Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-43 Pesta Barbequ



Malam telah tiba, di taman belakang yang lebih dekat ke pantai, tampak terang benderang, sudah ditata dengan  beberapa kursi dan meja. Beberapa pelayan menggunakan seragam juga sedang menyiapkan makanan dan minuman. Yang tampak menyolok menu malam ini adalah kambing guling, yang sedang di panggang berputar putar diatas perapian. Koki tampak sigap menjaga pasakan di depannya supaya matang sempurna.


Damian mengetuk-ngetuk kamar. Wanita itu sedari tadi belum juga keluar kamar. Bahkan pintu kamar itu dikuncinya. Sebenarnya Damian sangat penasaran apa yang dilakukan wanita itu dengan kamar terkunci. Ingin dia mengintipnya tapi tidak, dia bukan cowok murahan yang suka mengintip wanita di dalam kamar. Jadi dia bersabar menunggunya di ruang bawah. Tapi ternyata masih belum keluar keluar juga, membuatnya semakin penasaran dan akhirnya mengetuk pintu kamar itu.


“Hanna! Apa yang kau lakukan didalam? Kenapa lama sekali? Apa kau tidur?” tanya Damian, sambil mengetuk ngetuk pintu.


“Tunggu sebentar, aku masih tanggung! Gagal terus!” terdengar jawaban dari Hanna.


“Tanggung? Gagal terus? Apaan tuh?” Damian mengernyitkan dahinya. Wanita itu membuatnya penasaran saja.


Terdengar sura bel pintu berbunyi beberapa kali.


“Tamu-tamuku sudah datang, kau turunlah!” teriak Damian.


“Ya!” jawab Hanna.


Damian pun segera ke bawah, dilihatnya pelayan sudah membukan pintu, dan rekan-rekan kerjanya yang baru  langsung masuk, ada Dave , Ridwan, Willy dan Cristian. Merekapun saling bersalaman.


“Rumahmu sangat indah,” puji Dave.


“Trimakasih, ayo kita langsung ke taman belakang, disana tempatnya lebih indah,” ajak Damian, berusaha ramah pada rekan-rekannya yang baru itu.


“Mana istrimu?” tanya Willy.


“Dia masih di atas, nanti juga menyusul,” jawab Damian, matanya melirik ke atas tapi tidak ada tanda-tanda Hanna keluar kamar, membuatnya semakin penasaran saja.


Sekarang mereka sudah ada ditaman belakang yang lebih dekat ke pantai. Terlihat riak gelombang di pantai tidak terlalu besar.


“Tempat ini sangat cocok untuk berbulan madu,” kata Ridwan.


Beberapa pelayan menawarkan berbagai macam minuman. Di meja meja parasman juga sudah berdiri pelayan-pelayan yang siap melayani.


“Hanya aku saja yang belum menikah,” ucap Cristian.


“Jadi kau belum menikah?” tanya Damian. Padahal dirinya sendiri sama belum menikah, kalau tidak gara-gara Hanna yang ikut mobilnya, mungkin dia masih disebut bujangan.


“Sebenarnya aku hampir menikah, tapi pengantin wanitaku pergi begitu saja dihari pernikahanku,” jawab Cristian, membuat semua mata memandangnya. Damian mengerutkan keningnya, dia jadi teringat Hanna yang kabur dihari pernikahannya.


“Kenapa dengan calon istrimu itu?” tanya Willy.


“Entahlah, aku juga bingung.  Aku butuh sekali penjelasan darinya,” jawab Cristian.


“Apa kalian dijodohkan? Maksudku kalian tidak saling mencintai atau gimana?” tanya Ridwan. Damian hanya menyimak pembicaraan itu.


“Kita memang dijodohkan tapi kita saling mencintai, kita sudah mengenal dari kecil, kita juga pacaran lama, sungguh aneh dengan sikapnya itu,” jawab Cristian.


“Sudahlah kau tidak boleh bersedih, bukankah kita akan pesta malam ini?  Lihatlah kambing guling itu sudah matang! Membuatku lapar!” seru Ridwan, membuat teman-temannya tertawa.


“Kalian boleh mencicipi makanannya, aku mau melihat istriku sebentar,” kata Damian sambil beranjak, dia keheranan kenapa Hanna tidak turun-turun juga.


Di dalam kamarnya Hanna masih kebingungan, dia takut Cristian mengenalinya. Kenapa dia tidak pura-pura sakit saja, kan kepalanya kena bola tadi siang, atau alasan lain yang membuatnya tidak perlu muncul di depan Cristian, tapi dia tidak mau mengecewakan Damian.


Tok tok tok… terdengar suara pintu diketuk. Dengan ragu-ragu Hanna membuka pintunya. Begitu pintu dibuka, Damian terkejut melihatnya.


