
Hari semakin gelap, ruangan itupun semakin gelap. Suara Hanna sampai habis karena terus terusan berteriak minta tolong dan tidak ada yang mendengar. Diapun berbaring di lantai, menangis penuh putus asa. Yang diingatnya hanyalah Damian akan datang menolongnya.
“Damian, Damian, tolong aku,” ucapnya.
Damian masih berada di kolam renang itu saat handphonenya berdering.
“Apa? Baiklah aku akan segera ke hotel,” kata Damian. Diapun bergegas secepatnya pergi ka hotel. Disana ada pak Indra sudah menunggu. Diberikannya sebuah kunci kamar berupa chip dengan nomor 224.
“Baiklah, kau pulang saja sekarang, terimakasih,” ucap Damian pada Pak Indra.
Kini Damian berdiri di kamar nomor 224 itu, segera dibukanya pintu kamar itu dengan memasukkan kartu itu pada alat yang menempel di pegangan pintu. Pintu itupun terbuka. Terdengar suara wanita itu minta tolong. Damian segera menghampirnya, wanita yang dicarinya setelah gila itu tidur ditempat tidur itu sambil mengigau. Diapun duduk disamping tempat tidur, dan memandang wajah wanita itu.
“Damian, Damian, tolong aku,” gumam wanita yang tidur itu.
“Hanna, bangun, Hanna,” panggil Damian, mengggerak gerakkan bahu Hanna perlahan.
“Damian, Damian,” panggil Hanna.
“Iya ini aku,” jawab Damian, kembali menggerakkan bahu Hanna.
Merasa ada yang terus terus memanggilnya, Hannapun perlahan membuka matanya. Dilihatnya wajah tampan itu ada didepannya. Biasanya dia akan berteriak histeris melihat wajah itu dekat dengan wajahnya, tidak dengan sekaranh. Dia sangat bahagia melihat wajah itu.
“Damian! Akhirnya kau datang!” serunya, diapun langsung bangun memeluk Damian dengan erat, menyusupkan kepalanya ke dada pria itu.
“Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu sekian lama, aku sangat takut uhuhuhuhhh…” ucap Hanna sambil menangis. Damian mengerutkan keningnya, kenapa Hanna tiba-tiba memeluknya dan menangis?
“Aku tahu kau akan menyelamatkanku. Aku tau kau pangeran penyelamatku,” ucap Hanna. Pelukannya semakin erat. Damian tertegun merasakan wanita itu memeluknya dengan erat,meskipun sambil menangis tersedu-sedu, entah apa yang dia tangisi. Jantungnya terasa berdebar dengan kencang. Bukankah ini pertama kalinya dia dipeluk Hanna dalam keadaan sadar? Wanita itu memeluknya sangat erat. Apa mungkin dia bermimpi buruk? Dengan ragu-ragu, tangannya balas memeluknya. Apakah sekarang kondisinya berbalik? Bukan Hanna yang memeluknya menenangkannya, tapi dia dengan sadar memeluk wanita itu.
“Aku fikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi,” ucap Hanna, ditengah isaknya.
“Tenanglah, ada aku disini,” jawab Damian. Perlahan satu tangannya menyentuh rambut wanita itu dan mengusapnya.
“Aku takut tidak akan bertemu denganmu lagi,” ulang Hanna.
“Aku akan selalu bersamamu,” jawab Damian. Perlahan mencium rambut Hanna. Setelah itu dia tersadar, kenapa dia menciumnya? Kalau Hanna sadar pasti dia kena finalti. Cukup lama Hanna memeluknya, hingga tidak terdengar lagi suara tangisannya. Sepertinya Hanna tertidur dipelukannya.
*************
Tangan Hanna menggapai-gapai bantalnya yang terasa keras, ditepuk tepuknya bantal itu semakin keras. Diapun mengeleng gelengkan kepalanya, kenapa bantal itu tidak ada empuk empuknya? Pluk! Pluk! Pluk! Dia kembali menepuk nepuk banta keras itu. Sebenarnya apa isi bantal itu? Tangan kanannya menggapai gapai bantal dibelakang kepalanya, dia merasakan sesuatu yang aneh, ada dua garis lembut-lembut disitu, apa itu? Dia mengernyitkan keningnya tapi masih memejamkan matanya. Tangan kanannya itu meraba sesuatu, kenapa itu seperti hidung yang mancung? Jari-jarinya terus menyusuri, mata, fikirnya, kembali ke bawah meraba lagi hidung, dia meraba lagi, jarinya menyentuh yang lembut lembut tadi, kenapa seperti mulut, fikirnya. Ups! Jarinya tidak bisa lepas, dia mencoba menariknya, semakin tidak bisa lepas. Kembali ditariknya masih tidak bisa lepas juga, kenapa rasanya seperti digigit? Hanna pun terpaksa membuka matanya. Yang pertama dilihatnya, kain kaos tipis berwarna putih. Kepalanya langsung mendongak, menoleh ke sebelah kanan, dimana ada yang menggigit jarinya. Diapun langsung berteriak kencang saat sadar melihat sebuah wajah disana.
