
Setelah mengantarkan Shezie, Henry pergi ke kantornya. Begitu sampai dikantor banyak yang keheranan karena baru juga menikah sudah bekerja lagi, apalagi Henry adalah pewaris satu-satunya kekayaan Damian, itu artinya dia adalah pemilik perusahaan ini. Dengan posisinya sebagai pemilik seharusnya Henry bisa lebih leluasa untuk berbulan madu. Karyawan biasa saja cuti menikah bisa beberapa hari.
“Pak Henry masuk?” tanya Bu Susan, sekretaris itu keheranan, berdiri menatap pengantin baru itu.
“Hem,” jawab Henry, pendek. Bu Susan malah menatapnya terus.
“Kenapa? Ada yang aneh?” tanya Henry, sambil masuk ke ruangannya. Bu Susan segera mengikutinya.
“Bapak kan baru menikah, ko ke kantor? Apa ada yang urgent,Pak?” tanya Bu Susan.
“Ayahku pergi keluar kota, aku memimpin rapat hari ini,” jawab Henry sambil duduk dikursi kerjanya.
“Apa bapak baik-baik saja?” tanya Bu Susan, sambli membetulkan kacamatanya.
“Aku baik-baik saja, ada masalah apa?” tanya Henry keheranan.
“Tidak ada masalah sih Pak, cuma aneh saja, Bapak kan baru menikah kemarin, kenapa tidak libur sehari dua hari atau langsung berbulan madu saja?” Jawab Bu Susan.
“Memangnya harus begitu?” tanya Henry sambil mengambil salah satu berkas yang bertumpuk didepannya.
“Umumnya begitu Pak. Karena menikah itu kan hari-hari paling bahagia, sedang masa mesra-mesranya berduaan dengan pasangan. Kasihan saja istri Bapak, baru menikah ditinggal bekerja,” kata Bu Susan.
Henry menatap Bu Susan.
“Maaf Pak, saya hanya menyampaikan pendapat saja,” kata Bu Susan.
“Kalau kau jadi istriku apa yang kau rasakan?” tanya Henry.
“Ya pastinya akan sedih dan kecewa Pak, masa setelah malam pertama ditinggal bekerja, kan kasihan,” jawab Bu Susan.
Henry garuk-garuk tidak gatal, malam pertama? Siapa pula yang malam pertama, menyentuhnya saja tidak, hanya mengecup bibirnya saja di hari pernikahan. Lagipula dia dan Shezie tidak benar-benar menikah, batin Henry.
“Rapatnya akan dimulai 10 menit lagi Pak,” ucap Bu Susan.
“Iya,” jawab Henry, sambil beranjak mengikuti Bu Susan yang juga keluar dari ruangannya.
Saat diruang meetingpun tidak beda jauh dengan Bu Susan, mempertanyakan kenapa Henry masuk kerja padahal baru juga kemarin menikah. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya pusing. Sebelum menikah dia pusing dengan pemberitaan pernikahan, sekarang sudah menikah ternyata malah tidak selesai begitu saja, semua orang mempertanyakan pernikahannya.
Tidak terasa hari sudah sore, saking sibuknya Henry tidak melihat hari sudah gelap, diapun pulang dengan rasa lelahnya.
“Sayang, kau pulang?” tanya Hanna, saat melihat Henry masuk keruang keluarga.
“Iya Bu,” jawab Henry sambil naik ke atas angga.
“E e tunggu Henry!” panggil ibunya.
“Ada apa?” Henry menghentikan langkahnya.
“Mana istrimu?” tanya Hanna, sembil menghampiri putranya.
Ditanya begitu membuat Henry sadar kalau dia sudah menikah dengan Shezie.
“Dia pulang!” jawab Henry.
“Pulang? Apa maksudmu pulang? Dia tidak pulang kesini?” tanya Hanna terkejut dengan jawaban Henry.
“Kami tidak cocok Bu, tadi kami bertengkar, jadi dia pulang!” jawab Henry.
“Apa? Terus kau membiarkannya?” tanya Hanna, raut mukanya langsung berubah merah, membuat Henry kaget, tidak pernah ibunya semarah ini.
“Apa yang aku lakukan? Kau mencampakkannya?” bentak Hanna.
