
Malam semakin larut, Hanna melirik Damian yang sudah tidur terlelap di tempat tidur. Pria itu mengigau semalaman, baru beberapa saat yang lalu dia menghentikan igauanya dan bisa tidur lelap.
Hanna duduk di sofa sambil membuka buka hapenya, dia membuka fb nya. Dilihatnya galeri di fb itu. Foto-fotonya dengan teman-temannya semasa kuliah, ada Sherli dan Cristian juga. Pria itu difoto tidak pernah mau jauh darinya, dan tidak seperti kebanyakan kekasih yang biasa difoto disampingnya, tidak dengan Cristian, dia selalu ada dibelakangnya, pria itu sangat melindunginya dari saat masa-masa kecil dulu, sampai akhirnya pria itu melamarnya. Sampai saat-saat dilamar,masih ada senyum di bibir Hanna, tapi kemudian senyum itu berubah kecut, saat semuanya harus berakhir dengan pernikahan yang batal. Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya.
Terdengar bunyi gerakan dari Damian, membalikkan badannya menghadap kearah lain. Hanna menatap pria itu yang kembali tertidur. Apa yang membedakan perasaannya terhadap Cristian dan Damian? Hanna tidak menjawabnya, dia kembali melihat foto-foto di galeri itu, foto ulangtahunnya bersama orangtuanya. Dipandangnya foto itu. Tangannya menyentuh wajah ayah dan ibunya.
“Ayah, Ibu, aku kangen,”ucapnya, lalu mencium foto itu, mengusap usap wajah kedua orangtuanya.
Tidak terasa sudah sebulan hampir dua bulan mungkin lebih sedikit, dia tidak melihat ayah ibunya lagi. Dia sangat merindukan mereka. Dia ingin pulang, tapi dia tidak tahu apakah itu akan membuahkan kebaikan untuk hidupnya atau tidak?
Dilihatnya foto ulangtahun itu, tertulis saat dia usia 17 tahun. Dirayakan sangat meriah dengan mengundang teman-temannya. Apakah masa-masa kebersamaan itu akan hilang selamanya? Apakah dia akan benar-benar tidak akan kembali kepada ayah dan ibunya? Perlahan airmata menetes dipipinya. Dia benar-benar rindu mereka. Hanna cepat-cepat menghapus airmatanya.
Kini dia berbaring disofa sambil memeluk handphonenya yang ada foto ulangtahunnya dulu meniup lilin bersama kedua orangtuanya, tubuhnya meringkuk menghadap sandaran sofa.
Tangan Damian menggapai gapai merasakan pelukannya menghilang, diapun terbagun. Dilihatnya Hanna tidak ada disampingnya. Kemana dia?
Damian melihat kesekeliling, matanya terhenti pada Hanna yang berbaring di sofa tanpa selimut menghadap sandaran sofa. Kenapa Hanna tidur di sofa? Dia keheranan.
Damianpun turun dari tempat tidurnya, mengambil selimut lalu berjalan mendekati sofa dan menyelimutinya dari kakinya sampai kepinggang lalu dia berjongkok disamping tubuh yang membelakanginya itu. Menatapnya. Mungkin Hanna memang sedang ingin tidur di sofa saja, fikirnya jadi tidak berniat memindahkannya ke kasur.
Dilihatnya wajah Hanna yang tertidur itu, pipinya terlihat basah. Damian kembali mengerutkan keningnya, apa dia sedang menangis tadi? Tangannya Hanna juga sedang memeluk sesuatu, apa itu? Damian mencoba mengangkat tangan Hanna pelan-pelan, ternyata handphonenya.
Dengan perlahan Damian mengambil handphone itu, dilihatnya sekilas di handphone itu gambar foto seseorang yang ulangtahun meniup lilin bersama kedua orangtuanya, tapi baru sampai setengah gambar, hanya bagian bawah saja, sepertinya bekas di zoom oleh Hanna, jadi tidak terlihat wajah-wajah dalam foto itu.
Damian penasaran apakah itu foto Hanna dan orangtuanya? Tangannya menggeser layar itu ke bawah, tapi tiba-tiba Hanna bergerak, membuatnya kaget dan Pluk! Handphone itu jatuh terselip antara dada Hanna dengan sandaran sofa.
Damian penasaran dengan foto itu, dia ingin melihat siapa yang ada difoto itu yang membuat Hanna memeluknya sambil menangis. Tapi handphone itu terjatuh menyelip antara dadanya Hanna dan sandaran sofa. Kalau tangannya menyusup diantara keduanya, kalau Hanna tiba-tiba bangun, dia akan marah besar setahun pasti tidak akan reda reda, hidupnya kan tersiksa dengan marah-marahnya itu. Huh.
