
Hanna menghentikan larinya saat si pencopet itu menghilang diantara kerumunan orang.
“Awas kau kalau ketemu lagi!” teriak Hanna. Nafasnya terengah-engah, dia kesal pencopet itu tidak bisa dia dapatkan padahal dia sudah berlari kencang sampai menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya.
Si ibu itu menatap Hanna yang masih ngos ngosan. Hanna memegang dua lututnya yang terasa lemas dengan kedua tangannya, salah satunya sambil memegang kacamata yang dia lepas saat mengejar pencopet.
Hanna pun menoleh kearah ibu itu yang mengambilkan dompet Damian, sejenak dia tertegun.
“Ibu Cristian!” batinnya. Dia sangat terkejut ibu itu menatatpnya. Hanna buru-buru memasang kacamatanya. Dia tidak mau ibunya Cristian mengenalinya.
Ibunya Cristian mengerutkan dahinya, dia seperti mengenal gadis itu, dan gadis itu mirip Hanna, hanya penampilannya sedikit berbeda. Rambut Hanna tidak berwarna seperti itu. Apalagi memakai kacamata hitam begitu. Hanna bukan tipe wanita yang suka bergaya nyentrik.
“Ini dompet yang pencopet tadi bawa, dompetnya terjatuh,” kata ibunya Cristian, sambil mengulurkan tangannya memberikan dompetnya Damian.
Hanna sedikit menundukkan kepalanya sambil membetulkan kacamatanya, dia tidak mau ibunya Cristian mengenalinya. Tangannya menerima dompet itu.
“Itu dompet pacarmu? Atau suamimu?” tanya ibunya Cristian karena dompet yang dia temukan itu dompet laki-laki.
“Ini dompet suamiku,” jawab Hanna.
Ibunya Cristian masih menatap Hanna, dia masih berfikir karena merasa pernah melihat gadis ini.
Hanna menoleh kearah belakang, Damian ada diantara kerumuan orang yang berdesak desakan mencarinya. Dia tidak mau kalau sampai Damian melihatnya bicara dengan ibunya Cristian meskipun Damian tidak mengenal ibunya Cristian tapi pasti dia bertanya-tanya, ah pokoknya dia tidak mau Damian cemburu dan akhirnya salah faham.
“Terimakasih bu, dompet ini sangat penting buat suamiku,” kata Hanna, diapun membuka dompet itu mau mengambil uang, apakah dia harus memberi uang pada ibu Cristian sebagai imbalan? Ibu Cristian orang kaya masa dia memberi uang, tapi ah pura-pura saja tidak tahu kalau ibu Cristian orang kaya.
“Mm maaf mungkin ini tidak seberapa, maaf aku haruus…” Hanna membuka dompet Damian, mau mengambil uang untuk ibu Cristian karena dia pura-pura tidak mengenalnya, tapi dia bingung mau memberi uang berapa.
Hanna melihat di dompet Damian ada banyak uang. Kalau dia memberi sedikit masa pada ibu Cristian memberi uang sedikit, karena gugup dan bingung, Hanna mengambil semua uang Damian yang jutaan.
“Tidak usah,” kata ibunya Cristian sambil tersenyum. Diapun melihat ke tangan Hanna yang mengeluarkan uang begitu banyak.
“Tidak apa-apa, aku sangat berterimakasih, karena dompet ini tidak hilang, di dompet ini ada yang sangat berarti selain uang. Suamiku akan bersedih kalau kehilangan dompet ini,” ucap Hanna, sambil mengulurkan uang itu dengan gemetar.
Ibunya Cristian tersenyum lagi.
“Tidak usah, simpan saja. Kau benar, ada banyak hal yang lebih berarti daripada uang,” ucap ibunya Cristian.
Hanna buru-buru menyimpan lagi uang itu ke dalam dompet Damian, dia benar-benar gugup, dia takut ibunya Cristian mengenalinya, dia takut ibunya Cristian menyalahkannya karena sudah meninggalkan Cristian di hari pernikahannya.