“Bu, dia juga yang ingin pulang, aku tidak memaksanya,” kata Henry.
“Susul dia!” Perintah Hanna.
“Apa?” Henry terkejut.
“Susul dia!” bentak Hanna.
“Bu, kenapa ibu begitu marah?” tanya Henry.
“Ibu tidak suka kau mempermainkan pernikahan Henry! Kalian baru menikah kemarin dan sekarang berpisah? Apa kau tidak dengar apa yang ayah dan ibu katakan tadi pagi? Kalian tidak boleh bercerai!” kata Hanna dengan keras.
“Tapi kami sudah tidak cocok Bu!” ucap Henry, mencoba mencari-cari alas an.
“Dalam pernikahan tidak bisa mengatakan tidak cocok kemudian bercerai apalagi pernikahan kalian sumur jagung! Terlalu dini kau mengatakan tidak cocok!” kata Hanna.
“Bu, aku dan Shezie sudah memutuskan untuk berpisah, itu yang terbaik buat kami,” ujar Henry.
“Tidak jika umur pernikahan kalian baru kemarin!” ucap Hanna.
Henry terdiam melihat kemarahan ibunya itu. Baru sekarang ibunya membentak bentaknya begitu.
“Sekarang susul dia dan bawa pulang!” Perintah ibunya.
“Tapi Bu…” Henry akan menolak.
“Se-ka-rang!” kata Hanna dengan tegas.
“Bu!” Henry menatap ibunya.
“Kau sudah menikah Henry, kau bertanggung-jawab padanya. Kebutuhannya, keselamatannya, kau wajib melindunginya! Kau sudah punya kewajiban sekarang, susah senangnya Shezie sudah menjadi tanggung jawabmu. Kau tidak bisa lari dari tanggung jawab,” kata ibunya panjang lebar.
“Ibu tidak suka punya anak yang tidak bertanggung jawab pada istrinya!” kata Hanna lagi, semakin membuat Henry tersudut.
Dia tidak mungkin mengatakan kalau Shezie gadis yang dia bayar untuk jadi pengantinnya. Ibunya pasti tambah marah lagi, semua semakin runyam.
“Kau benar-benar tega Henry, dia itu yatim piatu, dia sendirian, dengan mudahnya kau meninggalkannya!“ keluh Hanna.
“Dia juga mau perpisahan ini Bu!” kata Henry.
“Itu karena dia sedang marah, tidak dengan besok atau lusa! Bertengkar sih bertengkar tapi tidak dengan bercerai! Apa sih sebenarnya masalah kalian sampai ingin bercerai?” tanya Hanna.
Henry tidak menjawab.
“Kalau kau berselingkuh, berarti masalahnya ada padamu, kau putuskan semua pacarmu, mulailah berlajar setia pada istrimu, kau harus bisa!” kata Hanna.
Henry semakin tidak bisa bicara, dia sungguh bingung, tidak menyangka ibunya akan semarah ini.
“Apa kau tahu, ayahmu sudah memilihkan rumah yang nyaman untuk kalin tempati, kalau ayahmu tahu kau seperti ini, dia akan sangat kecewa.,” kata Hanna.
“Rumah?” tanya Henry, kaget.
“Iya, rumah,” jawab Hanna.
“Kau tinggal mengisinya saja,” jawab Hanna.
Henry tidak bicara lagi, dia bingung apa yang harus dikatakannya? Dia dan Shezie tidak ada hubungan
apa-apa.
“Cepat susul dia, bawa pulang, kau tidak boleh pulang kalau tidak membawanya,” ucap Hanna, sambil beranjak meningagalkan Henry.
“Bu! Bu! Jangan begitu!” seru Henry tapi ibunya tidak menjawab, dia tetap melangkah jauh tidak menghiraukan perkataannya Henry.
Kepala Henry semakin terasa mau pecah, apa yang harus dilakukannya sekarang? Melihat ibunya marah seperti itu, mau tidak mau dia harus mencari Shezie. Terus apa yang akan dilakukannya kemudian? Bagaimana kalau Shezie kembali kerumah ini?
Henry mengeluarkaan handphone-nya melakukan panggilan memanggil Shezie, tapi ternyata ponsal gadis itu tidak aktif.
