Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-27 Mencari Pengantin Wanita



Damian tampak gelisah, berdiri dipelaminan sendirian sekian lama. Kemana Hanna? Wanita itu setelah ijin ke toilet sampai sekarang tidak muncul-muncul juga.


“Kemana istrimu?” tanya Ny.Sofia.


Damian tampak memanggil orang untuk mencari istrinya ke toilet.


“Di toilet tidak ada,” jawab orang itu. Membuat Damian keheranan begitu juga dengan Satria, tadi dengan jelas dia melihat wanita itu kembali masuk ke gedung mencari toilet. Kemana lagi dia? Masa dia kabur? Sepertinya tadi dia menghindari dari seseorang tapi siapa? Kenapa kakak iparnya itu lari? Fikirnya.


“Aku akan mencarinya,” kata Satria. Diapun kembali ke belakang gedung tempat tadi dia bicara dengan Hanna. Kakak iparnya itu tidak ada disana, dia juga ke toilet, ternyata tidak ada juga, kemana dia? Satria mencari ke gudang belakang, banyak pegawai pegawai catring begitu sibuk mengurus makanan dan piring piring kotor. Tidak mungkin Hanna berada di dapur kaya begini. Diapun kembali ke depan, ke tempat resepsi.


“Tidak ada,” jawab Satria.


“Kemana dia?” gumam Damian.


“Sebenarnya kau kemana?” batin Damian, mulai gelisah. Sempat terfikir olehnya apakah Hanna kabur seperti yang dilakukannya pada pernikahannya sebelumnya? Yang membuat mereka bertemu di jalan? Damian tidak bisa meninggalkan kursinya karena tamu masih banyak. Ibu tirinya tampak cemberut, kesal karena Hanna tidak ada disamping Damian membuat orang-orang bertanya kemana pengantin wanitanya. Begitu juga dengan orangtua palsu Hanna yang pura-pura khawatir.


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Resepsi itu diadakan hanya sampai jam 3 saja, itupun termasuk jam resepsi yang cukup lama karena banyaknya tamu undangan. Sekarang tamu-tamu itu sudah mulai berkurang. Kerabat-kerabat juga berangsur pulang.


Makanan catring sudah mulai dibereskan. Karena jam 4 gedung sudah digunakan oleh penyewa yang lainnya.


“Sebenarnya kemana istrimu? Kenapa dia ke toilet tidak kembali lagi?” keluh Ny.Sofia.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya ibu palsunya Hanna.


“Mmm kalian kembali saja ke hotel. Aku akan mencari Hanna dengan orang-orangku,” kata Damian, memberi kode pada orangtua Hanna untuk meninggalkan gedung.


“Baiklah kalau begitu menantu, temukan putriku,” kata Papinya Hanna. Damian hanya mengangguk. Diapun mengantar orangtua palsu Hanna ke depan gedung.


Ketika sampai di depan mobil orangtua Hanna, Damian bicara dulu dengan mereka.


“Dengar, pekerjaan kalian sudah selesai. Kalian harus ingat, kalian harus merahasiakan semua ini, atau kalian akan mendapat masalah, kalian mengerti?” kata Damian. Merekapun mengangguk. Tidak berapa lama, mobil mereka meninggalkan gedung resepsi itu.


Ny.Sofia dan Satria tampak keluar dari gedung.


“Kalian pulang saja, biar aku yang mencari Hanna,” ucap Damian.


“Kau akan mencari kemana? Gedung ini tidak memiliki banyak ruangan, semua sudah dilihat tidak ada kakak ipar disini. Semua orang sudah pulang. Gedung ini sudah sepi,” kata Satria.


“Aku akan mencarinya sekali lagi,” jawab Damian. Akhirnya Satria dan ibunya meninggalkan gedung itu. Kini gedung itu benar-benar sepi. Petugas cleaning service sedang membersihkan gedung itu, karena pukul 4 sore sudah ada yang akan memakainya, untuk acara seminar.


