
Hanna menatap Henry penuh tandatanya, lalu pada gadis yang bersama Henry. Hanna ingat gaun yang dipakai gadis itu adalah gaun yang dibelinya dibutik semalam, jadi ternyata benar Henry pacaran dengan gadis itu. Sepertinya Henry serius menyukai gadis itu karena baru sekarang putranya itu memberikan gaun untuk seorang gadis.
Hanna akan bicara tapi belum juga Hanna bicara tiba-tiba ada yang lebih dulu bicara.
“Oh jadi ini gadis yang membuatmu berselingkuh dari putriku?” hardik seorang wanita. Hanna, Henry dan Shezie menoleh pada wanita itu.
“Bu Yogi?” tanya Hanna, terkejut melihat wanita itu sudah ada disana.
Bu Yogi menghampiri Shezie menatapnya tajam melihat gadis itu dari atas sampai bawah.
“Heh, kau jangan bangga dulu karena jadi pacarnya Henry. Kau tidak perlu senang karena bisa memutuskan Henry dengan putriku. Jujur saja aku malah senang putriku putus dengan pria ini. Aku kasih tahu, lebih baik kau tinggalkan pria pelit ini sebelum menyesal,” kata Bu Yogi.
“Ibu ini bicara apa?” tanya Hanna, dia mulai terbakar emosi mendengar perkataannya Bu Yogi.
Bu Yogi masih menatap Shezie.
“Lebih baik tinggalkan saja dia kalau tidak ingin nasibnya seperti putriku! Paling kau dijadikan mainan saja, Henry tidak mungkin menikahimu,” kata Bu yogi lagi.
Mendengarnya membuat Hanna tersulut amarah. Dia menatap Bu Yogi dengan tajam.
“Kata siapa Henry tidak akan menikahi gadis ini? Mereka akan segera menikah! Iya kan Henry?” kata Hanna dengan kencang sambil melirik pada Henry yang terkejut mendengar perkataan ibunya.
Dia akan menyela tapi ibunya bicara lagi.
“Kau tunggu saja undangannya! Henry akan menikah minggu depan!” kata Hanna dengan kesal masih menatap Bu Yogi. Dia tidak suka Bu Yogi selalu menjelek-jelekkan putranya terus.
“Apa? Menikah?” tanya Bu Yogi terkejut.
“Iya, kau tunggu saja undangannya! Jangan tidak datang!” jawab Hanna dengan ketus.
“Benar begitu? Baik, aku tunggu undangannya!” ucap Bu Yogi, lalu menoleh pada Shezie.
“Kau sangat bodoh menikah dengan pria sepelit itu! Kau akan kurus kering menikah dengannya!” ucap Bu Yogi lalu beranjak meninggalkan mereka.
Shezie yang melihat pertengkaran itu tampak bingung . Dia tidak mengerti maksudnya apa dengan pertengkaran itu?
Hanna menoleh pada Henry.
“Jangan didengarkan apa yang diatakan Bu Yogi!” kata Hanna. Bu Ema berbisik ke telinganya.
“Teman-teman sudah menunggu,” ucap Bu Ema, sambil menarik tangannya Hanna.
“Ya ayo!” kata Hanna, tidak lagi bicara pada Henry, dia langsung mengikuti langkah temannya masuk ke dalam mall.
Henry termangu mendengar pertengkaran dua ibu-ibu itu.
“Majikanmu ternyata sangat baik, kau beruntung memiliki majikan seperti dia,” kata Shezie.
Henry menoleh pada Shezie.
“Majikan?” tanya Henry.
“Iya, ibu yang tadi itu majikanmu kan? Tidak mungkin kau memiliki ibu seglamour itu sedangkan kau bekerja hanya sebagai supir. Lihat saja dandanannya sangat elegant, dia juga terlihat masih cantik. Dia benar-benar perhatian padamu, Henry. Kau sangat beruntung, kau bisa lihat cara dia membelamu dari ibu ibu itu? Eh tunggu..tunggu, ” kata Shezie, tiba-tiba dia menatap Henry dengan serius.
“Apa maksud majikanmu kita akan menikah minggu depan?” tanya Shezie, dia baru teringat kata-kata itu.
Henry menoleh pada Shezie.
“Sudahlah lupakan. Urusan kita selesai,” kata Henry, sambil beranjak.
