
Satria memarkir sepedanya di depan teras rumahnya. Ditangannya ada beberapa Koran yang digulung-gulung. Diapun duduk disalah satu kursi di teras itu. Dibukanya Koran itu dan dicarinya sesuatu yang sekira menarik.
Kemarin dia melihat kakak iparnya itu tergesa-gesa mengambil lembaran Koran dan dimasukkan ke dalam tasnya. Dia penasaran ada berita apa sampai harus mengambil lembaran Koran yang sedang dibaca ibunya, padahal di kantor kakaknya pasti banyak Koran-koran itu. Dan dia baru sempat sekarang mencari Koran kemarin sekalian membeli beberapa Koran yang dia butuhkan yang terbit hari ini.
Dahi satria berkerut, tidak ada berita yang aneh di Koran hari ini. Diapun membuka koran kemarin yang diambil lembarannya oleh Hanna.
Sampai beberapa halaman ke depan tidak ada yang aneh. Diambilnya minuman di meja yang baru disuguhkan pelayannya.
“Sebenarnya apa yang disembunyikan wanita itu? Aku benar-benar merasa curiga. Wanita itu bukan tipe kakakku tapi kakakku menikahinya, sungguh aneh. Hamil duluan juga tidak,” gumam Satria, diapun menutup korannya dan akan disimpan dimeja, saat dilihatnya iklan Berita Orang Hilang. Matanya tidak berhenti berkedip saat melihat ada foto kakak iparnya disana.
Diraihnya kembali Koran itu dan dibacanya.
“Hanna? Namanya Hanna, sama, dia dicari oleh keluarganya. Jika ada yang menemukan silahkan hubungi Cristian. Siapa cristian? Ayahnya?” gumam Satria. Diapun mengeluarkan handphonenya dan mencatat nomor Cristian.
“Apa aku perlu mengontak Cristian? Tapi bagaimana kalau Cristian itu orang jahat? Atau Hanna itu sebenarnya memiliki kelainan mental? Tapi dia terlihat normal-normal saja, meskipun sepertinya agak gila,” guman Satria lagi.
“Kalau Hanna tidak memilki kelainan mental, kenapa keluarganya mencarinya? Jangan-jangan dia penjahat wanita? Penipu? Siapa dia sebenarnya sampai dicari-cari orang begini. Kalau masih keluarganya, tentunya waktu resepsi keluarganya hadir, orangtuanyanya juga kan ada. Kenapa di cari lewat Koran? Siapa sebenarnya Cristian yang membuat iklan ini? Sangat membingungkan.” Satria kembali membolak balikkan Koran itu, kepalanya masih penuh dengan teka teki. Sepertinya dia harus menyelidiki siapa kakak iparnya itu.
**********************
Di Bali…
Damian menoleh pada ATM yang tergeletak di meja itu, lalu menatap Hanna.
“Kau yakin akan mengundurkan diri dan mengembalikan uangmu?” tanya Damian.
“Mmm,” Hanna tampak berfikir lagi, matanya melirik pada ATM di meja itu.
“Baiklah, tidak apa-apa jika kau maunya begitu, aku ambil uangku lagi,” kata Damian tangannya akan meraih ATM itu, tapi secepat kilat Hanna mengambilnya duluan.
“Kenapa kau ambil lagi?” tanya Damian.
“Tidak jadi mengundurkan dirinya..hehhe..”Hanna cengengesan.
“Bilang saja kau mau uang itu,” ucap Damian, sudah bisa menebak.
“Bukan begitu, aku memelukmu bukan semata-mata demi uang, tapi aku merasa kasihan kau selalu bermimpi buruk, aku senang bisa meringankan bebanmu,” elak Hanna, beralasan.
“Bukan karena cemburu?” todong Damian, menatap wanita itu penuh selidik.
“Cemburu? Apa cemburu? Kau bukan siapa-siapaku, buat apa aku cemburu,” elak Hanna lagi, mencibirkan bibirnya.
“Aku fikir kau cemburu pada Maria,” ucap Damian. Tapi dalam hatinya sudah menebak kalau wanita itu pasti cemburu pada Maria.
“Tidaklah! Buat apa cemburu!” elak Hanna lagi.
“Buktinya kenapa setelah tahu Maria itu Mario, kau tidak jadi mengundurkan diri?” tanya Damian, mencoba menggoda Hanna.
“Itu kan karena setelah kufikir fikir, kalau aku pergi kau akan bermimpi buruk lagi, aku tidak tega meninggalkanmu,” jawab Hanna, mencoba meyakinkan Damian, dia gengsi harus mengakui dia cemburu pada Maria apalagi ternyata Maria adalah seorang laki-laki, sangat memalukan, mau ditaruh dimana mukanya?