Kemana Shezie? Henry kembali menelpon tetap tidak aktif juga. Akhirnya dia keluar dari rumahnya, kembali mengendarai mobilnya menuju daerah dia menurunkan Shezie.
Henry tidak habis fikir karena semua orang menyalahkannya?a Apa salahnya dia? Kalau menikah dan saling tidak suka untuk apa tetap bertahan dengan pernikahan? Padahal pernikahannya dengan Shezie hanya sebatas kerjasama saja. Kalau seperti ini terus apakah dia harus menjalin pernikahan ini?
Sesampainya di tempat dia menurunkan Shezie, Henry bingung, dia tidak tahu rumahnya Shezie dimana. Akhrinya dia turun dari mobilnya dan bertanya pada orang sekitar tapi fotonya juga dia tidak punya , hanya menceritakan ciri-cirinya saja. Dicobanya lagi menelpon Shezie masih juga tidak bsia dihubungi.
Kalau pergi ke rumah sakit, dia mau bertanya apa? Dia tidak tahu siapa yang Shezie tengok. Henry benar-benar merasa pusing.
Sampai larut malam Henry masih berputar-putar didaerah itu, dia bingung harus mencari Shezie kemana lagi. Akhirnya diapun pulang dengan tangan kosong. Rumah terlihat sepi, ibunya mungkin sudah tidur, entah apa yang harus dikatakannya pada ibunya.
Hingga esok harinya saat bertemu ibunya dimeja makan, barulah Hanna bertanya tentang Shezie pada Henry.
“Mana istrimu?” tanya Hanna, saat Henry sudah berdandan rapih akan berangkat bekerja dan menemui ibunya di meja makan. Ayahnya sudah duduk dimeja makan, juga menatapnya.
“Maaf Bu, aku tidak bisa membawanya pulang,” ucap Henry.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Damian, menatap tajam putranya.
Henry duduk dikursi dengan lesu.
“Kami masih bertengkar, dia belum mau pulang,” jawab Henry, dia tidak mungkin mengatakan tidak tahu rumahnya Shezie.
“Kau bujuk dia sekali lagi, katakan ayah sudah membelikan kalian rumah, kalian bias langsung menempati rumah itu,” kata Damian.
Hanna menatap Henry.
“Apapun masalah kalian, selesaikan, tapi bukan bercerai solusinya, kau mengerti kan?” kata Hanna, berulang-ulang mengingatkannya.
“Iya Bu,” jawab Henry, mengangguk dengan terpaksa. Dia benar-benar bingung harus mencari Shezie dimana? Ponselnya tidak aktif sampai sekarang.
“Ayo makanlah,” ucap Hanna, sambil mengisikan makanan ke piringnya Henry, lalu duduk kembali dan menatap Henry.
“Sayang, ingatlah untuk selalu menyayangi istrimu. Apalagi Shezie yatim piatu, kasihan dia, jangan menyakitinya dengan berhubungan dengan pacar-pacarmu itu. Ibu juga tidak mau kalau ayahmu bersikap sepertimu,” ucap Hanna, mendengar perkataan Hanna, Damian langsung menoleh.
“Kenapa jadi membahas aku lagi? Aku tidak ada kaitannya dengan masalah Henry dan Shezie,” kata Damian.
“Kalian itu sama-sama laki-laki. Darah lebih kental dari air,” jawab Hanna, membalas tatapan suaminya.
“Kau menyalahkanku lagi!” keluh Damian, kembali makan sarapannya.
Hanna mendelik pada suaminya. Damian kembali menoleh pada Henry.
“Lebih baik selesaikan dulu masalahmu dengan istrimu, kau tidak perlu ke kantor dulu,” kata Damian.
Henry tidak menjawab, masalahnya dia bingung mau mencari Shezie kemana?
“Oh iya, ibu baru dapat kiriman foto pernikahanmu dari WO. Sudah dicetak semua ada berupa album dan pigura. Kau bisa memasangnya dengan Shezie dirumah baru, “ kata Hanna.
“Iya, ajak saja Shezie sekalian melihat rumah itu,” ucap Damian.
“Baik ayah,” jawab Henry, kepalanya pusing tujuh keliling. Mungkin hanya keajaiban saja yang bisa mempertemukannya lagi dengan Shezie.
***********