Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-93 Perceraian



Beberapa hari kemudian…


Bu Riska mengetuk pintu ruang kerja Henry.


“Pak ada surat dari pengadilan agama,” kata Bu Riska, saat Henry menoleh padanya.


Sekrerarisnya Henry itu langsung masuk dan menyerahkan sebuah amplop. Henry menerimanya dan membacanya, isinya surat perceraiannya Shezie. Dia dan Shezie sudah resmi bercerai. Sungguh ironis nasib pernikahannya. Niatnya menjalankan pernikahan yang lebih lama ternyata harus kandas ditengah jalan disaat hati sudah saling mencintai.


Sore harinya sepulang dari kantor, Henry pulang ke rumah orangtuanya. Sejak memutuskan untuk bercerai dengan Shezie, dia kembali tinggal bersama Hanna dan Damian.


Melihat kedatangan Henry yang lesu dan tanpa menyapanya, Hanna yang sudah dari ruangan lain, menatapnya keheranan.


“Sayang kau sudah pulang?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Henry berjalan terus menaiki tangga.


“Kau kenapa sayang? Kau sakit?” tanya Hanna.


Henry menghentikan langkahnya, dia menagambil sesuatu dari tas yang dibawanya. Hanna segera menghampirinya dan melangkah  menaiki tangga beberapa tingkat.


Henry memberikan sebuah surat persegi panjang.


“Surat perceraianku dengan Shezie,” jawab Henry.


Hanna menerima surat itu dan dibacanya, saat menoleh pada Henry, putranya itu sudah ada dilantai atas. Hanna pun terdiam seribu kata, dia bingung dengan samua ini, dia merasa kasihan pada Henry.


Damian baru keluar dari ruang kerjanya, melihat arah datangnya Henry tapi putranya sama sekali tidak menyapa, dia berjalan terus masuk kekamarnya.


Damianpun menoleh ke bawah, dilihatnya istrinya sedang berdiri ditangga dengan sebuah


kertas ditangannya, wajah istrinya tampak memerah seperti akan menangis.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Damian.


“Surat cerai Henry dan Shezie,” jawab Hanna. Hatinya merasa sedih dengan nasib pernikahan putranya.


Damian segera turun mendekati Hanna yang langsung memberikannya pada Damian, lalu dia naik keatas meninggalkan Damian.


Damian membaca surat itu, dia juga jadi sedih membacanya. Melihat istrinya yang pergi meninggalkannya, diapun kembali naik ketangga menyusul istrinya.


Hanna menoleh kearah kamarnya Henry, sebenarnya dia ingin menghiburnya tapi mungkin Henry


sedang ingin sendiri, jadi diapun pergi menuju kamarnya.


Damian juga masuk ke kamarnya, dan dilihatnya istrinya itu sedang duduk dipinggir tempat tidur sambil terisak. Dia berdiri menatapnya dengan bingung, tangannya masih memegang kertas itu.


Diapun duduk disamping Hanna dan memegang bahunya. Hanna menepiskan tangannya Damian. Sejak kejadian itu istrinya itu masih saja berisikap begitu, menjauh dan tidak mau berdamai.


“Sudah berhari-hari kau marah begini,” ucap Damian, menatap Hanna yang sedang menghapus airmata yang menetes dipipinya.


“Aku merasa kasihan pada Henry,” ucap Hanna, kembali terisak.


“Aku juga, aku sangat menyayanginya, aku merasa bersalah sudah menyakiti kalian,” kata Damian. Hanna tidak menjawab.


“Tolonglah, jangan marah-marah terus-terusan, aku juga tidak ingin kejadiannya seperti ini,” lanjut Damian.


Hanna kembali terisak dan menghapus airmatanya.


“Apa aku sudah menjadi ibu yang kejam?” tanyanya seakan pada diri sendiri.


Damian masih menatapnya.


“Jangan berfikir begitu, aku tahu kau sangat menyayangi Henry,” kata Damian.


“Mengijinkan Henry melanjutkan pernikahannya dengan Shezie juga bukan keputusan yang baik. Aku tidak mau ada hubungan apapun dengan ibunya Shezie. Kau tidak boleh berhubungan lagi dengan ibunya Shezie,” ucap Hanna.


Damianpun diam, dia juga mengerti apa yang difikirkan Hanna, istrinya pasti akan selalu cemburuan dan itu membuat pernikahannya tidak sebahagia dulu.