Ibunya Cristian menatap Hanna lagi.
“Apa aku mengenalmu? Kau sepertinya mirip seseorang,” ucap ibunya Cristian, membuat Hanna terkejut, lalu kembali membetulkan kacamatanya, dia harus buru-buru pergi dari hadapannya ibu Cristian sebelum ketahuan kalau dia Hanna. Diapun melihat ke belakang, dilihatnya Damian juga semakin dekat ke arah mereka.
“Maaf aku harus pergi, sekali lagi terimakasih,” ucap Hanna, sambil memasukkan kembali uang tadi dan merapihkannya, karena tangannya gemetar uangnya jadi berantakan.
Ibunya Cristian memperhatikan tangan gadis itu yang gemetaran. Sepertinya pemilik dompet itu orang kaya, karena di dompetnya ada begitu banyak uang, fikirnya.
Hanna menutup dompetnya Damian.
“Sekali lagi terimakasih, maaf, aku harus pergi,” ucap Hanna sambil mengangguk. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya Cristian lagi, dia buru-buru masuk kedalam kerumunan orang belanja menemui Damian.
“Damian, ayo kita pergi dari sini! Ternyata benar pasar itu tidak cocok untuk tempat pacaran, banyak pencopet!” ucap Hanna, sambil menarik tangan Damian kembali kearah tadi mereka datang.
Ibunya Cristian tersenyum melihat gadis itu pergi dengan terburu-buru, berdesakan dengan orang-orang, diapun membalikkan badan akan melihat ke area lain untuk berbelanja.
Tapi kemudian langkahnya terhenti. Wajahnya langsung pucat seketika, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang, tangannya gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Apa yang baru saja dia lihat? Dia sekilas melihat sesuatu yang sangat familiar. Sesuatu yang di ada didompet itu, atau mungkin penglihatannya yang salah? Saat melihat gadis itu memasukkan uang kembali ke dompet itu, sekilas ada foto terselip disana, foto seseorang yang mirip dirinya.
Ibunya Cristian menoleh ke belakang, melihat kerumunan orang dengan perasaan yang bercampur aduk. Airmata mulai menetas dipipinya. Apa dia tidak salah lihat kalau di dompet itu ada foto dirinya dimasa lalu? Siapa pemilik dompet itu? Apakah pemilik dompet itu putranya, Damian? Tanpa bisa ditahan lagi airmata langsung menetes deras di pipinya.
Buru-buru dia mencari gadis tadi. Hatinya gelisah, dia harus menemukannya, dia harus memastikan kalau yang difoto itu bukan dirinya, atau memang pemilik dompet itu Damian?
Ibu Cristian tidak tahu siapa nama gadis itu, meskipun sekilas dia mirip Hanna tapi tidak mungkin Hanna, Hanna tidak mungkin pura-pira tidak mengenalnya.
Tangannya menghapus airmata yang menetas terus dipipinya, sambil matanya mencari-cari barangkali gadis itu masih ada disekitar situ.
Dilihatnya dikejauhan, rambut Hanna yang berwarna coklat kemerahan itu ada diantara kerumunan. Diapun berdesakan dengan orang-orang menuju pemilik warna rambut itu, tapi karena banyaknya pengunjung pasar, pemilik warna rambut itu pun menghilang entah kemana.
Meskipun Hanna sudah menghilang dari pandangannya, ibunya Cristian terus mencarinya dan mencarinya dengan airmata yang terus menetes dipipinya. Apa benar pemilik dompet itu Damian? Hatinya terus bertanya-tanya.
Setelah mencari-cari semua sudut pasar, ibunya Cristian tidak menemukan Hanna. Diapun kini berdiri di parkiran, kembali menghapus airmatanya dengan sedih.
“Bu! Apa sudah selesai belanjanya?” tanya seseorang mendekatinya.
Ibunya Cristian menoleh pada arah suara, putranya tersenyum tapi kemudian senyumnya hilang saat melihat ibunya menangis.
“Bu, apa yang terjadi? Kenapa? Ada apa?” tanya Cristian sambil memeluk ibunya, tangannya menghapus airmata dipipi ibunya.