“Tunggu! Berapa nomor telponmu? Aku akan mengembalikan bajumu besok!” kata Shezie, sambil mengeluarkan handphone-nya. Bersamaan dengan handphone Henry berbunyi.
“Capat katakan berapa?” tanya Shezie.
Henry terpaksa menyebutkan nomornya lalu buru-buru pergi sambil menerima panggilan telponnya karena dia sedang sibuk harus segera kembali ke kantornya.
Seorang wanita datang ke mejanya Henry tadi dan menatap Shezie.
“Bu, billnya kurang 50ribu,” kata wanita itu, membuat Shezie terkejut.
Shezie melihat wanita itu memegang uang 100 ribu darinya yang disimpan di meja. Diapun tersenyum kecut, memangnya makan apa sih pria itu? Pria itu benar-benar tidak mau mengeluarkan uang, keluhnya. Terpaksa Shezie membayar lagi 50 ribu, uang bayaran dari Henry semakin berkurang saja.
Hanna terus menggerutu sepanjang jalan di mall itu. Mereka menuju lantai paling atas tempat berjualan aneka makanan. Disini tempatnya lebih tenang karena hanya terisi counter makan saja. Teman-temannya sudah menunggu berkumpul disebuah meja panjang.
“Katanya sudah sampai mall, kenapa kalian terlambat?” tanya seorang teman yang sudah duduk disana.
“Ada kejadian sedikit tadi, Bu Yogi masih kesal pada Henry gara-gara Henry punya pacar baru,” jawab Bu Ema sambil melirik pada Hanna.
“Aku heran kenapa Bu Yogi begitu tidak menyukai putraku. Katanya pelit tapi putraku punya pacar lain malah marah dan mencemooh lagi,” ucap Hanna, masih dengan nada kesal.
“Mencemooh gimana?” tanya temannya yang duduk-duduk, mereka semua merasa penasaran.
“Iya katanya Henry tidak akan menikahi gadis itu. Padahal ternyata sebenarnya Henry akan menikah minggu depan!” jawab Bu Ema dengan semangat.
Teman-temannya terkejut dan langsung heboh saja.
“Apa? Henry akan menikah minggu depan? Wah kenapa tidak bilang bilang dari kemarin? Ko menikahnya dadakan sekali?” tanya mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Iya nih Bu Damian, mau menikahkan putranya ko diam-diam saja. Pestanya tetap mewah kan? Secara ayahnya Henry kan Milyarder, malu dong kalau cuma biasa biasa saja,” kata Bu Pian.
“Iya! Undang artis-artis pastinya!” seru yang lain.
“Jangan lupa undangannya! Harusnya sekarang udangannya sudah dicetak!” kata ibu-ibu yang lain.
“Berarti makan-makan kita kali ini ditraktir Bu Damian!” seru yang lainnya sambil tertawa-tawa.
Mendengar banyak ucapan permintaan surat undangan, Hanna terkejut, apa yang sudah dikatakannya? Bahkan teman-temannya yang lain langsung menelpon teman yang tidak hadir bersama mereka, yang menelpon suami mereka juga ada.
Mendengar itu Hanna terdiam, dia shock! Apa yang telah terjadi? Saking kesalnya pada Bu Yogi dia keceplosan mengatakan Henry akan menikah minggu depan. Bagaimana ini? Kepalanya langsung berdenyut-denyut.
**************
Malam harinya….
Saat Henry dan Damian pulang, Hanna sudah menghadang mereka.
“Ada apa?” Damian menatap istrinya itu dengan heran.
Hanna langsung menarik tangannya Henry supaya duduk disofa.
“Kau akan menikah dengan gadis itu kan?” tanya Hanna.
Henry menatap ibunya tidak mengerti.
“Kalian pacaran kan? Ayo kalian menikah saja!” kata Hanna.
“Ibu bicara apa? Aku dan dia itu hanya berteman saja,” jawab Henry.
“Apa? Berteman?” tanya Hanna kebingungan.
“Sebenarnya ada apa sayang?” tanya Damian.
Hanna menoleh pada Damian.
“Aku bilang pada teman-temanku kalau Henry akan menikah minggu depan,” jawab Hanna.
“Apa?” tanya Damian. Dia terkejut bukan main.