“Aku masih ada pekerjaan, nanti aku bicara pada Henry,” kata Damian, lalu beranjak meninggalkan Hanna yang masih bersedih.


**************


Di rumah sakit…


“Besok ibu sudah bisa pulang,” kata Shezie  sambil membenarkan letak bantal ibunya.


“Minta Bi Ijah untuk membersihkan rumah,” ujar Bu Vina.


“Sudah,” jawab Shezie.


Bu Vina menatap putrinya yang murung seharian. Putrinya itu sangat jarang bicara sekarang, meskipun tidak pernah ada keluhan dari Shezie.


“Sayang!” terdengar suara seorang pria tiba-tiba muncul dipintu.


Shezie sama sekali tidak menoleh, dia sudah hafal itu suaranya Martin. Meskipun dia sudah memutuskan menikah dengan Martin, tapi hati dan fikirannya masih tertuju pada Henry, dia tidak bisa melupakan suaminya, mantan suaminya sekarang.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan itu, barulah Shezie menoleh.


“Selamat siang!” sapa seorag pria yang berdiri dipintu dengan seorang lagi.


“Siang!” jawab Shezie, menatap pria-pria itu begitu juga Martin.


“Maaf mengganggu, kami ingin bertemu dengan Bu Shezie, maaf kami datang ke rumah sakit,” kata salah satu pria itu.


“Iya, saya sendiri, Bapak bapak ini siapa?” tanya Shezie, sambil berjalan mendekati mereka.


“Saya Hilman dan ini Arga, kami pengacaranya Pak Henry,” jawab Pak Hilman.


Mendengar nama Henry disebut, Martin dan Bu Vina semakin penasaran pada dua orang itu.


“Bisa kita bicara?” tanya Pak Hilman lagi.


Dua orang itu mengangguk lalu mundur dan berjalan menuju kursi tunggu yang ada di lorong itu.


Sheziepun keluar dari ruangan itu, Martin langsung mengikutinya.


“Kau mau apa?” tanya Shezie.


“Aku ini calon suamimu, tentu saja aku harus tahu pengacara mantan suamimu mau apa kesini,” kata Martin. Shezie tidak bicara lagi dia tidak mau bertengkar apalagi didepan ibunya. Diapun membiarkan Martin menemaninya menemui dua pengacaranya Henry.


Shezie duduk dikursi tunggu dengan dua pengacara itu, sedangkan Martin berdiri bersandar di tiang dekat kursi itu.


“Kita bisa mulai?” tanya Pak Hilman.


“Silahkan!” jawab Shezie.


“Jadi kami datang kesini, untuk menyampaikan harta gono gini dari Pak Henry,” kata Pak Hilman, membuat Shezie terkejut apalagi Martin.


“Gila! Henry memberikan harta gono gini? Bisa dibayangkan berapa yang akan Shezie dapatkan,” batin Martin, diapun meruncingkan pendengarannya.


“Apa? Harta gono gini? Aku dan Henry menikah belum lama, kami juga tidak ada usaha bersama, sepertinya tidak perlu harta gono gini,” kata Shezie.


Mendengar Shezie menolak harta gono gini, Martin langsung memberengut kesal. Diapun langsung menyela.


“Sayang, tidak ada salahnya, kau terima saja, pasti jumlahnya sangat besar. Bisa digunakan untuk biaya pengobatan ibumu,” kata Martin.


Dengan harta dari Henry itu dia tidak perlu membiayai pengobatan ibunya Shezie, batin Martin.


Shezie menggelengkan kepalanya.


“Maaf Pak, aku tidak bisa menerima apapun pemberian Henry,” jawab Shezie, membuat Martin semakin sebal saja.  Dia sama sekali tidak berniat membiayai pengobatannya ibunya Shezie yang menurutnya buang-buang uangnya saja.


“Sayang! Kau harus menerimanya!” kata Martin.


Shezie menatap Martin.


“Aku tidak bisa menerimanya,” kata Shezie kembali menggelengkan kepalanya, membuat Martin kecewa.


“Bu Shezi serius akan menolak pembagian harta gono gini ini?” tanya Pak Hilman.


“Iya Pak, saya menolaknya, sampaikan terimakasih pada Pak Henry,” jawab Shezie, meskipun dia butuh uang untuk pengobatan ibunya, tapi dia sudah mengecewakan Henry, sepertinya tidak pantas dia menerima apapun pemberian dari Henry apalagi dengan harta gono goni yang  jumlahnya sangat besar.