“Tidak apa-apa, ibu hanya lelah saja, ayo kita pulang,” jawab ibunya Cristian mencoba tersenyum.
Cristian menatap ibunya lalu pada arah kerumunan orang-orang di pasar, apa telah terjadi sesuatu pada ibunya sampai ibunya menangis begitu? Tapi dia tidak bertanya apa-apa lagi pada ibunya.
“Ayo bu kita pulang,” kata Cristian, sambil memeluk bahu ibunya, merekapun memasuki mobilnya Cristian yang terparkir tidak jauh dari sana.
Damian menyalakan mobilnya, Hanna duduk disampingnya.
“Kalau mau pacaran, sebaiknya kita mencari tempat yang romantis saja,” kata Hanna.
“Siapa yang mau pacaran? Kau mengajakku untuk belanja kan?” ucap Damian.
“Iya sih, tapi kan kalau jalan jalan berdua itu juga sama dengan pacaran,” jawab Hanna. Damian hanya tersenyum saja mendengar ucapan Hanna, wanita itu banyak tingkah, fikirnya.
“Ini dompetmu,” ucap Hanna, sambil memberikan dompet itu pada Damian. Damian kembali mematikan mobilnya, menatap dompet yang diberikan Hanna lalu diambilnya dan membukanya.
“Aku tidak tahu kalau sampai dompet ini hilang, ini foto ibuku satu-satunya, aku tidak punya jejak keberadaannya,” ucap Damian, sambil menatap foto yang terselip di dompet itu.
Hanna memperhatikan Damian menatap foto itu, dia bisa melihat kesedihan diwajahnya Damian. Cepat-cepat Hanna memalingkan mukanya mengarah ke jendela, dia tidak tega melihat Damian bersedih.
“Sudah lebih dari dua puluh tahun aku berpisah dengan ibuku,” ucap Damian.
Hanna terdiam, rasanya matanya mulai terasa panas ingin menangis, dia menatap ke arah luar, menahan diri jangan sampai menangis.
“Aku sangat merindukannya, setiap malam aku memimpikan kepergian ibuku, aku sangat merindukannya…” ucap Damian. Jarinya mengusap foto ibunya itu yang agak buram.
Damian kembali menutup dompetnya, kemudian dimasukkan ke saku belakang celananya.
“Bagaimana cara kau mendapatkan dompet ini lagi?” tanyanya sambil memiringkan badannya menghadap Hanna yang menghadap jendela.
Hanna mengerjapkan matanya hampir saja dia menangis melihat Damian bersedih, diapun menoleh ke arah Damian dan tersenyum.
“Si pencopet itu menjatuhkan dompetnya dan ditemukan seorang ibu,” jawab Hanna.
“Untung saja, kau berterimakasih pada ibu itu?” tanya Damian.
“Iya tentu saja,” jawab Hanna mengangguk.
Damian menatap wanita itu lekat-lekat. Kalau Damian mulai menatapnya seperti itu, sontak saja jantung Hanna akan berdebar kencang dibuatnya, dia akan gugup dan salah tingkah, tatapan Damian membuatnya tidak bisa berkutik.
“Apa ada prakter Doker yang dekat?” tanya Hanna, balas menatap Damian. Anehnya dia merasa gugup jika ditatap begitu tapi dia tidak bisa berpaling dari tatapannya, dia tidak bisa menghindar dari wajahnya Damian.
“Dokter? Buat apa?” tanya Damian, sambil mencondongkan tubuhnya ke dekat Hanna. Tentu saja Hanna semakin gugup, dia takut Damian menciumnya lagi.
“Aku tidak akan menciummu, karena aku tahu pasti akan gagal,” ucap Damian, membuat wajah Hanna menjadi merah, ternyata Damian tahu apa yang di fikirkannya, oh dia lupa kalau Damian itu bisa telepati, pantas saja dia tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
“Kau belum menjawab pertanyaanku, ke Dokter buat apa?” tanya Damian.