“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berdandan seperti ini?” tanya Damian.


“Bukankah aku terlihat cantik?” tanya Hannna.


“Kau memakai Wig? Kau juga memakai kacamata? Buat apa? Kau terlihat aneh,” kata Damian, masih menatap wanita di depannya itu.


“Copot wigmu!” pinta Damian. Diapun masuk ke dalam kamar, keningnya semakin berkerut melihat wig beraneka warna dan bentuk rambut  bertebaran dia atas kasur.


“Aku fikir kau sedang apa selama itu di dalam kamar, kau mencoba semua wig-wig itu?” tanya Damian, tangannya menunjuk wig-wig itu.


Hanna mencoba menyamar supaya identitasnya tidak ketahuan oleh Cristian, jadi dicarinya wig yang bisa membuat wajahnya berbeda.


“Aku hanya ingin tampil beda saja,” elak Hanna, beralasan.


“Ah tidak-tidak,” Damian menggeleng.


“Seperti biasa saja juga kau sudah cantik,” ucap Damian, keceplosan memuji Hanna, membuat wanita itu tersenyum kegeeran.


“Perasaan sekarang kau sering memujiku cantik, apa telah terjadi seusatu?” tanya Hanna, menggerakkan alisnya menggoda Damian.


“Kau banyak berhayal, ayo cepat turun, rekan-rekanku ingin berkenalan denganmu,” kata Damian, membuat Hanna cemberut, pria ini tidak pernah tulus memujinya. Tau-tau Hanna sudah keluar kamar.


“Eh eh kau mau kemana? Copot dulu wigmu itu!” teriak Damian. Tapi Hanna tidak mendengar, dia terus saja  keluar kamar, menuruni tangga. Dia sengaja tidak menggunakan pintu yang langsung ke kolam renang karena tidak nyaman pintu kamarnya terbuka disaat ada tamu-tamu di luar sana.


Akhirnya Damian mengikuti langkah Hanna, menahan hatinya yang kesal dengan tingah wanita itu yang aneh. Meskipun dengan wig itu Hanna terlihat cantik, tapi dia lebih suka Hanna yang apa adanya.


 “Perkenalkan ini istriku Hanna,” ucap Damian sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Hanna, mulai drama., memperkenalkan Hanna saat mereka sudah sampai di taman belakang.


“Selamat malam semuanya,” sapa Hanna pada tamunya Damian, sambil mengulurkan tangannya bersalaman satu persatu. Ketika akan bersalaman dengan Cristian, Hanna agak menundukan wajahnya biar rambut wignya itu sedikit menutupi mukanya,tidak lupa tangan kirinya membetulkan kacamatanya. Cristian mengernyitkan dahinya, kalau tidak salah foto istrinya Damian di resepsi tidak menggunakan kacamata, kenapa sekarang menggunakan kaca mata? Oh mungkin memang aslinya pakai kacamata, fikir Cristian. Jadi diapun tidak berfikir macam-macam.


“Silahkan dicicipi,” kata Hanna, berusaha ramah. Dia merasa tidak nyaman saat Cristian menatapnya. Cristian menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa sudah familiar dengan suara itu. Tapi lagi-lagi ditepisnya fikirannya itu, mungkin karena dia merindukan Hanna jadi seakan-akan merasa Hanna yang bicara.


Hanna mulai merasa Cristian curiga, dia buru-buru menghindar, pergi ke meja pramanan, pura-pura mengecek makanan dan minuman, padahal tidak mau sampai berbicara dengan Cristian, dia harus mengatur suaranya biar tidak terdengar seperti Hanna.


Dia juga mengambil piring dan meminta koki mengisi piringnya dengan beberapa potong daging. Kemudian dia menoleh pada meja yang lain, Damian tampak memunggunginya, sedang mengambil sesuatu di meja itu.


Hanna segera menghampiri Damian, menyentuh tangannya.


“Damian, apa kau sudah mengambil dagingnya? Aku bawakan untukmu,” tanya Hanna. Pria itu langsung menoleh dan Hanna terkejut saat tangan yang dia sentuh itu bukan Damian tapi Cristian. Mata mereka bertemu saling tatap. Kenapa bisa salah begini? Dia tidak terlalu memperhatikan Damian memakai baju apa. Hanya saja, kenapa Cristian dari belakang terlihat mirip sekali Damian?  Rahang mukanya terlihat dari samping, tinggi badannya, potongan bahunya sama persis dengan Damian. Apa mereka bersaudara sama seperti Satria yang juga ternyata adiknya?


Ah dibuangnya fikiran yang macam-macam itu.