Damianpun berdiri akan meninggalkan Hanna dan kembali tidur, tapi langkahnya terhenti, dia sangat penasaran siapa yang ada di dalam foto itu, dia ingin melihatnya.
Apakah orangtua Hanna? Dia ingin melihat seperti apa orangtuanya Hanna. Bukankah kalau dia benar-benar sudah yakin ingin menikahi Hanna, dia juga mau tidak mau harus menemui orangtua Hanna? Kenapa sekarang dia baru berfikir ingin tahu orangtua Hanna?
Langkahnya kembali mundur, menatap wanita yang sedang tidur itu lagi. Dilihatnya handphone itu. Ah Hanna kan tidur, kelihatannya nyenyak, lebih baik diambil saja handphone itu hati-hati jangan sampai menyentuh dadanya, fikir Damian.
Damian kembali jongkok, perlahan mengulurkan tangannya mendekati handphone itu, ditahannya sebentar, melihat situasi, ternyata Hanna tidur dengan nyenyak. Tangan kirinya semakin terulur, jari-jarinya mulai menyentuh ujung handphone itu. Dia mencoba menjepit handphone dengan ujung jarinya tapi handphone itu malah menggeser semakin dalam. Dikorek korek lagi handphonenya, malah semakin menyusup jauh kedalam. Hanna yang sedang tidur, merasa ada sesuatu yang bergerak gerak melewati dadanya, dia mengerjap sebentar,saat gerakan itu terasa berhenti lalu tertidur lagi.
Damian masih mencoba mengambil handphone itu lagi tapi ternyata handphone itu malah jatuh semakin dalam dan menyelip dilipatan sofa, semakin membuatnya susah mengambilnya. Hanna kembali merasa ada yang bergerak di dadanya, dia menggerakkan badannya, semakin merapat ke sofa sambil melipat tangannya.
Damian terkejut,karena tangannya Hanna malah jadi memeluk tangannya.
Jantungnya berdebar kencang saking kaget dan merasakan sesuatu ditangannya. Pergelangannya menempel didada wanita itu. Aduh, bagaimana ini? Telapak tangannya masih menyelip dilipatan sofa. Boro-boro mau mengambil handhpne itu yang malah jatuh semakin dalam di lipatan sofa, sekarang malah tangannya terjebak dalam pelukan tangan Hanna. Bukan hanya pelukan tapi tangannya menyentuh dada wanita itu. Bagaimana kalau dia bangun dan melihat tangannya ada di dadanya? Dia pasti ngamuk. Damianpun mencoba mengeluarkan tangannya dari dekapan Hanna, menariknya perlahan dan astaga! Dia terkejut! Telapak tangannya benar-benar menyentuh dada wanita itu. Aduh! Dug dug dug! Ada yang bertalu di dadanya. Dia juga merasakan gerah yang amat sangat, tangannya benar-benar berada diarea sensitive wanita itu.
Tangan kanannya mencoba mengambil tangan Hanna supaya melepas pelukannya, tapi tangan itu kenapa begitu kuat memeluknya? Jantungnya masih terus berpacu kencang. Dicobanya sekali lagi, masih tidak bisa lepas. Dia tidak mungkin kan semalaman dengan posisi seperti ini? Berjongkok dengan satu tangan yang menempel didadanya Hanna? Bisa-bisa kiamat! Ah dicoba lagi!
Damianpun mencoba lagi melepaskan pelukan tangan Hanna ke tangannya. Masih tidak bisa, dicobanya lebih keras lagi, dicoba lagi. Dan Hanna yang merasa ada yang menarik-narik tangannya jadi terbangun, membuka matanya dan menjerit keras! Saat melihat tangan kanan Damian mendekat akan menyentuh dadanya dan tangan kirinya sudah menempel didadanya.
“Aaaaw! Hanna spontan mendorong tubuh Damian sampai terjungkal jatuh ke karpet.
“Apa yang kau lakukan ? Kau berbuat mesum padaku? Kau menggerayangiku?” bentak Hanna, langsung berdiri dan memeluk dadanya.
Damian yang terjatuh ke karpet tampak bingung, kenapa wanita itu malah bangun?
“Tidak, tidak, kau salah faham! Aku tidak bermaksud begitu!” kata Damian, merasa tidak nyaman dituduh seperti itu. Wajahnya langsung pucat, benar saja wanita itu benar-benar marah.
“Salah faham bagaimana? Tanganmu ada di dadaku!Kau menjijikkan!” Teriak Hanna sangat marah, kenapa Damian berbuat tidak senonoh padanya? Dia sangat kecewa.
“Kau salah faham, aku tidak bermaksud begitu, aku mau mengambil handphone yang terjatuh ke sofa,” kata Damian.
