
Pagi ini seperti biasa Hanna selalu bagun telat. Saat membuka matanya Damian sudah berdandan rapih akan berangkat bekerja.
Damian berdiri menatap Hanna yang baru bangun masih berselimut.
“Setiap hari kau selalu bangun siang, bagaimana mau jadi istri yang baik?” keluh Damian.
“Jangan begitu, semalam aku kurang tidur, kita pulang kerumah hampir pagi,” kata Hanna.
“Lain kali jangan seperti itu, kalau aku pulang larut, kau tidur saja, aku tidak mau kau sakit,” ucap Damian, masih berdiri menatap Hanna. Mendengar Damian perhatian membuat hati Hanna berbunga-bunga.
“Iya,” jawabnya dengan manis.
“Aku sudah sarapan tadi, jadi aku mau langsung berangkat,” ucap Damian. Diapun melangkah menuju pintu.
“Damian!” panggil Hanna.
“Apa?” tanya Damian, kembali menoleh.
“Aku mau berbelanja ke mall, terus setelah dari mall nanti siang aku mau menjemputmu mengajak makan siang diluar, bagaimana?” tanya Hanna, masih berbaring dibalik selimut.
Damian berfikir sejenak.
“Baiklah! Aku tunggu dikantor atau kau bilang ada di restaurant mana nanti aku kesana,” kata Damian.
“Bukan di restaurant,” kata Hanna.
“Bukan di restaurant, maksudmu dimana?” tanya Damian.
“Aku mencari tempat yang romantis,” jawab Hanna.
“Tidak ah, masa siang-siang makan di tempat romantis? Mana romantisnya?” keluh Damian, langkahnya sudah sampai pintu.
“Ya nanti aku jemput, kau ikut saja,” kata Hanna.
“Asal jangan tempat yang romantis, aku tidak mempunyai cincin untuk diberikan,” ucap Damian.
“Memangnya kalau makan romantic harus pake cincin?” tanya Hanna.
“Ya suykur kalau kau tidak mau cincin,” kata Damian.
“Aku mau!” teriak Hanna dengan semangat, terus langsung bangun, terduduk di tempat tidur.
"Tidak ah, kau tadi kan menolak," ucap Damian, membuat Hanna kecewa.
Damian sudah membuka pintu kamar, dia akan keluar tapi Hanna memanggilnya lagi.
“Damian!” panggil Hanna.
Damian membalikkan badannya lagi.
“Ada apa?” tanya Damian.
“Mm apa kau tidak melupakan sesuatu?” Hanna balik bertanya.
“Sesuatu? Apa ? Tidak,” jawab Damian, mengerutkan keningnya melihat ke sekeliling kamar lalu menggeleng.
“Tidak ada,” jawabnya.
“Masa sih tidak ada?” tanya Hanna.
“Memang tidak ada,” jawab Damian dengan yakin.
Telunjuk Hanna menunjuk pada keningnya.
“Apa? Kau merasa pusing?” tanya Damian, membuat Hanna cemberut.
“Bukan, seharusnya sebelum berangkat kau mencium keningku!” kata Hanna dengan kesal, Damian tidak mengerti juga.
“Kau salah harusnya bukan keningmu yang ku cium,” ucap Damian.
“Apa maksudmu mau mencium bibirku? Kau kan selalu gagal, kening aja deh,” kata Hanna sambil tertawa, Damian terseyum, dia tidak mengerti kenapa hanya mencium bibirnya saja banyak gangguan?
Akhirnya Damian menghampiri Hanna, lalu mendekatkan wajahnya ke kening Hanna dan menciumnya. Mendapat ciuman di kening membuat Hanna tersenyum lebar, dia bahagia sekali meskipun hanya dicium keningnya.
“Aku berangkat,” ucap Damian, tangannya mengusap rambut Hanna.
Hanna mengangguk, lalu melambaikan tangannya.
“Daaah!” tangannya melambai-lambai.
“Apa sih, kaya anak kecil saja,” kata Damian, membuat Hanna cemberut, pria itu benar-benar tidak bisa diajak romantis.
Setelah Damian pergi, Hanna pun turun dari tempat tidurnya, segera mandi dan berdandan, dia akan ke mall hari ini , terus lanjut siangnya dia akan makan siang dengan suami palsu tercintanya.
Siang itu di mall sangat ramai yang berbelanja. Hanna masih berdiri diparkiran, menatap pintu masuk mall yang penuh. Meskipun tampak berdesak-desakan tapi dia harus berbelanja karena dia butuh baju tidur yang panjang sebanyak banyaknya, biar dia bisa tidur bebas tanpa Damian yang terus menghafalkan daleman yang dipakainya.
Ada sepasang mata pria yang tidak sengaja melihatnya berdiri dekat mobilnya. Pria itu mengerutkan keningnya lalu mencolek teman disampingnya. Kepalanya menunjuk kearah Hanna yang masih berdiri dekat mobilnya. Pria itu membuka handphonenya, melihat sesuatu di ponselnya itu.