“Waaaw!” teriaknya. Sambil menarik jari-jarinya dengan keras dari mulut itu.
“Apa yang kau lakukan?” teriaknya dengan marah pada sosok itu.
“Apa maksudmu bertanya begitu?” tanya Damian, bangun dari tidurnya.
“Kenapa kau menggigit jariku?” Hanna balik bertanya, kemudian mendekatkan jari-jarinya yang basah ke hidungnya.
“Puih puih! Sangat bau! Kau belum gosok gigi dan mulutnya menggigit jariku! Kau sangat jorok!” teriaknya, sambil mengacungkan jari-jarinya.
“Siapa yang salah? Kenapa kau mengganggu tidurku? Tanganmu tidak bisa diam meraba-raba wajahku!” balas Damian dengan kesal, karena dia yang selalu disalahkan.
“Tentu saja, kenapa kau memelukku sampai pagi? Bukankah kau sudah tidak mengigau? Aku tidak mendengar kau mengigau,” kata Hanna.
Damian menatap wanita yang sedang menatapnya itu.
“Hei, kau bangun tidur marah-marah padaku. Seharusnya aku yang marah padamu. Semalaman aku memelukmu karena kau terus mengigau. Bukankah seharusnya aku yang kau peluk saat aku mengigau. Aku jadi bingung, aku yang mengagajimu malah aku yang memelukmu, menenangkanmu mengigau, kenapa jadi berbalik?” keluh Damian.
“Apa? Aku memelukmu terus? Tidak mungkin, apa lagi mengigau, kapan aku mengigau?” elak Hanna.
“Semalam, kau mengigau sambil memelukku. Seharusnya gantian kau yang membayarku,” kata Damian.
“Huh, aku tidak mau membayarmu hanya untuk memelukku, buat apa?” gerutu Hanna.
“Pelukanku juga mahal!” gerutu Damian.
“Aku tidak percaya aku memelukmu,” kata Hanna.
“Kau lupa kau terus memelukku tidak mau melepasku, kau juga mengatakan tidak mau ku tinggalkan! Sepertinya kau jatuh cinta padaku,” kata Damian.
“Tidak, tidak aku tidak percaya, masa aku bicara begitu?” elak Hanna.
“Aku serius,” jawab Damian.
“Benarkah?’ Hanna berfikir keras, kemudian dia teringat sesuatu. Dia melihat ke sekeliling.
“Dimana ini?” tanya Hanna.
“Hotel,” jawab Damian.
“Di Hotel? Bukan di gudang tua?” tanya Hanna.
“Gudang tua yang mana? Aku sehari semalam mencarimu kemana-mana,gudang, toilet, kau hampir membuatku gila, ternyata kau tidur di salah satu kamar hotel. Kau memang wanita yang aneh,” umpat Damian.
Hanna kembali berfikir,sepertinya dia bermimpi. Ya benar, ternyata dia bermimpi.
“Kenapa?” tanya Damian.
“Aku sepertinya bermimpi, aku bermimpi buruk, aku bermimpi di culik disekap disebuah gudang tua, tapi kenapa mimpi itu terasa nyata?”jawab Hanna, tampak bingung.
“Sepertinya hantu di rumah yang memindahkanmu kesini,” kata Damian.
“Hantu?” tanya Hanna tidak percaya.
“Iya, hantu dirumah, aku sudah membayar hantu itu supaya memindahkanmu jika kau tidur sembarangan, supaya aku tidak menggendongmu lagi,” kata Damian dengan wajah serius.
“Kau ini, memangnya ada hantu bayaran? Memangnya hantu butuh duit? Hantu tidak butuh duit,” gerutu Hanna.
Mlihat tampang Hanna begitu membuat hati Damian ingin tertawa. Hanna terlihat lucu kalau dikerjain.
Hanna menoleh pada Damian, tangannya memberi kode supaya Damian mendekat. Damianpun menggeser duduknya supaya lebih dekat.
“Ada apa?” tanya Damian, keheranan.
Tangan Hanna menyentuh dada Damian lalu menepuk-nepuknya, keningnya terus berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Apa? Kenapa?” tanya Damian.
“Ada dadamu terbuat dari batu? Kenapa keras sekali!” gerutu Hanna, membuat wajah Damian memerah.
“Itu bukan air liur, keringat dari rambutku,” elaknya.
“Kau terus saja mengelak,mengatakan mulutku bau tidak gosok gigi, padahal air liurmu ada dibajuku,” kata Damian.
“Sudahlah jangan bertengkar lagi, nanti aku akan mencuci bajumu,” kata Hanna.
Merekapun terdiam.
“Kenapa kau cek in kamar ini tidak bilang padaku?” tanya Damian.
“Aku tidak mau mengganggumu, kau kan yang bilang pekerjaanku hanya tidur saja, jadi lebih baik aku tidur disini sambil menunggu kau rapat,” kata Hanna berbohong . Padahal dia menghindari bertemu Cristian.