Di dalam ruangan yang luas itu, Damian mematung melihat ke sekeliling. Masih ada pekerja WO yang membereskan properti mereka.


Gedung yang kosong itu terasa kosong juga dihatinya. Tanpa kehadiran wanita itu, hatinya merasa hampa. Bagaimana kalau dia tidak menemukan wanita itu lagi? Bagaimana kalau wanita itu pergi darinya? Kemana dia harus mencarinya? Dia masih bergantung pelukan dari wanita itu, yang tidak dia ketahui identitasnya. Bahkan KTP juga dia tidak punya.


Apakah dia memang sengaja pergi meninggalkannya? Tapi kenapa? Atau dia ada yang menculiknya? Ah tidak mungkin. Pasti ada yang melihat ada yang membawanya karena banyak orang digedung ini.


Damian mendekati petugas cleaning service.


“Apakah semua orang sudah pergi?” tanya Damian.


“Sudah pak, sudah tidak ada orang lagi, semua sudah pulang,” jawab petugas cleaning service itu. Damian menghela nafas panjang.


“Kau kemana Hanna?” gumamnya dengan gelisah yang menyelimuti hatinya.


“Apa ada yang menculikmu?” gumamnya lagi. Dia berfikir bisa saja ada penculik yang ingin minta tebusan uang darinya. Diraihnya handphonenya barangkali penculik menghubunginya untuk meminta tebusan. Ternyata tidak ada yang mengirim pesan apapun. Dia juga belum bisa lapor pada polisi karena baru beberapa jam saja Hanna menghilang.


Damian kembali menyusuri bagian bagian gedung itu, tidak ada tanda-tanda keberadaan Hanna. Hingga pada bagian gudang dan dapur, dia melihat lihat lagi ke sana. Dilihatnya sebuah pintu dekat gudang. Tampak pintu itu sedikit terbuka. Damianpun mendorong pintu itu sedikit, ternyata ruangan kosong. Kemana Hanna? Gedung ini benar-benar sepi. Akhirnya Damian memutuskan untuk pulang.


Hari telah gelap, di dalam kamarnya Damian benar-benar gelisah. Kemana lagi dia harus mencari Hanna? Tidak ada yang melihatnya keluar dari gedung itu.


“Hanna, Hanna, kau dimana?” gumam Damian, meremas remas rambutnya. Dia terus berfikir keras dimana Hanna berada sekarang. Berkali-kali dilihatnya handphonenya barangkali penculik akan menghubunginya dan memintanya uang. Berapapun akan dia bayar asalkan wanita itu kembali. Kenapa hatinya justru berdoa kalau Hanna diculik? Semoga saja dia diculik. Apa? Kenapa begitu? Tentu saja kalau diculik dia akan mendapat kabar keberadaan wanita itu. Dia tinggal menebusnya dengan uang. Kalau menghilang begitu saja, kemana dia akan mencarinya? Ketenangan jiwanya bergantung pada wanita itu. Siapa yang akan memeluknya setiap dia bermimpi buruk? Damian mengusap wajahnya denagn kedua tangannya. Dia benar-benar gelisah.


Diapun bangun dari duduknya, dia akan pergi ke gedung itu lagi. Dia harus menemukan wanita itu. Dia penasaran, daripada dia hanya duduk duduk di rumah, lebih baik dia kembali ke gedung itu. Akhirnya Damian kembali ke gedung tampatnya resepsi tadi siang. Gedung itu sudah tutup. Hanya ada satpam yang berjaga di posnya.


“Ada yang bisa saya bantu, pak?” tanya satpam itu.


“Bisakah aku kembali mengecek ke gedung barangkali istriku ada di dalam? Atau minimal ada tanda-tanda keberadaannya?” tanya Damian, masih di dalam mobil, dia hanya membuka kaca jendelanya saat bicara dengan satpam.


“Di dalam sudah kosong pak. Seminar juga sudah selesai dari jam 6 sore tadi, sudah tidak ada orang. Tapi kalau bapak mau melihat-lihat lagi silahkan. Atau mau saya temani?” Tanya satpam.