Kemudian pria itu menekan nomor telpon seseorang.
“Ada apa?” tanya suara di sebrang.
“Pak, saya seperti melihat non Hanna, ciri-cirinya sama,” kata pria itu.
“Ya sudah kau temui dia, kalau melawan, kau paksa, Pak Louis memberikan perintah seperti itu, yang penting putrinya bisa pulang,” kata suara disebrang.
“Baik,Pak,” jawab pria itu, lalu menutup telponnya dan mengangguk pada temannya, merekapun bangun dari duduknya.
Hanna memasuki mall sendirian, supir menunggunya didalam mobil. Tidak disadarinya dua orang itu mengikutinya.
Di dalam mall ternyata benar-benar sangat penuh. Hanna menuju counter yang mejual baju baju. Dia memilih baju tidur stelan celana panjang berbagai macam warna, biar dia tidak bosan memakainya.
Dilihatnya ada stelan baju tidur pria. Tiba-tiba dia teringat Damian, sepertinya lucu kalau mereka memakai baju tidur couple, seragaman, diapun tersenyum.
Di pilihnya dua baju tidur yang bergambar Tom & Jerry dengan ukuran yang berbeda, satu untuknya dan satu untuk Damian. Kalau Damian menolak memakainya, dia akan memaksanya sampai pria itu mau memakainya, Hannapun tersenyum, lalu baju baju itu dimasukkan ke kantong belanjaannya.
Cukup lama dia berbelanja. Diliriknya jam menunjukkan pukul 11.30 lebih, dia ada janji dengan Damian akan mengajaknya makan siang. Pria itu akan kelaparan kalau dia telat menjemputnya.
Hanna cepat-cepat membayar belanjaannya kekasir, lalu diapun keluar dari mall itu menuju mobilnya. Ternyata supirnya itu tidak ada didalam mobil. Hanna melongokkan kepalanya kejendela, ternyata memang tidak ada, entah kemana supirnya itu. Disimpannya belanjaannya dibawah.
“Non Hanna!” terdengar suara seseorang memanggilnya. Hannapun menoleh menatap pria yang juga menatapnya.
“Kami diperintahkan untuk membawa anda pulang,” kata pria itu.
Mendengarnya membuat Hanna sangat terkejut, dia melangkah mundur menghindar, tapi ternyata ada pria lain yang menghalangi jalannya.
“Kalian salah orang, aku bukan Hanna,” jawab Hanna dia mencari celah untuk melarikan diri.
Melihat Hanna yang menghindar, pia itu menarik tangannya. Hanna akan berteriak tapi sebuah pukulan keras mengena di tengkuknya membuatnya pingsan.
Dua orang pria itupun memasukkan Hanna kedalam mobilnya yang diparkir tepat disamping mobilnya Hanna. Mobil itupun melaju meninggalkan mall.
Jam menunjukkan pukul 12 siang lebih 30 menit. Damian beberapa kali melihat jam tangannya. Kenapa istri palsunya itu tidak juga menelponnya? Diapun menelpon ponselnya Hanna ternyata tidak aktif. Mungkin lagi dijalan, fikirnya.
30 menit telah lewat, Hanna tidak ada juga menghubunginya. Dia menjadi gelisah. Kemana Hanna? Apa dia lupa kalau dia ada janji untuk makan siang? Beberapa kali sekretarisinya menawarinya makan tapi Damian menolak, karena dia mununggu Hanna menjemputnya.
Akhirnya Damian menelpon supirnya Hanna.
“Halo!” sapa Damian.
“Ya pak,” jawab supir.
“Kau masih dimana? Kenapa istriku lama sekali?” tanya Damian.
“Saya juga masih di mall Pak, ko ibu belum keluar-keluar ya,” jawab supir.
“Coba kau susul, soalnya dia janji ke kantorku siang ini. Kau cari di bagian pakaian, dia sedang mencari pakaian,” kata Damian.
“Baik Pak,” jawab pak supir, diapun langsung membuka pintu mobilnya, memasukkan handphone-nya ke sakunya.
Pak Supir mencari Hanna ke tempat counter pakaian. Setelah berkeliling lumayan lama ternyata Hanna tidak ditemukan juga, apalagi dengan pegunjung yang begitu banyak.
Damian kembali menelponnya.
“Belum Pak, Bu Hanna belum ketemu,” kata Supir.
Damian semakin bingung saja apalagi handphonenya tidak aktif, kemana istrinya itu? Dia benar-benar cemas.
Pak Supir kembali kehalaman parkir, dia berdiri dekat mobilnya, melihat lagi kearah orang yag berlalu lalang, mencari-cari barangkali Hanna keluar dari mall dari pintu yang lain. Tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu disamping mobil sebelah kirinya.
Dilihatnya apa yang dia injak itu, ternyata kantong-kantong belanjaan. Pak Supir segera melihat isinya ternyata pakaian perempuan. Diapun teringat kata majikannya kalau istri majikannya itu sedang membeli pakaian di mall. Jangan-jangan ini milik Bu Hanna, fikirnya. Diapun menelpon Damian.