“Kau ini bicara apa?” tanya Damian.
“Tadi aku kesal Bu Yogi mengatai Henry kalau dia tidak akan menikah dengan gadis itu, ya sudah aku katakan kalau mereka akan menikah minggu depan,” ucap Hanna.
“Kau ini ada-ada saja, ya sudah, abaikan saja!” kata Damian.
“Masalahnya kabar ini sudah menyebar Damian, relasi-relasimu juga sudah pada tahu,” ucap Hanna sambil menatap Damian.
Damian menoleh pada Henry.
“Memangnya kau tidak ada rencana menikah dengan pacarmu itu?” tanya Damian.
“Dia bukan pacar tapi teman saja,” jawab Henry sambil bangun dari duduknya.
“Henry! Henry! Tunggu! Kau harus menikah dengan gadis itu!” kata Hanna.
“Apa? Tidak, aku tidak pacaran dengannya!” jawab Henry, langsung beranjak pergi.
“Pokoknya kau harus menikah dengan gadis itu minggu depan Henry! Ibu dan ayah akan malu kalau kau tidak menikahinya! Bu Yogi juga akan datang ke pernikahanmu! Dia pasti menertawakan kita kalau kau tidak jadi menikah!” terdengar teriakan dari Hanna.
Henry tidak menjawab, kakinya tetap melangkah pergi meninggalkan orang tuanya.
Damian menatap Hanna. Terdengar bunyi handphone-nya berdering, diapun menerima telepon itu.
“Iya Pak Reza, ada apa? Apa? Menikah? Oh itu aku…Oh ya..” Damian menoleh pada Hanna dengan raut muka kebingungan, membuat Hanna menatapnya.
“Apa?” tanya Hanna saat Damian menutup telponnya.
Damian akan menjawab, handphone-nya kembali berdering diapun menjawabnya.
“Pak Erik! Oh ya ya. Apa? Menikah? Oh ya ya terimakasih,” ucap Damian kembali menutup telponnya.
Pria itu menatap istrinya.
“Teman-temanku mengucapkan selamat atas pernikahan Henry, mereka menanyakan undangannya. Mereka tidak enak karena mereka fikir aku tidak mengundangnya,” kata Damian.
Hanna langsung memberengut.
“Bagaimana ini? Henry belum mau menikah. Aku pasti di olok-olok kalau Henry tidak menikah juga! Aku kesal pada Bu Yogi,” kata Hanna dengan sedih.
Tiba-tiba handphone Damian berbunyi lagi, kali ini dari ibu tirinya, yang terkejut saat ada relasinya yang mendengar Henry akan menikah minggu depan. Damian dan Hanna memang memilih memiliki rumah sendiri berpisah dengan ibu tirinya Damian.
“Kenapa kau tidak memberitahu ibu? Kenapa pernikahan Henry begitu mendadak, apa dia menghamili gadis itu?” tanya Ny. Sofia.
“Apa? Menghamili? Tidak!” jawab Damian.
Kepala Damian semakin pusing saja dia terus terusan menerima tepon dari sana- sini yang isinya menanyakan kenapa mereka tidak mendapat undangan darinya.
Damian menatap Hanna yang menunduk lesu dan merasa bersalah karena dia ceroboh.
“Maaf, aku membuat kacau,” kata Hanna.
Henry kembali turun dari tangga, dia heran melihat orang tuanya masih duduk duduk diruang tamu.
Melihat Henry turun, Hanna langsung menghampiri.
“Sayang kau harus menikahi pacarmu, semua orang sudah tahu kalau kau akan menikah minggu depan!” kata Hanna.
“Apa? Ibu ini bicara apa? Dia bukan pacarku!” sangkal Henry.
“Tapi kau memberikannya gaun, kau tidak boleh menyangkal lagi. Sampai kapan kau akan pacaran terus? Kau tetap harus menikah, bawa kemari gadis itu besok!” kata Hanna.
Hanna tidak bicara lagi saat mendengar dering telponnya yang tergeletak diatas meja. Sama dengan Damian, semua menanyakan pernikahannya Henry karena mereka tidak mendapat undangannya. Kepala Hanna serasa mau pecah dia bingung cara mengklarifikasinya, berita pernikahan Henry sudah menyebar kemana-mana.
***************