“Tidak usah, mungkin aku hanya perlu senter saja, barangkali aku menemukan sesuatu pentunjuk,” jawab Damian.


“Baiklah,” jawab satpam, diapun kembali ke pos, sedangkan Damian


memarkirkan mobilnya.


Kini Damian bekeliling gedung bukan di dalam gedung tapi diluar gedung dengan membawa senter dari pak satpam. Barangkali ada tanda tanda Hanna diculik, atau semacamnya, pokoknya petunjuk keberadaan Hanna.


Damian mengarahkan senter itu ke area pepohonan dan taman. Siapa tahu Hanna nyangkut dipohon, fikiran konyol tapi apapun akan dia lakukan demi menemukan wanita itu. Setelah memutari gedung, dia merasa lelah, samasekali tidak ada petunjuk di area berumput itu. Dia harus mencari kemana lagi? Damian benar-benar putus asa. Goodbye Hanna, sepertinya aku tidak bisa menemukanmu, gumamnya.


Damian berada di ruang belakang gedung. Area taman belakang itupun sudah dia sooroti dengan senter tidak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu. Dengan iseng dia menyorot jendela belakang gedung yang gelap. Sekilas menyorot jendela itu, dan kembali menyorot ke jalan. Tiba-tiba dia merasa melihat sesuatu yang putih di jendela itu. Apakah itu hantu? Jantung Damian langsung bedegup kencang. Kenapa dia melihat warna putih putih di jendela itu? Selama ini dia tidak pernah melihat hantu. Bagaimana kalau itu hantu? Dengan ragu-ragu dan hati berdebar debar, dia kembali menyorot warna putih di jendela itu. Dia mengerjapkan matanya, kembali dilihatnya dengan jelas apa warna putih itu. Gaun? Gaun berwarna putih? Diapun berjalan mendekat, lampu senter terus menyorot pada kain warna putih itu, meskipun agak tegang dia memaksakana melihat lebih dekat. Dan..


“Hanna?” teriaknya kaget. Wanita yang masih bergaun pengantin warna putih itu bersandar di jedela.


“Hanna!” teriak Damian, berjalan mendekati jendela, senter terus menyorot wajah Hanna yang sedang tidur.


Damian segera berlari ke depan gedung, mencari satpam.


“Pak! Pak! Tolong buka pintu belakang. Istriku ada di dalam!” teriak Damian dengan gugup. Pak satpam langsung mengambil kunci, merekapun berlari ke belakang gedung yang luas.


Pak satpam membuka kunci pintu belakang. Damian dengan tidak sabar masuk ke dalam. Pak satpam segera menyalakan lampu gedung, ruanganpun menjadi terang.


Damian berlari kearah gudang, menuju pintu ruangan yang sebenarnya sudah dia lihat dari siang tadi yang ternyata tidak apa-apa, padahal Hanna ada didalamnya terhalang pintu, karena dia hanya membuka pintu itu setengahnya jadi tidak melihat Hanna ada didalam ruangan itu.


Damian langsung masuk ke dalam.


“Hanna!” panggilnya. Ternyata Hanna masih tertidur dengan nyenyak, bahkan terdengar dengkuran kecilnya. Dia tidak peduli wenita itu mendengkur, meskipun pak satpam mendengarnya. Dia hanya bahagia wanita itu bisa ditemukan, meskipun dalam hati dia menjadi kesal, ternyata Hanna tertidur diruangan itu.


Damian langsung menggendong Hanna dengan kedua tangannya.


“Aku akan membawanya langsung pulang. Terimakasih pak,” ucap Damian pada pak satpam.


Damian mendudukkan Hanna ke dalam mobilnya. Setelah itu dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah.


Diliriknya wanita yang sedang tertidur itu.


“Kau tidur apa mati? Semua orang khawatir mencarimu, ternyata kau tidur di gudang,” gerutu Damian, melirik wanita itu sekilas.


**************************


Lanjut besok ya..


Jangan lupa like dan komen juga vote


Baca juga”My Secretary” season 2(love story in London)