“Halo!” sapa Damian buru-buru.
“Sudah ketemu?” tanya Damian.
“Belum Pak, Cuma ini saya menemukan ada kantong kantong belanjaan dekat mobil, kira-kira punya Bu Hanna bukan ya,” jawab pak Supir.
“Coba kau lihat isinya,” kata Damian.
“Isinya baju baju tidur pak,” jawab pak Supir. Sontak saja membuat Dmaian semakin cemas. Dia merasa yakin itu belanjaannya Hanna, apalagi pak Supir memfotokan baju –baju itu yang isinya baju tidur stelan celana panjang.
“Coba kau cari lagi, aku akan menyusul kesana,” kata Damian.
Secepatnya dia keluar dari kantornya, dibiarkannya pekerjaan yang bertumpuk yang dia fikirkan adalah istrinya, istri palsu tercintanya.
Sepanjang jalan Damian merasa gelisah, apa yang terjadi dengan Hanna? Dia merasa khawatir kemana Hanna?
Sesampainya di parkiran, dia segera mencari supirnya itu. Pak Supir memperlihatkan belanjaannya itu. Damian membuka isi belanjaan itu diatas kap mobil depannya, disana ada baju baju tidur beraneka warna.
Dilihatnya juga ada dua stel baju tidur bergambar tom dan jerry, salah satunya berukuran lebih kecil. Damian terdiam, apa baju stelan couple itu untuk Hanna dan dirinya? Dia ingat kalau mereka begadang suka nonton film Tom&jerry.
“Kau ikut aku,” kata Damian.
“Baik Pak “ jawab Pak Supir, sambil membereskan baju-baju itu lalu dimasukkan ke dalam mobil. Diapun segera mengikuti langkahnya Damian ke dalam mall.
Mereka kembali mencari-cari Hanna tapi tidak ditemukan. Akhirnya Damian menuju kantor mall itu berbicara dengan Managernya.
“Istriku hilang, bisakah kau membantuku untuk melihat cctv?“ tanya Damian.
“Untuk melihat cctv harus ada laporan dari kepolisian Pak,” jawab Manager mall itu.
“Itu gampang nanti aku urus,” kata Damian.
“Tapi pengunjung mall juga sedang penuh pak, kita butuh waktu lama untuk mencarinya,” ucap Manager mall itu.
“Kau kerjakan saja mulai detik ini juga, aku akan segera membuat laporan ke kepolisian kalau kau memang membutuhkannya, aku perlu cepat,” kata Damian.
“Baiklah kalau begitu,” ucap Mgr. Mall. Diapun mengubungi bagian kantor yang lain.
Tiba-tiba Damian teringat kalau Hanna itu sangat gampang sekali tidur. Tapi untuk mencari di mall sebesar ini rasanya akan sangat sulit apalagi dengan orang sepenuh ini.
“Apa kau bisa mengosongkan mall?” tanya Damian, tiba-tiba.
“Apa? Bagaimana mungkin mall dikosongkan? Banyak sekali pengunjung, dan tentunya saya akan mendapat komplen dari semua vendor,” kata Manager Mall itu.
“Aku akan membayar semua kerugiannya, kau hitung saja, aku ingin istriku ditemukan secepatnya,” kata Damian.
Manager mall menatapnya.
“Apa anda yakin Pak? Itu akan sangat besar sekali jumlah uangnya,” ucap Manager Mall.
“Aku tidak peduli!” teriak Damian dengan kesal, membuat manager mall terkejut.
Damian mencoba menenangkan dirinya. Dia mulai stress, hanya beberapa jam saja Hanna menghilang, rasanya dia hampir gila.
Kemana wanita itu? Kalau Hanna ditemukan sepertinya dia tidak akan membiarkan wanita itu keluar sendirian lagi, apa perlu dia mengikat kakinya supaya tidak pergi jauh darinya?
“Maaf,” ucapnya pada Manager mall itu.
“Jadi Bapak mau mengosongkan mall ini?” tanya Manager mall lagi.
“Iya , kosongkan mall ini, dan aku butuh seluruh karyawanmu untuk mencari istriku,” jawab Damian.
“Karyawan saya?” tanya Manager mall.
“Iya, cari di setiap bagian gedung, ke gudang, toilet, rak rak, suruh karyawanmu harus membantu mencarinya,” kata Damian.
“Ke toilet? Gudang? Rak rak?” tanya Manager mall kebingungan.
Damian mengerti keheranannya Manager mall itu.
“Istriku suka tertidur dimana saja,” ucap Damian.
Manager mall mengangguk meskipun merasa heran apa mungkin tidur di toilet atau di gudang?
Damian tidak peduli meskipun manager mall keheranan. Memang kenyataannya begitu, istrinya gampang tidur dimana saja, meskipun begitu dia sangat mencintainya.
***********************