“Handphone? Handphone apa? Kau banyak alasan!” teriak Hanna, diraihnya bantal yang bertumpuk dikasur dan dilemparkannya kearah Damian.
Buk! Satu bantal.
Bantal ketiga, keempat, dilemparnya mengenai tubuh Damian, yang hanya pasrah menerima lemparan bantal bantal itu. Cuma dia heran, kenapa jumlah bantal terasa sangat banyak saat dilemparkan padanya? Darimana asal bantal bantal itu?
Bantal berserakan di karpet. Damian masih duduk disana dikelilingi bantal-bantal. Dia tidak bicara apa-apa lagi, menunggu wanita itu reda dari marahnya.
Kini Hanna berkacak pinggang, menatap Damian dengan tajam.
“Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi! Kau kena finalti! Kau melanggar perjanjian, kau menggerayangiku, kau harus membayar 2x lipat jadi 80M!” seru Hanna dengan ketus, dia kesal sekali dengan perilaku Damian yang tidak senonoh. Dia tidak menyangka pria itu akan berbuat seperti itu padanya.
Damian terbengong mendengarnya. Dia hanya tidak sengaja menyentuh dadanya Hanna dan bukan memegang, hanya menyentuh sedikit, tapi dia harus ganti rugi 40M lagi! Benar-benar perjanjian yang sangat memberatkannya.
Kalau seandainya dia menikah dengan Hanna, perjanjian itu harus benar-benar dihapuskan, karena akan benar-benar membuatnya jatuh miskin! Pegang dada saja dia harus membayar 40M! Yang benar saja! Bagaimana kalau pegang dada beberapa kali terus di kali 40M dia akan jadi suami termiskin di dunia.
Hanna berjalan mondar mandir sekarang, dia benar-benar kesal dan kecewa dengan tingkah pria itu. Damian masih duduk dengan angka-angka kemiskinan dikepalanya.
Hanna kembali menatap Damian.
“Kau dengar tidak? Kau kena finalti! Kau harus membayar lagi 40M!” teriak Hanna.
“Aku hanya akan mengambil handphonemu yang terjatuh terselip disofa, hanya itu!” jelas Damian.
“Kau hanya beralasan! Yang jelas kau sudah menyentuh dadaku dan kau kena finalti tambahan uang 40M!” kata Hanna tidak mau tahu.
Damian menatap Hanna, dia melihat wajah kemarahan diwanita itu. Dia yang biasanya akan tambah marah dan tidak mau mengalah, tidak dengan sekarang. Dia berfikir pasti Hanna sangat kecewa dengan sikapnya yang dianggap tdak pantas menyentuh dadanya. Dia merasa tidak nyaman Hanna marah padanya.
“Kau dengar tidak?” bentak Hanna masih kesal.
“Ya aku dengar, aku akan membayar 40M!” jawab Damian. Membuat Hanna terkejut, benar nih apa yang dikatakan Damian? Pria itu akan benar-benar membayar 40M lagi?
“Kau serius?” tanya Hanna, masih tidak percaya. Dia juga heran kenapa pria itu tidak berbalik marah dan mau memberinya begitu saja 40M? Tidak biasanya.
“Iya, aku akan memberimu 40M,” jawab Damian mengangguk.
Hanna langsung tersenyum, menatap Damian masih tidak percaya.
“Kau serius akan memberiku 40M lagi?“ tanya Hanna,memastikan lagi. Angka-angka langsung muncul dikepalanya berkeliling dengan nol nol yang panjang.
“Iya, akan segera ku transfer,”jawab Damian.
Senyum Hanna semakin lebar, wajah Damian mulai rileks tidak setegang tadi. Dia merasa lega melihat Hanna sudah mau tersenyum. Hidupnya akan tersiksa jika melihat wanita itu marah padanya.Uang, apalah arti uang dibandingkan tidak bisa melihat senyum wanita di depannya itu.
Senyum Hanna kembali hilang saat melihat Damian malah terus menatapnya.
“Kenapa kau menatapku?” tanya Hanna.
“Bolehkah aku menyentuhnya lagi?” tanya Damian.
Sebuah bantal lagi yang tersisa melayang ke wajah Damian. Puk!
****************
Maaf ya masih lebay..
Jangan lupa like vote dan komen
Maaf telat upload, gara-gara masih terbawa cerita lucu di “Kontes menjadi istri Presdir” jadi mandek mau pindah judul ngeblank.
Yang belum baca “Kontes menjadi istri Presdir” yuk baca yuk!
Readers maaf juga kalau banyak typo. Author nulisnya sambil selang seling dengan pekerjaan jadi kurang teliti atau ngerjainnya malam pas ngantuk ngantuknya. Jadi gitu deh banyak typo.
sebenarnya udh up dr malam, nyobain pake timer ternyata gagal. ga ngerti deh.