna, sambil mencibir.
“Baguslah kalau begitu. Jadi kau bekerja dengan profesonal,” kata Damian.
Hanna kembali terdiam, menatap kearah pantai, begitu juga Damian.
“6 Tahun..oh 6 tahun.menjomblo...6 tahun..Aaah!” Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya, dia benar-benar stress. Sementara Damian yang berdiri di sampingnya mengacuhkannya.
*******************
Readers, tersenyum juga author. Ga tau kalau kalian ya..yang penting author happy sendiri.
Itu sebenarnya Damian nembak atau apa ya…author juga mau ditembak rumah 200 Milyar! Haha…haluan tingkat tinggi!
Oh ya yang belum baca “My secretary” ayo buruan baca.
Author sedang menyiapkan season 3 khusus buat pembaca setia “My Secretary” judulnya : “ KONTES MENJADI ISTRI PRESDIR ”
Jangan lupa like dan komen yang banyak ya…sama vote juga..jangan lupa!