“Kau juga tidak mengaktifkan handphonemu. Seharusnya kau menghubungiku atau memberiku pesan. Aku kan sudah bilang kau harus selalu ada disisiku,” kata Damian.
Hanna tidak bicara lagi.
“O ya, nanti malam, beberapa rekan kerjaku akan main ke rumah, kita bikin menu barbequ ya, di taman belakang,” kata Damian.
“Barbequ?” tanya Hanna.
“Iya, nanti kita ambil koki dan beberpa pelayan di hotel ini. Kau hanya duduk manis menemaniku, sebagai istriku,” jawab Damian.
“Rekan kerjamu yang mana?” entah kenapa rekan kerja yang disebutkan Damian, membuat hatinya gelisah.
“Rekan kerja yang kemarin meeting bersamaku, ada Dave, Ridwan, Willy dan Cristian,” jawab Damian.
“Apa?” Hanna terkejut, saat nama Cristian disebut.
“Iya, mereka rekan-reakanku yang baru,” jawab Damian.
Hanna terdiam, jadi Cristian akan ke rumah nanti malam? Bagaimana kalau dia bertemu dengan Cristian? Apalagi yang harus dilakukannya untuk menghindari Cristian? Apa dia harus mengatakan pada Damian kalau Cristian itu pengantin pria nya?
“Apa tidak bisa kau batalkan?” tanya Hanna.
“Tidak bisa, karena besoknya mereka akan pulang,” jawab Damian.
“Damian, sepertinya aku harus mengatakan sesuatu padamu,” kata Hanna.
“Soal apa?” tanya Damian.
“Sebenarnya, Cristian itu adalah…”
Ting Nung! Ting Nung! Terdengar suara bel pintu berbunyi.
“Room Service,” terdengar suara orang diluar.
Damian menoleh pada Hanna.
“Ya sudah kita pulang saja, aku juga harus berganti pakaian, banyak pekerjaan,” kata Damian.
Akhirnya mereka langsung pulang ke rumah mereka. Tapi baru juga sampai di rumah, terdengar suara bel pintu berbunyi.
“Siapa yang pagi-pagi bertamu?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Aku tidak tahu, coba aku lihat,” kata Damian, diapun kembali menuju pintu, sedangkan Hanna berjalan menuju kamarnya, menyimpan tasnya.
Saat pintu dibuka, wajah Damian langsung masam. Arya ada dihadapannya.
“Kau? Kenapa kau kemari?” tanya Damian.
Hanna yang penasaran dengan tamunya, diapun keluar kamarnya. Dari atas tangga terlihat tamunya siapa.
“Arya!” serunya dengan senang. Diapun buru-buru turun. Arya tersenyum melihatnya.
“Kau menjemputku?” tanyanya. Damian langsung menatap Hanna.
“Apa maksudmu menjemput?” tanya Damian.
“Arya mau mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata,” jawab Hanna.
“Tidak bisa! Kau kan istriku, kenapa kau jalan-jalan dengan orang lain?” kata Damian.
“Aku bukan istrimu!” tolak Hanna
“Kau istriku!” balas Damian.
“Bukan! Pokoknya aku akan berangkat. Arya kau tunggu ya, aku mau mandi,” kata Hanna dengan semangat. Arya tampak kebingungan dengan pertengkaran mereka, sebenarnya siapa yang benar?
Melihat Hanna berlari menaiki tangga, Damian mengikutinya.
“Kalau begitu aku juga ikut!” ujar Damian saat mereka sudah di dalam kamar, membuat Hanna menghentikan langkahnya yang akan ke kamar mandi.
“Apa kau bilang? Ikut?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Tentu saja aku ikut. Kau kan harus selalu ada disampingku. Jadi aku akan ikut jalan-jalan,” ucap Damian.
“Kau kan sedang banyak pekerjaan,” ucap Hanna.
“Tidak, bisa aku reschedule. Jadi aku duluan yang mandi!” kata Damian, akan masuk ke kamar mandi tapi tangannya ditarik sama Hanna.
“Aku duluan! Arya menunggu!” seru Hanna.
“Tidak! Aku duluan, kalau kau duluan, kau akan meninggalkanku saat aku mandi,” teriak Damian.
“Tidak, aku yang duluan! lagian buat apa kau ikut segala, kau mengganggu kencan kami!” balas Hanna.
“Kencan? Katamu kencan? Tidak ada kencan! Kau tidak bisa pergi berdua!” teriak Damian.
“Semalaman kau memelukku, kau tidak mau melepaskanku! Kenapa sekarang berkencan, kau memang wanita genit,” gerutu Damian sambil membuka pintu kamar mandi, tapi Hanna menariknya lagi.
“Aku duluan!” teriak Hanna. Damian membalikkan badannya, menatap Hanna.
“Kalau begitu, kita mandi sama-sama saja,bagaimana?” ucapnya, sambil tersenyum. Hanna langsung melepas pegangannya pada tangan Damian, dan berdecih sebal. Damian tersenyum menang melihat wajah cemberut itu, diapun masuk ke kamar mandi.
************