“Jumlahnya sangat besar Bu, apa anda serius dan menolaknya?” tanya Pak Hilman lagi.


“Iya, saya menolaknya,” jawab Shezie dengan mantap. Untuk pengobatan ibunya dia akan mencari uang sendiri. Henry juga sudah memberikan café itu untuknya, dia bisa mengelola café itu sebaik-baiknya supaya bisa mempunyai penghasilan.


“Sesuai perkiraan Pak Henry, kalau ibu akan menolaknya, tapi ada satu yang terpaksa harus ibu terima,” kata  Pak Hilman.


“Apa itu Pak?” tanya Shezie, mengerutkan keningnya.


“Pak Henry menyerahkan rumah yang ditempati saat menikah. Karena rumah itu hadiah pernikahan jadi rumah itu menjadi hak milik ibu,” lanjut Pak Hilman.


Mendengar rumah itu jadi milik Shezie, Martin langsung tersenyum, setidaknya Shezie menghasilkan uang dari pernikahannya dengan Henry, dia bisa tahu harga rumah itu bermilyar-milyar. Setidaknya kalau ibunya Shezie ingin berobat keluar negeri, bisa menjual rumah itu. Martinpun langsung menyela.


“Yang itu jangan kau tolak sayang, itu memang sudah jadi hakmu, itu hadiah pernikahan,” kata Martin.


“Tapi…” Shie akan menolak tapi Pak Hilman memotongnya.


“Ini permintaan Pak Henry, rumah ini tidak boleh ditolak karena ini hadiah pernikahan,” kata Pak Hilman.


Sheziepun terdiam. Apa benar dia istrinya Henry? Hanya dalam waktu singakat pria itu memberikan banyak hartanya untuknya. Dia merasa sedih dalam hatinya, bukan harta yang dia inginkan, tapi dia ingin kembali bersama Henry.


“Baiklah, aku terima,” jawab Shezie, akhrinya mengangguk. Martin terlihat sangat senang, seharusnya Shezie menerima semua harta gono gini itu, batinnya.


Setelah pengacara itu pergi, Shezie kembali masuk keruangan ibunya.


Martin akan mengikutinya tapi ponsel disakunya bordering. Diambilnya ponsel itu dan dilihat siapa yang menelpon, ternyata Andrea. Diapun menjauhi ruangan itu.


“Ada apa?” tanya Martin.


“Apa proses cerainya sudah selesai? Kenapa kau tidak menghubungiku?” tanya Andrea.


“Tentu saja sudah beres. Tadi pengacara Henry sudah kesini mengurus harta gono gini,” jawab Martin.


“Apa? Harta gono gini? Mereka menikah belum lama dan Henry memberikan harta gono gini?” tanya Andrea terkejut, dia sudah membayangkan Shezie akan menjadi janda kaya baru dengan hartanya Henry.


“Iya, Henry memberikan sebagian hartanya untuk Shezie, tapi bodohnya wanita itu menolaknya! Benar-benar bodoh!” gerutu Martin.


“Kau serius? Pasti itu besar sekali, Henry sangat kaya!” seru Andrea.


“Makanya, dia sangat bodoh, dia menolaknya!” kata Martin dengan nada kesal.


”Kau benar, dia bodoh!” ucap Andrea, dalam hatinya dia merasa senang jadi saat dia menikah dengan Henry, hartanya tidak berkurang gara-gara harus membaginya dengan Shezie.


“Benar, hanya rumah yang mereka tempati saja yang diterima Shezie itu juga karena rumah hadiah pernikahan,” jawab Martin.


“Rumah? Rumah itu buat Shezie? Itukan rumah mewah harganya sangat mahal!” kata Andrea, hatinya semakin menyesal saja putus dari Henry, seharusnya dia mempertahankan  Henry dari dulu, dia tidak menyangka Henry seroyal itu. Diapun langsung menutup ponselnya.


“Halo! Halo!” panggil Martin tapi panggilan terputus, akhirnya Martin masuk ke ruangannya Bu Vina.


Andrea berjalan mondar mandir, dia tersenyum senang, dia bersemangat untuk mendapatkan Henry lagi, sebelum kabar adanya duda keren ini menyebar kemana-mana.


*************


Up pukul 04.01 wib


Readers, untuk info novel selanjutnya silahkan follow ig ku  @rr_maesa


Ditargetkan novel ini tamat bulan ini ya.