
Henry tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali mengambil bantalnya, bersandar di sandaran tempat tidur dan membuka-buka ponselnya.
“Apa yang akan kita lakukan disini? Hanya duduk-duduk saja?” tanya Shezie, menoleh pada Henry yang mulai sibuk dengan ponselnya.
“Kita tidak bisa turun atau bertemu dengan ibu-ibu arisan itu, pasti banyak hal-hal yang membuat ita pusing,” jawab Henry.
Shezie menghela nafas pendek.
“Kalau kau jenuh, lebih baik kau pijat kakiku, aku sangat lelah,” kata Henry, tangannya menunjuk kakinya.
Shezie menoleh dan menatapnya.
“Kau mengerjaiku?” tuduh Shezie.
“Dari pada kau bengong tidak ada pekerjaan, itu juga sudah menjadi kewajiban seorang istri memijat suaminya kalau sedang lelah,” kata Henry, tidak menghiraukan reaksi protesnya Shezie.
Shezie masih menatap pria itu dan memberengut.
“Ih, tidak ada perjanjiannya harus memijat, kenapa aku jadi harus memijat segala?” gerutu Shezie.
“Aku kan sudah menjalankan kewajibanku sebagai suami, aku memberimu nafkah, apa ruginya memijatku? Tidak semua suami benar-benar bertanggung jawab seperti aku!” kata Henry, menatap Shezie sebentar lalu melihat ponselnya lagi.
“Hem, kau memuji diri sendiri,” keluh Shezie.
“Aku sudah memberimu uang bulanan juga masa kau sebagai istri tidak mau cuma memijat juga?” Henry balik mengeluh.
“Iya, iya,aku akan memijatmu,” jawab Shezie, masih cemberut, diapun naik ke tempat tidur, duduk disamping kaki Henry yang berselonjor.
“Aku harus memijat yang mana?” tanya Shezie.
“Tidak perlu ditanya lagi, memijat ya di Kaki! Dimana lagi? Kau memijat kaki, kaki! bukan memijat yang lain,” jawab Henry dengan ketus.
Shezie tambah memberengut sebal, dia diomeli Henry seperti itu. Kedua tangannya mulai menyentuh kakinya Henry dan memijatnya.
“Yang keras!” perintah Henry.
“Iya!” jawab Shezie, mengeraskan pijatannya.
“Pakai tenaga!” ucap Henry lagi.
“Ini juga sudah pakai tenaga!” kata Shezie,medelik pada Henry yang mengomelinya terus.
“Kau tidak bisa memijat!” keluh Henry.
“Aku bukan tukang pijat!” ucap Shezie, kembali memijat kakinya Henry dengan keras.
“Tunggu! Tunggu!” kata Henry, membuat Shezie menghentikan pijatannya.
“Ada apa?” tanya Shezie.
“Aku ingin sambil berbaring!” jawab Henry, membuat Shezie mencibir, ini pria banyak maunya.
Henry pun berbaring dan kedua tangannya dilipat dibawah kepalanya.
Shezie kembali melanjutkan pijatannya, tanpa bicara lagi.
Henry menatap gadis yang sedang memijatnya itu. Dia teringat kalau ibunya Shezie sedang dirawat, tapi gadis itu rela meninggalkannya karena terikat pekerjaan dengannya.
“Kau belum bercerita soal ayahmu, kemana ayahmu? Meninggal?” tanya Henry.
“Kata ibu meninggal, tapi aku belum pernah tahu kuburannya dimana,” jawab Shezie.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Henry, mengerutkan keningnya.
“Aku juga tidak tahu, kata ibu desa kami terkena banjir dan longsor dulu, jadi kuburan ayah terkikis dan terbawa banjir,” jawab Shezie.
Henry terdiam, menatap gadis yang sedang menunduk memijat kakinya. Belakangan ini kenapa dia sering menatap gadis itu?
“Henry!” panggil Shezie.
“Iya,” jawab Henry.
“Apakah aku boleh meminta uang jasaku sebagian?” tanya Shezie.
“Buat apa?” tanya Henry.
“Aku hanya ada perlu saja!” jawab Shezie, dia berfikir untuk mengembalikan uang Martin secepatnya, dia tidak mau berhutang pada Martin, itu akan semakin membuatnya terikat dan tidak bisa lepas dari pernikahannya dengan Martin.
“Tidak mau, aku sudah bilang aku membayarmu jika pekerjaannya selesai,” kata Henry.
Shezie diam saja, dia kembali memijat kakinya Henry. Dalam benak Henry merasa heran lagi, Shezie butuh uang buat apa lagi? Pengobatan ibunya sudah dibayarnya, dia butuh apa lagi?
“Aku kan sudah memberimu uang bulanan, memangnya itu tidak cukup?” tanya Henry.
“Tidak, aku hanya ada perlu saja,” jawab Shezie.
“Kalau kau memberimu uang sakarang, kau bisa ingkar janji dan aku kesulitan untuk mencarimu! Aku tidak tahu rumahmu,” kata Henry.
“Tidak perlu tahu rumahku, setelah kita bercerai semua urusan terputus kan? Aku akan menikah dengan Martin,” sanggah Shezie.
“Tapi sepertinya kita tidak bisa cepat cepar bercerai, karena aku masih membutuhkanmu,” kata Henry, membuat Shezie menoleh dan menghentikan pijatannya.
“Apa maksudmu? Kau mau memperpanjang pernikahan kita?” tanya Shezie.
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya ibuku serius meminta kau cepat-cepat hamil,” jawa Henry.
“Ah tidak, tidak, aku tidak mau mengandung anakmu, meskipun kau bayar berapapun. Setelah aku mendapat uang 1M darimu, aku tidak butuh uang besar lagi apaalgi sampai harus mengandung anakmu segala, kau suruh saja wanita lain yang bisa kau sewa untuk hamil,” kata Shezie.