“Mmm aku merasa aku ini sakit,” jawab Hanna.
“Sakit? Sakit apa? Kau demam? Pusing?” tanya Damian terlihat terkejut, dia semakin mendekatkan badannya dan tangannya menyentuh kening Hanna lalu pipinya, dia mengecek apakah suhu tubuh Hanna panas tinggi atau tdak.
“Tapi tidak panas,” ucap Damian.
“Malah terasa dingin, kau berkeringat dingin, biasanya itu tandatandanya kau sedang..” Damian tidak melanjutkan bicaranya.
“Sedang apa?” tanya Hanna.
“Sedang gugup,” jawab Damian, tatapan matanya tidak lepas menatap wajah Hanna.
“Aku tidak gugup,” jawab Hanna dengan wajah memerah, dia fikir Damian akan bilang tanda tandanya sedang jatuh cinta ternyata tidak.
“Jadi kau ke Dokter kenapa? Apa sakit yang kau rasakan?” tanya Damian.
“Belangan ini aku merasa…” Hanna menghentikan bicaranya.
“Gugup?” tanya Damian.
“Iya,” jawab Hanna.
“Terus?” tanya Damian lagi.
“Jantungku juga suka berdebar kencang kadang serasa mau copot,” jawab Hanna.
“Benarkah?” tanya Damian, mengerutkan keningnya.
“Benar, sangat kencang,” Hanna menarik tangan Damian ditempelkan ke dadanya.
“Benarkan berdebar kencang?” tanya Hanna.
Damian merasakan denyut jantungnya Hanna sebentar, buru-buru dia menjauhkan tangannya, sekarang bukan jantung Hanna yang berdebar kencang, tapi jantungnya juga. Dia khawatir ingin menyentuh yang lain.
“Benar, sangat kencang,” jawab Damian.
“Terus?” tanya Damian, kemudian.
“Aku juga suka merasa pusing dan tidak konsentrasi,” jawab Hanna.
“Pusing dan tidak konsentrasi? Apa itu?” Damian tampak bingung.
“Ya seperti itu penyakitku,” jawab Hanna.
Damian menatap Hanna lagi.
“Apa sekarang kau merasakan gejala itu?” tanyanya.
Hanna balas menatapnya dan mengangguk.
“Baiklah ayo kita ke Dokter,” ajak Damian.
“Menurutmu apa sakitku itu ada obatnya?” tanya Hanna.
“Ada,” jawab Damian mengangguk.
“Apa kau tau?” tanya Hanna, Damian mengangguk lagi.
“Apa obatnya?” tanya Hanna lagi, Damian masih menatap kedua matanya Hanna.
“Aku,” jawab Damian dengan serius.
Mendengar jawaban Damian, itu sih bukannya sembuh, Hanna malah semakin merasa sakit, yang tadinya tidak panas dingin, sekarang ditambah dengan panas dingin dan meriang, untung saja tidak ditambah batuk dan pilek.
“Kau membuatku merasa senang saja,” ucap Hanna, lalu tersenyum terpaksa supaya mengurangi rasa gugupnya. Tapi ternyata Damian tidak bersenyum, dia menatap Hanna dengan serius membuat Hanna juga menatapnya. Apakah ada yang difikirkan Damian?
Ada. Disaat menatap mata wanita itu, ada gejolak dihatinya.
“Semoga ibuku cepat ditemukan dan aku akan menikahimu,” batinnya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Tangannya hanya menarik kepala Hanna supaya lebih dekat dan mencium rambutnya. Setelah itu Damian kembali duduk ke posisi semula di belakang kemudinya.
“Kita pulang, aku harus bekerja,” kata Damian.
Hanna menatap pria disampingnya itu, diapun tersenyum, dia sangat mencintai pria ini.
Damian kembali menyalakan mobilnya, Hanna pun melihat kearah jalanan, dia melihat mobilnya Cristian juga keluar dari area parkir itu, mungkin Cristian sudah menjemput ibunya, batin Hanna.
**************
Jangan lupa like dan votenya ya....