“Baiklah, kau kembali bekerja untukku, tapi ingat kau tidak boleh berteman dengan pria manapun,” kata Damian, sambil berjalan kearah dapur.
“Sepertinya surat perjanjiannya harus direvisi,” ucap Hanna sambil mengikuti Damian ke dapur.
“Masa revisi terus,” gerutu Damian.
“Tentu saja. Ternyata aku keberatan dengan persyaratan itu. Kau minimal harus memberikan kebebasan buatku untuk berteman dengan siapapun,” kata Hanna.
“Tidak dengan laki-laki,” jawab Damian dengan tegas. Mengambil kantong kantong di meja makan dibawa ke meja dapur untuk di eksekusi.
“Hem..kau ini... Tapi baiklah aku tidak akan berhubungan dengan laki-laki, tapi kecuali Arya, ya,” pinta Hanna. Damian menghentikan gerakan tangannya, menatap Hanna.
“Tidak terkecuali dia,” kata Damian dengan ketus. Dia tidak suka Arya, pria tampan itu terlihat menyukai Hanna, bahkan mereka bertukar nomor telpon segala, jangan-jangan nanti pria itu akan terus menghubungi Hanna.
“Apa kau tidak bisa melihat pesonanya? Dia sangat tampan!” seru Hanna, membuat rona muka Damian berubah.
“Dasar wanita genit!” gerutunya, sambil mengeluarkan sayuran dari kantong belanjaan.
Hanna mengerucutkan bibirnya, kesal dan kecewa.
“Masa aku harus bersamamu terus? Istri bukan, pacar bukan. Huh!” gerutu Hanna.
“Aku kan sudah menawarimu supaya kau bisa menganggapku kekasih,” ucap Damian, sambil mencuci sayuran itu di air kran yang mengalir.
“Mana bisa kekasih dia anggap. Mana ada yang begitu? Kekasih itu dua orang yang saling mencintai,” seru Hanna, badannya bersandar ke meja tempat memotong bahan makanan.
“Ya anggap saja kita dua orang yang saling mencintai,” jawab Damian seenaknya.
“Kau ini segala dianggap. Peraturannya kan kita tidak boleh saling jatuh cinta, atau kena finalti,” kata Hanna, matanya memperhatikan Damian yang menyimpan sayuran yang sudah dicucinya ke dalam baskom.
“Kalau kau jika jatuh cinta padaku, kau gampang saja memberiku uang 2x lipat, kau memiliki banyak uang. Tapi bagaimana denganku? Uangku akan hilang dan aku akan patah hati,” ucap Hanna.
“Kau fikir aku mau kena finalti karena jatuh cinta padamu? Tidak, kau salah,” kata Damian, sambil mengambil pisau, mulai memotong bahan makanan di meja yang tadi tempat Hanna bersandar.
“Kau yakin kau tidak akan jatuh cinta padaku?” tanya Hanna.
“Kau bukan tipeku,” jawab Damian dengan enteng, tanpa menoleh, tetap memomotog bahan bahan makanan di meja itu, membuat Hanna cemberut.
“Makanya jangan selalu menatapku kalau aku sedang tidur, nanti kau jatuh cinta padaku dan patah hati,” kata Damian, seakan mengerti apa yang difikirkan Hanna.
Hanna menoleh pada Damian.
“Aku tidak akan jatuh cinta padamu, titik!” seru Hanna, bertekad bulat dalam hatinya, dia akan menutup hatinya untuk Damian.
“Bagus,” ucap Damian, mengangguk.
“Karena…aku mulai menyukai Arya!” seru Hanna, senyumnya mengembang di bibirnya.
“Apa? Aw!” teriak Damian. Hanna sampai kaget dan mendekatinya. Ternyata tangan Damian teriris pisau.
“Kau kenapa sampai teriris pisau begini? Kau tidak hati-hati!” keluh Hanna, sambil melihat tangan Damian yang berdarah.
“Ada kotak obat tidak?” tanya Hanna.
“Ada di salah satu kantong belanjaan itu, aku membeli peralatan P3K,” jawab Damian, sambil berjalan ke wastafel, mencuci tangannya yang berdarah terkena pisau.
Hanna mengobrak abrik kantong belanjaan itu. Diambilnya obat luar untuk luka dan plesternya.
“Sudah kau cuci lukanya? Sini aku obati,” kata Hanna, sambil duduk di kursi meja untuk memotong bahan makanan itu yang berbentuk Elips.
Damian duduk di kursi sebelah Hanna.