“Kau serius menyuruhku mencari wanita yang mau mengandung anakku?” tanya Henry.
“Tentu saja,” jawab Shezie.
“Kau tidak cemburu?” tanya Henry lagi.
“Tidak, kenapa harus cemburu?” jawab Shezie. Meski dalam hati dia bertnya-tanya, apa benar dia akan rela kalau suaminya menghamili wanita lain?
“Tapi kan yang jadi istriku kau, masa yang hamilnya gadis lain” keluh Henry.
“Kau benar, tapi aku tidak mau kalau pernikahan ini diperpanjang -panjang apalagi harus hamil-hamil segala,” ujar Shezie.
“Ngobrol sih ngobrol, ayo pijat lagi!” seru Henry, menunjuk kakinya, Shezie kembali memijatnya. Henry merasa-rasakan pijatan Shezie, ternyata lama kelamaan pijatannya sangat enak dan membuat kakinya lebih relax.
“Kau pijat tanganku juga!” kata Henry sambil menunjuk tangannya.
Shezie beringsut mendekati Henry, pria itu mengulurkan tangannya, Shezie meraihnya dan mulai memijatnya. Dia agak ragu, karena tanganya kini bersentuhan dengan kulit tangannya Henry yang menggunakan kaos berlengan pendek. Pantas saja Henry sangat protes dengan penampilannya, dibalik tangannya yang kekar, kulit pria itu terasa begitu halus ditangannya.
Tiba-tiba tangan kiri Henry meraih tangan Shezie , diapun bangun, lau meraih tangan Shezie yang lainnya, melihat telapak tangannya, mengusap-usap telapak tangannya Shezie dengan telapak tangannya.
“Ada apa?” tanya Shezie menatap Henry.
“Tanganmu sangat kasar, tidak kau rawat! Kau tidak boleh terlalu banyak bekerja, kau harus ke salon supaya tanganmu halus,” ucap Henry, kemudian melihat kukunya.
“Kukumu juga sudah mulai tidak terawat, hanya sekali itu saja ke salon itu kan?” tanya Henry menatap Shezie.
“Kau terlau cerewet,” keluh Shezie sambil menarik tangannya dari pegangannya Henry.
Henry menatap Shezie.
“Kau harus merawat dirimu,” kata Henry, membuat Shezie menatapnya, kenapa dia merasa apa yang dikatakan Henry itu berlebihan? Apakah Henry mengetahui sesuatu.
“Aku juga merawat diriku,” elak Shezie.
“Dari tanganmu yang kasar saja sudah kelihatan kau terlalu banyak bekerja,” kata Henry.
Sheziepun diam dia membolak balikkan telapak tangannya.
“Kalau begitu aku tidak jadi memijat tanganmu,” ucap Shezie.
“ E e jangan lari dari tanggung jawab, kau tetap harus memijatku!” kata Henry.
“Tadi katanya tanganmu kasar,” ucap Shezie.
“Kali ini tidak apa-apa,” jawab Henry, diapun kembali berbaring.
Shezie mulai memijat tanganya Henry, bagaimana Henry tidak mengatakan kalau tangannya kasar, kulit pria itu seperti kulit perempuan, sangat halus.
“Henry!” tiba-tiba seseorang memanggil dan membuka pintu kamar, membuat Henry dan Shezie terkejut, menatap kearah pintu. Hanna sudah berdiri dipintu, dia juga tidak kalah terkejutnya, dilihatnya Henry sedang berdekatan dengan istrinya dan Shezie memegang tanganya Henry.
“Maaf, ibu lupa kalau kau sudah menikah!” ucap Hanna, dia akan menutup pintunya, Henry segera memangilnya.
“Tidak apa ibu, ada apa? Aku hanya merasa sakit pegal saja jadi Shezie memijatku,” kata Henry, sambil duduk ditempat tidur, Shezie buru-buru melepaskan tangannya.
“Ibu senang kalian mesra mesra begitu, jadi sebentar lagi rumah ini akan ramai oleh suara bayi,” ucap Hanna.
“Suara bayi? Suata bayi siapa?” tanya Henry.
“Tentu saja bayi kalian, memangnya bayi siapa?” jawab Hanna dengan kesal, kenapa putranya mendadak lola begini? Diapun masuk kedalam dan mendekati tempat tidur.
Henry dan Shezie terkejut mendengar perkataan ibunya itu. Capek-capek menyusun rencana untuk bisabercerai ibunya malah ribut soal bayi.
“Ayo kita makan, ibu –ibu arisan sudah pulang. Ibu mengundag kalian makan karena ibu memasak sesuatu yang special,” kata Hanna.
“Aku tidak sedang ulang tahun Bu,” ucap Henry.
“Bukan buatmu, tapi buat istrimu, ibu memasak sayuran dan buah yang bisa meningkatkan kesuburan jadi bisa cepat hamil,” jawab Hanna, membuah Shezie tersenyum kecut.
Henry melirik pada Shezie, gadis itu juga melirik padanya.
“Tidak usah lirik –lirikan begitu, jangan bilang kalian belum siap punya anak, punya anak, tidak boleh ditunda - tunda,” kata Hanna.
“Ayo! Nanti sayurnya keburu dingian!” ucapnya, sambil keluar dari kamar itu. Henry dan Shezie tidak bicara apa-apa lagi. Henry duluan turun, tangannya mengulur membantu Shezie turun. Shezie hanya menoleh sebentar saat merasakan tangan itu menyentuh pungungnya, terkadang dia merasakan sikap Henry sangat lembut padanya. Diapun segera turun.
Merekapun mengikuti langkah Hanna menuju ruang makan.
*********