“Maaf, aku bukan Damian,” kata Cristian tersenyum ramah meskipun dalam hatinya, dia melihat istrinya Damian sedekat ini sangat mirip dengan Hanna meskipun dia bersolek agak tebal dan berkacamata. Dia menghela nafas panjang, mungin karena dia merindukan Hanna, segala-gala mirip Hanna.


“Maaf aku salah, dari belakng kau mirip suamiku,” jawab Hanna.


Mendengar Hanna menyebut suamiku, Cristian semakin yakin kalau istri Damian itu bukan Hanna. Bagaimana mungkin Hanna tiba-tiba menikah dengan Damian, tidak mungkin.


Hanna buru-buru pergi dari depan Cristian, sebelum pria itu menyadari kalau dirinya adalah Hanna.


“Sayang, duduklah disini,” panggil Damian, melambaikan tangannya pada Hanna.


“Huu sayang,” batin Hanna, mencibir. Tapi dia melangkah mendekati suami palsunya itu.


“Duduklah,” kata Damian dengan lembut.


“Kalau drama, kau sangat lembut, huh,” gerutu Hanna dalam hati. Terpaksa dia duduk disamping Damian, tangan kanan pria itu langsung merangkul bahunya dengan erat, seperti pasangan paling romantic di dunia saja. Tangan kirinya menyibakan rambut wig itu yang menutupi wajah Hanna padahal sudah Hanna sengaja ditutupi wajahnya supaya tidak terlihat Cristian.


Hanna melirik Damian dibalik kacamatanya. Pria ini tambah berani saja memeluknya, sudah tadi siang mau menciumnya, sekarang mesra-mesra di depan tamunya. Modus amat. Dia tadi mengatakan mimpi hanya alasan saja supaya tidak memperpanjang kejadian hampir dicium itu.


Cristian datang menghampiri tempat mereka duduk, dia duduk disebrang Hanna, dikursi yang masih kosong, membuat Hanna semakin salah tingkah, dia merasa tatapan Cristian itu seakan-akan mau mencabik cabiknya.


“Apa kalian sudah memprogram supaya cepat dapat momongan?” Tanya willy tiba-tiba, membuat Hanna dan Damian terkejut.


“Ah tidak, kita tidak terburu-buru, kita masih ingin berdua, ya kan sayang?” jawab Damian, sambil menoleh pada Hanna, tersenyum dengan manis, memeluk bahunya semakin erat.


“Iya, kita masih ingin berdua,” jawab Hanna, juga menoleh pada Damian dan membalas senyumannya.


Cristian hanya mendengarkan percakapan mereka, kenapa suara istri Damian semakin di dengarkan semakin mirip suara Hanna? Diapun menatap Hanna.


Melihat reaksi Cristian yang menatapnya curiga, Hanna menundukkan kepalanya, mencoba membetulkan  kacamatanya biar si wignya itu menghalangi wajahnya lagi, lalu dia berbisik pada Damian.


“Damian, sepertinya aku kurang sehat, apakah aku boleh kembali ke kamar. Kepalaku masih sakit bekas kena bola itu,” Hanna beralasan, dia semakin khawatir Cristian akan mengenalinya, karena pria itu menatapnya terus, mulai mencurigainya.


Damian menatapnya, dia merasa aneh, bukankah tadi baik-baik  saja? Tapi akhirnya dia mengangguk. Mungkin Hanna merasa tidak nyaman dengan tamu-tamu yang semuanya pria.


Hannapun segera meninggalkan taman itu, bergegas masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam kamarnya Hanna duduk dikursi meja rias, melepas kacamatanya, wignya juga make upnya yang tebal. Hampir saja Cristian mengenalinya karena mereka sangat dekat tadi, dan dia juga menyetuh tangan Cristian.


Dia merasa yakin lama-lama Cristian akan mengenalinya. Dia dan Cristian sudah sama-sama sejak kecil, Cristian hafal sekali gerak geriknya. Mereka juga sempat pacaran bertahun tahun karena dia merasa dia juga menyukai Cristian. Dia menyadari ada yang salah dengan perasaannya saat malam sebelum pernikahannya itu, saat Sherli menangisi Cristian yang akan menikah dengannya. Dia baru sadar dia tidak pernah merasa mencintai Cristian sedalam itu, mungkin yang dia rasa selama ini lebih pada perasaan sayang seorang adik pada kakaknya tapi bukan cinta. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan pesta pernikahan itu.


“Cristian aku minta maaf, ternyata aku salah mengartikan perasaan sayangku padamu,” gumamnya.


**************


 Readers, flat dulu ya ceritanya…belum ada yang lucu…


Jangan lupa like, vote dan komen


Yang belum baca “My Secretary” season 2 (Love Story in London) hayu buruan baca..udah mau tamat  nih.