“Mana coba aku lihat lukanya,” Hanna menarik tangan Damian yang terluka. Diobatinya dengan obat luar tadi, lalu ditiup-tiupnya, menunggu obat itu agak kering. Damian hanya memperhatikan wanita itu meniupi lukanya. Dia sangat terkejut tadi saat Hanna bilang dia menyukai Arya, seperti mau copot jantungnya. Apa benar wanita itu menyukai Arya? Kenapa dia merasa tidak suka? Apa dia merasa cemburu? Ah tidak, Hanna bukan tipenya, bukan wanita seperti Hanna yang dia bayangkan akan menjadi kekasihnya. Wanita yang tidak jelas, ceroboh dan aneh.
Hanna membalut lukanya Damian.
“Nah sudah selesai, lebih baik sekarang?” tanya Hanna, sambil menatap Damian.
“Sebenarnya kau memikirkan apa sampai teriris pisau segala?” Hanna bertanya lagi.
“Tidak memikirkan apa-apa, mungkin aku terganggu karena kau bicara terus,” elak Damian.
“Benarkah begitu? Perasaan aku tidak banyak bicara, aku hanya membicarakan kalau aku sepertinya menyukai Arya,” kata Hanna.
Tiba-tiba Damian tersedak dan batuk-batuk, mendengar Hanna kembali bilang menyukai Arya.
“Kau ini kenapa lagi?” Hanna segera mengambil minum air putih dan diberikan pada Damian.
“Kau ini kenapa sih? Jangan jangan kau tidak suka aku suka dengan Arya?” selidik Hanna, menatap wajah tampan yang tampak pucat itu.
“Tidak, kau boleh menyukai siapapun tapi tidak masa kontrak kerja denganku,” elak Damian, sambil menyimpan gelas di meja.
“Begitu ya. Ya sudah, pokoknya aku bekerja hanya satu tahun dan setelah itu aku akan mencari pria yang aku sukai,” jawab Hanna.
Damian tidak bicara lagi.
“Jadi bagaimana dengan memasak ini? Tanganmu terluka,” tanya Hanna.
“Kau saja yang memasak. Aku yang memberitahu caranya bagaimana, bumbunya apa saja,” jawab Damian.
“Baiklah kalau begitu. Jadi sekarang aku harus melakukan apa?” tanya Hanna, sambil melihat bahan-bahan makanan dimeja.
“Kau potong-potong dulu bahannya semua,” jawab Damian.
Hannapun mengambil pisau dan mulai mengeksekusi bahan makanan di depannya sesuai arahan Damian.
Damian memperhatikan wanita yang memakai celemek ini, yang tampak sudah tidak berbentuk rupa. Rambutnya diikat dan sedikit acak-acakan, keringat banyak di keningnya, yang sesekali di lap dengan tangannya. Melihat jemari tangan Hanna yang lentik, sepertinya dia memang tidak pernah memasak. Tidak ada satu cara memasakpun yang wanita ini pahami.
“Kau benar-benar tidak bisa memasak?” tanya Damian, tangan kanannya memegang tangan kanan Hanna mengajarinya mengaduk sayuran di dalam ketel.
“Aku tidak pernah memasak,” jawab Hanna, melirik seilas pada pria yang berdiri didekat punggungnya sambil memegang tangannya. Kenapa jantungnya berdetak tidak beraturan begini? Sedekat ini di dada Damian, membuatnya menjadi gugup.
“Kau pasti wanita pemalas yang manja,” kata Damian, tapi Hanna tidak menjawab, masih sibuk dengan perasaannya yang tidak jelas. Tumben sekali tidak menyela, fikir Damian.
Pukul 7 malam, terdengar suara denting bel pintu berbunyi.
Hanna membukakan pintu, dia terkejut melihat yang datang. Wanita yang sangat cantik dan sexy, bukan wanita tapi pria yang cantik, apa benar seorang pria? Hanna menoleh pada dirinya sendiri. Dia saja kalah cantik oleh pria cantik ini. Apa benar dia pria? Dilihatnya dari atas sampai bawah tamu yang datang itu. Wajahnya cantik dengan memakai gaun yang membentuk tubuhnya yang sexy. Jangan-jangan Damian berbohong kalau wanita ini laki-laki dan sebenarnya wanita ini adalah seoarang wanita. Pasti Damian berbohong! Hati Hanna memberontak.
*********************
Penasaran kan? Apakah itu Maria atau Mario?
Lanjut besok…
Jangan lupa like dan Komen
Sekali lagi ini hanya cerita hiburan yang ringan ringan saja, jangan dianggap serius.
Yang belum baca “My Secretary” hayu buruan baca..season 2(Love Story in London), dengan tema dan genrenya juga berbeda.